
Luna turun ke bawah untuk makan malam. Semua makanan sudah di hidangkan di atas meja. Dia duduk dengan meletakkan siku tangannya di meja dan menopang dagu.
“Kenapa 3 pria menyebalkan itu belum juga ke ruang makan? Apa yang mereka bicarakan di ruang baca itu? huh, ternyata pria juga sangat suka bergosip hingga lupa waktu.” Luna bergumam sendiri. Bibirnya berkedut-kedut khas julid.
“Nona, anda silakan makan. Tuan dan yang lainnya tidak bergabung malam ini." ucap seorang pelayan.
Kening Luna berkerut, dia menoleh, "Kenapa?"
“Tuan muda sedang sibuk di ruang kerjanya. Sedangkan Tuan Key dan Tuan Rangga ada keperluan yang harus di urus di luar.” jelas pelayan tersebut.
Luna mengusap keningnya, "Baiklah. Jika begitu aku akan mengantarkan makanan untuk Mark. Tolong siapkan."
“ Tapi Nona, Tuan berpesan agar tidak ada yang mengganggunya.”
“Jangan khawatir. Aku adalah pengecualian, loh.” Luna menjawab dengan penuh percaya diri. Padahal di hatinya juga terselip sedikit rasa bimbang.
Para pelayan masih diam dan saling melirik. Mereka tidak yakin dengan hal yang dilakukan Luna.
Satu hal yang diketahui Luna. Sejak siang Mark belum makan apa-apa. Lalu, sekarang juga mau melewatkan makan malam? benar-benar mau mati!
Ah, pria itu tidak boleh mati sebelum menuntaskan semua urusan kelaurganha. Luna akan membuktikan bahwa orang tuanya tidak bersalah apa-apa padanya.
“Kenapa masih diam?”
“ Ah, baik, baik Nona. Akan kami siapkan.”
“Aku tidak yakin, jika Tuan tidak akan marah nantinya. Walaupun Nona Luna adalah tunangannya, Tuan memiliki temperamen yang buruk. Jika dia bilang tidak, ya tidak.”
“Entahlah, aku juga khawatir. Takutnya, nanti kita juga kena impasnya, karena tidak bisa menahan Nona.” bisik para pelayan tersebut.
Kening Luna berkerut-kerut. Pelayan ini, benar-benar lah ya?!
Dia mendengarnya lho. Mereka berani sekali menggosipkan Tuannya, bahkan mengatakan mempunyai temperamen yang buruk. Pelayan sekarang seberani itu, ya?
Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai menyiapkan menu untuk Mark.
“Ini, Nona.” ucap pelayan sambil memberikannya pada Luna dengan sopan.
Luna menerimanya, “Seseorang ikut aku untuk mengetuk pintu.” pintanya.
“Baik, Nona." jelas pelayan itu terlihat agak terpaksa.
Luna mengambil nafas panjang. Meskipun di marahi, itu bakan masalah. Lagian sudah biasa di teriaki dan di bentak olehnya. Jantungnya sudah cukup kuat sekarang.
Luna dan seorang pelayan melangkah menuju ruang baca.
Tok! tok!
pelayan mengetuk pintu, lalu Luna bersuara, “Mark ini aku, aku membawakan makan malam untukmu.”
Mark masih dengan posisi memeluk foto ayahnya, tersadar dan membuka matanya dengan geram.
Kenapa dia berani sekali mengganggunya? Padahal sudah mengingatkan pelayan agar tidak memperbolehkan siapapun mengganggu.
“Mark kalau kamu tidak menjawab, aku langsung masuk ya?” ucap Luna dan menyuruh pelayan untuk membukakan pintu.
“Nona...” pelayan terlihat khawatir dan menggelengkan kepalanya.
“Buka saja, setelah itu langsung pergi.” tegas Luna dengan memaksa.
Pelayan tersebut terpaksa membukanya dan dia langsung kabur dengan cepat.
Jangan sampai Tuan melihatku, jangan sampai
Luna melihat pelayan lari secepat kilat. Sungguh lucu.
Setakut itukah?
Luna berbalik badan dan ternyata Mark sudah berdiri di depan pintu.
“Ah, mengejutkan ku saja.” dia sampai menghela napas, lalu berjalan masuk dengan santai.
Melihat keberanian Luna yang seperti itu, kening Mark berkerut-kerut.
“Siapa yang mengizinkan mu masuk?” nada bicaranya sangat menyeramkan.
Benaran akan memarahinya? Luna menelan ludah, lalu lebih menegakkan tubuh. Tidak boleh takut, dia hanya perlu lebih berani. Maka pria akan mengalah juga.
Luna terus berjalan dan meletakkan makan tersebut di meja.
“Apa kamu tuli?”
Luna berbalik badan. Dia memaksa dirinya, karena bagaimanapun si berengsek itu memang harus di hadapi.
“Mark, aku hanya ingin mengantarkan makan malam, apa itu salah? Aku tidak enak bila makan sendirian, sementara pemilik rumah tidak makan." jawab Luna asal asalan.
“Apa kamu mengkhawatirkan ku?”
"Ah, khawatir? mana mungkin. Ini hanya tanda terimakasih karena telah mengajakku jalan-jalan.” Luna sendiri bingung sambil menggaruk kepalanya.
Semakin berani ya, sekarang. Mari kita lihat sejauh mana itu.
Mark menutup pintu, lalu tersenyum jahat.
Kenapa di tutup? Luna menelan ludah.
“Karena aku sudah mengantarkan makananmu, sekarang aku juga harus pergi. Aku juga belum menyentuh makananku.” ucap Luna sambil berjalan keluar
Tapi Mark menarik tangan Luna dan menahannya, "Kenapa buru-buru sekali?" nada bicara itu sungguh penuh siasat.
Luna terkejut hingga membelalakkan matanya dan melirik Mark dengan sedikit khawatir.
“Sebenarnya aku tidak ada nafsu untuk makan. Tapi, karna kau sudah mengantarkannya, apa salahnya melayaniku.”
Kalimat ini? bukankah terdengar ambigu. Kelopak mata Luna berkedip beberapa kali. Oh, Tuhan!
Mark berjalan menuju sofa dan duduk, "Sini, suapi aku!”
Luna sedikit menghela napas. Syukurlah, aku pikir apaan. Kata melayani sungguh ambigu. Pikiran liarnya memang selalu cepat bereaksi.
“Kenapa masih berdiri? cepat suapi aku." nadanya cukup keras, Luna sampai terperanjat.
__ADS_1
Dasar set4n licik. Baiklah aku akan melayani mu dengan baik. Hehe. Luna penuh dengan motif tersembunyi.
Luna mengambil nampan yang sudah dia letakkan di meja kerja Mark. Dia duduk di samping Mark, menatap Mark dengan senyum ramah.
“Aak..” Mark membuka Mulutnya.
“Nikmatilah ini.” Luna menyuapi Mark dengan suapan yang besar.
Itu membuat mulut Mark penuh dengan makanan.
Haha... rasakan!
Mark belum selesai menghabiskan suapan pertama, tapi Luna malah menyuapkan kembali.
Mark mengambil sendok di tangannya,
“ Luna tadi kamu bilang juga belum makan, sekarang biarkan aku menyuapimu juga.” ucap Mark dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
“Cepat buka mulutmu!” ucap Mark.
Apa-apaan ini. Seharusnya ini menjadi adegan yang romantis. Tapi, malah seperti aksi balas dendam.
“Tapi ini, terlalu besar” ucap Luna beusaha menolak.
“Makan dengan mulut yang penuh juga menyenangkan, kamu harus mencobanya juga. Aakk, cepat buka mulutmu.” balas Mark.
Luna terpaksa membuka mulutnya dengan pasrah.
Ini sangat jelas sekali dia ingin membalasnya. Kenapa karma cepat sekali?
Pipi Luna bengkak karna mulutnya yang penuh dengan makanan.
Hehe, jangan harap rencanamu selalu mulus ketika mengerjaiku.
***
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan, Luna pergi ke perpustakaan pribadi Mark.
Mark bilang hari ini tidak ada kegiatan. Terus, dia bilang cukup berdiam diri dan membaca buku-buku yang ada di sini. Sungguh itu aktifitas yang membosankan, tapi apa boleh buat?
“Tapi, jika di pikir-pikir kenapa aku sangat patuh? Dia menyuruhku untuk membaca dan aku langsung pergi ke sini. Ternyata terlalu lama di berbauar dengannya membuat kecerdasanku menurun.” Luna mencibir dirinya sendiri.
Dis membuka pintu perpustakaan tersebut.
Begitu banyak buku. Apakah dia benar-benar membaca buku-buku ini atau hanya menjadikannya sebagai pajangan saja? Luna sambil menelusuri rak-rak buku tersebut.
Juga menyusunnya sesuai dengan jenis bukunya. Begitu banyak buku dari penulis-penulis terkanal di dunia. Tapi, Luna tidak begitu suka membaca. Buku apa yang harus dibaca? pikir Luna sambil memperhatikan buku-buku tersebut.
Lebih baik aku membaca novel saja, apakah juga di sini?
Mata Lu na meliar, hingga akhirnya menemukannya. Novel apakah yang harus aku baca, romance, komedi atau fantasi?
Tiba-tiba ada satu buku yang menarik perhatian Luna.
Perintah Malaikat, Karya Brian Jacques.
“Kenapa tinggi sekali?” sambil jinjit, dia benar- benar kesusahan untuk mengambilnya.
Tiba-tiba ada tangan dari belakang meraih buku itu untuk Luna.
“Eh?" Luna terkejut.
Dia cepat berbalik badan.
Mark?
Posisi seperti ini tentu tidak menguntungkan. Mereka begitu dekat.
“Kamu.. kamu kenapa menaruhnya di rak yang tinggi?” ketusnya, lalu mendorong tubuh Mark agar menjauh darinya.
“Bukan raknya yang tinggi, tapi siapa yang mengira jika pembacanya sangat pendek?”
“Aku ini cukup tinggi.” protes Luna.
Mark mengetuk kepala Luna dengan buku tersebut.
“Aduhh, kamu ini kurang ajar!” teriak Luna dan mendorong Mark.
Mark menahan dorongan Luna, tapi Luna malah meronta tak jelas hingga mengenai rak di belakangnya.
Brrakkk!
Setumpuk buku di rak belakang Luna jatuh.
Mark memeluk Luna untuk melindunginya, hingga Mark yang terkena timpaan setumpuk buku secara bertubi-tubi.
Luna terkejut. Dia tidak menyangka Mark akan melakukan itu untuk melindunginya.
“Mark, kamu tidak apa-apa?” tanya Luna Khawatir.
Mark menyandarkan kepalanya di bahu Luna, “Aku baik-baik saja. Lain kali jangan melakukan hal berbahaya seperti ini lagi. Kamu bisa meminta bantuanku jika kau tidak bisa mengambilnya.” Ucap Mark sedikit lemas dan menjatuhkan buku di tangannya.
Luna bingung dan menyedipkan matanya, dia terlihat kesal, "Ini hanya setumpuk buku, tapi kenapa malah lemas begini. Dasar lemah.” ejek Luna dan mendorong tubuh Mark.
Mark tersenyum, “Kamu benar-benar tidak tau cara berterima kasih, aku sudah menolongmu. Jangan selalu salah paham begini padaku.” ucap Mark dan berlalu meninggalkan Luna.
Luna mencibir, tapi dalam seketika mata Luna membesar saat melihat ada darah di buku yang berserakan di lantai.
“Darah?”
Buku-buku ini cukup besar, hard cover dan memiliki sisi yang tajam. Luna langsung berbalik, dia melihat leher belakang Mark sudah penuh darah.
“Mark..." Luna mengejar Mark, dan menarik tangannya, “Kamu terluka, maafkan aku.” air mata sudah menetes. Mata yang berkilau itu memperhatikan Luka Mark. Entah kenapa Luna mudah sekali emosional.
Mark berbalik badan, “ Ini hanya Luna kecil, kenapa kamu menangis?” nada bicaranya seolah mengatakan aku baik-baik saja.
“Aku akan menelepon dokter.” ucap Luna tersedu. Dia mengambil ponsel yang ada di sakunya.
Mark merebut ponsel Luna, "Ini hanya luka kecil, aku tidak kan mati karena ini. Aku tidak butuh dokter.”
“Kamu bilang apa luka kecil. Bajumu sudah memerah karena darah.” Luna berusaha merebut ponselnya dari Mark.
__ADS_1
Mark tetap tidak memberikannya, dia malah mengangkat tangannya lebih tinggi, hingga Luna kesusahan meraihnya.
“Kamu jangan menghukumku dengan cara ini. Aku akan merasa sangat bersalah.” ucap Luna lirih dan menyerah dengan aksi lompatnya untuk mengamb ponsel itu.
Luna merobek lengan bajunya dan berjinjit, dia menutup Luka Mark.
“Darahnya terus mengalir, harus di hentikan. Kalau tidak kamu akan kehilangan banyak darah. Aku akan mencari P3K.”
Tindakannya begitu spontan. Mark tertegun dengan sikap Luna yang sangat mengkhawatirkannya.
Mark memperhatikan gurat wajah itu, dia menyentuh tangan Luna yang berusaha menutup lukanya, "Biar aku. Ayo Ke ruang baca, di sana ruang ada P3K.” Mark berusaha untuk menenangkan.
"Baik." Luna menggandeng tangan Mark yang satunya.
Di luar pelayan melihat tangan Luna dan punggung Mark yang sudah penuh darah, “Tuan?” pelayan tersebut khawatir,
Tapi Mark memberikan isyarat matanya untuk tidak khawatir dan pelayan tersebut lanngsung diam.
Apa yang terjadi, kenapa mereka penuh darah begitu? bisik hati pelayan tersebut khawatir.
Setibanya di ruang baca, Luna membawa Mark duduk di sofa.
“Dimana P3Knya?” tanya Luna
"Di laci sebelah kanan.”
Luna langsung bergegas mengambilnya. Saat mengambil P3K tersebut, laci sebelah kiri meja Mark terbuka. Tanpa sengaja Luna meliriknya dan melihat sesuatu.
Luna menggelengkan kepalanya dan langsung berjalan mendekati Mark.
Tangan Luna gemetaran ketika mengeluarkan isi dari P3K tersebut. Mark melihat tangan Luna yang gemetaran.
“Kenapa tanganmu gemetaran?” tanya Mark
“Tidak apa-apa, yang terpenting obati dulu lukamu. Jangan pedulikan aku. Menunduklah!” ucap Luna dan langsung membersihkan luka Mark dengan hati-hati.
“Mark kamu harus melepas bajumu, ini sudah penuh darah. Aku juga akan membesihkan darah di punggungmu.” saran Luna
“Gunting saja."
“Oh, baik."
Luna mengambil gunting dan memotong baju Mark. Setelah itu dia lanjut membersihkan darah di sekitar luka.
Saat Luna melakukannya, Mark melirik tangan Luna yang satunya.
Luna menggenggam erat tangannya yang masih bergetar.
“Jangan paksakan jika kamu takut darah.” ucap Mark sambil menggenggam tangan Luna.
“Aku tidak takut darah. Aku hanya sangat khawatir.” ucap Luna meyakinkan Mark.
“Tidak bohong?”
“ Tentu saja tidak. Mark, aku rasa kau harus menghubungi dokter?” saran Luna lagi.
“Tidak perlu, jika kamu merawatku dengan baik. Maka ini akan lebih cepat sembuh.”
“Kamu masih saja menggodaku di saat seperti ini?” benar tidak habis pikir.
“Aku tidak sedang menggodamu, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku." Mark sangat santai.
Luna tersenyum mendengar jawaban Mark.
Selesai mengobati Luka Mark.
Saat itu Luna baru sadar bahwa Mark yang di depannya tidak mengenakan atasannya. Tiba-ti q menjadi gugup.
Apa yang harus dilakukan? Tapi, dia harus tetap membersihkan darah di punggungnya.
Luna tetap memaksakan dirinya untuk membersihkan darah yang di punggung Mark.
Dia membersihkannya dengan lembut dan hati-hati.
Beberapa saat kemudian, "Mark, ini sudah selesai.” ucap Luna.
“Baiklah, terimakasih.” Mark langsung berbalik badan dengan cepat.
Dan...
Takk!
Kepala mereka beradu. Keduanya mengaduh.
“Mark, kepalamu lebih keras dariku. Apa kamu ingin menghancurkan kepalaku?"
Mark tertawa, “Aku tidak sengaja. Aku juga kesakitan, sepertinya kepalamu lebih keras deh."
“Sudahlah, kamu memang selalu ingin berdebat denganku.” Luna berdiri,
tapi Mark malah menarik tangan Luna, hingga Luna terjatuh di pelukannya.
Jantung Luna berdetak kencang,
dia mendorong tubuh Mark dan langsung berdiri. Kali ini Mark tidak menahannya lagi.
“Aku sudah membersihkan likamu, aku harus kembali.” ucap Luna sambil membereskan P3K.
Setelah selesai menyusun P3K tersebut, Luna langsung keluar dari ruang baca Mark.
Detak jantung Luna sangat kencang.
“Jantungku serasa akan meloncat keluar. Sepertinya terlalu lama dekat dengannya tidak baik untuk kesehatan.” gumam Luna dan bergegas pergi ke kamarnya.
Sementara Mark di dalam masih bengong,
“Aku hanya ingin melihat lengan baju yang sudah di sobeknya, tapi kenapa begini?” ucap Mark.
Deg! deg! deg!
Jantung Mark juga berdebar hebat.
Dia menaruh tangan didada, “Aku harus pergi chek-up, akhir-akhir ini detak jantungku sepertinya tidak beres.” gumam Mark plolos.
__ADS_1