TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
YOU ARE EVERYTHING


__ADS_3

Waktu kembali berputar, malam telah berganti siang. Di luar salju kecil mulai berjatuhan dan Matahari pagi memasuki celah jendela kamar Luna yang masih tidur dengan lelap.


Dengan mata yang masih terpejam Luna terlihat melengkungkan senyum di bibirnya. Entah apa yang dia mimpikan hingga senyum indah itu terukir dengan matanya yang masih terpejam itu.


Terlihat Mark masuk ke kamar Luna dengan membawakan sarapan. Senyumnya mengembang ketika melihat Luna masih terlelap. Mark menutup pintu kamar dengan perlahan, berjalan mendekat dengan matanya yang terus memandangi wajah sang calon istri yang begitu lembut dan damai.


Mark meletakkan nampan yang berisikan sarapan untuk Luna, lalu dia berdiri dengan melipat tangan didada, memandangi wajah sang kekasih yang tiba-tiba melengkungkan lagi bibirnya dengan senyum.


“ Luna apa yang kau mimpikan? Apakah aku ada di dalam mimpimu itu, apakah aku yang menyebabkankan senyummu ini?” Mark tersenyum karena dia merasa benar-benar sudah gila dengan pemikirannya sendiri.


“ Tapi mau bagaimana lagi, aku memang selalu ingin menjadi alasanmu untuk tersenyum, baik dalam sadarmu, maupun dalam tidurmu. Luna aku memang pria yang sangat beruntung bisa memilikimu.”


Sinar matahari pagi mulai mengenai wajah Luna, hingga dia menggerak-gerakkan matanya yang masih terpejam. Mark tersenyum, lalu dia menutupi sinar matahari itu dengan telapak tangannya, hingga Luna kembali terlihat tenang dan lagi-lagi bibirnya melengkungkan senyum.


“ Sudah cukup melihatnya?” Luna membuka matanya dengan bibirnya yang menahan tawa.


“ Arh..” Mark tertawa sambil mendukkan kepalanya, namun jemari tangannya masih menutupi cahaya itu. “ Jadi kau mengerjaiku?” mengankat kembali kepanya dan menatap Luna.


“ Tidak,” Luna bangkit lalu bersandar di kepala ranjang. “ Aku hanya ingin di layani oleh calon suamiku pagi ini. oleh karena itu aku sedikit bermalasan.” Sambil tertawa.


Mark duduk di dekat Luna, lalu menarik Luna ke pelukannya. “ Kau ingin bermanja denganku? Baiklah, akan aku layani dengan sepenuh hati.” Sambil mengusap kepala Luna.


Luna mendongak untuk menatap wajah Mark, “ Sayang, apa kamu tidak takut jika aku dikatai gadis yang pemalas?”


Mark mengangkat alisnya seraya tersenyum,


“ Siapa yang akan mengataimu begitu, humm?”


“ Mark aku serius, apalagi sekarang kita di rumah Rangga, ada ibu juga. Apa kau tidak malu punya istri pemalas sepertiku?”


“ Seperti apapun kamu, aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Sayang kamu jangan berfikiran yang aneh-ane, semua orang tahu sedang tidak enak badan. Sekarang sarapan ya, setelah itu kita bersiap-siap untuk kembali ke Beijing.”

__ADS_1


Luna tersenyum dengan memejamkan matanya dengan imut, lalu dia menganggukkan kepalanya dengan manja. Tentu saja hal itu membuat Mark gemas hingga Mark mencubit hidung Luna.


“ Sayang kenapa kamu bisa tahu jika pesonaku di hidung?” Luna bertanya sambil tertawa.


“ Begitukah? Tapi bagiku semua yang ada padamu mebuatku terpesona.”


“ Haha.. Mark, kau jangan memujiku.”


“ Apa kau tersipu malu?” “ Tidak, aku tahu jika itu benar adanya.” tertawa puas.


“ Haha.. baiklah. Sekarang waktunya tuan putri sarapan ya.” melepaskan pelukan dengan lembut, lalu dia berdiri mengambil sarapan yang dia bawakan tadi.


“ Suapi ya sayang.” Pinta Luna manja, sambil bersandar kembali ke kepala ranjang.


“ Tentu saja.” Mark duduk di tepi ranjang, lalu memberikan air putih terlebih pada Luna.


Luna meraihnya dengan senyum, dan meminumnya. Sementara Mark terus memandagi wajah sang calon istri.


***


Chika dan Chici tersedu-sedu, karena Luna, Nindy dan lainnya akan segera kembali ke Beijing. Mobil sudah siap untuk membawa mereka kembali ke penerbangan helicopter.dan semua orang sudah berkumpul di depan rumah untUk mengantar kepergian mereka.


“ Jangan menangis sayang, kan 3 hari lagi kita bertemu, kalian datangkan ke pesta pernukahan kakak.” Luna mengusap lembut punggung si kembar yang berda di pelukannya.


“ Iya kami pasti datang, tunggu kami ya kak. Kami pasti sangat merindukan kakak.” Chira memegang lembut tangan Luna yang memeluk dia dan adiknya.


“ Kakak juga akan merindukan kalian. Kakak dan yang lainnya pasti menyambu kedatangan Chira dan Chici di Beijing. Ya sudah sekarang jangan menangis lagi.” Luna melepaskan si kembar dari pelukannya, lalu mengusap lembut kepala keduanya.


Kemudian Luna beranjak memandangi sang ibu calon mertua, Luna mendekat dengan senyum di bibirnya, lalu dia meraih tangan ibu dan mengusapnya.


“ Bu Luna dan yang lain kembali ya. Luna dan Mark sangat menunggu kedatangan ibu di Beijing.”

__ADS_1


Ibu Mark tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia memandagi wajah Luna yang begitu tulus, lalu melihat tangannya yang di elus lembut oleh calon menantu yang belum bisa dia terima sepenuh hati itu.


Ibu memejamkan matanya sejenak, lalu dia memeluk Luna. Luna sangat terkejut tapi ada sedikit kebahagiaan di sana walaupun dia tidak yakin apakah ini tulus atau bersandiwara lagi. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, selalu berharap sang calon ibu mertua bisa menerimanya sepenuhnya.


Memang hanya pelukan, tidak ada kalimat sepatah katapun, setelah itu dia melepaskan kembali pelukan itu. Lalu dia langsung masuk ke dalam duluan, bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Luna maupun pada Mark putranya.


“ Haha.. Zia pasti sangat berat berpisah dengan kalian. Hingga seperti itu.” ibu Rangga berusaha untuk menghibur hati Luna yang remuk itu. Ibu Rangga memang sudah menyadari kejanggalan sejak tragedy mual semalam bahwa ada yang salah dengan Zia ibu Mark.


Luna hanya melebarkan senyumnya, agar hati yang remuk itu tak terlalu jelas terlukis. Lalu Luna dan yang lainnya saling berpamitan pada semua orang kemudain memasuki mobil menuju penerbangan helicopter.


***


Di dalam helikopter Luna hanya menolehkan pandangannya keluar, memandagi hutan yang berwarna warni ini di timpa salju kecil yang berjatuhan. Pemandangan yang indah, tapi ada hati yang bersedih sedang menikmatinya.


“ Sayang, ibu pasti datang ke pernikahan kita. Jangan khawatir.” Mark memengang tangan Luna, lalu memasangkan sarung tangan agar Luna lebih hangat.


Luna menoleh pada Mark, lalu tersenyum. “ Aku tahu ibu akan datang. Aku tidak khawatirkannya sama sekali” Lalu Luna kembali mengalihkan pandangannya keluar.


“ Karena ibu berjanji akan tetap memperlakukanku dengan baik di depan semua orang.” Lanjut Luna dalam hatinya.


Luna memejamkan matanya, dan menelan kesedihannya. Tapi dia tidak ingin Mark mengetahui kesedihannya ini, dia kembali membuka matanya dan memandangi pemandangan indah itu.


“ Saljunya masih tipis, Mark.. apakah di hari pernikahan kita akan turun salju yang sedikit lebih tebal di Beijing? Aku ingin berdansa di bawah hujan salju.” Terang Luna menyampaikan harapannya yang tiba-tiba ini.


Mark tersenyum, lalu memasukkan tangan Luna ke dalam saku long coatnnya,” Aku akan mewujudkan semuanya, kita pasti akan berdansa di bawah hujan salju seperti yang kau inginkan.” Mark menyandarkan kepalanya kebelakang sembari memejamkan matanya, namun tangannya mengusap lembut tangan Luna di dalam saku long coatnya itu.


“ Aku benar-benar menantikannya.” Luna juga bersandar dan memejamkan matanya, meniru apa yang di lakuakn Mark. Bibirnya melengkungkan senyum kepuasan, bahagia karena Mark tak pernah menolak permintaannya yang terkadang dia ucapkan hanya asal saja.


Semua perlakuan Mark, perhatian Mark, cinta yang tiada henti Mark berikan ini semua adalah energi bagi Luna. Merasa dicintai oleh Mark akan membuat hatinya dingin akan hangat, hati yang rapuh akan kuat.


" Mark you are everything."

__ADS_1


__ADS_2