
Di tengah pelukan yang hangat itu, Luna mendengar jelas debar jantung Mark yang tak beraturan. Dia tersenyum dan menikmati suara debaran jantung kekasihnya, bagaikan alunan music yang menenangkan baginya.
“ Merdu sekali” bisik hatiya dengan senyum terukir di bibirnya.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Luna teringat sesuatu dan ekpresinya berubah menjadi terlihat sedih. Ya..dia mengingat cincin dan kalung yang dia korbankan demi meninggalkan jejak saat itu. Untuk cincin dia sudah mengetahui bakwa cincin itu sudah di tangan Hyena dan untuk kalung dia tidak tahu keberadaannya, apakah Mark, polisi menemukannya atau tidak.
Luna kemudian menegadahkan kepalanya dan menatap Mark.
“ Ada apa Luna?” tanya Mark yang juga menatap kekasihnya itu.
“ Mark..” ucap Luna dengan pelan, lalu dia melepaskan tangannya kiri dari pinggang Mark.
“ Cincin kita” sambil menunjukkan jemarinya yang kosong.
“ Maafkan aku tidak bisa menjaganya” sambil melingkarkan kembali tangannya pada tubuh Mark membenamkan kepalanya di dada Mark. Dia merasa sangat bersalah.
Mark menahan tawa melihat tingkah Luna yang terlihat bersalah itu, menurutnya sangat imut dan menggemaskan. Hingga dia ingin menggoda Luna dengan cara tidak merespon permintaan maaf Luna, agar Luna merasa semakin bersalah. Agar terlihat lebih meyakinkan, Mark juga melonggarkan tangannya yang sedari tadi melingkar erat di pinggang Luna.
“ Mark..” panggil Luna dengan suara bersalah. Dia sudah masuk dalam perangkap Mark.
“ Hemm..” jawab Mark singkat. Namun sebenarnya dia sedang menahan tawa.
“ Apa kau marah?” suara Luna semakin terdengar lesu dan penuh rasa bersalah. Mungkin dia juga akan menangis, jika Mark masih tidak menanggapinya.
Mark kembali diam, tak bersuara sama sekali. Dan hal itu membuat Luna semakin bersalah.
“ Mark maafkan aku, aku melepaskannya dengan tujuan agar kau tau dimana keberadaan ku. Tapi siapa sangka Hyena mengetahuinya bahwa aku melepaskan cincinku di dalam mobil. Dan dia merusak cincin itu,, Hiks hiks. Mark…aku benar-benar minta maaf.”
Mark tersenyum, tapi dia tidak tega juga mendengar suara tangis kekasihnya itu.
“ Luna lihat aku” ucap Mark dengan lembut.
“ Tidak. Kau marah padaku” sambil menggelengkan kepalanya di sela tangisnya.
“ Aku sangat mengkhawatirkanmu saat itu. Mana mungkin aku punya keberanian untuk memarahi mu saat kau telah kembali padaku. Aku tidak akan sanggup memerahimu Luna.”
Luna mengangkat kepalanya pelan dan menatap Mark tanpa ragu. Tapi tiba-tiba pupil matanya membesar, dia terlihat terkejut.
“ Mark.. kenapa bisa?” tanyanya sangat heran. Karena Mark sedang memegangi cincin itu.
” Aku Mark Rendra, tidak ada yang tidak bisa ku lakukan” dengan senyum lembutnya.
Luna kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Mark dan mengambil cincin itu.
“ Ini benar masih cincin yang sama. Ceritakan padaku, kenapa bisa ada padamu?” dengan sangat penasaran.
Sebelum mulai menjelaskannya pada Luna, Mark mengusap air mata Luna yang masih tersisa dengan lembut.
“ Kenapa dia sangat mudah mengeluarkan air mata?” bisik hatinya.
Kemudian dia langsung menjelaskan pada Luna yang sedari tadi sudah sangat menantikan penjelasannya.
“ Saat menyadari bahwa kamu dalam bahaya, aku langsung melacak keberadaanmu dan langsung menyusul. Aku tahu, jika Hyena adalah orang yang mengetahui banyak tentang teknologi.
Dia bisa saja mengetahui bahwa cincin yang kau gunakan mempunyai perangkat GPS. Aplagi sebelumnya, dia juga juga lama berada di sekitarmu, tentu saja dia sudah memperhatikannya.
Melihat keberadanmu masih terlacak, tentu saja aku curiga, Hyena pasti melakukan itu dengan sengaja. Oleh karena itu aku juga memasang siasat.
Saat itu aku menemukan lokasimu di sebuah gedung tua dan cicncinmu menunjukkan posisinya di dalam Mobil. Di sana banyak orang yang berjaga. Tapi hatiku berkata, bahwa kamu tidak di sana. Lalu aku langsung berinisiatif untuk mengambil cincin itu terlebih dahulu dan menukarnya dengan yang palsu, tapi mempunyai kemiripan yang sangat sudah di bedakan dan juga di lengkapi dengan perangkat GPS, agar bisa mengelabui Hyena.”
“ Ou..pantas saja waktu itu mereka menutup mataku, kemudian mereka berhenti dan menyuruhku untuk keluar ternyata mereka mengganti mobil ya. Huh..waktu itu aku memasang merasa mobilnya agak berbeda, tapi aku tidak memperdulikannya.”
Mark tersenyum, lalu dia memasangkan cincin itu pada Luna.
“ Mulai sekarng jangan melepasnya lagi. Apapun yang terjadi, aku pasti akan menemukanmu” Lalu Mark mencium tangan Luna dengan lembut.
“ Tapi apakah kalung itu Mark tidak menemukannya? Kenapa dia tidak membahasnya” bisik hatinya.
__ADS_1
“ Luna apa kamu tidak apa-apa setelah mengetahui kebusukan Hyena?” tanya Mark.
Luna tersenyum kecut, lalu menundukkan kepalanya. Dia hanya memberikan respon dengan menggelengkan kepalanya. Dia masih terlihat belum bisa menerima kenyataan bahwa Hyena telah banyak melakukan hal buruk padanya. Memasang wajah malaikat di depannya, namun ternyata punya sejuta niat buruk untuk dia dan keluarganya.
Mark mengerti dengan perasaan Luna yang masih belum bisa membahas perihal ini. dia mengusap lembut kepala Luna.
“ Baiklah. kita tidak akan membahas ini dulu. Sekarang aku akan membelikan sarapan untukmu” sambil berdiri. Dia tahu bahwa Luna tidak menyukai makanan di rumah sakit oleh karena itu dia langsung berinisiatif untuk membelikannya.
Luna menahan tangan Mark dengan wajahnya yang masih menunduk.
Mark menjadi merasa bersalah, karena pertanyaanya tadi langsung membuat Luna berubah mood.“ Luna maafkan aku. Aku bukan bermaksud…”
“ Aku tidak apa-apa” ucap Luna menyela kalimat Mark sambil mengangkat wajahnya dan melontarkan senyum.
“ Ya ampun Luna. Kau jangan begini, kau jangan menyembunyikan kesedihanmu.” ucapnya malah semakin khawatir. Dia takut Luna hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja, yang mana itu pasti akan menyesakkan hati.
“ Mark aku sungguh baik-baik saja. Aku memang sedih, tapi aku tidak akan menyia-nyiakan air mataku ataupun larut dalam kesedihan.” Ucap Luna dengan meyakinkan Mark, agar tidak menghkhawatirkannya.
“ Syukurlah. Sekarang kau mau makan apa?”
“ Aku mau makanan yang ada di restoran S. Apapun itu terserah kamu yang milih!”
Mark tersenyum, karena Luna benar mengingat dengan baik restoran kesukaannya. Restoran yang menyimpan kenangan masa kecilnya bersama orang tuanya.
“ Luna sebentar lagi restoran itu akan menjadi milik kita.” ucap Mark dengan senyum lembutnya.
“ Hah..jadi kaku benar-benar membelinya?”
“ Tentu saja. Setelah kau benar-benar pulih aku akan akan mengajakmu ke sana.”
Luna menganggukkan kepalanya dengan senyum yang merekah.
“ Baiklah. sekarang aku pergi.” sambil mengusap kepala Luna. Lalu dia segera pergi untuk membeli sarapan untuk Luna.
Luna memandangi punggung Mark yang menjauh, dia juga melihat perban di lengan Mark. dia tersenyum pahit, karena dia belum sempat menanyakan tentang luka itu.
***
Jiang He duduk di ruangannya sambil memandangi kalung Luna yang dia temukan.
Dan saat itu juga terlintas di benaknya kejadian dimana Mark memberikan obat pada Luna. hatinya terasa sakit dan juga sangat sedih.
Jiang He mengusap keningya.
“ Hatiku terlalu sakit hingga terasa berat untuk menjenguknya. Sekarang Mark pasti ada di sampingya.” Ucap Mark dengan suaranya yang parau.
Jiang He berusaha untuk menguatkan hatinya, lalu dia berdiri dan berjalan keluar. Saat dia membuka pintu, kebetulan sekali sekretaris Xi yang juga akan hendak masuk ruangannya.
“ Tuan..”
“ Sektertaris Xi aku ikut aku” dengan berjalan duluan.
“ Eh, kemana tuan?” sambul mengikuti dari belakang.
“ Ke toko bunga. Aku akan menjenguk Luna.”
“ Baiklah tuan.” Sambil memandangi wajah Jiang He dari samping. Dia tahu sekarang Jiang He dalam suasana yang kurang baik. dia merasa kasihan pada Jiang He. Dia tahu perjuangan Jiang He selama ini untuk bisa memenangkan hati Luna.
***
\= di Pemakaman \=
Cukup ramai orang yang mengelilingi sebuah makam. Mereka berpakaian rapi, ada juga yang berjaga-jaga dari kejauhan.
Hyena yang masih duduk bersimpuh seorang diri di sana. Sementara yang lain berdiri di belakangnya. Dia meletakkan bunga di batu nisan yang bertuliskan Fan Zee.
Matanya tak lagi mengeluarkan air mata, tapi matanya terlihat bengkak. Dia sudah begitu banyak menangis atas kepergian Fan Zee.
__ADS_1
Ingatannya saat bertemu dengan Fan Zee pertama kali langsung terputar, seolah seperti kaset yang sedang di mainkan.
FLASHBACK
Saat itu Hyena berjalan sendirian di hall bandara. Dia berjalan dengan air mata yang bercucuran. Ya.. saat itu tepat dimana dia baru pulang dari prancis, dia pulang dengan membawa Luka karena Jiang He telah menolak pernyataan cintanya. Dimana itu merupakan hal yang paling berpengaruh besar yang membangkitkan rasa bencinya pada Luna .
Dia berjalan dengan sesegukan, dia sama sekali tidak memperhatikan jalan hingaa dia menabrak seseorang.
‘ Brug..”
“ Maaf “ ucap Hyena tanpa menoleh sama sekali.
Orang yang di tabraknya itu hanya tersenyum, pria itu berbalik badan dan menatap Hyena yang masih saja berjalan.
Pria itu mengikuti Hyena, ketika Hyena menemukan bangku yang kosong. Hyena berhenti dan pria itupun juga menghampiri Hyena dan duduk di samping Hyena.
“ Kau kenapa menangis” tanyanya denga lembut.
Hyena menggelengkan kepalanya. Dia enggan bicara, karena jika dia menceritakannya pada orang lain, dia takut hanya akan membuat orang memandanginya dengan tatapan iba.
“ Ya sudah, jika akau tidak mau cerita untuk sekarang. Tapi jika kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku” sambil memberikan kartu namanya.
“ Fan Zee.”
“ Aku orang yang baik. kau tidak perlu takut.” Sambil berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Hyena.
Hyena terdiam dan memandangi punggung orang asing itu. Lalu dia mengambil kartu nama itu dan menggenggamnya dengan erat.
Sejak itulah mereka mulai dekat, meskipun awalnya Hyena ragu untuk menghubungi. Tapi ketika dia merasa benar-benar butuh teman untuk bercerita, akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi Fan Zee.
Dia bertemu dengan Fan Zee dan dia mendapatkan kesan yang baik pada Fan Zee, dia merasa nyaman bercerita dengan Fan Zee. Hingga akhirnya mereka jadi sering bertemu. Serta Fan Zee juga selalu setia untuk menemaninya dalam hal apapun.
Hingga Hyena bergabung dengan suatu kelompok, dia juga membawa Fan Zee.
Tapi Fan Zee menolak, dengan alasan bahwa dia hanya ingin hidup damai-damai saja dan dia juga harus menjaga adik perempuannya, yang meruapakan keluarga satu-satunya yang dia miliki. Karena kedua orangtuanya sudah tiada.
Namun meskipun dia menolak dia tetap setia menemani Hyena. Seperti halnya saat Fan Zee menemani Hyena terakhir kali dan merenggut nyawanya.
Fan Zee benar-benar tidak tahu apa-apa, yang dia tahu hanya bahwa Hyena benar-benar membenci sahabatnya itu. Dia hanya membantu Hyana saja, karena Hyena juga tidak 100% terbuka padanya.
“ Fan Zee, aku akan membalas kematianmu dan akan menjaga adikmu dengan baik. Aku tidak akan menjadikan adikmu seperti kamu. aku tidak akan melibatkanya dalam urusanku.” Janji Hyena dengan suara lirih.
***
\= Malam Hari \=
Mark benar-benar merencanakan semuanya dengan baik. Hingga berita telah di temukannya Luna juga dia atur dengan baik dan barulah malam ini berita tentang fakta bahwa Luna sebenarnya di culik dan dia sudah berhasil di selamat tersebar dengan cepat setelah Cour media dan pihak kepolisian mengonfimasinya.
Dengan telah tersebarnya berita tersebut tentu saja Mark memperketat penjagaan di ruang inap Luna. Karena pasti akan ada saja yang berusaha menyelinap untuk mencari tahu keadaan terbaru dari Luna sekarang ini.
Mark menugaskan banyak pengawal untuk mengawasi tempat inap Luna. Beberapa pengawal untuk berjaga di depan pintu, di dalam juga ada beberapa orang untuk mengawasi jendela. Karena bagi wartawan yang nekat, terkadang dia akan memanjat gedung dan bahkan ada yang memanjat pohon yang berada di sana demi mendapatkan sebuah photo.
Saat itu Luna dan Mark duduk di sofa, Luna sedang mengganti perban Luka di lengan Mark.
Meski Mark mendapat perawatan dari dokter Chu, tapI Luna memohon pada Mark untuk dia saja yang merawat Luka itu untuk selanjutnya.
Luna menggunting balutan tekahir.
“ Ini sudah selesai. Bagaimana perawatan dari nona Luna tuan Mark?” goda Luna.
“ Ini benar memuaskan. Aku rela sekit tiap saat jika nona Luna yang merawatku.” Dengan mendekatkan wajahnya pada Luna.
Luna terkejut..pupil matanya membesar dan dera nafasnya langsung tak beraturan.
‘ deg deg deg ‘ dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Bersambung…
__ADS_1