TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 AKHIRNYA...


__ADS_3

Proses pemakaman telah selesai. Charles beranjak dengan raut wajah lemah. Tidak memperdulikan apapun lagi dia langsung memasuki mobilnya.


"Ke markas!" perintahnya lemah. Matanya merah penuh ketidakberdayaan.


"Baik tuan." jawab Hansel, orang kepercayaannya. Dia langsung melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mobil yang di naiki Charles berhenti di sebuah mansion. Orangnya dengan segera membuka gerbang untuknya. Mansion itu tampak dijaga dengan ketat. Setiap sudut ada yang mengawasi, lengkap dengan senjatanya.


Charles keluar dari mobil. Sorot matanya telah berubah. Aura kemarahan sangatlah pekat. Orang-orangnya langsung memberi hormat dan menunduk. Sadar akan suasana hati tuannya.


Tanpa bicara sepatah katapun, Charles langsung memasuki mansion mewah itu. Dia di ikuti oleh Hansel.


Charles menuju sebuah lorong dan berhenti di sebuah pintu yang di jaga oleh 2 orang pengawal berbadan kekar.


Tanpa perintah pengawal tersebut membukakan pintu. Menunduk hormat ketika tuannya masuk.


Di dalam ruangan terdapat berbagai teknologi canggih. Ada beberapa orang berjaga di sana.


"Tuan." ujar mereka terkejut. Mereka yang tadi duduk langsung berdiri dan menunduk hormat. Baru kali ini tuannya datang dengan tiba-tiba.


"Mundurlah!" perintah Hansel ketika Charles sudah duduk di kursi kebesarannya. Dengan cepat 2 orang tersebut langsung mundur ke sisi lain. Hansel lah satu-satunya orang yang paling mengerti akan tuannya.


Charles mengepalkan kedua tangannya. sorot matanya sangat menyeramkan. Sementara itu Hansel pergi ke sudut ruang menekan sebuah tombol di sana.


Perlahan dinding di depan Charles terbuka.


Hansel menekan sebuah remot control. Lagi-lagi dalam ruang rahasia masih terdapat ruang rahasia dengan pencahayaan yang minim.


Charles berdiri, menghembuskan nafas berat lalu melangkah masuk ke ruang yang remang-remang itu. Hansel pun juga mengikutinya.


Sudah di dalam ruang rahasia. Di sana terlihat sosok pria di atas kursi roda membelakangi meraka. Dia menghadap ke sebuah akuarium di depannya. Kepala pria tersebut penuh di baluti perban.


"Untuk apa kau kemari?" tanya pria itu. Di sorot lebih dekat, hanya matanya tampak. Seluruh wajahnya di tutupi perban. Begitupun dengan tangan dan kakinya.


Charles diam. Dia duduk di sofa yang tersedia di sana. Sementara Hansel tetap berdiri.


Charles melihat akurium yang dipandangi pria itu. Hanya ada 1 ekor ikan di dalam akurium yang besar itu.


"Apa kau merasa ikan itu sama denganmu?" tanya Charles.


Pria itu mendengus, namun dia tidak menanggapi perkataan Charles.


Charles tersenyum sinis, lalu menjentikkan jarinya. Mengerti akan titah tuannya, Hansel langsung menuju sebuah ruangan dan tak lama dia keluar dengan membawa 4 ekor ikan serupa dengan ukuran yang berbeda di dalam akuarium kecil.


Tanpa perintah lagi, Hansel juga langsung memasukkan ikan-ikan tersebut ke akurium besar di dapan pria penuh perban itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu dingin.


"Tidak perlu bertanya, kau sendiri tau maksudku." jawab Charles berdiri dan mendekati pria yang masih membelakanginya. "Kau cukup jawab saja pertanyaanku."


"Cih.." decih pria itu meradang. Tangannya tampak menggenggam erat. Sorot matanya penuh kemarahan.


'Brackk.. kling kring..kling.' pria itu mengamuk dalam seketika dia menghancurkan akuarium besar itu dengan melemparinya dengan kursi rodanya.


Charles dan Hansel terkejut, matanya terbelalak.


Dalam waktu bersamaaan pintu ruang rahasianya yang tadi sudah tertutup terbuka.


Charles dan Hansel langsung menoleh. Dari cahaya remang itu tampak dua orang pria melangkah dengan tegas.


Ternyata dua orang itu adalah Mark dan Rangga yang datang dengan kerennya dan langsung menyerang dengan pistolnya.


'Dor, dor..'


Bahaya. Hansel dan orangnya langsung menyerang dan melindungi tuannya.


Aksi saling tembak terjadi Hansel membawa Charles dan pria penuh perban itu ke sisi lain.


Mark dan Rangga masih menghadapi bawahan Charles, aksi tembak dan pukulan yang menegangkan. Sesekali Mark dan Rangga tampak akan terluka.


Mark dan Rangga saling kerja sama. Mark dan Rangga menghadapi beberapa orang yang masih tersisa.


'Dor, dor, dor..' tiga peluru berturut-turut.


"Kau, kau... sejak kapan..?" tanya Charles tertahan, karena dia melihat Mark yang muncul. Sementara Hansel langsung tumbang mengenaskan di lantai.


"Anda terkejut tuan?" ucap Mark dengan seringai senyumnya.


"Sudah berakhir permainanmu baj*ngan!" pria penuh perban merobek perban di wajahnya.


'Sreett..' wajah yang sama dengan Charles namun terdapat beberapa luka di wajahnya.


"Kau..." ucap Charles terbata.


Glek. Charles langsung menelan ludah dengan wajah mulai takut. Kemudian dia menatap Mark.


"Jhon mari kita akhiri ini dengan indah.." ucap Mark dengan senyum yang menusuk.


'Dor..' Mark menembak kaki Jhon.


"Argh.." dengan nafas terengah Jhon terjatuh menahan sakit.

__ADS_1


"Saatnya kau melunasi hutangmu. Ingat sampai ke ujung duniapun, di balik wajah siapapun kau bersembunyi. Aku Mark Rendara pasti akan menemukanmu JHON." berbalik badan dengan menyeringai.


Charles langsung menyeret Jhon yang sudah terluka. Dia mengikuti langkah Mark.


"Kau sejak kapan bisa berjalan?" tanya Jhon menatap nanar Charles.


"Hah, kenapa? apa kau merasa di permainkan? jangan kau pikir aku sendiri di sini, kau bisa mengendalikan ku sepenuhnya."


'Brugkkkh..." melempar Jhon ke lantai, tepat di kaki Mark.


Jhon mengangkat kepalanya. Dia melihat beberapa orangnya berdiri patuh dan hormat di depan Rangga. Mereka semua bersih , tidak ada luka sama sekali.


Dilihatnya sekitar, juga banyak orangnya yang ada di ruangan ini tergeletak tak bernyawa di lantai.


Jhon mengerti, beberapa orangnya telah di kendalikan oleh Mark.


Hebat. Mark membuat orangnya berkhianat padanya.


Jhon menggenggam erat jemarinya di lantai. Tidak di sangka akan seperti ini. Dan penyamarannya yang sesempurna ini di ketahui oleh Mark.


Sebelum memutuskan untuk memilih wajah Charles untuk penyamaranya dia sudah menyelidiki secara detail tentang Charles.


Bersih, sesuai keinginannya. Charles tidak ada sangkut pautnya dengan Keluarga Rendra. Lagian ini merupakan belahan bumi yang jauh dari China, Charles juga bukan orang bisnis membuat Jhon yakin akan Charles yang tidak berkaitan dengan Keluarga Rendra.


Jhon mengeram penuh kemarahan. Kenapa ini bisa terjadi?


"Jhon bagaimana dengan kado pertama dariku?" tanya Mark dingin. Dia masih membelakangi Jhon yang tertunduk di kakinya.


Bibir Jhon bergerak menahan amarah. "Kau yang melakukannya?" tanyanya dingin.


"Menurutmu?"


"Baj*ngan... kenapa kau membunuh putra dan putriku?" teriaknya, lalu berdiri memegangi krah baju Mark.


"Jhonnnn.." teriak Rangga dengan mengacungkan pistol.


"Tidak apa-apa." ucap Mark menahan. Rangga langsung menurunkan senjatanya.


"Jhon ini pertama kali kita bertemu." melepaskan tangan Jhon dengan kasar. "Santailah!" lanjutnya dengan senyum yang membuat Jhon semakin berapi-api.


"Kau berusan denganku, tapi kenapa kau membunuh kedua anakku?"


"Lalu bagaimana dengan ayahku? apa sudah jelas dia yang seharusnya kau habisi? apa sudah jelas dia penyebab kematian adikmu?" ucap Mark dengan suara menggelegar.


Mendengar perkataan Mark wajah Jhon kembali terkejut. Dia menatap Mark tidak percaya.

__ADS_1


Suasana tegang semakin mencekam. Sorot mata Mark sangat menakutkan.


Bersambung....


__ADS_2