
Jiang He yang masih berada dalam privateroom pandangannya sangat menakutkan. Matanya memerah dengan dera nafas yang tak beraturan karena emosi yang bergejolak di dadanya.
Jika selama ini dia selalu menampilkan ekspresi yang lemah lembut, penuh perhatian dan senyum yang selalu terukir di bibirnya. Maka orang yang melihat ini, pasti akan sangat terkejut dengan sisi Jiang He yang menakutkan seperti ini.
Dia mengambil gelas yang berisi anggur, dia meminumnya sedeguk lalu melemparkan gelas itu.
“ Siapa di sini yang sedang mempermainkanku?” ucap Jiang He dengan penuh kemarahan dan kebencian.
Jiang megambil nafas dalam dan mengeluarkannya untuk mengatur emosinya. Dia memutar ke kiri dan ke kanan kepalanya. Lalu smirk terukit di bibirnya.
“ Aku terlalu gegabah menghadapi Mark untuk pertama kalinya. Ketenanganku telah di kalahkan dengan rasa benciku padanya. Tapi ini tak buruk masih sesuai dengan apa yang sudah ku rencanakan. Baiklah, sekarang mari lanjut ke langkah berikutnya!” gumam Jinag He.
***
Luna sudah berada di depan Club Burning. Dia mengenakan gaun berwarna biru lembut denga aksen yang sederhana, lengan baju gantung dan gaun itu juga sangat sopan tidak ada bagian yang terbuka, tidak seperti gaun yang serba terbuka yang biasa di gunakan wanita pada umumnya untuk bersenang-senang ke Clubbinig.
Luna sebenarnya sangat benci dengan hiruk pikuknya suasana Clubbing, selama ini selain karena di paksa oleh teman kantornya untuk perayaan sesuatu. Dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya yang namanya Club hiburan yang tak ada batasan itu.
“ Demi papa, aku harus memberanikan diri masuk ke tempat ini” gumam Luna.
Di depan pintu Club Burning ada 3 orang penjaga dengan badan yang kekar dan tampang yang sangar.
“ Si misterius itu bilang, asalkan aku menunjukkan pesan ini pada pengawal itu. Maka mereka akan membiarkanku masuk dan akan mengantarkanku ke ruang 311 tersebut. Si misterius pengertian juga, dengan begini maka tidak akan ada orang yang menggangguku nanti.”
Luna memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam lalu membuka matanya kembali dan melangkah menuju penjaga yang ada di depan pintu Club tersebut.
Saat Luna sudah mendekati 3 orang pengawal tersebut Luna langsung menunjukkan pesan dari orang misetrius itu dan seorang pengawalpun langsung mengarahkan Luna untuk masuk.
Selangkah saja Luna masuk, sudah terdengar musik yang keras yang menyakitkan telinga di ruang diskotiknya.
Pengawal tersebut langsung mengarahkan Luna menuju suatu lorong ruangan yang tidak banyak di lewati orang.
Sepertinya lorong itu memang jalan khusus. Semakin jauh berjalan, Luna merasa semakin khawatir.
Saat memasuki Lift Luna sangat ragu, tangan kanannya meremas tepi gaunnya.
pengawal itu menyadari kebimbangan dan khawatiran Luna.
“ Nona jangan khawatir. Tidak akan ada yang menyakitimu di sini!”
Luna langsung tertegun mendengar ucapan pengawal tersebut dan melihat ke arah pengawal tersebut.
' Ting 'liftpun terbuka.
Pengawal tersebut langsung masuk dan Luna juga masuk walau dia merasa sangat khawatir. Dia hanya selalu berharap orang itu benar-benar punya niat baik padanya.
Saat di dalam lift Luna melipat tangan kirinya dengan menopang tangan kanannya. Luna terus menatap angka di lift tersebut sambil menggigit jempol tangan kanannya.
Mereka sudah keluar dari lif dan pengawal tersebut langsung mengantarkan Luna ke ruanga 311. Saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar 311, pengawal tersebut langsung pamit undur diri meninggalkan Luna sendirian disana.
Luna memberanikan untuk mengetuk pintu.
‘ tok tok tok’
Ketukan pertama tak da respon dari dalam, sehingga Luna merasa lebih khawatir. Dia menggigit birbirnya dan memcoba untuk mengetuk kembali.
‘ tok tok’
Pintu tersebut lansung terbuka. Luna sedikit terkejut karena sepertinya tidak ada orang di balik pintu tersebut. Luna melangkahkan kakinya degan penuh kewaspadaan.
' zhhhrttt” 'ponsel di tangan kiri Luna bergetar membuat Luna semakin terkejut dengan suasana yang menegangkan itu.
Luna melihat layar ponselnya. Ternyata yang menelvonnya itu adalah orang misterius itu. Tanpa ragu Luna langsung menjawab telvon tersebut.
( Percakapan dalam bahsa Inggris)
“ Tuan anda dimana?”
“ Nona, anda masuk sajalah. Ikuti intruksi dariku.”
“ An a anda tidak akan mencelakaikukan?” tanya Luna memastikan.
“ Nona, aku adalah pelindungmu. Mana mungkin aku mencelakaimu.”
Luna langsung masuk keruangan tersebut. Ruangan tersebut sedikit gelap hanya ada lampu warna kuning dengan daya rendah, dan lampu kelap kelip karaoke yang warna warni.
Ruangan tersebut cukup Luas, ada 2 sofa panjang dan satu meja dimana di atas meja itu terdapat minuman keras dengan berbagai merek tersususn dengan rapi.
Ruangan itu masih bersih tidak ada tanda-tanda orang berpesta di dalamnya, tidak ada aroma rokok ataupun alcohol yang tercuim.
Remang-remangnya keadaan membuat jantung Luna semakin berdetaak tak beraturan.
Luna kemudian menutup kembali pintu dan tiba-tiba pintu itu berbunyi.
‘klik’
Luna terkejut dan menengok kebelakang.
__ADS_1
Luna mencoba membuka pintu itu, tapi tidak bisa.
“ Ternyata pintu ini ada pengeontrolnya. Huh,, aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi” Gumam Luna denga penuh kekhawatiran.
“ Sekarang aku sudah di dalam. Tapi aku tidak melihat orang di sini” ucap Luna.
“ Teruslah maju 10 langkah lgi. Setelah itu nona belok kiri. Di sana ada lorong, ikuti lorong itu. Di ujung lorong nona belok kanan. Di sana ada ruangan, maka masuklah ke ruangan itu.”
Luna berjalan mengikuti intruksi dari orang misterius tersebut.
Di lorong yang du maksud orang tersebut lampunya berkedip, hidup dan mati dalam hitungan detik, seperti yang ada di dalam film-film horror. Suasana yang mencekam tersebut membuat Luna merinding.
Tangan Kanan Luna mengusap tengkuknya, di lorong itu Luna berjalan dengan cepat dia tidak ingin terlalu lama berda di suasana horror itu.
Luna terus bejalan cepat dan saat di ujung lorong Luna langsung belok kanan sesuai intruksi dari orang itu.
Luna menemukan ruangan yang maksud orang tersebut dan langsung membuka pintu itu tanpa ragu dan menutup pintu itu kembali.
Luna bersandar di pintu.
“ Hosh hosh hosh,,” dera nafas Luna yang tak beraturan.
Sesaat kemudian, Luna baru sadar bahwa cahaya di ruangan tersebut juga remang-remang.
Luna menundukkan kepalanya.
“ Apa orang misterius selalu menyukai suasana mencekam seperti ini? “ gerutu hati Luna sangat kesal.
Di lantai Luna melihat bayangan gelap dan bayangan itu semakin mendekatinya.
Mata Luna membesar dan dia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat siapakah pemilik bayangan itu.
“ Apakah itu anda tuan?” tanya Luna dengan suara gemetaran.
‘ clakkk’ tiba-tiba lampu di ruangan itu hidup dengan terangnya.
Luna mengambil nafas lega. Dan menatap kembali orang yang ada di depannya. Orang tersebut membelakanginya, Luna hanya melihat punggung yang begitu tegap.
Pria tersebut mengenakan pakaian kasual serba hitam yang sangat fashionable. Tapi dia masih mengenakan topi baseball yang sama saat Luna bertemu dengannya di Cartagena.
Luna berdiri tegap dia berusaha menenangkan dirinya agar lebih rilexs. Dia mendekati orang tersebut.
“ Tuan, kenapa anda melakukan penyambutan yang begitu menegangkan untukku?” tanya Luna santai.
Luna sudah dekat dengan pria itu, tinggal 3 langkah lagi dia sudah bisa melihat waj pria itu.
Tapi tiba-tiba.
Pria itu menghentikan langkah Luna, sekaligus membuyarkan harapan Luna untuk segera bisa melihat siapa pria yang mengaku sebagi pelindungnya itu.
Luna berdecih kesal, “ Cih, kenapa begini?” gumam Luna kecewa.
“ Jenapa anda menghentikan saya?” tanya Luna dengan polosnya.
“ Apa nona sudah tidak sabaran untuk melihat rupa pelindung nona?” Pria itu langsung berbalik badan.
Saat melihat wajah pria itu Luna langsung terkejut hingga menutup mulutnya.
Dia bereaksi seperti itu bukan karena dia mengenali orang tersebut ataupun karena rupa orang tersebut tampan.
Tapi karena pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan topeng. Dia menggunakan topeng di mata bagian kirinya hingga menutupi sebagian besar wajah bagian kirinya.
Wajah pria itu terlihat blasteran, dia seperti hasil percampuran dari orang China dengan orang Amerika.
Luna bergumam, “ Apa yang di sembunyikannya di balik topeng itu. Apakah itu topeng penyamaran atau memang wajahnya cacat?.Huh seperti ksatria di masa kerajaan saja.”
Pria tersebut tersebut melihat berbagai ekspresi Luna sejak dia berbalik badan itu. Mulai dari terkejut, mata terbelalaka, hingga dia bergumam dengan mode yang imut dan menggemaskan itu.
“ Apakah nona kecewa dengang wajah saya?” tanyanya.
“ Tidak tidak. Itu tidak penting sama sekali. Yang terpenting sakarang adalah mengenai pembicaraan awal kita.”
“ Nona memang tidak sabaran. Tapi alangkah baiknya kita duduk dulu”
Prian tersebut berjalan menuju sofa dan Luna mengikutinya dari belakang.
Merekapun duduk di sofa, pria itu membuka botol minuman dan menuangkannya.
“ Nona minumlah dulu.”
“ Tidak, aku tidak bisa minum” tolak Luna.
“ Ini bukan minuman berakahol, ini hanyalah jus anggur” sambil memberikan.
Luna mengambilnya dan mencium aroma minuman itu, utuk memastikan apakah benar itu hanyalah jus anggur.
Setelah mencium aromanya, Luna menatap pria itu dengan tatapan mencurigai.
“ Sepertinya tuan sudah mengetahui banyak hal tentang saya” ucap Luna.
__ADS_1
“ Tentu saja. nona jangan memanggil saya dengan sebutan tuan ataupun anda lagi. sepertinya kita seumuran atau bisa jadi saya lebih muda dari nona” ucapnya dengan nada dan ekspresi yang tidak senang.
“ Lalu?? Hum,, baiklah kalau begitu siapa namamu?”
“ L. ya L panggil saja L” jawabnya.
“ Hah, L. sepertinya penggunaan anam dengan satu huruf lagi populer ya sekarang. baiklak, tidak masalh, tapi siapakah nama lengkapmu?” tanya Luna penasaran.
“ Tidak ada informasi lebih, nona cukup memanggil saya dengan sebut L” tegasnya.
“ Baiklah. Sekarang katakan apa maksud dari ucapanmu saat di Cartagena!” tanya Luna.
Dengan pertanyaan Luna ini suasan berubah menjadi serius tapi tenang.
L meminum segalas minumannya dengan sekali deguk, dia menaruh gelasnya kembali kemeja sembari menatap Luna dengan tatapan yang tajam.
“ Saya tidak akan memberi nona detailnya. Tapi saya akan memberitahu nona bagian terpentingnya saja”
Luna menantang tatapan tajam L tersebut.
“ Jika begitu, bagaimana saya bisa percaya bakwa kau jujur. Kau bisa saja membohongiku bukan?’
“ Saya tidak akan membohongi nona. karena saya benar-benar ingin melindungi nona”
“ Huh, L apa kau pikir aku bodoh?, kau bisa saja berada di pihak Mark. karena saat pertama kau muncul kau sudah membelanya. Dan menyuruhku untuk bekerjasama dengannya” ucap Luna dengan nada sindiran.
“ Saya tidak berada di pihak siapapun. Baik itu Mark maunpun nona. saya hanya mengatakan apa yang sebaiknya nona lakukan.”
“ Baiklah. Sekarang jawablah pertanyaan terakhirku. Dari siapa kau memperoleh informasi itu? setauku Mark selalu menjaga dengan baik sistem keamanannya dari berbagai sisi”
“ Soal itu, nona tidak perlu mengetahuinya”
Luna menunduk kesal mendengar jawaban spmbong dari L, dia dilema apakah L ini memang bisa di percaya atau tidak.
“ Nona jika anda masih meragukanku, kenapa anda menghubungi saya dan ingin bertemu? Bukankah itu karena nona sudah memikirkannya dengan mata-matang dan baru menghubungi saya jangan bohongi hati kecil nona. Sebenarnya anda percaya dengan apa yang saya sampaikan” ucap L
“ Dia benar. Aku memang merasa dia benar-benar ingin membantuku” bisik hati Luna.
Luna mengambil nafas dalam.
“ Kau benar. Tapi pertama-tama bisakah kau menjamin bahwa orantuaku baik-baiksa di tangan Mark? “ tanya Luna dengan tatapannya yang dingin pada L.
“ Aku menjamin, bahwa Mark memperlakukan orang tua nona dengan sangat baik. Oleh karena itu, agar orang tua nona bisa segera bebas, maka bekerjasamalah dengannnya. Bantu dia menghilangkan kegundahan di hatinya dan beri dia ketenangan agar dia tidak bertindak gegabah.”
“Baiklah, itu jika posisinya orang tuaku memang tidak terlibat. Tapi bagaiamana jika orangtuaku terlibat dengan kematian ayahnya. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Luna dengan suara pelan.
“ Maksud nona?” tanya L dengan sangat penasaran.
“ Aku menemuimu, karena aku juga menemukan sesuatu. Sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau mengetahui hubungan antara papaku dengan tuahn Rai ayah Mark?”
L mengerutkan dahinya, “ Yidak. Memangnya ada apa?”
“ Aku menemukan sebuah Flashdisk saat aku di Cartagena. Aku tidak tahu siapa pemiliknya, bisa jadi itu milik Mark, dia sengaja meletakkan flashdisk itu di kamarku agar aku mengetahui isinya sekaligus itu sebagai peringatan untukku dari Mark. Atau flashdisk itu mamang kebetulan di kamarku dan tidak satupun orang yang mengetahuinya"
” Qpa isi dari Flashdisk itu nona”
“ Flashdisk itu berisi tentang pertengkaran Papaku dan ayah Mark” jawab Luna dengan nada lirih.
“ Nona, anda tidak bisa mengambil kesimpulan berdasarkan video itu saja. memangnya apa yang merak bicarakan?”
Luna mengeluarkan flashdisk itu beserta dengan catatan analisa percakapan dari video tersebut.
“ Ini, kau bisa melihatnya sendiri. Video ini tidak memiliki suara tapi aku sudah menganalisa percakapan mereka dengan sebaik mungkin” sambil menyerahkan.
L mengambilnya dan langsung membaca analisa yang di dapatkan Luna.
Ekspresi terkejut di wajah L sangat jelas dan tak bisa di sembunyikan saat dia membaca percakapan itu.
“ Tidak tidak, nona kita tidak bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu video ini saja. Saya akan membantu nona untuk mencari tahu lebih lanjut tentang video ini. Besok saya akan menghubungi nona kembali. Nona, Mark adalah orang baik.
Dia menjadi dingin seperti sekarang hanya karena beberapa tekanan yang dia dapatkan sedari kecil hingga sekarang. Dia butuh seseorang yang bisa menghanagatkan hatinya lagi”
Luna terkejut mendengar perkatan L,
“ Menghagatkan hatinya? Apa maksudmu L?”
L menundukkan kepalanya dengan ekspressi yang sedih.
“ Jika nona tidak paham tidak apa-apa. Mungkin aku terlalu tergesa-gesa. Sekarang nona lebih baik pulang. Aku ada hal penting yang harus di urus. Nona tenang saja, aku akn membantu nona mengenai video ini.”
Luna paham dengan apa yang di maksud oleh L.
“ Baiklah. terimakasih sebelumnya” ucap Luna dan langsung bergegas keluar dengan ekspresi kecewa
Setelah Luna keluar, L langsung melakukan panggilan.
“ Paman Gu, saya akan mengirimkan sebuah video tanpa suara serta analisa percakapannya. Setelah melihat video itu aku rasa paman akan memiliki pemikiran yang sama denganku. Kabari aku setalah melihatnya”
L menuangkan minuman kegelasnya ,
__ADS_1
“ Mark, apakah kau sudah menemukan kebenarannya?. Kau begitu tertutup, hingga banyak yang di salahpahami” gumam L.