
“ Selamat datang tuan muda, Selamat datang nona” Sambut 2 orang wanita yang beridri di sisi kiri kanan ibu Mark.
Sementara ibu Mark masih tak bergerak, dia tetap pada posisinya yang membelakangu Mark dan Luna.
“ Ibu, kami datang.” Mark dan Luna membungkuk.
Ibu Mark mengangkat tangan kanannya, sebagai isyarat untuk menyuruh 2 orang wanita yang menemaninya pergi.
“ Baik nyonya.” Dua orang wanita itu memberi hormat pada semuanya, lalu berjalan mundur dan pergi.
Luna melirik 2 orang yang pergi itu, di wajahnya terlihat kegelisahan. Menyadari hal itu Mark kembali menggenggam tangan Luna dan mengedipkan matanya yang seolah mengatakan tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Luna menganggukkan kembali kepalanya, dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
“ Apa kau datang dengan calon menantuku?” ibu Mark mulai bersuara di balik punggungnya.
“ Iya bu,”
Ibu berdiri dan berbalik badan menghadap Mark dan Luna. hal pertama yang di tanggkap ibu Mark saat berbalik adalah Mark yang menggenggam tangan Luna dengan erat. Matanya terfokus pada itu, lalu beranjak melihat menatap Mark dan Luna dengan ekspresi datar.
“ Ya Tuhan..” Luna bergumam dengan senyum lembutnya pada ibu Mark.
“ Ibu “ sapanya dengan sopan, tapi ibu Mark tak menanggapinya. Ibu Mark tetap hanya memandanginya.
“ Saat ini, ibu Mark menjadi manusia yang sulit di tebak.” Kalimat paman Gu langsung terlintas di pikirannya. Bingkai senyumnya serasa ingin ambruk, tapi dia tetp berusaha menahan senyumnya.
Luna benar-benar tegang, bahkan senyumnya terasa kaku saat ini. Dalam hidupnya baru kali ini merasakan hal seperti ini. Bahkan sidang kelulusan yang cukup menengangkan jauh lebih menyenangkan jika di bandingkan dengan kondisi ini.
Apalagi ibu Mark tak menaggapinya, serasa senyum itu langsung berganti dengan rintihan air mata. Tapi dia sadar bahwa Mark selalu ada di sisinya, jadi dia tidak akan menyerah. Bahkan ini baru kali pertama, mana boleh menyerah.
Ibu Mark terus memandangi Luna, dia melihat tangan yang bermain penuh kecemasan. Dia menyadari betapa tegangnya Luna saat ini. Kemudian dia langsung menoleh pada putranya dengan ekspresi yang masih datar.
“ Mari kita bicara sambil minum.” Ajak ibu Mark sambil berjalan menuju sebuah ruangan.
Mark dan Luna mengikuti ibu. Berjalan dengan seirama, dalam genggaman tangannya Mark mengusap jempol Luna seperti yang Luna lakukan padanya kemaren.
Di dalam ruangan sudah tertata meja kecil dengan duduk lesehan. Tempatnya unik, sesaui sekorasi pavilium, tempat lesehan ini juga seperti tempat para orang kerajaan melakukan tradisi minum teh.
Melihat situasi ini, Luna langsung memutar otaknya, mengingat tata krama dalam tradisi minum teh dan bagaimakah seharusnya dia bertindak. Dia tidak ingin membuat kesalahan dan membuat kesan yang buruk nantinya.
“ Duduklah!” Ibu Mark mempersilahkan.
Mark dan Luna duduk berlutut dengan sopan, tak lagi berpegangan tangan. Sekarang tangan mereka melipat di lutut masing-masing. Meja sebagai pembatas, ibu duduk dengan tenang dan menuangkan teh ke tiga cangkir kecil. Sangat anggun, yang membuat Luna seperti berada dalam keluarga kerajaan.
__ADS_1
“ Ibu biar aku yang menuangkan.” Tawar Luna dengan sopan.
“ Tidak perlu. Biar ibu yang melayani kalian hari ini.” Dengan tersenyum
Sontak wajah Luna langsung merona mendengar kalimat ibu Mark. begitu lembut dan hangat.
“ Ibu Mark menjawabku dan membenarkanku memanggilnya ibu?” hati Luna bersorak gembira. Senyum langsung terukir, aura positif langsung keluar.
Begitupun dengan Mark, terlihat kelegaan di wajahnya, senyumpun mengembang dengan teduh. Selama ini ibunya banyak diam, mengacuhkannya bahkan menghindarinya. Menyaksikan hal tadi, kalimat dan senyuman ibunya bagaikan tanah kering ribuan tahun yang akhirnya di turuni oleh hujan yang lebat. Sangat melegakan dan membahagiakan.
“ Minumlah Luna menantuku.” Memberikan dengan senyum.
“ Terimakasih bu,” mengambil dengan sopan.
“ Dan ini untuk putraku.” Memberikan.
“ Terimakasih bu.” mengambil menatap ibunya dengan dalam. Mata Mark juga mulai berkaca-kaca. Ingin sekali rasanya dia langsung memeluk sang ibu saat itu juga. Ibu melemparkan senyumnya penuh kehangatan pada putranya.
Mark dan Luna mengesap tehnya, begitupun ibu juga mengesap tehnya sambil melirik Mark dan Luna yang terlihat bahagia. Wajah datar ibu memang telah berubah total dengan senyum kehangatan.
“ Bagaimana perjalanan kemari Luna?” tanya ibu sambil meletakkan kembali cangkirnya. Begitupun Mark dan Luna juga meletakkan cangkirnya.
“ Apa kamu di kejutkan dengan binatang peliharaan?” terka ibu sambil tertawa. ia menyela kalimat Luna karena melihat Luna yang masih canggung itu.
“ Ibu menebaknya dengan benar.” Senyum malu-malu.
“ Mark.. apa kau tidak melindungi menantuku dengan baik?”
“ Aku melindunginya bu. Lagian yang menyapa hanya monyet, bukan harimau. Tapi anehnya menantu ibu malah mengira itu adalah Kingkong.” Jelas Mark dengan ejekan.
“ Mark..” Luna bergumam sambil menatap Mark yang di sampinya denagn kesal. berani-beraninya dia merusak imageku di depan ibu mettua, begutulah sorot itu mengatakan.
“ Benarkah? “ dengan tertawa.
“ Itu karena monyetnya terlalu dekat, hingga terlihat besar. Oleh karena itu aku mengira Kingkong. Hehe..” Luna hanya bisa cengingisan.
“ Luna Luna.” Ibu mengulurkan tangannya, dengan isyarat meminta Luna agar memberikan tangannya padanya.
Luna sedkit terkejut, dia mengedipkan matanya dan melirik pada Mark, lalu mengulurkan tangannya. Ibu meraih tangan Luna dengan lembut, meletakkan di meja dan mengelus tangan Luna.
“ Mark bisa tinggalkan ibu dengan Luna. Ibu ingin bicara hanya berdua dengannya.” denga senyum yang mengembang.
__ADS_1
“ Baiklah bu.” Mark mengusap kepala Luna dan tersenyum, lalu dia beranjak pergi.
“ Bu jangan bertanya yang aneh-aneh pada Lunaku, karena pipinya akan sangat mudah merona.” Gurau Mark sebelum dia menutup pintu.
Luna langsung menatap Mark dengan membulatkan matanya, “ Lihatlah. Masih saja menggodaku. Mark memangya kamu mau ku pukul di depan ibu ya.” Luna bergumam kesal.
“ Haha.. baiklah.” jawab Ibu sambil menatap Luna dan Luna hanya bisa mengembangkan senyumnya yang terlihat malu-malu.
Sekarang hanya mereka yang ada di dalam ruangan itu. Rasa canggung mulai berkurang, karena ibu Mark masih memegangi tangan Luna denagn lembut.
“ Luna mendekatlah. Bolehkah ibu mengusap wajahmu?” pintanya lembut.
“ Tentu saja boleh bu.” Sambil mendekatkan wajahnya.
Ibu Mark mengusap wajah Luna dengan kedua tangannya, senyumnya lembut hingga membuat Luna tak bisa berucap, meski dia sendiri penasaran kenapa ibu Mark ingin mengusap wajahnya.
Luna memberanikan dirinya untuk terus menatap wajah ibu Mark yang lembut itu.
“ Luna apakah kau sungguh mencintai putraku?” dengan intonasi dingin, terdengar sangat angkuh.
‘ duarttt..’ pertanyaan Ibu Mark bagaikan sembaran petir bagi Luna. Apalagi dengan nada bicara dingin itu. Ibu Mark juga melepaskan tangannya yang mengusap pipi Luna. tak hanya itu saja, ekspresi wajahnya juga berubah seperti semula, dingin tanpa ekspresi.
Senyum Luna berangsur berubah gusar. Dia masih berusaha untuk menganalisa beberapa menit yang telah berlalu ini, apakah sikap lembut tadi hanyalah sandiwara?. Luna menundukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Kemudian dia mengangkat kepalanya berani dan menatap mata ibu Mark.
“ Tentu saja aku mencintai putra ibu. Hubungan kami bukanlah hubungan yang di mulai dengan mudah. Kami sudah banyak melewati batu dan kerikil hingga sampai pada titik ini. Meskipun awalnya aku tak ingin menikah muda, tapi akhirnya aku luluh. Karena cinta tak mungkin melukai hal yang di cintainya.” jawab Luna dengan mantap.
” Aku sangat mencintai hingga aku tidak bisa mendeskripsikan seberapa besar cintaku padanya” lanjut Luna, kali ini suaranya terdengar sedikit lirih. Luna menarik tangannya dari atas meja, kemidian jemarinya saling meremas gelisah di atas pangkuannya.
“ Luna aku tidak akan tersentuh dengan rintihanmu. Jika kamu memang benar mencintai putraku, maka buktikanlah. Pertahankan sebisamu. Aku bisa menerimamu sebagai menantuku, tapi maaf aku tidak bisa menerimamu seutuhnya.”
Hati Luna kembali merintih dan serasa ribuan jarum yang menusuk di sana. Bagaimana bisa ibu Mark mengatakan kalimat kejam itu dengan sesantai ini. Sakit sangat menyakitkan baginya. Luna berusaha untuk tersenyum, meski senyum itu tak bisa di sandiwarakan hingga menjadi kecut.
“ Terimakasih ibu. Setidaknya ibu memberiku kesempatan. Aku akan memenuhi setengah hati ibu yang bukan untukku. Aku akan buktikan pada ibu sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan Mark, bahkan jika ibu sendiri yang memintanya. Kecuali..” suara Luna tertahan. “ Kecuali, Mark sendiri yang menyuruhku untuk pergi.” memejamkan mata menelan kepedihan. “ Tanpa pilihan lain, dengan berat hati aku akan pergi, meski hatiku berteriak untuk menolak.” Air matanya menetes tanpa permisi.
Ibu Mark menatap Luna tanpa tersentuh sedikitpun. Seorang wanita yang mencintai putranya dengan tulus sedang meneteskan air mata karena sikapnya, malah membuat ekspresi dinginnya semakin dingin.
“ Jangan menagis di depanku. Aku akan tetap memperlakukanmu dengan baik di depan putraku dan yang lainnya. Tidak akan cacat dan cela sedikitpun. Kau hanya perlu ingat bahwa aku tidak menerimamu seutuhnya.”
Luna menatap dalam sang calon ibu mertua. Kemudian dia memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya untuk menggugurkan air matanya yang sudah menggantung di sudut matanya.
Bersambung...
__ADS_1