
Roma, Italy.
Seorang pria berusia sekitar enam puluhan memandangi keramaian jalan raya dari atas gedung pencakar langit itu. Langit malam, dengan kilauan cahaya dari gedung dan kendaraan tampak indah. Cuaca malam ini juga sedikit dingin di sertai dengan angin yang berembus cukup tenang.
Pria paruh baya itu tampak berkelas dengan pakaian yang melekat ditubuhnya. Berkumis dan berjambang tipis dan tampak sangar meski dia hanya diam saja. Di adalah Java Moor, ketua dari geng gelap di negara Italy ini. Java Black.
“Aku sudah tidak sabar untuk bertindak sesegera mungkin.” Gumam Java Moor dengan sengihan di bibirnya. Gelas wine di tangannya itu juga digoyang-goyangkan pelan.
Dia berbalik badan membelakangi view kota Italy itu. Tubuhnya di sandarkan dari kaca pembatas separas pinggangnya itu.
“Morse.” Panggilnya.
“Ya, Tuan.” seorang pria berbadan kekar dan tegap datang ke hadapannya. Penuh hormat dan menunduk.
“Bagaimana perkembangannya?” mata hazelnya, senantiasa menatap gelas wine yang masih di goyang-goyangkan.
“Semuanya berjalan dengan sangat baik, Tuan. Kita tidak perlu turun tangan, keadaan di sana sudah kacau balau dengan sendirinya.” Pria tegap itu masih menunduk. Tidak berani menatap Java Moor.
“Bagus. Mungkin semesta memang meridhoi misi kita. Jalan kita akan semakin mulus, orang-orang bodoh itu telah membersihkan jalan untuk kita. Semesta memang sangat berpihak padaku kali ini.” Java Moor tertawa keras setelahnya.
Morse bersama dengan tiga baris kawanannya di belakang ikut tersenyum sesamanya. Mereka adalah orang kepercayaan Java Moor. Mempunyai keahlian masing-masing. Ahli senjata api, ahli teknologi, serta raja gulat. Semuanya sudah sangat terlatih.
“Hubungi anak gadis kesayanganku nanti. Suruh dia menyambutku di Bandara. Aku tidak sabar bermain di negera China itu.” tegas Java Moor berucap.
“Baik, Tuan.”
Suasana menjadi hening seketika. Java Moor menghabiskan wine itu dengan satu kali degukan. Lalu dia kembali berkata.
“Akan aku pastikan untuk menghancurkan bajing*an itu dengan tanganku sendiri. Lebih kejam dan lebih sadis.” Java Moor tersenyum licik. Lama-kelamaan senyum itu berubah tawa yang kuat.
“Aku tidak akan hancur kedua kalinya.” Ujarnya angkuh.
Java Moor mengayun langkahnya melewati orang-orangnya itu. Semua orang di sana hanya menunduk, ketika Tuan besar itu melewat mereka.
“Kirim seorang wanita ke kamarku. Pilih wanita terbaik. Aku ingin menenangkan pikiran dulu.” Titah Java Moor lagi.
__ADS_1
“Baik Tuan.” Morse mengangguk patuh.
Java Moor keluar dari ruangan itu. Dia melangkah sambil tertawa seorang diri.
***
“Kamu yakin pergi sendirian Mark?” Rangga menatap Mark dengan menyimpan rasa gelisahnya. Pun Jiang He, Key dan Zhaon juga sama demikian. Di belakang mereka sudah bersiap Helicopter yang akan membawa Mark.
“Perkara kali ini agak sulit. Kita harus selalu waspada.”
“Mark, pulau itu adalah daerah kekuasaan James Lu. Pasti tidak akan mudah sampai di sana. Kami tidak yakin bisa memantau mu dari sini. Lebih baik kita bicarakan lagi, dan pikirkan cara lain.”
“Tidak ada waktu lagi. Aku harus segera menemui Luna. Dia pasti sangat tidak nyaman di sana. Dia pasti sangat membutuhkanku, dia pasti sangat merindukan Allard. Aku harus segera membawanya pulang.”
“Tapi Mark..”
“Aku akan baik-baik saja.”
Mark langsung berbalik badan dan mangayun langkah memasuki helicopter. Dia tidak mau berdebat lagi. Yang ada di fikirannya sekarang hanyalah Luna. Sesulit apapun jalannya nanti dia tidak peduli.
“Luna aku akan datang. Tunggu aku!”
***
“Aku akan memasak. Kalian boleh bersantai.” Luna terlihat sangat tenang. Wajahnya juga tidak lepas dari senyum ceria.
“Tapi Nona, itu adalah tugas kami. Anda cukup katakan saja ingin makan apa, maka kami akan menghidangkannya dengan segera.” Dua orang pelayan itu ikut sibuk memperhatikan Luna yang bola-balik antara kitchen set dan kulkas.
“Tidak, tidak. Aku bilang akan memasak sendiri, jadi jangan ganggu. Aku sangat bosan tidak ada kegiatan sama sekali di sini. Bahkan teman pun aku tidak punya. Orang-orang panti jompo saja tidak semenyedihkan ini. Aku masih sangat muda, aku harus hidup dengan semangat setiap harinya.”
“Nona…”
Belum sempat pelayan itu berucap Luna tiba-tiba meraih pisau dapur. Kedua pelayan itu langsung terkedu.
“Nona, anda mau apa?” tanyanya cemas.
__ADS_1
Kening Luna berkerut. Matanya menyipit memandang dua orang pelayan itu. Apa yang mereka pikirkan? Luna tertawa halus setelahnya.
“Tentu saja aku ingin memotong bahan-bahan ini. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan dengan pisau ini? mengiris nadiku?”
“Nona…” seiras seirama dua orang pelayan itu bersuara. Terasa pecah jantung mereka melihat Luna sudah mengarahkan pisau itu ke arah nadi di pergelangan tangan.
Sekali lagi Luna tertawa.
“Kalian lucu sekali. Aku tidak sebodoh itu. Apapun yang terjadi aku tidak kan mengambil keputusan itu. Meskipun neraka yang ku terima di sini, aku tidak akan menyerah. Aku harus tetap sehat, karena suamiku pasti akan menjemput ku. Aku tidak ingin dia melihat aku sakit ketika dia datang. Aku tidak ingin ketika dia memelukku dan merasa aku lebih kurus. Dia sangat menggilai tubuhku. Dia bilang hanya akulah yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Jadi kalian tenang saja. Biarkan aku memasak sendirian.” Bersahaja Luna berucap. Bibirnya juga menguntum senyum manis. Wajah Mark dan Allard terbayang olehnya.
“Nona jaga ucapan anda. Jika Tuan James dengar, Tuan pasti tidak senang.”
“Lantas, apa urusannya denganku? Salahkah aku berucap demikian? Aku hanya membicarakan suamiku sendiri.”
Dua orang pelayan itu hanya saling tatap. Hati mereka tersentuh, tapi bukan pada ucapan Luna. Namun pada Tuan mereka. Jika saja Tuan mendengar ini, pasti Tuannya itu sedih. Kasihan sekali anda Tuan muda.
Sementara itu James Lu berada di luar dapur itu. Dia dengar semuanya. Senyum kecut terukir di bibir pria itu.
“Hanya kamu Luna? baiklah, setelah kamu melihat ini. Apakah kamu masih bisa berucap demikian?” sebuah amplop coklat ditangannya sedikit di remas. James Lu membawa langkah meninggalkan dapur itu.
Luna tersenyum miring. Dia tahu jika James Lu ada di luar. Makanya dia sengaja berucap seperti tadi. Sedikit vulgar. Dia tahu jika James Lu tidak suka jika nama Mark di sebut. Luna sudah memperhatikannya sejak di kapal waktu itu. Dia ingin bermain dengan psikologis pria itu.
***
Helicopter itu mendarat dengan sempurna di dalam hutan yang lebat.
“Kembalilah. Jika aku tidak kembali dalam sehari, jangan khawatirkan apapun dan jangan bertindak tanpa titahku. Katakan pada mereka untuk tetap mengawasi keadaan di sana. Hanya di sana.” ujar Mark tegas.
“Baik, Tuan.”
Mark memasang long coatnya. Lalu turun dari helicopter itu. Pun sebaiknya Mark turun, helicopter itu juga langsung naik kembali ke udara, meninggalkan Mark seorang diri di hutan yang gelap itu.
Helicopter itu telah jauh. Mark mengehala napas perlahan. Dia mulai melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Mark mengerutkan dahi. Dia merasa menginjak sesuatu yang aneh.
BOOMMM…..
__ADS_1
Ledakan yang amat keras.
Bersambung….