TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 HANG OUT


__ADS_3

Luna menatapi Mark rada kesal, tidak habis fikir jika suaminya akan mengosongkan Mall hanya karena dia bilang ingin jalan-jalan di sana.


“Ayolah suamiku, bukankah jika Mall sebesar itu kosong akan menjadi sangat mengerikan? Aku bilang jalan-jalan, menikmati kebersamaan seperti orang lainnya. Jalan-jalan di Mall tidak jauh bedanya dengan hutan jika di kosongkan. Kamu sungguh tidak tau cara menikmati hidup ya?” merapatkan bibirnya, menahan umpatannya agar tidak keluar.


“Kamu kenapa sayang? Memutuskan telvon dengan menager Jae lalu menatapku seperti itu?” tanya Mark yang membuat Luna langsung menghembuskan nafasnya dengan keras. Menatap kedapan, lalu sedekit melirik Mark dengan ekor matanya.


“Sayang sepertinya benar-benar tidak tau cara menikmati hidup ya.” menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu menoleh pada sang suami.


“Tidak tau cara menikmati hidup bagaimana maksdunya?” kening Mark berkerut melirik Luna, lalu kembali fokus ke depan.


“Ya.. logikanya saja, jika Mall kosong untuk apa kita jalan-jalan di sana.” bibir Luna mulai terangkat kesal. “Justru dalam keramaian itulah memberikan kesan jalan-jalan yang menyenangkan.” Lanjutnya dengan nada ketus.


Mark tampak tergelak, “Ya mana aku tau sayang. Aku pikir kau hanya mau berduaan denganku. Memangnya kamu tidak takut jika nanti orang-orang akan menyerbu karena ketampananku?” Melirik Luna yang menatapnya kesal. Sangat percaya diri sekali mulutnya berucap. Ah, tidak salah juga. Dia memang tampan.


“Jika terus tebar pesona dan melempar senyum sepanjang jalan tentu saja akan menarik orang-orang. Memangnya suamiku ini mau menghilangkan image dingin dan kejam yang selama ini melekat ya?” melipat tangan di dada dan melebarkan senyumnya, membuat Mark hanya bisa cengingisan.


Berhasil membuat Mark diam, tak bisa menjawabnya tentu saja membuat merasa menang. Sekarang giliran Luna yang menahan tawa sambil mengambil ponselnya kembali dan dia tampak mengirim pesan pada seseorang.


***


“Apa ini sayang?” Mark menatap Luna yang senyum-senyum. Tangannya mengulurkan satu set pakaian pada Mark.


Sekarang mereka sudah berada di ruang Manager Jae. Tadi Luna mengirimi manager Jae pesan, meminta agar di sediakan set pakaian couple untuk dia dan suaminya.


Sontak saja ketika menerima pesan dari Luna, manager Jae yang tadi bingung langsung bergerak. Mengunjungi beberapa toko brand terkenal. Dia sendiri bingung baju couple yang seperti apa yang sesuai dengan Nona nya ini.


Manager Jae berperang dengan waktu. Sesekali menatap jam tangannya memperkirakan berapa menit lagi atasannya itu akan datang. Setelah menemukan yang di rasanya cocok, manager kembali keruangannya dengan nafas tidak beraturan. Berehenti sejenak di ruangaannya, mengatur dera nafasnya.


“Hah?” dia terkejut melihat Mark dan Luna yang sudah daatang mendekatinya. Kaget dan lega secara bersamaan.


Beruntung dia tepat waktu, tidak terbayangkan jika dia rerlambat 1 detik saja, entah apa yang akan terjadi dengannya, mengingat sosok Luna yang tegas jika menganai tanggung jawab. Lalu Mark yang tidak perlu di tanyakan lagi. Sifat dingin dan tegasnya membuat semua orang kikuk.


Belum reda debar jantungnya yang tadi, sekarang debar jantung menager Jae semakin kencang saat Mark menanyai Luna tentang set pakaian tersebut.

__ADS_1


Khawatir jika tuannya ini tidak menyukainya. Dia sibuk sendiri dengan debar jantungnya sementara yang di tanya malah terlihat santai.


“Ini baju couple lagi sayang. Besok kamu pergi, jadi harus meninggalkan lebih banyak kenangan manis. Kita keliling Mall dengan pakaian couple ya! agar penampilan mencolok ini tidak menarik orang untuk menatap suamiku ini.” mengusap bahu Mark, berlalu pergi ke memasuki ruangan untuk mengganti pakaiannya lebih dulu.


“Tunggu!” Mark menahan tangan Luna. “Kenapa kita tidak sama-sama saja menggantinya.” Sudah merangkulkan tangannya di bahu Luna dan menariknya untuk masuk ke ruangan.


“Sayang lepas. Memangnya tidak malu sama manager Jae.” Bisik Luna dalam rangkulan Mark.


“Kenapa harus malu? ini hal yang biasa untuk suami istri.” Dengan entengnya Mark menjawab. Sementara yang Luna maksud, apa dia tidak malu memperlihatkan sikapnya yang seperti ini pada manager Jae.


‘ bam ’ pintu ruang ganti tertututp.


Tampak manager Jae senyum-senyum sendiri, dia mendengar apa yang di bicarakan atasannya itu. begtu manis interksi atasannya ini. Pikirnya.


Tak lama berselag waktu, di dalam ruanga itu Mark dan Luna sudah berganti pakaian.


Luna yang mengenakan long sleeve dress yang di padukan dengan seat-shirts lengkap dengan sepatu kets hitamnya. Begitupun dengan Mark celana katun, sweat-shirt couple serta sepatu kets yang couple.


Luna tersenyum puas melihat penampilan mereka. Tapi tiba-tiba dia menatap Mark dengan menyipitkan mata.


“Bagaimana?” tanyanya dengan memandangi diri mereka cermin besar di depan mereka. Luna merubah gaya rambut Mark. Semula sang suami mengekpos jidat paripurnanya, sekarnag Luna ubah dengan menutupi jidat tersebut. diaturnya sebaik mungkin, hingga penampilan suaminya dengan poni sangat keren.


Mark menganggukkan kepalanya, menatap Luna dengan senyum lembut.


***


Mark dan Luna mulai mengelilingi Mall. Berpegangan tangan dan berjalan dengan bebas seperti pasangan kebanyakan di sini. Toh dengan penampilan seperti ini, mereka tidak akan menarik orang untuk menatapnya. Jadi bebas, mau bagaimananpun.


Pertama-tama, mereka langsung pergi ke area hiburan. Memainkan beberapa game yang ada di sana. Bahkan mereka bermain trampoline dengan cerianya.


Bosan di area hiburan, mereka langsung berburu kuliner. Tawa menghiasi di bibir keduanya, mereka seperti pasangan baru berpacaran saja.


“Halo.. kami sekarang cake varians baru. Silahkan di coba.” Sapa paramuniaga wanita dengan ramahnya. Dia menawarkan cake bahkan tangannya sudah hendak menyuapi Mark.

__ADS_1


“Maaf,, saya tidak suka makanan manis.” Tolak Mark di sertai dengan gerak tangannya. sementara Luna yang sibuk melihat-lihat kue langsung mendekati pramuniaga tersebut.


“Saya mau coba.” Ujar Luna sambil membuka mulutnya dan langsung di suapi oleh paramuniaga tersebut.


“Hmm.. enak.” Ujar Luna dengan anggukan kepalanya. “Coba sayang.” mengambil cake tersebut dan menyuapi Mark, dengan patuh Mark langsung membuka mulutnya. Membuat kakak paramuniaga tersebut tersenyum malu, sadar bahwa pria ini menolaknya karena dia mempunyai kekasih.


Begitupun Mark mengunyah dengan senyum.


“Beli ya sayang.” Ujar Luna yang di balas dengan anggukan oleh Mark. “Yang ini 1 kotak ya kak.” Lalu lanjut berkeliling melihat cake yang lain.


Mereka bersenang-senang. Melupakan sejenak beban yang ada di pikiran masing-masing.


****


" Huh, cukup melelahkan." meregangkan badannya menuju ranjang.


"Sini aku pijitin." Tawar Mark dengan langsung memjiti bahu sang istri.


Luna tersenyum menimakti pijitan sang suami yang benar-benar enak. Selama ini, soal pijit-memijit Mark memang ahlinya.


Mulai dari kaki Luna terkilir dulu dia seperti tau segalanya dan memijitnya dengan sangat nyaman.


"Sayang hati-hati di Norwegia ya." suara Luna terdengar lirih. Dia juga menundukkan kepalanya dan jemarinya tampak bermain.


"Iya sayang. Jangan khawatir. " terus memijit.


"Harus pulang tanpa luka!!" menoleh pada sang suami dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Sungguh berat rasanya melepaskan sang suami pergi. Ingin dia iikut, tapi itu pasti hanya akan menambah beban.


"Aku menunggumu." tidak tahan lagi, tangisnya pecah dan langsung memeluk suaminya. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Iya, aku akan kembali dengan cepat." Mark menenangkan sang istri dan mencium lembut keningnya. "Sayang aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bisa berjauhan dengan waktu yang lama." ucap Mark dengan mesra. Merebahkan diri meraka dan berpelukan dengan erat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2