
“ Hoamm..” Luna bangkit dari tidurnya sambil menguap. Dengan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali, Luna merebahkan dirinya kembali.
“ Kepalaku pusing, mataku perih. Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”
Menarik selimut dan menutupi seluruh dirinya. Di balik selimut itu dia tidak bergerak sama sekali, sepertinya dia benar-benar ingin melanjutkan tidurnya.
‘ kreck ‘ pintu dressroom terbuka. Di sana keluar Mark yang sudah rapi dengan stelan jas. Hari ini dia mandiri, meski sang istri bersamanya. Istri sedang di bakar api cemburu hingga melupakan kewajibannya.
Mark menggelengkan kepalanya saat melihat Luna yang masih belum bergerak, bahkakan dia sudah menduga jika sebenar Luna sudah sempat bangun.
‘ ddrrtt ddrrtt ‘ ponsel Mark yang berada di meja sisi ranjang bergetar.
Mark yang masih menatap Luna tampak mengusap keningnya. Tidak tega sebenarnya, tapi harus bagaimanan lagi. Dia memang perlu memberi Luna sedikit pelajaran.
Mark mendekati ponselnya. Di layar tampak Rangga yang menelvonnya. Dengan sedikit mengerutkan kening, lalu menjawab panggilan itu. Tidak biasanya Rangga menelvonnya pagi-pagi. Apapun yang terjadi, biasanya Rangga langsung datang menjemputnya.
“ Ada apa Rangga?"
“ Haciim..” Rangga bersin. Mark mengangkat alisnya, dia sudah menebak kondisi Rangga.
“ Sepertinya aku akan telat ke kantor. Hacimmm.” bersin lagi. Di apartementnya, Rangga tampak baru selesai mandi. Handuk masih melekat di pinggangnya. Namun sekarang dia di dapur untuk mengambil air minum hangat, lalu mendeguknya.
“ Kau sakit? “ sambil tertawa.” Kenapa lemah sekali? itu hanya beberapa jam kita luar dan itupun masih mengenakan pakaian hangat.” Mark masih tertawa. Bukannya bersimpaty, dia malah meledek habis-habisan.
“ Mark, aku tidak ingin bercanda.” Rangga berucap kesal dengan hidungnya tersembat.
“ Ok ok. Hari ini aku akan berbaik hati padamu. Kau boleh tidak ke kantor. Aku akan pergi dengan sekretaris Mika nanti.”
“ Apa? sekretaris Mika? Siapa itu? aku belum pernah mendengar namanya?”
Di balik selimut, Luna langsung membuka lebar matanya saat mendengar nama Mika. Nama yang sangat asing baginya. Fikirannya sudah berlarian kemana-mana. Sejak kapan Mark suka gonta-ganti sekretaris?. Mark mempunyai 3 orang sekeretaris perempuan dan 1 orang sekretaris pria terlatih yang seperti copyan dari pribadi Rangga yang tegas. Sangat cekatan dan dan tegas.
Selama ini kerja mereka bagus dan memuaskan. Mereka bisa meng-handle tugas dengan baik, sehingga ketika Mark pulang-balik ke USA pun tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang Lixing.
“ Mengganti atau menambah karyawan tanpa sepengetahuanku. Huh, apalagi untuk orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Aaa.. benar menyebalkan.”
Luna membuka selimutnya, tendang-tendangkan hingga menimbulkan suara ribut. Dia berjalan menuju kamar mandi, lalu menutup pintu dengan cukup keras.
‘ brackk. ‘
Mark mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah kamar mandi. Tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala. Sadar bahwa Luna masih di penuhi kemarahan.
“ Aku akan tetap ke kantor. Hanya saja aku terlambat dan tidak bisa menjemputmu.”
“ Baiklah. jika kau keras kepala. Rangga, aku rasa kau lebih baik mencari kekasih secepatnya, setidaknya ada yang memperhatikanmu saat kondisimu yang sekarang. Hahah..”
“ Aku tidak butuh siapapu. Aku bisa merawat diriku sendiri.” Rangga langsung memutuskan panggilan. Sangat kesal dengan Mark yang selalu mengejeknya. Sementara Mark tertawa akan kekesalan Rangga.
__ADS_1
“ Segera, segera. Kau pikir mencari kekasih semudah mengmbil pasir di pantai?” celoteh Rangga dengan tangannya yang tampak melempar ponselnya ke westafel.
‘ track takk ‘ beberapa detik kemudian Rangga membulatkan matanya. Sadar akan sesuatu. Ternyata yang di lemparnya salah.
“ Bodoh, bodoh.” umpatnya sambil menepuk keningnya dan mengangkat gelas yang masih di tangan.
***
Luna masih mengenakan baju tidur kimononya. Di kamar mandi tadi dia hanya mencuci muka dan menggosk gigi. Dia keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.
Mark, tuan dan nyonta Aliester sudah duduk berada di sana. Mereka bahkan sudah mulai sarapan.
“ Pagi pa, ma.” Suara Luna terdengar parau dan tampak tidak bersemangat.
Tuan dan nyonya Aliester mengerutkan keningnya. Karena Luna hanya menyapa mereka, sementara Mark di abaikan. Bahkan saat Luna duduk, dia tidak menoleh pada Mark sedikitpun.
“ Ma, apa mama pernah melihat srigala?” tanya Luna sambil menggigit rotinya.
“ A-apa maksudmu sayang?” nyonya Aliester tampak bingung. Dia melirik suaminya dan juga Mark.
“ Mama tidak menyangkakan, jika selama ini kita tinggal seatap dengan srigala.” Sambil mengunyah pelan, lalu meminum susu hangat.
“ Apa yang terjadi? Mereka bertengkar?”
Nyonya Aliester memandangi wajah Luna dan Mark bergantian. Sementara tuan Aliester tampak menahan tawa.
“ Istri dan putriku sama saja, Tuhan benar-benar mengcopy sifat istriku untuk putriku. Melihat mereka, mengingatkaku pada masa mudaku.” Sepertinya tuan Aliester menyukai perang dingin antara putri dan menantunya.
“ Hah?” nyonya Aliester semakin terkejut. Dia sudah mengerti point dari permasalahan ini, tapi kenapa suaminya juha terlibat?.
“ Apa tua bangka ini membuat ulah?” sambil melirik suaminya dengan kesal.
“ Dua? Jadi putriku menganggap aku srigala juga?” tuan Aliester lang menatap tajam Mark.
“ Ini pasti ulah menantuku ini. Heh.”
“ Ma, sekarang kita harus berhati-hati. Sri..” kalimat Luna terhenti dan berubah dengan teriakan. Karena di saat yang bersamaan, Mark tampak dengan sengaja Menyenggol gelas di dekat Luna. Hingga susu tersebut tumpah di atas meja dan mengenai baju Luna.
“ Sayang, sepertinya kamu belum puas tidur ya, hingga masih mengigau tidak jelas seperti ini.” Mark berdiri menantang tatapan Luna yang menatapnya kesal.
“ Sekarang lebih baik kita ke kamar dan bersihkan dirimu.” Mark sudah menggendong Luna. meski Luna meronta, tapi mana mungkin bisa di kalahkan dengan tenaga wanita seperti Luna.
“ Sayang patuhlah. Aku akan menemanimu seharian di kamar.” ucap Mark yang sudah menaiki tangga. Dimana tuan dan nyonya Aliester mengikuti mereka dan memandangi putri dan menantunya. Tuan Aliester tampak senyum, sementara nyonya Aliseter tampak tidak begitu senang.
“ Siapa yang mau di temani olehmu. Pergi saja ke kantor sana, lepaskan aku.”
Mark menghenghentikan langkahnya. Berbalik badan ke arah turunan tangga. “ Mau ku lepaskan di sini?”
__ADS_1
“ Eh, eh. Apa-apaan ini?” Nyonya Aliester tampak marah, kakinya sudah melangkah. Tapi tuan Aliester menahannya. Menarik istrinya dan mendekap bahunya dengan lembut.
“ Biarkan saja mereka berdua menyelesaikan permasalahannya! bukankah sifat putri kita sama persis denganmu. Sangat pencemburu.” Bisiknya Sambi tertawa menggoda.
“ Bukan cemburu!!! Tapi putriku benar, kalian para pria adalah srigala.” menatap suaminya kesal, lalu kembali ke ruang makan. Sementara tuan Aliester malah terkekeh dan mmengikut di belakang.
Luna mentap ke bawah lalu mentap Mark. Dia menelah ludah dan mengedipkan matanya.
“ Humm?” Tanya Mark memastikan keinginan Luna perihal minta di turunkan tadi. Dengan polos campur kaget, Luna menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia patuh, tidak meronta lagi.
Mark membawa Luna ke kamar mandi dan menurunkan Luna di bathup. Kali ini tanpa ada pembicaraan dan rontaan seperti tadi. Luna hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“ Mau apa seharian di kamar siang benderang begini? Lebih baik aku ikut ke kantor untuk melihat seperti apa sektretaris Mika itu.”
Luna meremas tepi kimononya. Berusaha mencari ide untuk melepaskan diri kali ini.
“ Dari semalam seperti singa betina yang mau melahirkan. Sekarang malah seperti anak kucing.”
Mark menghela nafas, lalu duduk di pinggir bathup. Di pandanginya wajah Luna dengan lekat.
“ Masih tidak ingin menatapku?” tanya Mark setelah cukup lama suasana hening itu.
Luna mengangkat kepalanya pelan, lalu menatap Mark dengan ekspresi polosnya.
“ Sayang, aku ingin ke kantor bersamamu.” Tiba-tiba berucap dengan sungguh-sungguh, hingga dia memegang lengan Mark.
“ Mengalihkan topik!!”
“ Mana ada.” Luna tertawa kecil. “ Aku ingin menemani kegiatanmu hari ini. Boleh ya.”
“ Tidak!! Aku akan menemanimu seharian di kamar.”
“ Sayang.. hari inikan terakhir karyawan lengkap di kantor. Besok sebagian mereka akan libur untuk merayakan festival musim semi. Setelah mereka kembali bekerja, aku juga kembali ke London. Aku ingin sekedar menyapa mereka. Ini sudah cukup lama aku tidak menyapa mereka.”
“ Aish.. alasan bodoh apa ini?”
Luna mengumpati dirinya sendiri. Sadar akan alasannya yang tidak berbobot.
‘ ddrrt ddrrt ’ ponsel Mark bergetar. Mark mengambil ponsel di balik jasnya dan tiba-tiba sorot matanya sedikit berubah saat melihat nama Louis di layar ponselnya. Luna yang menyadari gelagat peRubahan ekspresi Mark, mencoba untuk melihat siapa yang menelvon. Tapi dia tidak berhasil, karena Mark tiba membalikkan ponselnya.
“ Baiklah kita akan ke kantor. Sekarang cepat bersihkan diri. Aku akan menunggumu di kamar.” Mark berucap lembut lalu mencium kening Luna. Usap-usap lagi kepala Luna, lalu beranjak keluar dari kamar mandi.
“ Siapa yang menelvonnya?”
Luna masih terdiam dengan ekspresi penuh penasaran.
.
__ADS_1
.
Bersambung...