TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
RUANG KELUARGA


__ADS_3

Mark berdiri membelakangi pagar balkon kayu dengan menyandarkan kedua sikunya di sana. Jemarinya sibuk menscrool layar ponselnya, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu ruangan dimana sang ibu dan calon istri sedang berbincang di sana.


Bohong bila dikatakan dia tidak penasaran apa yang sedang di bicarakan 2 wanita yang di sayangi itu. Hatinya di penuhi rasa penasaran, hanya saja dia berusaha untuk tenang.


“ Luna, ibu.” Ucap Mark sambil menjalan mendekat saat dia melihat 2 wanita yang dia sayangi keluar dari tempat minum teh.


“ Mark..” panggil hati Luna lirih. Tapi Luna mengembangkan senyumnya yang lembut pada sang calon suami yang mendekatinya.


“ Apa yang kalian bicarakan? Hingga mengabaikan seperti ini.” Mark berucap seolah merajuk, lalu dia mendekap sang ibu di sisi kanannya dan Luna di sisi kirinya.


“ Apakah tidak ada yang ingin menjawabku?” Mark melirik Luna dan ibu yang tidak menjawabnya. Luna dan ibunya hanya senyum-senyum, seperti tidak ada kejadian yang menumpahkan air mata sebelumnya. Mereka malah senyum-senyum manis seolah mereka sangat dekat dan kompak, hingga tak ingin berbagi pada Mark.


“ Baiklah, ibu dan calon istriku benar-benar kompak ya. Aku akan memaafkannya kali ini.” nada merajuk dan kalimat merajuk, tapi tersimpan kelegaan di sana. Hingga membuat Ibu dan Luna tertawa. Lalu Mark mencium pipi sang ibu dengan manja tanpa melepaskan dekapan tangannya di bahu Luna.


“ Aku tertawa? Sungguh menyakitkan.” Bisik hati Luna lirih dalam tawanya itu.


Luna memandangi Mark yang bermanja pada ibunya, mencium pipi ibunya berkali-kali hingga ibunya tertawa lepas.


Hati Luna terenyuh melihat tawa Mark yang merdu di telinganya. Sangat menyejukkan melihat pemandangan ini, Tapi.. bagaimana dia akan merawat tusukan luka yang di berikan sang calon mertua padanya.


Luka misteri, karena dia tidak mengetahui apa alasan sang calon mertua tidak menyukainya, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu.


“ Luna kamu tidak boleh lemah. Aku pasti bisa menghadapi rintangan ini, mendapatkan hati ibu sepenuhnya. Humm.. selama Mark mencintaiku, aku pasti bisa menghadapi apapun.” gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


***


Gelak tawa pecah di ruang keluarga, sangat ramai. Semua orang berkumpul di sana. Apalagi dengan adanya si kembar Chira, Chici di tambah dengan Nindy yang memiliki suara yang sama-sama nyaringnya. Jika mereka saja sudah bersuara, sudah bisa menyalahkan suara orang satu pasar.


Kesempatan langka ini memang harus di manfaatkan dengan baik, mereka hanya semalam di sini. Jadi Mark dan yang lainnnya memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana.


Setelah selesai makan malam mereka langsung berkumpul di ruangan keluarga ini, karena berkumpul dan bercerita jauh lebih di perlukan di bandingkan jalan-jalan menikmati indahnya pemandangan di luar. Meskipun awalnya hati Nindy sedikit tidak rela, tapi akhirnya menikmatinya berkat si kembar yang yang selalu menempel manja padanya dan Luna.


“ Kak Luna, kak Nindy bilang pada kami jika kak Luna seoarng pelukis yang hebat. Apakah itu benar?” tanyanya polos sambil menatap Luna di sampingnya.


“ Kakak memang pelukis, tapi belum bisa di katakan hebat. Kakak masih perlu banyak belajar sayang.” Luna mengembangkan senyumnya, lalu mengusap pipi Chira.


“ Chira juga ingin jadi pelukis, kami juga sudah mulai belajar. Jadi apakah kak Luna mau mengajari Chira membuat satu lukisan malam ini?” dengan semangat dan penuh harap.


“ Chici juga mau diajari kak Luna.” sambung Chici lebih bersemangat lagi, lalu dia beranjak dari sisi Nindy ke sisi Luna.


“ Chira, Chici kakak Luna perlu beristirahat. Mengajari kalian akan memakan banyak waktu.” Tegur Steven pada putrinya. Sontak saja Chira dan Chici memasang wajah merajuk dan memanyun-manyunkan bibirnya kesal, karena sang ayah tidak menyetujui keinginan mereka.


Luna memandangi wajah si kembar itu dengan senyum tidak tega. “ Tidak apa-apa kak Steven. Aku akan mengajari mereka malam ini. Hal ini tidak akan mengganggu jam istirahatku, aku sudah biasa begadang. Lagian besok di perjalan pulang aku juga bisa tidur sepuasnya.” Jelas Luna sambil tertawa.


Lihatlah, tawanya terllihat tetap damai meski hatinya sedang di rendung pilu. Siapa yang akan mengira jika sekarang dia sedang bersedih.


“ Yey.. kak Luna memang yang terbaik.” Kedua remaja kembar itu langsung memeluk sayang Luna penuh terimakasih. Sehingga Steven pun tak bisa lagi untuk menahan, toh Luna saja tidak keberatan.


“ Memangnya kalian, sanggup begadang?” tanya Luna menggoda.


“ Tentu saja, kami sangat suka begadang.” Jawab mereka spontan, hingga pada ujung kalimatnya, si kembar itu langsung menutup mulut mereka yang keceplosan. Mereka melirik ayahnya yang sudah menetap mereka tajam.


“ Haha.. maksud kami. Kami tidak masalah begadang malam ini, karena ada kak Luna dan juga kak Nindy.” si kembar Chira dan Chici berusaha berdalih agar ayah mereka tidak melototi mereka lagi.

__ADS_1


Luna mengangkat alisnya dan senyum. Dia paham dengan remaja seusia Chira dan Chici. Sangat super aktif, sama halnya dengan dirinya dulu.


Selain itu, melihat tingkah si kembar membuat dia teringat akan dirinya dan Hyena waktu remaja. Tapi dia tidak ingin berlarut lagi tentang Hyena, dia mengusir cepat ingatan itu.


“ Ya sudah, ayo kita mulai.” Ajak Luna sambil berdiri.


“ Kak, kita melukisnya di sini saja. Kami ingin semua orang melihatnya. Kami akan membawa semua peralatannya ke sini.” sambil berdiri.


“ Biar kakak bantu.” Tawar Luna dan Nindy.


“ Tidak usah, biar kami saja. Kami wanita Strong, pasti bisa membawa semuanya sendiri.” sambil bejalan menuju tangga.


“ Siapapun tidak boleh beranjak dari tempat duduk, semuanya harus melihat kami belajar.” Pinta mereka dengan menghentikan langkahnya sejenak, lalu kembali berjalan dengan semangat untuk mengambil peralatan.


“ Eh jatuh, eh lagi. aa..” terdengar suara kekesal dari atas. Sehingga membuat semua orang di ruang keluarga mengangkat alis dan tertawa kecil. Mereka tahu bahwa si kembar sedang kesulitan.


“ Perlu bantuan?” sorak Rangga dengan menahan tawa.


“ Tidak perlu, kami Wonder woman.” Masih saja bersikeras menolak bantuan.


“ Baiklah. Hati-hati dengan kekuatanmu Wonder woman.” Goda Rangga, tapi si kembar tak lagi menjawab. Malah terdengar suara jejatuhan barang yang beruntun dari atas.


“ Siapapun… tolong bantu kami..” teriak keduanya.


“ Hahaha..” seketika tawa langsung pecah dari ruang keluaraga. Mereka sudah bisa menebak kekacauan apa yang terjadi di atas.


***


“ Untuk pemula, kita belajar dari sketsa geometris ya. Pelan-pelan saja.”


“ Kami sudah belajar itu kak. Sekarang kami bisa menggambar sketsa orang yang kami lihat.” Jelas Chika dengan saling melirik pada Chici.


“ Untuk itu, modelnya kakak Luna dan kakak Mark ya..” lanjut si kembar bersemangat dengan senyum mengembang. Tapi mereka melirik Mark, merasa tidak yakin jika Mark yang dingin itu akan setuju, mereka hanya bergantung pada Luna, agar Luna mau membujuk si wajah dingin itu.


“ Ide bagus.” Mark menyela dengan semangat dan tatapannya menggoda Luna. Tentu saja hal itu membuat si kembar langsung histeris, karena ide mereka di terima dengan mudah. Sebenarnya Luna ingin menolak, tapi Chika dan Chici sudah menatapnya dengan tatapan memohon.


“ Ok ok baiklah. ” jawab Luna dengan senyum.


Si kembar mendekati Luna dan Mark, mereka mengatur pose mereka.


“ Kalian masih kecil, sudah berani mengaturku ya. Awas saja jika dengan pose yang memalukan.” Gumam Luna gemes dan khawatir, sementara Mark malah terlihat senang. Sementara semua orang di sana memandangi mereka dan ikut memberikan arahan.


“ Ya.. seperti ini.” ucap si kembar puas dengan pose yang mereka atur


“ Syukurlah..” sorak hati Luna. Karena si kembar mengatur pose yang sederhana, duduk berjarak sambil memegangi bunga masing-masingnya. Luna memasang ekspresi polos dengan duduk biasa saja, sementara Mark duduk dengan melipat kaki dengan tatapan mata tajam.


“ Hei.. ide macam apa ini.” tolak Mark, sambil meletak bunga yang di peganginya. Kecewa, karena tidak sesuai ekspektasinya.


“ Ini bagus kak. Banyak pasangan yang mengambil gambar seperti ini.” jelas si kembar sambil memainkan kedua telunjuk serta mode bicara bersalah tapi imut.


“ Mark.” Luna mencubit paha Mark keras sambil tersenyum. Tapi Mark menahannya agar tidak di ketahui oleh orang-oarang di sana. Sontak saja Mark langsung mengambil bunganya, meskipun kesal. Mark mengusap-ngusap pahanya pelan dan Luna kembali mengembangkan senyum penuh ejekannya pada Mark.


“ Sayang kamu menggemaskan sekali.” Gumam Mark malah terpesona.

__ADS_1


***


Sudah cukup lama Chira dan Chici membuat sketsa, semua orang sudah di buat penasaran dengan apa yang mereka buat. Tapi dengan kejelian Luna, dia merasa si kembar sedang gusar.


“ Ada masalah? “ tanya Luna.


“ Ti ti tidak kak.”


“ Baiklah. Coba kakak Lihat.” Luna berdiri dan mendekat. Begitupun yang lain juga berdiri karena penasaran dengan karya si kembar.


“ Stopppp..!!!” Teriak si kembar tidak senang.


“ Eh..” semua orang tercengang.


“ Hanya kak Luna yang boleh melihat. Yang lainnya, mohon duduk kembali.”


“ Kenapa begitu?”


“ Kalian hanya boleh melihat hasil akhirnya. Tapi karena kak Luna adalah gurunya, jadi tidak apa-apa untuk melihat.” Tegas si kembar. Dengan terpaksa semuanya kembali duduk dengan gerutu kecewa. Sementara Luna melanjutkan langkahnya.


Saat Luna melihat hasil keduanya, Luna terkejut dan membelalakkan matanya.


“ Pfttt..” Luna menahan tawanya sambil menutup mulutnya.


“ Kalu mau tertawa ya tertawa saja.” si kembar berucap malu dan menunduk.


“ Maaf maaf. Ternyata di mata kalian, aku dan Mark terlihat seperti ini ya?” masih menahan tawa.


Si kembar hanya menuduk malu, dengan cemberut. Tentu saja hal itu membuat semua orang semakin penasaran, tapi tak bisa melihat karena si kembar tak mengizinkan.


“ Tidak masalah. Ini bisa di pencantik saat pewarnaan. Pertemuan kita sangat singkat, pesan kakak kalian harus belajar dari dasar. Mulai saja dari Sketsa geometris. Okey!!” sambil mengacungkan jempol.


Wajah si kembar kembali terlihat bersemangat dan mereka langsung mengembangkan senyum, lalu memeluk Luna.


“ Nanti kami mau menyusul kakak jika kami sudah bisa. dan menunjukkan karya kami pada kakak.” Ucapnya si kembar denagn nada terharu.


“ Kakak sangat menantikan hari itu.” sambil mengusap lembut si kembar.


“ Jika begitu kita mewarnai sketsa ini ya kak.” Melepaskan pelukan.


“ Ok.” Luna menganggukkan kepalanya.


Si kembar langsung mengambil cat dan mengeluarkan isinya di palet. Luna juga membantu mereka, saat pertama mencium aroma cat Luna merasa aneh di penciumannya. Tapi dia menahannya, namun saat dia mengaduk cat tersebut dia merasakan aneh di perutnya.


“ Hoek..” Luna merasa mual. Sontak saja semua mata tertuju pada Luna, menatap Luna heran.


“ Sayang kamu kenapa?” Mark sangat khawatir dan mendekati Luna.


Luna yang bingung juga melihat pada orang sekitar dan fokusnya pada Mark sambil menggelengkan kepalanya. Sementara ibu Mark menatap Luna tajam dengan tidak senang.


“ Hoek hoek..” lagi-lagi dia mual. Hingga akhirnya Luna menyerahkan palet yang di pegangnya pada Mark, Lalu dia berlari ke kamar mandi dengan suara mual sepanjang larinya.


Bersambung..

__ADS_1


Eh, Tunggu… readers jangan lupa like dan koment dulu ya sebelum beranjak. Makasih…


__ADS_2