TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
PANGERAN INGGRIS


__ADS_3

Luna melompati sebuah jendela dan munuruni tangga di luar bangunan dengan terengah-engah.


“Berani-beraninya mereka meninggalkanku di sini sendirian. Bahkan mereka juga tidak memperbolehkan aku keluar. Memangnya aku ini seorang tahanan? mengurungku di kamar seperti itu, huh! benar-benar.” Luna menye-menye dengan kesal.


“Meskipun aku seperti wanita yang lemah, tapi melarikan diri seperti ini adalah keahlian ku.” Luna sambil mengibaskan rambutnya dengan bangga.


Berhasil melarikan diri. Dia bergegas menjauhi bangunan tersebut. Tapi, tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya.


“Sial! ternyata aku tidak seberhasil yang aku pikirkan. Sepertinya mereka sengaja membuatku bisa kabur dengan mudah.” Gumam Luna.


Ponsel Luna bergetar.


Luna mengeluarkan ponsel dari tasnya. Panggilan dari Hyena.


Luna langsung menjawab, "Halo Hyena..." ucap Luna dengan senang, tapi...


“ %^&&*” entah apa yang di ucapkan oleh Hyena hingga ekspresi wajah Luna langsung berubah menjadi dingin.


“Baiklah.” jawab Luna dengan dingin sambil menutup telvonnya.


Luna menggenggam erat ponsel dan menggertakkan gigi.


Kemudian dia mengintip, apakah dua orang pengawal tersebut masih mencarinya.


Baiklah, dia harus mengelabui pengawal ini.


Luna masuk ke dalam kerumunan orang yang ramai, ketika pengawal itu lengah dia memasuki sebuah toko baju.


Dia berganti pakaian. Awalnya hanya ingin bertemu dengan Hyena di sini. Jadi, tidak akan mengapa mereka mengawasinya dari kejauhan. Tapi, sekarang dia benar-benar tidak boleh ketahuan oleh siapapun.


Tidak boleh memakai pakaian yang mencolok, tapi juga tidak boleh terlihat terlalu misterius. Karena itu akan menarik perhatian orang.


Harus terlihat biasa-biasa saja.


Luna memilih pakaiannya dan langsung memasuki ruang ganti. Beberapa menit kemudian Luna keluar.


Luna terlihat seperti orang yang berbeda. Dia memakai dres berwarna Putih yang panjangnya selutut, memakai jaket kulit berwarna hitam, dan topi yang di lengkapi dengan rambut palsu berwarna pirang, panjang dan Lurus.


“Ini penyamaran yang sempurna.” ucap Luna dengan bangga.


Juga harus mengganti sandal dengan sepatu. Luna sambil melihat kakinya.


Luna kabur dari kamar, jadi dia hanya memakai sandal kelinci yang Lucu.


Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Untung toko ini menjual semua yang dia butuhkan. Dia mendekati bagian rak sepatu.


Luna memilih sepatu kets hitam putih dan langsung memakainya. Di kasir Luna melihat kaca mata transparan yang cukup menarik bagi Luna.


Sepertinya memakai kaca mata ini akan membuatku semakin berbeda. Bahkan jika berpapasan dengan pengawal yang mengikutinya, mereka pasti tidak akan mengeli sama sekali.


Luna memutuskan untuk membeli kacamata tersebut. Ketika hendak membayar dengan kartunya, Luna berpikir.


“Tidak, aku tidak boleh menggunakan kartuku untuk membayar ini. Aku yakin mereka akan melacak nanti. Tidak boleh tertangkap begitu cepat.” gumam Luna.


Luna membayar dengan uang tunai. Setelah selesai, Luna langsung keluar dari toko tersebut.


Tiba-tiba,


Brak!


Sesorang menabrak Luna.


“Maaf ona, saya sangat buru-buru.”


Luna melirik orang tersebut, kemudian Luna langsung menunduk dan menurunkan topinya.


“It’s oke.” kemudian dia berlalu.


“Tuan, kami kehilangan jejak Nona." ucap pengawal tersebut sambil berlarian.


Ternyata pengawal itu masih di sini dan mereka juga langsung melapork pada Mark.


Luna terus berjalan dengan tenang agar pengawal tersebut tidak mencurigainya.


Setalah merasa sudah cukup jauh, Luna mengeluarkan tasnya dari bagpaper dan membuang bagpaper yang berisikan pakaian sebelumnya ke tong sampah.


Luna mengeluarkan ponselnya, memblokir kontak Mark dan yang berkaitan dengan Mark.


Ponselnya sudah di lengkapi sistem pengaman yang di berikan Hyena. Mark dan orang-orangnya tidak akan bisa melacaknya.


Sekarang dia menghubungi Hyena kembali dan meminta orang itu menjemputku di sini.


Sembari menunggu orang yang menjemputnya, Luna melepaskan topinya dan merapikan rambutnya.


"Tidak boleh terlihat seperti ini di depannya."


Beberapa menit kemudian seseorang datang menghampiri, Luna pergi memasuki mobil orang tersebut. Di dalam mobil sudah ada orang yang menunggunya.


“Kenapa seorang pengeran menggunakan trick licik ini untuk menemui seorang gadis biasa sepertiku?” tanya Luna dengan dingin.


“Luna, ini pertemuan pertama kita sejak 2 tahun lalu. Tapi, malah ini kalimat pertama yang kamu ucapkan padaku.” Tris senyum ramah.


Tris merupakan pangeran Inggris yang mempunyai ketertarikan pada Luna. Saat Luna masih SMA, Tuan Aliester mengajak Luna ikut menghadiri perjamuan di kerajaan Inggris.


Saat itulah ketika melihat Luna, Tris sangat tertarik. Tapi sayangnya, Luna hanya menganggapnya sebagai kakak.


Suatu hari Luna pergi ke perusahaan, di luar ruangan Luna mendengar sekelompok orang mengancam Papa. Jika Tuan Aliester, tidak mau menikahkan Luna dengan Tris ketika dewasa nanti, maka mereka akan menghancur bisnis Lixing.


Mendengar hal tersebut Luna langsung menghubungi Tris. Luna sangat marah pada Tris, semenjak itulah Luna membenci Tris meskipun ancaman tersebut telah di tarik oleh Tris.


Luna selalu menghindari Tris di setiap kali ada perjamuan yang juga di hadiri oleh Tris.


“Tris apa kamu masih tertarik dengan wanita yang sudah bertunangan? apa yang kamu lakukan pada Hyena? Cepat bawa aku menemuinya!” ucap Luna dengan dingin.


“Kamu tenang saja, Luna. Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya. Luna, aku cukup terkejut dengan pemberitaan tentangmu dan keluargamu. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku menghubungi Tuan Aliester, tapi tidak pernah bisa ku hubungi. Sebenarnya aku ingin menyelidiki hal itu, tapi saat itu juga aku sangat sibuk. Ayahku jatuh sakit dan aku harus menggantikan Ayah untuk sementara menangani urusan kerajaan.” jelas Tris.

__ADS_1


“Tidak ada hal yang harus kamu selidiki, semuanya baik-baik saja.”


“Kamj masih saja bersikap dingin padaku Luna.” bisik hati Tris.


.


.


Mark , Key dan Rangga sudah kembali.


“Ini Tuan, surat yang di tinggal Nona Luna sebelum kabur.” ucap pelayan sambil memberikannya ke Mark.


Karena kalian tidak mengizinkanku keluar secara baik-baik, jadi aku kabur.


Tenang saja, aku hanya keluar sebentar untuk melihat-lihat. Sayang sekali jika hanya mengurung diri di kamar, padahal ada banyak hal indah yang bisa di nikmati di sini. Aku akan kembali secepatnya, jangan mencariku.


~Luna.


Dia meninggalkan surat, dan berhasil mengelabui pengawal. Dia bahkan memblokir semua orang. Hal apa yang Luna lakukan di luar sana?


“Mark apa benar kita tidak akan mencarinya?” tanya Rangga


“Tidak perlu!” ucap Mark dingin


“Sudahlah, kita percaya saja dengan Luna. Sebelum pergi dia sudah menuliskan surat, mungkin benar dia sangat bosan di sini. Jangan terlalu keras padanya.” ucap Key


***


Hotel S, Cartagena.


Luna dan Tris telah sampai di hotel S. Hotel tersebut menghadap laut dan memiliki design yang unik.


“Apa Hyena ada di sini?"


“Iya, aku mengadakan sedikit pesta di sini. Beberapa teman lama kita ada atas.”


Luna hanya mengambil napas panjang.


Setibanya di atas, Luna melihat ke arah balkon hotel yang luas yang menghadap laut. Di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul.


Luna melihat Hyena bai-baik saja, bahkan Hyena terlihat menikmati pesta tersebut.


“Eh, Luna sudah datang.” ucap mereka.


“Ya.” Luna tersenyum tipis.


“Luna, apa kamu marah padaku?” tanya Hyena.


“Tidak. Hyena ikuti aku, aku ingin bicara padamu.” Ucap Luna dengan dingin.


"Mereka kenapa?” tanya teman yang lain.


“Tidak apa-apa. Biarkan saja mereka.” ucap Tris.


"Hyena, apa kamu bisa menjelaskan ini?” tanya Luna


“Luna, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Sebelum kamu bilang ingin ke Kolombia, aku memang juga ingin ke sini untuk tugas. Aku memajukan keberangkatanku 2 hari lebih cepat karena kamu ke sini. Mengenai pangeran Tris... aku minta maaf. Dia sudah lama memintaku untuk bisa mempertemukan dia denganmu. Jadi, ketika ada ksempatan ini aku memberi tahunya” jelas Hyena.


“Hyena... baiklah, anggap saja aku mempercayaimu saat ini. Sekarang ayo kita pergi dari sini. Kamu tahu berapa besar usahaku untu bisa keluar? Awalnya aku berpikir aku berhasil keluar tanpa ketahuan, tapi ternyata mereka mengawasi ku.


Tak mengapa mereka mengawasi ku bila hanya bertemu denganmu, tapi karena ketika Tris menelepon menggunakan poselmu, aku harus benar-benar harus mengelabui pengawal.” Ucap Luna sambil menarik tangan Hyena.


“Ta-tapi Luna...” ucap Hyena.


Tiba-tiba Tris datang. Hyena melepaskan tangannya dari pegangan Luna.


“Bicaralah baik-baik.” ucap Hyena dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Luna menggertakkan gigi. Benar sial!


“Luna jangan buru-buru, bergabunglah sebentar. Mereka juga ingin sedikit berbincang denganmu.” ucap Tris sambil matanya mengarah pada teman-temanya.


“Tris mereka temanmu, jadi kamulah yang menemani mereka. Aku baru bertemu mereka beberapa kali, jadi aku merasa tak seakrab itu harus menemani mereka berbincang dan minum.” ketus Luna.


“Baiklah, jika kamu tidak mau. Tapi, setidaknya kita berdua berbincang dulu. Ini sudah cukup lama Luna, tapi kamu masih saja tidak memaafkanku?”


“Tris ini sudah terlalu larut, tunanganku pasti mengkhawatirkanku.” Luna mencari alasan.


“Jika tidak malam ini, apakah akan ada kesempatan di lain waktu?” tanya Tris.


Orang ini! baiklah selesaikan saja malam ini. lagian dia tidak ingin bertemu lagi dengannya.


“Baiklah, kita bicara saja sebentar.” ucap Luna.


Tris tersenyum, "Terimakasih, Luna.”


Tri dan Luna memilih meja lain yang jauh dari kumpulan teman-temannya yang sedang berpesta.


Mereka berbincang dengan serius.


Lima belas menit telah berlalu, kemudian Luna berdiri.


“Tris ini sudah terlalu larut, aku harus segera kembali."


“Baiklah, tapi aku harap lain kali kau tidak menghindariku lagi.”


“Akan aku usahakan.” ucap Luna dengan santai.


“Aku antar kamu pulang.”


“Boleh tidak hanya orangmu saja yang mengantar ku?"


Tris sebenarnya kecewa, tapi dia tidak boleh memaksa, "Baiklah."


Luna memanggil Hyena, ‘"Hyena apa kam ikut denganku?”

__ADS_1


“Tidak perlu Luna, barang-barangku sudah di kamar hotel. Itu akan merepotkaan. Lagian aku juga harus menyelesaikan programku malam ini.”


“Kamu masih mau bekerja? Ini sudah sangat larut lebih baik kamu langsung tidur saja.” teriak Luna.


“Haha... ini hanya sedikit lagi.


Tak perlu khawatirkan aku ”


Luna mencibir, "Baiklah, aku pergi. Setelah kepergianku dengan cara seperti ini, aku tidak tahu apakah Mark masih akan mentoleransiku.” bisik Luna sambil memeluk Hyena.


"Kamu cukup kabari aku saja. Lagian kita ke sini dengan kegiatan masing-masing. Akan ada waktunya kita bisa berlibur bersama dengan tenang.” ucap Hyena.


“Um, aku akan sangat menantikan hal itu. Kamu jaga kesehatan." ucap Luna sambil melepaskan pelukan.


Hyena mengangguk, "Tolong, ya.” ucap Hyena pada sopir yang akanmengantarkan Luna.


“Bai, Nona”


“Berhati-hatilah.” ucap Tris.


Luna membalas Tris hanya dengan senyuman dan berlalu pergi.


Hyena dan Tris menatap kepergian Luna, setelah punggung Luna tidak terlihat lagi. Hyena mulai menanyai Tris.


“Bagaimana? apakah kesalahpahaman kalian sudah di luruskan?” tanya Hyena.


“Aku sudah mengatakan semuanya. Tapi, aku lihat dia tidak terlalu mempermasalahkan itu. Sepertinya ada hal yang tidak ku ketahui yang telah menyakiti hatinya.” jawab Tris


“Benarkah? tapi, aku akan berusaha membantu kalian untuk meluruskan semuanya, dan bisa rukun seperti sebelumnya."


***


Mark, Key dan Rangga ada di ruang baca. Mereka ingin melacak Luna karena Luna tidak bisa juga di hubungi. Tiba-tiba..


“Mark ada Email dalam bentuk kode, pengirimnya tidak di ketahui.” ucap Rangga,


Mark langsung mendekati Rangga .


“Biar aku yang memecahkan kodenya, kamu dan Key temukan pengirimnya."


“Baik.” jawab Rangga dan Key.


Semenit kemudian Mark berhasil memecahkan kode, alangkah terkejutnya melihat email tersebut.


Brakkk!


Mark memukul meja.


Rangga dan Key terkejut dan melihat layar laptop Mark. Mereka tak bisa berkata melihat email tersebut.


Kemudian Rangga dan Key langsung bergegas mencari pengirim email tersebut.


“Pengirimnya tidak bisa ditemukan Mark. Apa mungkin ini jebakan yang sengaja dikirim?” ucap Rangga berusaha menenangkan Mark.


“Tidak peduli itu jebakan atau bukan. Aku akan mengeceknya sendiri.” ucap Mark dengan nada sangat marah.


*** 


“Pak, aku turun di sini saja.” ucap Luna pada sopir yang mengantarnya.


“Tapi Nona, saya harus memastikan anda telah sampai ke tempat anda.”


“Tempatku sudah dekat di sini. Aku hanya ingin membeli beberapa keperluan dulu. Mungkin akan sedikit lama., bapak bisa turunkan saja aku di sini.”


“Baiklah, tapi Nona langsung hubungi pangeran jika sudah sampai.”


“Baik, aku akan menghubunginya nanti.” ucap Luna dengan senyum dan langsung keluar dari mobil tersebut.


“Berhati-hatilah, Nona.” ucap sopir tersebut dan melajukan mobilnya.


“Akan lebih baik apabila mereka tidak mengetahui tempat Mark.” gumam Luna.


“Tapi ini masih cukup jauh. Jalanan ke sana juga sedikit sepi. Apa aku berani jalan sendirian di sana? Aku juga tidak mengenali tempat ini.” bisik hati Luna dengan sedikit khawatir.


Sudahlah, lebih baik menghubungi Rangga dan meminta untuk menjemputnya. Luna langsung membuka pemblokiran dan melakukan panggilan.


Ponsel bergetar,


Rangga langsung mengeluarkan ponselnya dari kantongnya.


Tepat waktu!


Mark dan Key menatap Rangga.


“Apa itu dia?” tanya Mark dengan dingin.


“I-iya."


“Angkat!” suara Mark tenggelam.


Habislah, saat seperti inipun orang yang di hubungi Luna bukan Mark, tapi malah Rangga. Bisa ditebak tingkat kemarahan Mark sudah melebihi ambang batas. Key memperhatikan Mark.


Rangga langsung menjawab panggilan, "Nona, anda kemana saja? cepat kembali.”


Luna tertawa, "Aku memang ingin pulang. Tapi, aku sedikit takut. Apa kamu bisa menjemputku?” ucap Luna berusaha ramah.


“Kirim posisi Nona, saya akan segera menjemput anda.”


“Baiklah.”


Setelah panggilan selesai, dia segera megirimkan posisinya pada Rangga.


“Aku pergi dulu." ucap Rangga dan langsung bergegas pergi.


“Luna, kamu sudah membuat masalah yang besar. Apakah kamu tidak sadar?” ucap Rangga dengan sangat khawatir.

__ADS_1


__ADS_2