TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Norwegia-Polinesia


__ADS_3

‘brush…’ seember air di siramkan pada Jhon yang tidak sadarkan diri. Kondisi Jhon sangat mengenaskan. Kedua tanggannya di rantai dengan posisi berdiri.


Jhon tersadar dengan terbatuk-batuk. Wajahnya sudah tidak berbentuk. Penuh darah dan sudah membiru, bahkan satu matanya sudah tidak bisa dibuka karana sudah membengkak.


Saat kesadaran Jhon mulai kembali. Dia langsung di suguhi dengan video tembakan dan percikan darah dari istri dan putri kecilnya. Telinga Jhon serasa pecah mendengarnya. Samar, Jhon melihat seseorang memandanginya, serta penampakkan vidio di layar besar juga tepat di hadapannya.


Bibir Jhon bergetar penuh kemarahan, deru napas berat dan putus-putus. Jhon mengalihkan pandangannya. Seluruh dirinya sudah serasa hancur. Karena mulai dari awal sebelum dia di siksa, video ini terus dipertontonkan untuknya.


“Bagaimana perasaanmu sekarang tuan Jhon?” darah Jhon kembali mendidih mendengar suara yang tidak asing itu. Suara Mark Rendra, orang yang di hindari mati-matian selama ini.


Perlahan suara video sedikit memelan seiring langkah kaki Mark yang mendekati Jhon.


“Kau sungguh baj*ngan gila.” Jhon memaki Mark dengan tenaganya yang tersisa.


Tidak ada rasa takut lagi di hatinya. Kematian putra-putri dan istrinya telah membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi. Jadi tidak masalah lagi baginya jika Mark membunuhnya, bahkan dia berharap Mark mempercepat kematiannya. Rasa sakit kehilangan dan rasa bersalah yang mendalam membuatnya merasa lebih baik mati dari pada hidup seorang diri tanpa orang yang dia kasihi.


“Hahaha..” Mark tertawa keras. Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah menakutkan. Tatapan matanya bagaikan pedang tajam yang menusuk. Membuat Jhon yang sudah siap matipun merasa tertekan dengan tatapan itu.


“Huh,” Jhon mengalihkan pandangannya.


“Baiklah. Sekarang semuanya sudah atas kendalimu. Kau mau membunuhku kan? Lakukan saja, lakukan dengan cepat agar bisa memuaskan dirimu.” Ucapnya lirih. Dia masih menghindar untuk bersitatap dengan Mark.


Mark mendengus senyum. kalimat Jhon bagaikan lelucon baginya. Sepertinya pria ini masih tidak mengerti dengan kalimat yang dia ucapkan beberapa jam lalu. Sungguh kematian terlalu mudah untuk Jhon untuk bisa membalas rasa sakit yang dia tanggung dari usianya yang masih 8 tahun waktu itu.


“Anda terlalu naif tuan. Kau tidak mencerna kalimatku dengan baik.”


Mark mengeluarkan pistol di balik jasnnya. “Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari hidup ini?” di usapkannya pstol itu pelan di wajah Jhon yang tidak berbentuk.


“Kehilangan seseoarang yang kita kasihi untuk selamanya. Meski kau meraung hingga mencakar tanah dia tidak akan kembali.”


Jhon tidak menjawab.


Kata-kata Mark sangat tepat, dia membenarkan dalam hatinya. Sungguh dia merasakan itu sekarang. Menyesal? Itu sudah sangat terlambat baginya. Dia sadar betapa berdosanya dia. Dendam yang salah, dia membuat bocah kehilangan orangtua dan segalanya di masa lampau.


Mark merasa puas melihat emosional Jhon.


“Kau ingin matikan?” berucap dengan suara dingin sambil berbalik badan. Mark menghela nafasnya, berjalan menuju sofa.


“Sayangnya aku tidak tertarik lagi dengan nyawamu.” Ucap Mark santai sambil melemparkan pistolnya di atas meja.


“Apa maksudmu?” tanya Jhon cepat mengangkat kepalanya. Dia menatap Mark tidak percaya. kalimat surga itu malah bagai neraka baginya saat ini.


Mark menoleh pada Jhon. Tersenyum lembut, namun sangat mengerikan bagi Jhon.


”Apa yang di rencakan bocah ini? dia tidak mungkin mengampuni nyawakukan? Dia pasti bercanda.”


Mark kembali memunggungi Jhon. Dia memejamkan matanya sejenak, terbayang olehnya wajah sang istri.


“Luna..” gumamnya, lalu meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun.


“Hei hei…” panggil Jhon yang semakin menggila ketika Mark tidak menanggapinya.


“Bunuh saja aku sekarang. Dasar bocah totol.” Umpatnya sekuat tenaga. Membuat urat lehernya menegang dan terlihat jelas.


“Urus dia!” perintah Mark pada orangnya yang berdiri di pintu.


“Baik tuan.” 2 orang langsung masuk. Menyetel kembali video sadisnya istri


dan putri Jhon di tembak.


“Aku mohon, berhenti. Jangan putar lagi.” teriak Jhon yang di abaikan begitu saja.


Di balik pintu Mark bisa mendengar jelas suara frustasi Jhon. Sangat kasihan sekali suara itu.


Mark mendengus sinis, kemudian meninggalkan tempat itu.


Rangga dan Louis dengan cepat mengikuti Mark. Mereka terlihat bingung, saling tatap kemudian sama-sama menggelengkan kepala.


***

__ADS_1


Pesta besar peresmian resort sedang berlangsung. Para tamu tampak menikmati acara ini. Acara terbentang dari villa hingga keluar, menyuguhkan pemandangan resort yang indah di laut.


“Nona, nona ada apa?” tanya Zhaon bingung, karena Luna secara tiba-tiba menyeretnya ke toilet.


“Ikut saja.” Jawab Luna menajamkan matanya. Otomatis Zhaon langsung kikuk dan menurut seperti anak kucing yang dimarahi.


Setiba di toilet, beruntung tidak ada orang di dalamnya. Luna terlihat clingak-cliguk memastikan tidak ada orang. Setelah merasa aman, Luna mengunci pintu toilet.


“A-ada apa ini nona.” tanya Zhaon tergagap.


Luna berbalik badan, menatap Zhaon dengan pandangan yang sulit di artikan.


“Haah..” Luna mendesah pelan. Berjalan mendekati Zhaon.


“Zhaon kau diutus suamikukan?”


“Tentu saja nona.” jawab Zhaon cepat. Dia merasa sedikit bingung dengan pertanyaan nonanya ini.


“Aku ada sedikit hal yang ingin aku bicarakan dengan suamiku. Tapi aku tidak ingin mengganggunya. Dia pasti sangat sibuk sekarang.”


“Tuan tidak akan masalah nona. Sesibuk apapun dia, pasti..”


“Ssssttt..” Luna langsung menghentikan Zhaon berucap. Dengan cepat Zhaon membungkam mulutnya.


“Aku tidak mungkin menghubunginya dengan kabar ini.”


“Memangnya hal apa yang ingin nona katakan?” Zhaon masih bertanya dengan polosnya. Dia sungguh mempunyai banyak ekspresi. Jika memikirkan kejadian dia melawan Hyena serasa tidak mungkin dia bisa bersikap lemah lembut seperti pelayan yang ramah.


“Aku akan menemui teman lamaku.”


“Hah, jadi ini?”


Zhaon malah senyum-senyum.


“Aku ingin bertemu dengannya tanpa beban dan rasa bersalah pada Mark. Jadi untuk sementara kau di beri tanggung jawab ini. Aku mengatakannya padamu, anggap saja bahwa aku sudah mendapat izin dari Mark. Nanti jika Mark memarahiku, kau harus membelaku.”


“Kenapa diam?” tanya Luna tidak senang.


“Hahaha.. maaf nona. Aku pasti akan membela nona.”


“Bagus. Jika begitu kau harus membantuku satu hal.”


“Apa itu nona?”


“Kau halangi mata-mata Mark. Aku yakin, pasti ada 1 atau 2 orang lagi yang mengawasiku dari kejauhan.”


“Ta-tapi nona.”


“Tidak ada tapi-tapian. Kau tidak punya pilihan Zhaon. Ingat, jika sampai Mark memarahiku, kau juga akan terkena dampaknya. Jadi mari saling melindungi. Pertemuan ini, cukup hanya aku dan kamu yang tahu. Dan untuk Mark, aku sendiri yang akan memberitahunya pelan-pelan setelah kepulangannya dari Norwegia.”


Zhaon mengulum bibirnya. Baru sadar bahwa ternyata ini jebakan dari nonanya. Tapi ini juga sia-sia, toh Tuannya juga sudah mengetahui hal ini dari awal.


“Jangan berfikir aku menjebakmu ya.”


“Haha.. tidak nona.” jawab Zhaon dengan tawa bodohnya.


***


“Selamat datang nona.” sambut 2 orang wanita ketika Luna sampai di tempat dia dan James Lu untuk bertemu. Tidak jauh, hanya bersebelahan dengan villa tempat pengadaan acara peresmian.


“Mari nona.” Luna tersenyum dan mengikuti 2 orang wanita itu.


Pelayan tersebut membawa Luna di area kolam renang. “Tunggu tuan di sini nona.” menarik kursi di meja bundar yang sudah siap dengan beberapa desert di sana.


“Iya. Terimakasih.” Ucap Luna sambil duduk.


“Jika begitu, kami undur diri dulu. “ Luna menganggukkan kepalanya dan pelayan tersebut berjalan mundur, menjauh dari area tersebut.


Luna memperhatikan hidangan. Lalu kolam renang yang di hias dengan lilin yang menyala dengan aroma terapi. Luna meraih gelas dan menyesapnya. Minuman itu berwarna merah pekat, itu bukan alkohol. Luna yakin akan hal itu, karena James Lu mengetahui bahwa dia tidak bisa minum.

__ADS_1


“Luna..” suara seorang pria. Luna langsung menoleh pada sumber suara yang bersal dari belakangnya.


Yap.. itu James Lu.


“Kau datang. Huft..berani sekali tidak menyambutku. Malah membuat aku yang menunggu.” Gerutu Luna sambil kembali pada posisi duduknya.


“Haha maafkan aku.” James Lu mendekat dan duduk berhadapan dengan Luna.


Luna sedikit menyunggingkan senyum, lalu menyesap minumannya kembali.


“Terimakasih sudah mempercayaiku Luna.” ucap James Lu dengan senyum lembut.


“Ini hanya sebuah minuman. Kau tidak akan meracunikukan.” Jawab Luna santai. Dia sudah tahu maksud dari ucapan terimakasih itu.


“Kau benar. Tapi bagaimana jika aku membuatmu mabuk?”


Luna langsung tercekat. Matanya membulat sempurna menatap James Lu. Lidahnya tidak mati rasa, dia sangat tahu bahwa ini bukan alkohol. Lalu apa maksud dari ucapan pria ini? apakah minuman ini sudah di campur dengan obat?


“Haha..” james Lu tertawa renyah melihat reaksi Luna.


“James.. kau jangan mengerjaiku.” Ucap Luna kesal.


“Maafkan aku.” James juga menyesap minumannya. Matanya masih tertuju pada Luna, seolah tidak mau beralih pada yang lain. Luna yang sedang menyelipkan rambut di telinga tampak sangat cantik.


“Luna..”


“Hmm..” jawab Luna menatap James.


“Kau semakin cantik.” pujinya spontan.


Luna tampak terkejut. Namun beberapa detik kemudian dia tertawa renyah.


“Sejak kapan kau bisa menggoda wanita James? Kau berkembang banyak ya untuk kemunculan kali ini. Kau banyak senyum, dan sekarang sudah bisa memuji.” Luna menatap James menyelidik.


“Apa… sekarang kau sudah berfikir untuk berkencan?” tanya Luna yang langsung membuat James yang sedang menyesap minuman langsung tersedak.


“Hahaha.. lihatlah. Bahkan sekarang kau grogi.” ejek Luna dengan tawanya. Lalu memberikan tisu.


“James, aku ingin menanyaimu sesuatu.” Suara Luna tiba-tiba serius. James yang sedang membersihkan jasnya langsung berhenti dan menatap Luna.


“Tentang apa?” tanyanya.


“Kau harus menjawabku jujur.”


“Iya, tanyakan saja. Memangnya kapan aku pernah membohongimu. Kita sangat jarang bertemu, aku tidak mungkin meninggalkan kesan buruk untuk itu.” tutur James tenang, lalu dia lanjut membersihkan jasnya.


Tenangnya wajah James, tapi tidak setenang hatinya. Di dalam sana, dia sedang menerka-nerka hal apa yang membuat Luna serius begitu.


“Apa kau yang membeli lukisanku saat pameran di London?” tanya Luna tanpa basa-basi.


Tangan James kembali berhenti beraktifitas. Dia menangkap tatapan Luna yang menatapnya datar. Tidak ada emosi, tapi tatapan itu seperti lautan dalam yang bisa menenggelamkan.


Bersambung...


Untuk vidio udah selsai 75% ya. Yang penasaran sabar.


Oh iya, kakak bisa follow ig aku dari skrng ya..


@pupearnia


@pupearnia01


yang @pupearnia khusus buat promo novel. Aku baru bkin akun ini. Masih sepi banget.


Kalo @pupearnia01 akun pribadi aku, terserah kakak mau follow apa gak 😅


Terimakasih untuk kakak yang masih setia sampai titik ini. Luv 💕💕


Jangan lupa kasih komentar positif. Supaya aku semangat buat up 🤭

__ADS_1


__ADS_2