
Louis tersenyum, mengeluarkan kotak hitam dari brankas dan kembali duduk. “Silahkan kau lihat.” Melatakkan di meja.
Mark dengan segera membukanya. Lagi-lagi smirk di bibirnya saat dia melihat isi kotak tersebut. Sebuah pistol mematikan di sana.
Colt 1911, yang nerupakan sebuah pistol legenda yang telah di gunakan selama 7 dekade. Berisi 7 buah peluru dan setiap butirnya bisa di muntahkan dengan kecepatan 1.225 kaki per detik.
Senjata yang dia simpan baik-baik, meski dia juga mempunyai senjata serupa. Namun ini istimewa, karena merupakan senjata yang dia dapatkan dari sisi jasad ayahnya yang tak lagi berupa saat kecelakaan yang merenggut nyawa itu.
Mark mengepalkan tangannya erat, mengingat kematian ayahnya membuat dendamnya semakin membara.
“Ayah, akhirnya waktu ini datang. Tunggu sebentar lagi, aku akan mengambil dengan kejam nyawa orang di balik kematianmu.” Mata Mark menggelap. Aura kejam dan menakutkan menyelimutinya.
Rangga dan Louis menatap Mark penuh makna. Tidak terbaca, karena berbagai emosional bercampur aduk. Teringat akan masalalu bagaimana dendam ini menggebu di jiwa Mark.
FLASHBACK ON
“Baj*ngan Sialan!” Mark melepaskan selang infus dan bangkit dari bangsalnya. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Aku harus segera mencari dan membunuhnya.” Matanya memerah penuh kebencian. Karena dia mendapatkan informasi bahwa Jhon sekarang ada di Amerika. Ini kesempatannya.
“Tidak Mark. Tenanglah!” Louis menahan Mark, memegangi lengannya. “Jangan kotori tanganmu dengan membunuh baj*ngan itu. Biar aku yang melakukannya untukmu. Aku akan membuat dia merasakan hal yang sama, menghukumnya dengan setimpal.”
Suasana tegang semakin mencekam. Rangga dan Key yang juga penuh luka duduk tertunduk di bangsal mereka masing-masing. Meraka baru saja melewati maut, dan sekarang berita yang sangat di inginkan sahabatnya datang dengan keadaan mereka yang lemah seperti ini.
__ADS_1
Mark mendengus masam. “Justru kau yang tidak perlu mengotori tanganmu dengan urusanku.” Menepis tangan Louis di lengannya, berjalan tidak seimbang menuju pintu.
Detik ini, dalam benaknya hanya ada satu hal, yaitu menemukan Jhon dan membalas dendam kesumatnya, membuat baj*ngan itu tidak berupa lagi sebagaimana jasad ayahnya saat kecelakaan maut itu.
Emosinya membumbung tinggi, darahnya mendidih, raut wajah tampan penuh lukanya tampak menyeramkan. Jhon telah mengambil nyawa ayahnya, berujung pada ibunya yang yang sakit semakin parah kala itu, nasib kejam menghujaminya. Kehilangan kekuasaan serta di tindas oleh pamannya.
Satu kematian saja, tidak cukup untuk membalasnya, Jhon harus menderita sebelum kematiannya.
“Tidak Mark. Kau tidak boleh pergi.” suara lantang dari Key yang menghentikan langkah Mark. “Dengan keadaanmu seperti ini, kau tidak akan mampu menghadapinya sendirian.
” Nada sakarstik yang membuat bibir Mark berkedut gemetar serta tangannya yang mengepal kuat.
“Jangan meremehkanku!” Ujar Mark yang masih membelakangi semua orang.
“Jangan konyol! Ini adalah dendamku, kalian tidak perlu ikut campur.” Lanjut berjalan.
“Kau mau menyerahkan nyawamu? Lanjutkanlah.” Sakarstik yang begitu menindas dari Rangga. Lagi-lagi langkah Mark terhenti, bahkan kali ini dia berbalik badan menatap sahabatnya itu.
“Saat ini kau mungkin merasa baik-baik saja, merasa bertenaga dengan gejolak emosi mu ini. Tapi sadarilah, itu karena cairan infus. Kau baru sadarkan diri. Aku jamin, tidak akan bertahan lama kau akan tumbang. Dengan tubuh penuh luka seperti ini, kau ingin melawan orang selevel Jhon?” nada meremehkan dengan smirk dari Rangga. “Gunakan logikamu, jangan di kuasai emosi.” Lanjutnya. Mata kedua pria itu saling beradu tajam.
Mark tersenyum miring. “Aku baik-baik saja. Walaupun masih sedikit lemah, aku akan mencari dan menemukannya. Aku tidak butuh ceramah dan kekhawatiran kalian.” bantahnya muak. Dia kembali berbalik badan, namun tiba-tiba tuan Gu sudah berada di depannya, lalu menyuntikkan obat bius padanya.
“Paman..” ujar Mark dengan tatapan kecewa. Sial!
__ADS_1
“Maafkan aku Mark.” berucap lembut dengan sorot mata teduhnya. Di saat bersamaan, Louis langsung memapah Mark yang tampak mulai berdiri tak seimbang.
Mark menggertakkan giginya. Dia benci dengan keadaan ini.
“Siapapun jangan pernah menyentuh Jhon. Aku sendiri yang akan menghukum dan menghancurkannya.” Tekan Mark di sela kesadarannya yang mulai menghilang. Dia menyerah sewaktu Louis menggiring tubuhnya untuk kembali ke bangsal.
Dokter dan perawat memasuki ruangan dan memasangkan kembali selang infus. Dalam kungkungan selang infus, Mark hanya berharap akan bisa cepat membalaskan dendamnya ini.
Jika Jhon mengirim orang untuk ayahnya, namun dia akan mengambil nyawa Jhon dengan tangannya sendiri. Begitu kuat aura membunuhnya untuk manusia satu ini.
Di saat yang berasamaan semua orang mengikrarkan janji dalam hatinya masing-masing.
“Kami akan selalu bersamamu, seperti kau yang selalu ada dan memperdulikan kami.”
FLASHBACK OFF
Bersambung...
.
.
Hai kakak, aku minta tolong nih. Bagi kakak yang belum kasih rating, mohon kasih rating bintang 5 ya kak. Kasihan Lihat rating yang ternyata turun lagi. Aku baru sadar.
__ADS_1
Jangan lupa bintang 5 ya kak, supaya bintangnya naik lagi. Hehe..