
Sementara orang-orang di atas sibuk dengan Luna, di saat yang bersamaan di bawah sana Hyena masih tersedu-sedu sambil memegangi Fan Zee yang sudah tak bernafas lagi.
“ Fan Zee..kenapa kau melakukan ini? kenapa kau menghadang semua peluru?” ucapnya dengan dengan sesegukan.
Kemudian dia menghapus air matanya dengan tangannya yang berdarah, hingga wajahnya juga memerah karena darah di tangannya.
“ Mark Renda, Luna Aliester, kalian semua tunggu saja pembalasannku” tekadnya dengan penuh dendam.
Dia berhenti menangis, lalu dia menarik jasad Fan Zee keluar dari kaca pelindunng tersebut. kemudian dia menekan semua tombol keamanan, agar dia punya lebih banyak waktu sebelum Mark dan orang-orang berhasil menerobos tempat itu.
‘ klik klik klik ‘ semuanya sudah tertutup dengan aman.
Ruangan itu cukup Luas, tapi tidak ada yang special di sana. Satu-satunya barang terletak di sana hanyalah sebuah mobil jeeps. Sepertinya itu memang hanya tempat rahasia untuk melarikan diri.
Hyena kemudian merobek bajunya lalu membaluti jari telunjuknya yang sudah hancur setengahnya, akibat tembakan Mark. Dia membalut Luka dengan wajah dingin dan tekad hati yang penuh dendam.
***
\= Rumah Sakit \=
Luna sudah diberi perawatan, namun dia belum sadarkan diri.
Mark duduk sambil memegangi tangan Luna, dia berharap bahwa Luna akan sadar secepatnya. Meskipun dokter Chu sudah berkata bahwa Luna baik-baik saja, tapi dia masih saja gelisah.
Sudah 4 jam berlalu dan jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Tapi Luna belum sadar dan Mark juga masih duduk di samping Luna. Masih dengan posisi yang sama, dia tetap memegangi tangan Luna. Hatinya terus memohon agar Luna sadar dengan segera.
“ Tuan, Nona Luna baik-baik saja, tuan tidak perlu khawatir. Sekarang tuan beristirahatlah” bujuk dokter Chu.
“ Aku tidak mengantuk. Aku hanya ingin menunggu Luna sadar. Aku ingin ketika dia membuka mata akulah orang pertama kali dia lihat, agar dia merasa tenang. Saat dia di sekap, pasti sangat sulit baginya. Saat dia terbangun, dia melihat orang-orang brengs*k itu. Aku ingin dia melupakan hal buruk yang di alami dengan cepat. Oleh karena itu aku harus berada di sisinya.” Jelas Mark sambil menatap wajah Luna dengan senyum dan tangannya mengusap pipi Luna dengan lembut.
“ Baiklah tuan. Jika begitu saya kembali ke ruangan saya” ucap Dokter Chu dengan sedikit canggung. Karena dia sudah ke sekian kalinya bolak-balik ke ruangan ini, tapi Mark tidak menanggapinya ketika dia menyuruh Mark beristirahat. Dan sekarang, ketika mendengar penjelasan Mark dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Setelah minta izin pamit, diapun langsung berjalan keluar.
“ Dokter Chu..” panggil Mark.
“ Hah..” Dokter Chu lansung menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu. Dia langsung melihat ke arah Mark.
“ Kau beristirahat jugalah. Kau harus tetap sehat, begitu banyak orang yang membutuhkan jasamu. Jangan bolak-balik lagi ke sini, hanya karena mengkhawatirkanku!!” ucap Mark sambil menatap dokter Chu.
“ Ah..haha.. baiklah tuan. Saya akan beristirahat, tadi saya bolak balik ke sini karena saya juga piket malam ini.” jelasnya dengan dengan sedikit terbata-bata.
“ Aku tau jadwalmu. Kau jangan berbohong. Sekarang kembalilah, dan beristirahat!”
“ Baik tuan.” Jawabnya canggung karena dia ketahun berbohong.
Dokter Chu langsung membuka pintu dan keluar dengan ocehan mengumpati dirinya sendiri.
“ Kenapa aku masih saja berani membohonginya? Ahrh..padahal dia selalu mengetahui jika aku berbohong” umpatnya.
“ Dokter Chu..” ucap Key yang baru saja datang dengan Rangga dan Louis.
“ Aaaa..kalian.” sambil memegangi dadanya, karena dia sedikit terkejut dengan kedatangan orang itu yang tiba-tiba di sela ocehannya.
“ Ada apa? Kau kenapa terlihat kesal, apa kau di marahi?” tanya Key sambil mengamati wajah dokter Chu.
“ Haha.. mana pernah tuan memarahiku. Aku hanya kesal pada diriku sendiri.”
“ Lalu?” tanya Key masih penasaran.
“ Ya Tuhan..tuan muda Key, anda cukup sebagai presdir Cour media saja. Jangan ikut-ikutan menjadi wartawan” jawabnya dengan kesal.
“ Kalian masuklah, aku harus beristirahat” sambil berjalan pergi. Lalu dia berbalik badan dan berjalan mundur dan tangannya memberikan gestur agar Key , Rangga dan Louis untuk masuk.
“ Hemmm..baiklah.”
‘krack’ Rangga membuka pintu dan mereka bertiga masuk. Dan di dalam sontak Mark langsung melihat ke arah mereka.
“ Kalian datang..” Ucap Mark. dia langsung meletakkan tangan Luna dengan lembut, kemudian dia langsung mendekati teman-temannya.
__ADS_1
“ Apa Luna masih belum sadar?” tanya Rangga sambil melirik Luna yang berbaring.
“ Belum. Tapi dokter Chu bilang dia baik-baik saja.”
“ Maafkan aku Mark!” ucap Louis dengan penuh rasa sangat bersalah. Dia menyalahkan dirinya, karena jika seandainya dia tidak meninggalkan Luna. Mungkin kejadiannya tidak akan separah ini.
“ Jangan salahkan dirimu lagi kakak. Maaf saat itu sangat khawatir, hingga membentakmu.” ucap Mark dengan senyum.
Louis hanya tersenyum kecut dengan menundukkan kepalanya.
“ Kakak aku benar-benar tidak menyalahkanmu. Sudahlah, sekarang kita harus membahas apa yang kalian temukan di lokasi” ucap Mark sambil berjaln menuju sofa. dan di ikuti oleh Rangga, Key dan Louis dari belakang.
“ Kami sudah menelusuri tempat pelarian Hyena, tapi di sana kami tidak menemukan apa-apa. Dia berhasil kabur. Dia cukup ahli” jelas Rangga.
“ Mark..tapi aku merasa sedikit aneh. Jika Hyena secakap ini dalam hal seperti ini, berarti dia sudah terbiasa. Dia bukan seperti membayar orang lagi, tapi dia sudah terlibat dalam kelompok itu dan pastinya kelompok itu cukup kuat” terka Key penuh rasa curiga.
“ Aku juga berfikiran begitu. Sejak pertama kali dia menjebak Luna dengan taktik penebusan dirinya, hal itu semakin terlihat jelas.”
“ Tapi kali ini kita punya orangnya yang masih hidup dan polisi yang telah bekerjasama dengannya. Kita bisa mengintrogasi mereka” ucap Rangga dengan semangat dan mengepalkan tangannya.
“ Mark sepertinya Luna mengetahui banyak hal. Ketika dia sudah pulih, cobalah kau cari kesempatan untuk menanyainya. Siapa tahu apa yang dia ketahui merupakan kepingan puzzle yang kau cari selama ini” ucap Louis tiba-tiba sambil menatap adiknya itu.
Mark menatap mata Louis dan memiringkan sedikit kepalanya.
“ Kakak..apa kau mengatahui sesuatu?” tanya Mark mencurigai.
Louis tersenyum, “ Aku tidak yakin. Tapi Luna pernah menanyaiku tentang symbol elang darah.”
“ Elang darah?” tanya 3 oarang itu serentak. Mereka terkejut kenapa Luna bisa mengetahui tentang itu.
“ Ya, dia tidak mungkin menanyainya jika dia tidak mengetahui sesuatu.” Lanjut Louis.
“ Jadi kau pernah berbicara dengannya?” tanya Mark.
“ Iya, maafkan aku tidak memberitahumu. Karena dia mengancamku. Mark..Luna sama liciknya denganmu. Dia memancingku hingga dia berhasil menangkapku. Dia menangkapku hanya untuk menanyai apakah kau terlibat dengan kelompok elang darah, tidak ada yang lain.” ucapnya membela diri, karena 3 pria itu sudah menantapnya dengan tatapan tajam.
“ Tapi dari mana Luna mengetahui tentang elang darah?” tanya Rangga Heran.
“ Berarti dia memang mengetahui sesuatu” ucap Rangga dengan dingin.
Mereka berbincang cukup lama, hingga jam sudah menunjukkan pukul 05.30.
Mereka beranjak dan Mark mengantarkan teman dan kakaknya itu keluar.
“ Oh iya, kenapa Jiang he tidak di sini?” tanya Key.
“ Dia bilang ada hal penting yang harus dia urus.” Jawab Mark dengan santai.
“ Ouu..” respon Key sambil menganggukkan kepalanya.
“ Ya sudah kami pergi ya. Huah..aku harus beristirahat sejenak” oceh Key sambil berjalan duluan.
“ Tunggu aku, aku akan ke tempatmu” panggil Rangga sambil menyusul Key dengan cepat.
“ Kau tidak melakukan apa-apa. apakah perlu beristirahaytjuga?” ejek Key.
“ Kau jangan kira aku aku tidak melakukan apa-apa. Aku mengontrol semua polisi saat itu dan berhasil menemukan pengkhianat di antara mereka. Bukankah itu juga sebanding dengan berkelahi menghadang musuh?”
“ Ah.. mana bisa itu sebanding..” ledek Key dengan gurauannya.
Karena kesalnya , Rangga langsung mendekap leher Key dengan kuat.
“ Apa yang kau lakukan..apa kau ingin menciderai leherku. Kenapa jahat sekali, wajahku saja sudah terluka karena orang-orang brengsek itu” umpat Key dengan kesal.
“ Makanya, kau jangan mengejekku..”
“ Haha. Tidak-tidak. Aku tidak akan mengejek lagi.”
Mark dan Louis tersenyum melihat tingkah 2 orang itu.
“ Bagaimana dengan kakak?” tanya Mark sambil melirik Louis.
“ Aku akan ke kantor polisi untuk mengawasi polisi pengkhianat itu.”
__ADS_1
“ Percayakan saja pada orang kita. Kakak beristirahatlah.” Sambil menepuk bahu Louis.
Louis tersenyum, “ Baiklah. Kau juga harus beristirahat.”
Di interaksi yang singkat itu ada kehangatan yang mereka rasakan. Karena sebagai pria dewasa mereka sudah sangat jarang saling memperhatikan satu sama lain.
Louis melirik lengan Mark sudah sudah di balut.
“ Apa itu sakit?”
“ Aku tidak selemah itu” jawab Mark dengan sedikit tawa.
“ Tapi bukankah sudah kehilangan banyak darah?”
“ Iya, tapi tidak separah yang kakak pikirkan” masih tertawa.
Louis tersenyum, tapi tiba-tiba dia kembali terlihat serius.
“ Mark, Luna adalah orang yang suka bertindak sendirian. Jadi ingat pesanku, kau harus mencari cara agar dia bisa lebih terbuka padamu.” nasehat Louis sebelum beranjak pergi.
Mark hanya memberikan respon senyum dan dan insyarat mata. Setelah itu Louis langsung pergi.
***
Semuanya orang sudah pergi, Mark kembali masuk ke dalam. Dia duduk sambil memandangi Luna dan kembali menggenggam tangan Luna dengan kedua tangannya. Dia mengingat kejadian saat dia menahan Luna untuk tidur di kamarnya.
“ Luna jadi saat itu kau menyadari bahwa miniatur itu adalah sebuah lambang dari suatu kelompok.” bisik hatinya.
Mark kemudian menunduk dan mengusap keningnya dengan tangan kirinya. Dia memikirkan berbagai perkiraannya selama ini, dia terlihat tidak tenang.
Tiba-tiba tangan Luna bergerak, merasakan gerakan itu Mark langsung mengangkat kepalanya dan menatap Luna.
“ Luna..” ucapnya pelan. Dia merasa senang dan lega.
Perlahan Luna juga membuka matanya, dia melihat Mark yang sudah menatapnya dengan senyum penuh rasa lega.
“ Mark..” ucapnya pelan.
“ Luna..akhirnya kau sadar.” Sambil mencium tangan Luna.
Mark kemudian memanggil dokter Chu untuk memeriksa keadaan Luna. Dokter Chu datang dengan cepat dan dia langsung memeriksa Luna.
“ Bagaimana keadaannya dok?” tanya Mark tidak sabaran.
“ Nona Luna benar-benar tidak apa-apa tuan. Semuanya baik-baik saja. Tapi nona harus tetap menginap di sini, dia masih sedikit lemah.”
“ Baiklah, aku mengerti.”
“ Aku akan mengurus semuanya. Tuan dan nona beristirahatlah.”
“ Terimakasih dokter Chu”.
Dokter Chu tersenyum, lalu dia langsung pamit keluar.
Setelah dokter Chu keluar, Mark duduk di samping Luna dan langsung memeluk Luna. pelukan Itu terasa sangat berbeda bagi Luna, dia merasakan dengan sangat jelas emosi Mark dengan pelukan Itu. perasaan di mana Mark benar-benar mengkhawatirkannya.
“ Mark aku baik-baik saja.”
“ Luna lain kali kau jangan pernah menghadapi apapun sendirian lagi. Libatkan aku dalam setiap masalahmu, berbagilah denganku, aku akan selalu membantumu, aku akan melindungimu. Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi.” pinta Mark dengat sangat dan suaranya sedikit parau.
“ Iya, aku janji tidak akan bertindak sendirian lagi.”
“ Ya, seperti itu. Terimakasih Luna. Aku bersumpah, tidak akan ada tempat teraman di dunia ini, kecuali dengaku.” sambil mencium puncak kepala Luna dengan lembut.
Luna tersenyum, di dalam pelukan Mark dia merasa sangat nyaman dan merasa terlindungi.
“ Mark aku mencintaimu.”
“ Aku juga. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Jadi jangan pernah tinggalkan aku.”
“ Tidak akan. Kamu adalah milikku. Aku mencintaimu, itu adalah awal serta akhirnya.”
Senyum merekah terukir di bibir meraka. Mereka hanyut dalam ungkapan perasaan masing-masing, sehingga mempererat pelukan mereka.
__ADS_1