TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
AKU TAK BERHAK MERUSAK KEBAHAGIANNYA


__ADS_3

“ Kak Jiang He? Kakak kenapa tidak pernah menghubungiku lagi?” dengan nada kesal tapi juga bahagia.


Jiang He terkejut dengan pertanyaan Luna, kemarahannya pada Mark semakin bergejolak.


“ Sepertinya Mark memblokir nomorku tanpa sepengetahuan Luna.” bisik hati Jiang He dengan tatapan dengan penuh kemarahan.


Tapi Jiang He tetap berusaha tenang dan menjawab pertanyaan Luna dengan alasan yang lain.


Sementara Mark yang ada di samping Luna sedang berpikir siapa Jiang He tersebut.


“ Jiang He?” tanya Mark dalam hatinya.


Luna terlihat sangat bahagia, gelak tawa selalu terukir di bibirnya. Mark merasa ini pertama kalinya dia melihat Luna bisa tertawa lepas begini.


Tatapan mata Mark berubah menjadi dingin. Mark merasa nama itu agak familiar, dia mencoba untuk mengingatnya. Dan beberapa sesaat kemudian Mark mengingat pemilik nama Jiang He itu, dengan tatapannya yang dingin terukir smirk di bibirnya kemudian melajukan mobilnya lebih cepat.


Luna melirik Mark, dia merasa ada yang aneh dengan tingkah Mark. Tapi dia tidak memperdulikan. Dia tetap melanjutkan percakapannya.


“ Serius kakak sudah di sini sekarang?”


“ Iya, 2 hari lagi akan ada pesta penyambutanku. Aku sudah mengirimkan undangan ke Lixing Group.”


“Selamat ya kak. Kakak sudah bisa berhasil mewujudkan impian kakak.”


“ Haha.. ini bukan apa-apa. masih banyak hal yang ingin aku wujudkan.”


“ Waahh.. manusia memang tidak pernah puas. Tapi aku akan selalu mendukung apapun yang kakak lakukan."


“ Aku akan mengingat perkataanmu ini. Tapi sudah dulu ya Luna. ada hal lain yang harus ku urus.”


“Ok ok. Aku paham, kakak pasti sangat sibuk. Bye.”


Luna menutup telepeonya kemudian langsung memberi nama kontak baru Jiang He tersebut. Setelah itu Luna menggenggam ponselnya dengan kedua tangan dan meletakkan di dadanya dengan kegirangan.


“ Kak Jiang He, aku tidak menyangka kakak berhasil dengan begitu cepat. Humm.. dia juga tidak membahas apa-apa tentang pertunagananku dengan Mark. Sepertinya dia sudah bisa menerimanya.” bisik hati Luna merasa sangat lega.


Luna menyandarkan kepalanya ke belakang dengan bibirnya masih senyum. Dia agak kesulitan mengontrol kegirangannya.


Kemudian dia melirik Mark, dia baru sadar bahwa Mark terlihat tidak senang sejak dia menelepon.


Dia ingin membicarakan tentang undangan yang di bicarakan oleh Jiang He tadi. Tapi tertahan karena dia melihat Mark dengan mood yang tidak baik.


Luna terus memperhatikan wajah Mark yang dingin itu.


Pada suatu belokan Luna tersadar, dia melihat sekitar jalan.


“ Eh, bukankah ini jalan ke kantor? Kau bilang tadi kita makan siang dulu?” tanya Luna bingung.


Tapi Mark tidak menghiraukan Luna, dia terus menyetir.


Luna merasa sangat kesal, dia mentap Mark.


“ Mark kau kenapa? Kenapa tiba-tiba bersikap dingin?” teriak Luna.


“ Aku ingat ada hal penting yang harus aku urus dengan Rangga. Maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan siang.”


Luna mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya untuk mengatur emosinya. Dia kembali duduk dengan menghadap kedepan sambil melipat kedua tangan didadanya. Di dalam hati Luna dia terus menggerutu.


“ Dasar pria aneh. Meskipun ada hal yang ingin dia urus, tapikan sebentar lagi memang waktunya makan siang. Benar-benar menyebalkan. moodnya seperti wanita saja, mudah berubah.”


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan. Mark mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan.


“ Rangga, turunlah. Aku di depan kantor.” ucap Mark.


Setelah mengucap 2 kalimat tesebut Mark juga langsung menutup teleponnya.


Sementara Luna belum keluar dari mobil. Dia terus menatap Mark dengan tatapan sangat kesal.


Markpun melihat menatap Luna yang sudah sedari tadi menatapnya kesal.


“ Kau kenapa menatapku begitu?” dengan santai.


“ Hah, kau mau kemana dengan Rangga? apa kau hanya akan meninggalkan ku di sini?, kalian pasti mau makan siangkan, kalian tidak mengajakku?”


Mark tersemyum dan mengusap kepala Luna dengan lembut.


“ Aku benar-benar ada yang harus di urus dengan Rangga. Kau makan di kantin kantor saja jika tidak ada teman makan di luar. Makanan di kantor juga tidak kalah enak dengan restoran. Kamu pasti belum pernah mencobanya.” ucap Mark dengan lembut.


Luna terkejut dengan sikap dan ekspresi Mark yang tiba-tiba berubah dari dingin menjadi lembut. Dia mengedipkan matanya beberapa kali.


“ Baiklah, jika hal yang akan kalian urus memang mendesak. Kali ini aku akan memaafkanmu. Lain kali aku tidak akan memaafkanmu, jika meninggalkanku lagi setelah membuat janji denganku.”


Mark tersenyum mendengar ucapan Luna.


Rangga datang dan mengetuk kaca mobil. Luna menurunkan kaca mobil dan menatap Rangga dengan sedikit kesal.

__ADS_1


“ Baiklah, sekarang kalian pergilah.” sambil membuka pintu mobil dan keluar.


“ Mark aku saja yang menyetir.” tawar Rangga.


“ Tidak perlu, kau masuk sajalah!”


Rangga menatap Luna yang masih berdiri di sana, sebenarnya dia merasa tidak enak dengan Luna. Karena Luna menatapnya dengan tatapan yang tidak bersahabat.


Setelah Rangga Masuk, Mark langsung melajukan mobilnya. Luna menatap kepergian mobil tersebut dengan masih sedikit kesal.


Dari kejauhan ternyata Jiang He sedang memperhatikan Luna dari dalam mobilnya. Dia tersenyum dan menelepon Luna.


Ponsel di tangan Luna bergetar.


Luna langsung melihat siapa yang meneleponnya, Luna mengerutkan keningnya.


“ Kak Jiang He?” gumamnya, lalu menjawab panggilan tersebut.


“ Kakak, kenapa menelvon lagi. Bukannya kakak bilang tadi akan mengerus sesuatu?”


“ Luna sebenarnya aku ingin menemuimu, siang ini apa kau bisa makan siang denganku?”


“ Bisa, bisa. Aku bisa kak.” jawab Luna spontan dan juga bahagia.


Jiang He tersenyum melihat Luna yang bahagia dengan ajakannya.


“ Baiklah, jika begitu aku akan menjemputmu.”


“Ok “ sambil memutuskan panggilan.


“ Aah.. nasibku tak buruk juga hari ini. Meski Mark meninggalkanku, tapi masih ada kak Jiang He yang menemaniku. Sejujurnya aku merindukannya.” Gumam Luna dengan senyum seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.


Sebuah mobil hitam mewah keluaran terbaru dari merek terkenal berhenti di depan Luna dan supir dari mobil itu keluar.


“ Nona Luna, ayo masuk tuan muda Jiang He ada di dalam.” ucap supir tersebut.


Luna mengerutkan dahinya, dia merasa tidak percaya. Tapi tiba-tiba kaca mobil tersebut turun dan Luna membungkuk untuk memastikan apakah benar Jiang He yang ada di dalam.


“ Kakak, kenapa cepat sekali datangnya?” tanya Luna terkejut.


“ Masuk saja dulu nona.” ucap supir tersebut sambil membukakan pintu mobil.


Luna masuk, dan supir itu juga bergegas masuk dan melajukan mobil meninggalkan perusahaan Lixing Group.


“ Sebenarnya, aku memang ingin menemuimu dan memberikan kejutan. Tapi saat sampai aku melihatmu keluar dari mobil tadi, dan tampaknya kau kurang senang. Makanya aku langsung menelvonmu saja, hal apa yang membuatmu kesal?”


“ Ah.. itu bukan apa-apa kak.” dengan senyum yang berusaha menutupi kekesalanya dengan kejadian tadi.


Luna tiba-tiba merasa sedikit grogi bertemu dengan seniornya ini. Dia menggenggam kedua tangannya. Dan sesekali melirik Jiang He.


Jiang He mengajak Luna membicarakan banyak hal untuk menghilangkan suasana yang canggung. Dia membicarakan masa lalu yang lucu-lucu sehingga gelak tawa pecah sepanjang perjalan menuju restoran tujuan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di restoran.


Mereka turun dan pelayan restoran langsung mengantarkan mereka ke ruang privateroom.


“ Apa kakak sudah memesan sebelumnya?” tanya Luna penasaran


Jiang He hanya merspon pertanyaan Luna dengan senyumnya.


Mereka sudah sampai di tempat yang sudah di pesan oleh Jiang He. 2 orang pelayan langsung membukakan pintu.


Luna menatap Jiang He dan Jiang He memberikan isyarat agar Luna masuk.


Luna masuk duluan. Saat dia masuk, alangkah terperangahnya Luna, ruangan tersebut sudah di hiasi dengan berbagai bunga mawar, hidangan mewah sudah tertata dengan rapi tak lupa pula lilin dengan aroma yang sangat manis, makan siang ini tak ubahnya dengan makan malam romantis.


Jiang He masuk dan pelayan tersebut menutup kembali pintu tersebut.


“ Kakak.. bukankah ini sangat berlebihan?” ucap Luna.


“ Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu.” sambil memegang tangan Luna dan berjalan menuju meja makan .


Jiang He menyiapkan Kursi untuk Luna dan mempersilahkan duduk.


Luna duduk dengan perasaan antara bahagia dan tidak enak hati. Karena ia merasa ini terlalu berlebihan jika hanya untuk sekedar makan siang.


Jiang He duduk di depan Luna.


Dia menatap Luna dengan penuh perasaan dan dia melihat kalung yang melekat di leher Luna, dia tersenyum bahagia.


“ Luna, terimakasih karna kau masih menyimpan pemberianku.” dengan lembut.


Luna menyedipkan matanya beberapa kali, dia bingung dengan yang di maksud oleh Jiang He.


“ Lain kali aku akan memberikan kalung yang lebih baik untukmu.” ucap Jiang He. Barulah Luna sadar, diapun memegang kalung yang melekat di lehernya itu.

__ADS_1


“ Tidak perlu. Ini sudah cukup bagiku. Kak, aku tidak akan mengkhianati orang yang sudah memberikan kepercayaan padaku. Jadi aku akan selalu memakainya. Jika kakak memberikan kalung yang lain, aku tidak bisa jamin, apakah aku msih akan menggunakannya seperti kalung ini yang selalu melekat di leherku sejak hari kelulusanku.”


“ Baiklah. Jika kau memang sangat menyukai kalung itu.” dengan senyum yang sangat tulus.


“Sekarang lebih baik kita makan. Aku memesan semua makanan kesukaanmu. Makanlah yang banyak.”


Jiang he mengambil piring yang di depan Luna dan mengambilkan makanan untuk Luna.


Jiang He memang selalu memanjakan Luna. Dia selalu memperlakukan Luna dengan lembut. Luna menatap Jiang He dengan senyum. Dia semakin kagum karena seniornya ini masih memperlakukannya denga lembut, tak berbeda di masa dia masih kuliah.


“ Aku benar-benar beruntung punya orang selembut ini memperlakukanku. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia selalu memberikan kehangatannya padaku.” bisik hati Luna.


Jiang He meletakkan piring Luna yang sudah penuh dengan makanan. Dan merekapun mulai makan dengan tenang dan di selingi dengan pembicaraan yang ringan dan manis. Sehingga makan siang ini, memang terasa lebih romantis dari makan malam romantis yang biasa di lakukan oleh pasangan.


***


Di Perusahaan Cour Media.


Mark, Rangga dan Key sedang duduk di sofa ruangan Key.


Suasana begitu hening dan canggung.


Undangan dan kotak yang mewah tersebut sudah di buka oleh Mark.


“ Rangga, apa tidak ada hal yang ingin kau katakan padaku?” tanya Mark dengan dingin.


“ Eh, apa maksudmu?”


“ Sekarang coba kau pikir, pimpinan CL Group yang tak pernah ku kenal. Tapi tiba-tiba dia mengundangku secara khusus untuk makan malam. Apakah itu masuk akal? Jikapun dia tertarik dengan kehebatanku, seharusnya dia tetap menjaga imagenya dan menunggu saja waktu pesta penyambutannya. Kenapa mesti mengudangku secara khusus sebelum pesta penyambutannya. Setelah penjelasanku ini, kau masih mau menutupinya dariku?” tanya Mark mengintimidasi.


Rangga terkejut, dia menatap Key.


Rangga mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang sudah ketahuan.


“ Jadi kau sudah mengetahui ini sebelumnya?”


“ Tentu saja. tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku.”


“ Maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin ada masalah saat hari pertunangananmu dengan Luna.” jelas Rangga.


“ Tapi apa yang sudah kau lakukan dengan tidak memberitahuku?”


“ Ah..? a-aku memblokir semua yang berkaitan tentang dia di ponsel Luna.”


“ Hah, Rangga kau jangan bodoh. Kau kira dengan begitu dia akan menyerah? Seorang pria tak akan pernah menyerah untuk wanita yang dia cintai. Pikirmu terlalu dangkal Rangga. Huft.. sudahlah kita tidak perlu membahas ini lagi.”


Suasana semakin mencekam dengan sikap Mark yang tidak jelas tersebut.


Key dan Rangga saling berisyarat mata, mereka bingung. Mereka pikir Mark akan marah dan membuat rencana untuk menjauhkan Jiang He dari Luna. Tapi Mark malah memberikan reaksi berbeda yang membingungkan. Karena dia tidak marah pada Luna dan juga tidak marah dengan kemunculan Jiang He.


Dia cukup tenang tapi seperti ada hal lain yang di pikirkan Mark.


Dengan sikap Mark yang seperti itu, membuat Rangga semakin khawatir. Dia takut Mark akan menyakiti Luna nantinya.


“ Ehem, jadi apa rencanamu Mark?” tanya Rangga memberanikan diri.


“ Aku akan memenuhi semua undangannya. Ini pasti akan menarik. Aku penasaran hal apa yang ingin dia bicarakan padaku. Luna memang sangat beruntung, dia mempunyai pria yang mencintainya seperti ini.”


Key memiringkan kepalanya kiri dan mengamati ekspresi Mark, dia merasa Mark mengetahui lebih banyak dari pada yang Rangga ketahui.


“ Mark, apa ada sesuatu yang lain kau ketahui. Kenapa kau begitu yakin, bahwa Jiang He ini sangat mencintai Luna?” tanya Key sambil mengamati wajah Mark.


“ Key , kau jangan menatapku begitu. Aku akan menceritakannya pada kalian. Di hari pertunagananku dengan Luna, Jiang He datang menemui Luna di ruang rias.”


Mendengarkan jawaban Mark Key dan Rangga sangat terkejut.


“ Bagaimana bisa?” tanya Rangga sangat penasaran.


Markpun melanjutkan ceritanya,


“ Dia mengatur semuanya denga baik, sehingga dia bisa masuk. Saat itu dia mengajak Luna untuk kabur, tapi Luna menolaknya. Luna menolaknya pasti karena memikirkan orang tuanya ada di tanganku.”


“ Baiklah, aku paham. Jika di lihat dari situasi yang sudah ku ketahui dari Rangga, kau dan situasi sekarang memang dapat di pastikan dia sangat mencintai Luna. Tapi aku ingin tahu dari sisi Luna. Saat mereka bertemu di ruang rias bagaimana menurutmu perasaan Luna padanya?” tanya Key.


“ Entahlah, tapi aku melihat mereka sangat dekat.”


“ Hum.. kita harus mencarinya lebih lanjut. Sebaiknya kita mencari tahu bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Aku akan mengurus ini.” ucap Key.


“ Tidak perlu. Ini bukan masalah besar. Aku bisa menanganinya. Semuanya ada di atas kendaliku.” jawab Mark dengan tatapan dingin.


Key dan Rangga semakin penasaran dengan apa yang di pikirkan oleh Mark.


Mark meyandarkan dirinya di sofa.


“ Hubunganku dengan Luna hanyalah pertunanganan palsu. Jika Jiang He dan Luna benar-benar saling mencintai, maka aku tak berhak merusak kebahagian Luna untuk kesekian kalinya. Sudah cukup dengan kehilangan orangtuanya untuk sementara ini.” bisik hati Mark, setelah itu Mark memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2