TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
ORANG JAHAT SELALU PUNYA SIASAT


__ADS_3

“ Ini benar memuaskan. Aku rela sekit tiap saat jika nona Luna yang merawatku.” Mark mendekatkan wajahnya pada Luna.


Luna terkejut, pupil matanya membesar dan dera nafasnya langsung tak beraturan.


‘ deg deg deg ‘ dia mengedipkan matanya beberapa kali.


“ Aaaa..kau jangan menggodaku!” sambil mendorong tubuh Mark. Dia terlihat salah tingkah dan dia memalingkan wajahnya yang mulai memerah.


“ Haha..kau yang mulai duluan. Sayang kalau tidak punya jantung yang kuat jangan menggodaku” sambil mengusap kepala Luna dengan lembut.


“ Hah, sayang? Kenapa dia semakin berani saja? apa dia tidak malu dengan pengawal yang berada di sini?” celoteh Luna dalam hatinya.


Mark mengemasi obat dan peralatan yang terletak di meja. Sementara Luna masih berusaha menstabilkan detak jantungnya.


“ Luna apa Jiang He sudah datang ke sini?”


“ Sudah. Kak Jiang He datang setelah kau pergi siang tadi. Mark, apa kau sedang ada masalah dengan kak Jiang He?” tanya Luna dengan menatap Mark yang memasukkan obat ke kotak.


“ Aku tidak punya masalah dengannya, dia saja yang sedang bermasalah dengan hatinya.”


“ Maksudmu?” Luna bingung dengan perkataan Mark.


“ Haruskah aku mengatakannya dengan jelas? Bukankah seharusnya kau tahu?”


Luna semakin bingung, dia menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Mark.


“ Aku sungguh tidak tahu. Tapi dia sedikit dingin hari ini. Dia datang hanya memberikanku bunga, berbincang sebentar lalu pamit. Tidak bisanya dia seperti itu.”


Mark telah selesai membereskan semua obat. Lalu dia meletakkannya di meja dan kembali duduk dengan nyaman.


“ Luna bukankah kau tahu Jiang He menyukaimu?” sambil menatap Luna yang duduk di sampingnya.


Mendengar pertanyaan Mark, Luna langsung terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa.


“ Hey…” sambil menjentikkan jarinya di depan Luna.


“ Ah..kau bilang kak Jiang He menyukaiku?. Hum aa haha.. itu hanya masa lalu” jawabnya dengan senyum yang canggung.


“ Sejak kapan dia mengetahui jika kak Jiang He menyukaiku di masa lalu? Untuk sekarang aku tidak tahu apakah kak Jiang He masih menyukaiku. Tapi dia memang selalu memperlakukan dengan baik.” bisik hatinya sambil menatap Mark dan menggaruk kepalanya.


“ Huuhh..apakah kekasihku benar-benar polos atau bodoh?”


“ Kenapa kau berkata seperti itu?” Luna kesal dan menatap Mark dengan cemberut.


“ Dulu kak Jiang He memang menyukaiku, tapi itu hanya masa lalu. Untuk sekarang setelah 2 tahun sejak itu, dia tidak pernah berkata jika dia masih menyukaiku. Dia hanya memperlakukan aku seperti adiknya dan aku menganggapnya sebagai kakak terbaik yang pernah aku miliki” jelas Luna.


“ Humm..” respon Mark sambil mengangguk kecil.


“ Aaaa..kenapa responmu begitu? Mark Rendra..apa kau tidak mempercayaiku?” dengan suara yang keras dan nada yang terdengar sangat kesal.


Mark menarik Luna dalam pelukannya. Usap-usap lembut rambut panjang kekasih.


“ Aku percaya, mana mungkin aku tidak mempercayai kekasihku” ucapnya dengan lembut.


“ Hufftt..syukurlah. Aku kira sudah ketahuan, jika aku begitu mengagumi kak Jiang He. Tapi perasaanku pada kak Jiang He benar-benar hanya kagum dan menganggapnya sebagai kakak. Berbeda dengan yang aku rasakan saat bersama si tuan muda ini, aku benar-benar mencintainya. Dengannya hatiku telah menemukan ritmenya.” Bisik hatinya dengan senyum.


***


\= Kediaman Camelia \=


‘ tuut tuut ‘ Camelia menelvon seseorang dengan ekspresi yang sangat marah.


Dia terlihat sangat tidak tenang. Di berjalan bolak balik di teras balkon kamarnya.


“ Aishh.. kenapa dia tidak menjawab terlvonku” umpat Camelia penuh kemarahan.


‘ tuutt tuut’ dia terus mencoba untuk menelvon.

__ADS_1


“ Halo” akhirnya orang yang dia hubungi menjawab.


“ Yakk..kenapa kau lama sekali menjawabnya? apa saja yang kau lakukan, kenapa hal yang mudah saja kau tidak bisa melakukannya. Aku menyesal telah bekerja sama denganmu” teriak Camelia penuh kemarahan


“ Hah, menyesal? Lalu apa kau pikir bisa melakukannya? Camelia kau hanya gadis bodoh yang gegabah. Kau jangan menghinaku dengan mulut kotormu itu!”


“ What? Kau kau.. ya… Lou Hyena. Kau pikir kau siapa hah? Kau hanya anak yatim piatu yang di pungut dengan kasihan oleh keluarga Aliester tapi akhirnya kau di sia-siakan. Kau berani mengataiku? Hyena.. jika bukan karena kau yang menghalangiku, aku sudah menembak mati si jal*ng waktu itu.”


“Hahaha..kau memang bodoh. memangnya kau pikir dengan seperti itu semuanya akan beres? Yang ada keesokan harinya, kau akan di penjara. Kau pikir Mark Rendra itu bodoh. Kau butuh taktik dalam menjalankan semua ini, bukan hanya mengandalkan kemarahanmu.” balas Hyena dengan penuh penghinaan.


Camelia terdiam dengan menggertakkan giginya. Dia benar-benar tidak terima telah di terima oleh Hyena.


“ Hyena.. aku tidak akan bekerjasama lagi denganmu. Aku akan menghabisinya dengan caraku sendiri. Kau benar-benar sudah membuang waktuku. Percuma aku memancing kemarahannya saat di pesta itu. Kau benar, jika aku langsung membunuhnya mungkin aku akan di penjara, tapi aku punya cara yang lebih kejam dari pada pembunuh. Cukup sampai di sini hubungan kita. Kau jangan pernah melibatkanku dalam hal apapun jika kau gagal dalam misimu.” Jawabnya dengan dingin, Lalu dia memutuskan panggilan. Camelia memblokir dan menghapus kontak Hyena dari ponselnya.


“ Kemarin aku sudah sangat senang, aku mengira si jal*ang itu sudah menjadi mayat. Tapi sekarang malah keluar berita yang benar-benar membuatku kesal. Hyena.. kau hanya besar mulut dan tidak dapat di andalkan sama sekali. Huh.. sebaiknya aku memesan bunga terbaik untuk menjenguknya besok. Aku punya caraku sendiri untuk menghancurkan keberuntungannya.” Penuh tekad dan senyum yang jahat.


Camelia kemudian melakukan panggilan untuk menyuruh orangnya agar memesankan bunga mawar terbaik untuk dia bawa saat menjenguk Luna besok pagi.


***


Pagi harinya Luna sudah mengganti baju pasiennya dengan gaun berwarna putih dan long coat berwarna coklat. Dia duduk di sofa untuk menunggu Mark yang pergi ke ruangan dokter Chu.


 


Luna duduk dengan menyandarkan kepalanya, lalu dia memandangi langit-langit rumah sakit. Dia berhitung dengan jarinya.


“Beberapa hari lagi aku akan bertemu dengan papa dan mama. Aku benar-benar sangat merindukan mereka.” dengan senyum yang melengkung di bibirnya.


“ Tunggu dulu. Apakah selama ini Mark tidak memperbolehkanku untuk berkomunikasi dengan papa dan mama karena kecelakaan itu? dan apakah sekarang papa dan mama sudah sembuh? ya Tuhan.. aku benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.


Tapi aku harus tetap bersabar sampai hari itu. Aku percaya padanya, pasti papa dan mama baik-baik saja” gumam Luna dengan memejamkan matanya dan jemarinya yang saling bermain.


Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Luna tidak menyadari bahwa Mark sudah kembali dan duduk di sampingnya.


Mark menyandarkan sikunya di kepala sofa.


Luna terkejut hingga membuka matanya, lalu dia menatap Mark yang sudah duduk di sampingyan dengan jarak yang cukup dekat.


“ Haha.. kau sudah datang. Kenapa tidak bersuara sama sekali? Apa kau hantu yang melayang di lantai? Huh mengagetkan saja” ucap Luna dengan kesal.


Luna kemudian memperbaiki duduknya, dia melirik Mark yang terus menatapnya.


“ Mark.. ayo kita segera pulang. Orang-orang pasti sudah menungguku.” Sambil memberanikan diri menatap mata Mark yang sedari tadi menatapnya.


Mark tak merespon perkatan Luna, dia hanya terus memandangi wajah kekasihnya, dari mata, hidung dan terakhir terfokus pada bibir Luna yang masih sedkit pucat.


Luna bingung dengan sikap Mark, dia juga membalas tatapan Mark yang tanpa ekspresi itu.


“ Apa yang di pikirkannya. Dia diam begini benar-benar aneh, aku tidak suka. Membuatku penasaran saja” bisik hati Luna dengan sedkit kesal, karena tatapan Mark membuatnya menerka-nerka.


Luna tersenyum penuh siasat, lalu dia mendekatkan wajahnya pada Mark.


‘ cup ‘ dia mencium lembut pipi Mark dengan tiba-tiba. Tentu saja hal tersebut membuat Mark terkejut hingga dia membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka Luna berani melakukan itu tanpa aba-aba.


“ Sayang ayo kita pulang” bisik Luna dengan lembut.


Luna menatap Mark sangat dekat, dia melihat dengan jelas ekspresi Mark yang sedkit berubah.


“ Hahah..aku tidak melakukan ini lagi! ini benar-benar menggelikan jika aku terus begini” sambil menjauh.


“ Ok ok tidak ada lelucon lagi” lanjut Luna sambil tertawa.


‘ grep ‘ Mark menangkap tangan Luna.


“ Hah..” Luna terkejut dan langsung berhenti tertawa. Dia menatap Mark yang terlihat tidak terima di permainkan olehnya.


“ ******. Apa yang harus ku lakukan?” bisik hati Luna dengan terus mencari ide.

__ADS_1


Luna memegang lembut tangan Mark yang memegangi tangan kirinya.


“ Mark ayo kita pulang. Aku sudah sangat lapar. Sup buatan bi Ina pasti saat enak di makan pagi hari. Pengawal ayo kita pergi” ucap Luna nada sedikit canggung.


Tiga orang pengawal yang tadinya selalu menghadap jendala, sekarang sudah berbalik badan menghadap mereka.


“ Mark, kau tidak akan membalasku di depan pengawalmu kan?” bisik hati Luna penuh harap. Dan dia menatap Mark dengan senyum sushinenya.


“ Luna..kau benar-benar ya. Huh..baiklah, kali ini aku lepaskan saja” bisik hati Mark.


Lalu dia menggenggam tangan Luna dan mereka berdiri bersama.


“ Mari tuan, semuanya sudah aman, dan mobil sudah di siapkan” ucap pengawal tersebut.


Mark dan Luna juga langsung melangkah pergi dan di ikuti oleh beberapa pengawalnya dari belakang.


***


Beberapa menit kemudian, Mark dan Luna sudah sampai di rumah. Pengawal membukakan pintu mobil untuk keduanya.


“ Mark, apa benar mereka semua sudah datang sepagi ini?” tanya Luna sebelum keluar dari mobil.


“ Iya. Mereka sangat mengkhawatirkanmu, di tambah lagi aku melarang mereka untuk datang ke rumah sakit malam kemaren. Mereka bener-benar kesal padaku. Ayo sekarang kita segera masuk.”


Luna tersenyum lalu dia seluar dari mobil.


“ Luna..” suara seorang wanita yang memanggilnya. Sehingga Luna dan Mark yang baru keluar dari mobil langsung menoleh pada sumber suara.


“ Camelia?” ucap Luna pelan. Camelia baru keluar dari mobil dan di susul oleh Noman dan nyonya Xio yang juga datang.


Mark hanya terseyum melihat hal itu, lalu dia langsung mendekati Luna dan menggenggam tangan Luna.


“ Keponakanku..aku benar-benar mengkhawatikanmu saat melihat berita di televisi. Apa kau terluka?” Dengan berjalan mendekat dan memperhatikan Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“ Luna, semalam Camelia sangat mengkhawatirkanmu. Dia bersikeras untuk menjengukmu ke rumah sakit. Tapi karena mendengar bahwa Mark tidak menerima kunjungan rumah sakit demi kebaikanmu. Kami terpaksa mengurung niat baik itu dan sekarang dan memutuskan pagi-pagi ini untuk menyambutmu pulang.” ucap nyonyo Xio dengan mulut manisnya yang penuh dusta.


“ Khawatir bagaimana maksud tante? khawatir karena akhirnya aku selamat?” tanya Luna dengan nada dingin dan tatapan tidak suka yang tidak bisa dia sembunyikan.


“ Si jal*ng ini benar-benar benar sudah sangat berani ya sekarang” bisik hati nnyonya Xio dengan menahan kesalnya.


“ Ah.. bukan begitu maksud mama Luna. Kami benar-benar mengkhawatirkan sejak berita kecelakaanmu. Aku sangat cemas, dan ketika mendengar kau selamat kami benar-benar sangat lega.” sela Camelia dengan lembut.


“ Luna..kamu janga salah paham. Kami benar-benar tulus, lihatlah Camelia membawakan bunga, buah dan sup kesukaanmu. Dia bangun pagi-pagi untuk menyiapakan ini semua khusus untukmu."


Mark menggenggam erat tangan Luna, hingga Luna menoleh padanya. Mark memberikan isyarat matanya agar Luna tidak perlu melawan orang itu.


“ Paman, tante dan Camelia..maafkan Luna. Dia masih belum cukup pulih. Jadi emosinya masih belum stabil. Tidak perlu berdebat pagi-pagi begini, lebih baik sekarang kita masuk dan sarapan bersama.”


“ Haha..tuan Mark memang sangat pengertian. Maafkan paman Luna, telah membuatmu kesal.”


Luna hanya diam dia tidak merespon sama sekali. Tapi di hatinya menjawab.


“ Alangkah baiknya kalian tidak datang. Benar-benar merusak moment saja. Huh..memangnya kalian saja yang datang menyambutku” kata hatinya dengan sangat kesal.


“ Mari kita masuk saja paman.”


Mark dan Luna berjalan duluan. Mereka berjalan dengan tetap saling berpegangan tangan. Dan di belakang di ikuti oleh Noman, nyonya Xio dan Camelia.


Dalam hati mereka terus mengutuk Luna sambil menatap pegangan tangan Luna dan Mark dengan tatapan tidak senang.


“ Luna untuk sekarang aku memang tidak bisa membunuhmu. Tapi aku akan membuatmu menderita, yang pastinya penderitaan itu lebih menyakitkan dari pada kematian.” Bisik hati Camelia dengan senyum jahatnya.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2