
Rangga telah sampai pada lokasi yang di kirim oleh Luna. Dari dalam mobil, Rangga melihat Luna sedang duduk di bangku di tepi jalan.
Dia seperti sedang memikirkan sesuatu sambil memandangi langit malam. Rangga turun dari mobil, dan menghampiri Luna.
“Nona, Luna.” Rangga memecahkan lamunan Luna.
Luna menatap Rangga, “Kamu sudah datang, ayo kita segera pulang.” Luna berdiri, ekspresinya datar.
Apa yang terjadi? kenapa dia terlihat sangat tidak bersemangat.
Rangga dan Luna langsung memasuki mobil. Di dalam perjalanan Luna terlihat sangat murung. Rangga mencari kesempatan untuk bertanya.
“Ehem, Nona boleh saya bertanya?“
“ Tidak! sekarang aku sedang tidak ingin di wawancarai.” jawab Luna dengan dingin.
Eh, bagaimana ini? dia langsung menolak. Bagaimana cara memberitahunya?
“Nona, suasana hati Tuan muda sedang tidak baik. Jadi, saya harap Nona bisa berbicara dengan jujur saat sampai nanti.” pinta Rangga.
“Bukan hanya dia, aku juga dalam suasana yang tidak baik.” jadi saling mengabaikan saja.
Dua orang ini, selalu membuatnya frustasi saja. Rangga menghela napas. Dia harap Key bisa mengatasi Mark di rumah sekarang.
Beberapa menit kemudian, mereka tsudah sampai. Luna langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah.
Di dalam, Mark dan Key sudah menunggu di ruang utama.
Luna tertegun, karena Mark dan Key menatapnya dengan tatapan tajam.
Atmosfir ini kenapa terasa sangat familiar?
Sudahlah. Untuk apa dia peduli. Toh, dia juga dalam suasana hati yang buruk.
“Apa kalian menungguku?” Luna sedikit memaksa senyum.
“Duduk.” perintah Mark
Luna mendekat dan duduk.
Tatapannya sangat menyeramkan. Apa dia tidak membaca surat yang dia tinggalkan? Dia sudah kembali dan menepati janji sesuai dengan surat yang ditulis. Mestinya pria ini tidak perlu marah. Ini dilakukan juga karena dia mengurungnya.
Rangga datang, dia heran. Kenapa suasananya tenang-tenang saja? Padahal di pikiran Rangga, Mark sudah memarahi Luna habis-habisan seperti seorang paranoid.
Tenang sekali. Apakah belum mulai?
Rangga melirik Key, Key hanya memberi isyarat dengan tangan dan matanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya Rangga baru merasa sangat lega.
“Syukurlah. Aku kira, aku akan melihat barang-barang berterbangan.” Guman Rangga.
Apakah yang mereka temukan, hingga Mark bisa tenang kembali? Rangga penasaran bagian ini.
“Apa baik-baik saja? ” tanya Mark dengan lembut.
Luna agak terkejut, “Ya, aku baik-baik saja. Aku kembali dengan aman.”
Apa pria ini salah minum obat? kenapa bisa berbicara dengan lembut, padahal sebelumnya ekspressinya seperti ingin menerkamnya saja.
Mark mengambil bagpaper yang di pegang Luna.
“Jangan...”
Sudah terlambat. Mark melihat isi bagpaper tersebut, dan memperhatikan penampilan Luna yang sekarang.
Luna hanya menunduk dan meremas jemarinya, karena merasa sedikit malu.
“Lihatlah penampilanmu, benar-benar sangat terniat ingin keluar tanpa di kenali oleh orang-orangku? apakah kamu juga mengenakan ini?” tanya Mark sambil mengeluarkan topi yang dilengkap dengan rambut palsu yang dibeli oleh Luna.
Luna menggaruk kepalanya, “ Haha, itu. Aku hanya pendalami peran penyamaranku saja.” Luna asal jawab saja.
Rangga dan Key tertawa kecil mendengar jawaban Luna.
Luna menyadari itu, dan dia langsung menatap Key dan Rannga dengan tatapan membunuh.
Kalian, apa juga ikutan mengejek?
Rangga dan Key langsung diam dan berpura-pura batuk.
“Sudahlah, sekarang kamu kembalilah ke kamar. Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Besok aku akan mengajakmu berkeliling supaya tidak kabur lewat jendela lagi. Kamu seorang perempuan, tapi bertingkah seperti seorang gangster saja.”
Luna hanya cemberut karena dia selalu di ejek.
“Itu salahmu juga, bukan sepenuhnya salahku.” cibir Luna dan melangkah pergi.
Setalah Luna pergi, Rangga langsung bertanya, "Apa yang telah kalian temukan?”
“Setelah kamu pergi, aku memperhatikan dengan teliti foto yang di kirim oleh orang itu. Dua foto yang dia kirim hanya memperlihatkan Luna dengan jelas, sementara wajah pria terebut di buramkan. Pertama foto memasuki hotel dan foto kedua mereka sedang berbincang di restoran hotel.” Jawab Key dan berhenti sejenak.
“Key kamu jangan bertele-tele. Katakan saja intinya!” Rangga sudah kesal. Soal itu, dia juga sudah tahu.
“Kamu sabarlah." Key menghela napas agak berat, "Aku dari dulu sudah mengenal Luna. Walaupun tidak dekat, tapi sebagai penerus Cour Media aku sangat sering mendengar kabar tentang Luna dan Pangeran kedua Inggris."
Pangeran Inggris? Rangga baru tahu ini.
Key mengangguk untuk membenarkan keterkejutan Rangga, lalu dia melanjutkan, "Hubungan mereka, dulu cukup baik. Tapi, berita tentang hubungan mereka tidak pernah Cour publishkan karena selalu ada pihak yang menekan Cour jika sampai kami menerbitkannya.”
“Jadi, pria yang bersama Luna adalah Pangeran kedua Inggris?” tanya Rangga histeris.
__ADS_1
“Iya, berdasarkan pengamatanku dari kedua foto itu aku yakin itu adalah Pangeran Tris. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir hubungan mereka tidak baik, tidak ada yang tahu apa alasan di baliknya. Aku juga pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri, di sebuah perjamuan aku pergi mencari adikku, lalu aku mendengar orang sedang bertengkar di balkon hotel. Karena penasaran aku mengintip siapa yang ada di sana, dan aku sangat terkejut saat itu aku melihat Luna sangat marah dan menampar Tris.”
“A-apa, Luna menamparnya? Apa kamu tahu kenapa dia melakukan itu?” tanya Rangga.
“Tidak, saat itu aku sangat terkejut. Karena takut mereka menyadari keberadaanku. Aku langsung pergi.”
“Ahh, kenapa penakut sekali.”
“Kamu jangan mengejek. Tidak tahu apa yang akan terjadi denganku apabila aku tertangkap. Dia adalah seorang pangeran, jika dia tahu ada orang yang melihat dia di tampar oleh seorang perempuan, dia pasti mengirim pembunuh untukku.” teriak Key dengan kesal.
Rangga tertawa "Emosian sekali. Aku tidak mngejekmu kok. Jadi, sekarang apa rencana kita?” tanya Rang sambil melihat Mark dan Key.
“ Tidak ada rencana.” jawab Mark dengan santai.
“Eh, kenapa begitu? Apa kalian tidak penasaran kenapa Luna menemuinya di sini?”
“Ah, sudahlah. Ini sudah sangat larut. Aku mau istirahat, Kalian istirahat jugalah.” Mark langsung berjalan meninggalkan Rangga dan Key.
Key juga pergi.
“Kalian ini apa-apaan? Key katakan padaku, apa yang sudah kalian rencanakan?” rengek Rangga sambil mengikuti Key.
“Kamu jangan merengek, membuatku kesal saja.”
“Maka katakan dulu padaku.” ucap Rangga sambil bergelantungan di tangan Key.
“Ok ok, aku akan mengatakannya, tapi lepaskan dulu tanganku.”
Rangga tersenyum senang dan mepaskan tangan Key, tapi Key malah kabur dengan cepat dan segara masuk ke kamarnya.
“Key, kenapa kamu tidak sangat setia kawan begini.” teriak Rangga kesal.
Key membuka pintu kamarnya dan mengeluarkan kepalanya.
“Haha, aku akan memberitahumu besok. Kamu istirahatlah dengan tenang.” ucap Key mengejek Rangga.
“Sialan!” teriak Rangga dan lansung pergi ke kamarnya.
***
Pagi harinya pelayan mengetuk pintu kamar Luna.
“Nona, apakah anda sudah bangun? Saatnya sarapan. Turunlah, Tuan muda sudah menunggu.”
Luna masih satengah sadar membuka pintu kamarnya.
“Aku masih mengantuk. Aku tidak ikut sarapan pagi ini.”
“Tapi, semua orang sudah menunggu Nona.”
“Baiklah baiklah, aku turun. Aku mencuci mukaku terlebih dulu.” Luna sudah malas berdebat.
Beberpa menit kemudian Luna turun dengan masih menggunakan piyama.
Semua orang menatapnya.
“Kenapa kalian menatapku?” tanya Luna dengan canggung.
“Kenapa lama sekali? apa kamu ingin membuat orang kelaparan?” ucap Mark
“Kalian bisa mulai duluan. Aku tidak meminta kalian untuk menungguku. Lagian aku bukan kepala keluarga yang harus kalian tunggu.” ucap Luna dengan sangat kesal.
Luna memperhatikan Mark, Key dan Rangga.
Kemana mereka akan pergi? kenapa rapi sekali?
Luna duduk dan mereka mulai menikmati sarapan.
“Luna, nanti setelah sarapan kamu bersiap-siaplah.” ucap Mark.
Luna sedang memotong roti langsung berhenti dan menatap Mark, "Kemana kita akan pergi?”
“Bukankah semalam aku sudah mengatakannya padamu, aku akan mengejakmu berkeliling.”
“Oh. Apa kita akan pergi berempat?"
Mendengar itu Key dan Rangga tertawa.
“Tidak, tidak! Kami tidak ikut kalian.” ucap Key.
“Kami tidak akan mengganggu pasangan yang baru bertunangan.” Rangga sengaja menggoda.
"Apa-apaan. Kami akan lebih senang apabila kita bisa pergi bersama.”
“Mereka ada tugas yang akan dikerjakan. Hanya ku dan aku yang akan pergi.” ucap Mark dengan sedikit kesal.
Apa-apaan? aku dan dia akan pergi berduaan? Orang dingin dan kaku seperti dia? yang benar saja? pasti akan sangat membosankan.
Selesai sarapan, Luna langsung pergi ke kamarnya untuk segara bersiap-siap.
Di dalam kamar, Luna hendak mandi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok! tok!
Luna membuka pintu. Dia sangat terkejut karena tiga orang pelayan sedang membawa beberapa pakaian.
__ADS_1
“Nona, Tuan meminta kami untuk menaruh pakaian-pakaian ini di di tempat anda.”
“Kenapa banyak sekali? aku hanya beberapa hari di sini.”
“Itu, kami tidak tahu, Nona. Kami hanya menjalankan perintah. Nona pilihlah dari pakaian ini untuk dikenakan nanti.”
“Baiklah, kalian bisa menaruhnya. Aku mau mandi.” ucap Luna dengan membuka lebar pintu kamarnya.
“Kami akan menaruhnya di dresroom anda. Saya lupa mengatakannya kemarin pada Nona, di kamar ini ada dresroom.” ucap pelayan tersebut sambil mendorong ke samping kaca kamar Luna, dan di balik kaca tersebut ada sebuah ruangan yang sangat rapi yang di penuhi dengan pakaian, aksesoris, tas dan barang branded lainnya.
Luna sangat terkejut. Apa semua ini dia siapkan untuknya?
Luna langsung berbalik badan, “ Baiklah kalian letakkan saja di sana." Luna tampak tidak senang. Dia langsung memasuki kamar mandi.
“Begitu persiapan sekali. Tidak mungkin dia menyiapkan semuanya untukku. Aku baru pertama kali kesini. Dia pasti sudah banyak mengajak perempuan ke sini.” gumam Luna tidak senang.
Sangat menyebalkan. Dia menempatkan aku di kamar yang sama dengan perempuan-perempuan itu? Mark berengsek! berani-beraninya dia. Dia ini tidak sama dengan perempuan-perempuan itu.
“Kita lihat saja aku tidak akan mengenakan pakaian-pakaian itu!”
***
Luna sudah selesai bersiap-siap. Tidak lupa membawa pensil dan buku lukisnya yang dia taruh di tas jinjing yang transparan.
Dia turun dan pergi ke ruang utama. Di sana sudah ada Mark yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Mau pergi, tapi dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Bibir Luna berdenyut kesal.
“Ehemmm,”
Mark mendengarnya, "Kamu suadah selesai? Tunggu sebentar.” ucap Mark tanpa menole dan masih sibuk dengan laptopnya.
Luna duduk, “Jika kamu sibuk, kita tidak perlu keluar. Aku tidak ingin menyulitkanmu. Asalkan kamu izinkan, aku bisa keluar sendiri.” ucap Luna dengan santai.
“Aku tidak sibuk, ini sebentar lagi akan selesai.” jawab Mark dan masih tidak melihat Luna.
Luna semakin kesal karenanya.
Beberapa saat kemudian Mark selesai, dia menutup laptopnya.
“Baiklah, sekarang kita bisa berangkat.” ucap Mark sambil melihat Luna, langsung saja alis tampannya berkerut, “Kenapa tidak mengenakan pakaian yang ku berikan?”
“Aku tidak suka. Kamu memiliki selera yang buruk.”
Keningnya juga berkerut, "Aku rasa selera fashionku tidak seburuk itu.”
Luna menatap kesal Mark, “Mark, aku mau pindah kamar.” ucap Luna tiba-tiba.
“Kenapa? Tidak ada kamar lain yang bisa kamu tempati. Itu satu-satunya kamar yang di design sesuai dengan selera perempuan.”
“Karena itu, aku tidak mau di kamar itu.” teriak Luna.
Mark bingung melihat tingkah Luna, "Memangnya adalah masalah? apa yang tidak kamu suka di sana?”
Luna memutar matanya ke langit, "Baiklah, aku tidak akan bertele-tele lagi. Sudah berapa orang perempuaan yang kamu bawa ke sini untuk menempati kamar itu?”
Ekspresi Mark yang bingung langsung berubah dengan tawa.
“Luna, Luna... aku pikir apa-apaan, ternyata ini yang membuatmu marah? um tunggu, aku hitung dulu sudah berapa ya aku mengajak perempuan menginap ke sini?” ucap Mark sambil berfikir dan menghitung dengan jarinya.
Melihat Mark yang seperti itu, Luna semakin kesal dan jijik.
“ Aaa... begitu banyak sampai kamu tidak ingat. Ok, kalau begitu mulai sekarang aku menginap di hotel saja.” teriak Luna dengan sangat kesal.
Mark tertawa melihat tingkah Luna.
"Apa yang kamu tertawa kan? Ayo cepat pergi. Aku juga akan mencari hotel untuk menginap nanti.” Luna berjalan keluar.
Marka masih tertawa, "Imut sekali.” gumam Mark sambil mengikuti Luna.
“Kamu jangan dekat-dekat. Aku tidak sama dengan perempuan-perempuanmu itu.” ucap Luna kesal.
Di luar pengawal sudah menyiapkan mobil yang akan Mark gunakan. Luna langsung masuk ke kursi belakang mobil.
“Hei, hei! aku bukan sopirmu. Kenapa kamu duduk di sana?” Mark tidak senang dan membukan pintu.
Luna langsung keluar dan pindah ke ke depan. Mark juga masuk ke dalammobil.
Mark melihatnya masih saja cemberut, lalu Mark mendekati Luna.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Luna dengan sangat terkejut.
Mark hanya diam dan memasangkan sabuk pengaman.
“Aku bisa pasang sendiri.” ucap Luna sambil mendorong Mark.
Tidak di sangka si berengsek berwajah dingin ini juga bermain dengan banyak wanita.
Apa yang dia pikirkan? Bukankah sebelumnya dia juga berkencan dengan artis Zhan Sherlok. Ini bukan pertama kalinya dia mengetahuinya.
Um, kenapa sangat sulit menemukan pria yang bisa menjaga martabatnya?
Mark melirik Luna, "Kenapa masih saja cemberut begitu. Apa dia cemburu?
Seketika pertanyaan itu terlintas di pikiran Mark.
__ADS_1
Cemburu?