TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
FLASHBACK (2)


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Luna baru kembali ke rumahnya, saat dia sampai dia mendapati papa dan mamanya yang juga sedang menuju taman.


“ Sayang.. kamu kenapa? Ini kenapa bisa berdarah?” tanya mamanya sangat terkejut saat melihat penampilan Luna yang begitu lusuh. Seragam yang berdarah dan tangannya yang kotor karena tanah.


Mereka langsung menghampiri Luna dengan ekspresi sangat khawatir, dan Luna langsung memeluk mamanya dengan tangis yang langsung pecah.


“ Pelayan, ambilkan air untuk nona..” teriak papanya pada pelayan.


Luna sudah membersihkan dirinya, tapi dia masih mengenakan seragam sekolah yang sudah berlumuran darah itu. Dia dan orangtuanya duduk di taman, lalu Luna menceritakan apa yang telah terjadi.


“ Ya Tuhan.. mama tidak menyangka seperti itu.” sambil memeluk putrinya.


“ Luna juga ma..” dengan tersedu-sedu.


“ Tapi mama dan papa ke taman mau apa?”


“ Mama mencarimu, karena tidak mendapatimu di kamar. Sementara Hyena terlihat tidur dengan pulas di kamarnya. Jadi mama mengira kamu pasti sedang bermain dengan Bibib di taman. Ketika mama hendak ke sini, kebetulan papa baru pulang dan ikut mama. Tapi tidak di sangka malah seperti ini. Pa sekarang harus bagaimana? Apakah ada yang salah dengan Hyena?”


“ Apa maksdu mama?” tanya Luna sangat bingung.


“ Luna papa rasa ada yang salah dengan psikologis Hyena, jadi kita harus memeriksanya ke dokter.”


“ Tidak pa, jika kita melakukan itu, hanya akan membuat Hyena tersinggung. Kita tidak boleh membuatnya sedih.”


“ Sayang ini demi kebaikan Hyena juga.”


“ Tidak.. Hyena hanya tidak menyukai Bibib karena Luna hampir terluka karenanya.”


“ Tapi sayang.. “


“ Tidak, pokoknya papa tidak boleh melakukan itu. Sudah cukup Luna kehilangan Bibib, Luna tidak mau kehilangan Hyena juga. Luna mohon pa..” sambil mengenggam tangan papanya dengan sangat memohon.


Melihat putrinya seperti itu tentu saja membuat dia tidak tega. Orangtuanya tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Luna.


Saat makan malam, Luna dan kedua orangtuanya bersikap biasa-biasa saja. seolah-olah tidak ada yang terjadi, seolah Hyena tidak melakukan kesalahan apapun. Hal itu mereka lakukan karena permintaan Luna untuk tidak membuat Hyena merasa tidak nyaman.


Begitupun Hyena juga sangat santai tanpa berdosa sedikitpun. Bahkan Hyena juga dengan berani menanyai keberadaan si Bibib pada Luna di tengah makan malam itu.


“ Luna tadi aku pergi melihat Bibib, tapi aku tidak menemukannya.” Tanyanya tanpa dosa.


“ Bibib sudah mati.” Jawab Luna dengan dingin. Sementara papa dan mamanya memandangi Luna dan Hyena.


“ Dia mati di makan hewan buas. Tadi aku menemukan darah dan sedikit bulunya di taman. Bibib bermain terlalu jauh, mungkin dia di mangsa oleh ular.” Lanjut Luna sambil menatap Hyena dengan senyum kecut.


“ Kasihan sekali, padalah dia mempunyai bayi yang Lucu.” Jawab Hyena dengan santai dan memasang ekspresi sedih untuk menutupi sandiwaranya.

__ADS_1


Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Luna pergi ke kandang kelincinya untuk mengecek bayi Bibib. Dia sudah bertekad akan menajga bayi Bibib dengan sangat baik. Tapi ketika dia sampai di sana, Luna menemukan satu bayi Bibi sudah tak bernyawa lagi.


Hal itu tentu saja membuat Hati Luna semakin berkecamuk. Kalimat yang di ucapkan Hyena setelah membunuh Bibib langsung terlintas di pikirannya.


“ Kau hanyalah hewan, tapi beraninya kau menyakiti Luna dan bahkan mengambil kasih sayang Luna dariku.”


Hatinya bertanya apakah ini perbuatan Hyena lagi?. Luna menahan air matanya dan dia langsung pergi kamar Hyena.


‘ brack..’ Luna membuka pintu dengan kasar.


“ Ada apa Luna?” Hyena tampak sedikit terkejut.


Luna memandang Hyena dengan dingin. Hingga membuat Hyena tidak nyaman dengan tatapannya.


" Hyena aku sakit perut."


Luna langsung berubah ekspresi kesakitan dan memegangi perutnya.


“ Eh.. sakit kenapa?” sangat khawatir. Hyena langsung mengahampiri Luna dan memapah Luna untuk duduk di ranjangnya.


“ Hyena ini hanya sakit datang bulan kau tidak peril khawatir. Tapi kau tahu sendiri, aku mempunyai sakit datang bulan yang akut, aku akan sangat sakit, aku tidak bisa beraktifitas. Aku hanya bisa berbaring.”


“ OK ok.. jika begitu aku akan merawatmu.” Sambil melapaskan tas sekolahnya.


“ Tidak. Hyena kau harus tetap berangkat sekolah. Hari ini ada ujian, semalam kau sudah belajarkan, jadi tidak boleh bolos hanya karena aku” Sambil menahan tangan Hyena.


“ Hyena.. kau harus tetap ke sekolahnya” menyela perkataan Hyena.


“ Baiklah. Tapi sakitmu harus cepat berakhir ya!”


“ Haha.. ini tergantung dengan siklus darahku” sambil mengusap wajah Hyena.


“ Ya sudah sekarang kau berbaring saja di kamarku. Aku akan menyuruh bi Ina untuk menghubungi doktermu.”


Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah Hyena keluar dari kamar, Luna langsung berdiri dan memasang ekprsei dingin.


Beberapa saat kemudian Bi Ina datang dengan membawa air hangat ke kamar Hyena.


“ Eh nona kenapa berdiri? Kata nona Hyena, nona datang bulan.”


“ Tidak.. aku tidak datang bulan. Aku hanya membohonginya. Aku harus menyelidiki sesuatu. Sekarang Hyena apa masih sedang sarapan?”


“ Nona Hyena sudah berangkat sekolah nona. Dia tidak sarapan, dia bilang sedikit buru-buru karena ada urusan di sekolah pagi ini.”

__ADS_1


“ Baiklah.”


Luna langsung turun ke bawah menuju ruang makan dengan air matanya yang mulai menetes.


“ Sayang, kamu kenapa?” mama Luna lansung berdiri ketika melihat putrinya yang datang dengan air mata.


“ Hyena bilang kamu sakit datang bulan, kenapa jalan? Apa sangat sakit? papa sudah menghubunngi dokter Rey, dia dalam perjalanan” ucap mama Luna sambil memeluknya.


“ Luna tidak datang bulan ma. Luna hanya bohonng. Ma.. bayi Bibib mati.. hiks hiks” jelas Luna dengan tangis yang sesegukan.


Tuan Aliester langsung berhenti meletakkan sendoknya, dia menyuruh semua pelayan dan pengawal untuk berkumpul di ruang tengah. Hal tersebut langsung membuat para pelayan dan pengawal menjadi sedikit takut, karena tidak biasanyanya tuan mereka terlihat marah hingga menyuruh semua orang untuk berkumpul.


Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. para pelayan dan pengawal menunduk degan cemas. Karena tuan Aliester menanyai mereka tentang siapa yang memberikan makanan, siapa yang mengurus bayi Bibib dan susu apa yang meraka gunakan.


Semua pertanyaan tentang itu mereka jawab dengan baik, mereka bahkan menunjukkan susu yang mereka berikan pada bayi kelinci tersebut.


“ Baik. jika begitu, apakah semalam ada yang melihat gerak gerik Hyena yang mencurigakan.” Tanya tuan Aliester sambil melirik Luna yang terdiam dalam pelukan istrinya, namun Luna masih menetes air mata.


Para pelayan dan bisik-bisik saat mendengar pertanyaa dari tuannya. Lalu seorang pelayan yang berada di baris belakang langsung angkat bicara.


“ Tuan..mohon maaf. Sebenarnya semalam, pada dini hari saya melihat nona Hyena keluar dari arah tempat bayi kelinci tuan.”


Semua pelayan yag berada di depan langsung bergeser agar pelayan tersebut langsung berhadapan dengan tuan Aliester.


“ Tapi saya benar-benar tidak tahu akan seperti ini. Tuan jangan pecat saya, tuan boleh menghukum saya, tapi saya mohon jangan pecat saya.” Dia langsung berlutut dan menundukkan kepalanya. Suaranya terdengar sangat lirih.


Tuan Aliester mengusap wajahnya, lalu menatap Luna yang juga menatapnya. Tatapan tuan Aliester seakan memohon pada Luna untuk segera sadar dan tidak terlalu membela Hyena, serta membiarkan dia untuk membawa Hyena untuk cek kondisi psikologis. Setelah beberapa saat Luna sanggup lagi menatap mata papanya, dia menundukkan wajahnya.


“ Aku tidak akan menghukum atau memecatmu. Tapi aku harap lain kali, kalian semua harus memperhatikan apapun di rumah ini dengan baik. Sekarang semuanya bubarlah!”


“ Terimakasih tuan.” Kemudian semuanya menunduk dan bubar.


“ Luna sekarang apa kamu masih mau membela Hyena? Papa dan mama tulus menyangi Hyena. Tapi papa tidak ingin dia bersikap seperti ini, mengusik kebahagianmu sama saja mengusik ketenangan papa dan mama. Hyena di penuhi dengan iri hati, meskipun dia menyayangimu tapi suatu saat bisa saja dia mengkhianatimu.”


“ Pa Luna akan menyuruh orang lain untuk merawat bayi Bibib. Papa dan mama tidak perlu menyalahkan Hyena. Luna tidak mau Hyena menjadi tidak nyaman.”


“ Sayang.. papamu hanya ingin menasehatimu untuk tidak terlalu mempercayai Hyena. Kita boleh baik sama siapa saja, tapi kita harus tetap waspada.” Lanjut mamanya.


Sejak kejadian itu papa dan mamanya Luna menjadi semakin khawatir dengan sikap Luna yang terlalu menyanyagi Hyena tanpa syarat. Luna benar-benar memindahkan tempat perawatan kelincinya, dan sejak itu Luna juga tidak pernah memelihara kelinci lagi demi Hyena.


Namun kejadian kehilangan Bibib sekaligus harus merelakan bayi Bibib di pindahkan ke tempat lain membuat Luna jadi insomnia.


Oleh karena itu ketika tengah malam dia sering mendatangi ruang kerja papanya untuk sekedar bercerita dan begurau. Dalam beberapa waktu papa Luna memang lebih menajakan Luna dari biasanya. _FLASHBACK OFF_


Luna mengusap wajahnya, dia masih tidak menyangka bahwa perlakuan papanya yang sedikit berbeda padanya dalam beberapa saat waktu itu, membuat Hyena menjadi salah paham. Bahkan mengira bahwa kasih sayang papa dan mamanya hanyalah palsu. Sehingga menyimpan dendam sejauh ini pada papa dan mamanya.

__ADS_1


“ Hyena.. kau ingin membunuh papa dan mamaku karena kesalahpahaman itu. Kemudian ingin membunuhku karena kak Jiang He menolakmu. Kamu memang penuh iri hati, tak cukup bermain dengan nyawa hewan peliharaanku, tapi kau juga bermain dengan nyawa kami. Tak hanya itu, kau bahkan berkomplot dengan penjahat. Kali ini aku benar-benar sudah habis toleransi padamu.” Luna merobek foto itu menjadi 2 bagian. Dia meletakkan foto bagian Hyena dia atas meja. Lalu Luna masuk ke kamarnya dan menutup pembatas balkon. Sementara foto Hyena yang di tinggalkan Luna di meja, ditiup angin dan terbang entah kemana.


__ADS_2