TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
BERPISAH=MENJALANKAN MISI MASING-MASING


__ADS_3

Mark dan Luna turun ke bawah. Di ruang makan Key dan Rangga sudah menunggu mereka.


Mark dan Luna duduk berdekatan.


“ Apa kakimu sudah baikan luna?” tanya Key.


“ Sudah kak, ini tidak sakit lagi. aku sudah bisa berjalan normal.”


“ Syukurlah.”


Percakapan singkat itu berakhir. Mereka memulai sarapan dengan tenang yang di selingi dengan berbagai lelucon ringan yang cukup mengundang gelak tawa.


Sarapan pagi ini sangat hangat dan manis, mereka seperti keluarga yang sangat harmonis. Membuat mereka melupakan sejenak berbagai permasalahan yang ada di pikiran masing-masing.


Setelah selesai sarapan, mereka duduk santai dulu di ruang tamu sembari menunggu pelayan membereskan barang Luna dan Key.


 


Sesaat kemudian pelayan sudah turun ke bawah membawakan koper Luna dan Key.


Pengawal membantu pelayan untuk membawakan koper tersebut ke mobil.


Sebelum mereka memasuki mobil, Luna menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada semua pelayan dan pengawal yang telah melayaninya selama di sini.


Luna menyampaikan dengan sangat tulus hingga membuat sedikit rasa haru di kalangan pelayan-pelayan wanita.


Luna tersenyum, karena melihat pelayan wanita itu sedih dengan kepergiannya.


“ Jangan sedih kakak, lain waktu aku akan ke sini lagi” dengan senyumnya tulus.


Pelayan tersebut menghapus air matanya dan membalas salam permisahan Luna secara bersamaan.


Mark dan Luna memasuki mobil yang sama, sementara Key dan Rangga di mobil yang lainnya.


Di perjalanan, Luna terlihat sedikit murung dia selalu menatap ke jendela.


“ Apa kau tidak senang kembali lebih awal? Bukankah ini permintaanmu?” Tanya Mark memecahkan keheningan.


Luna menatap Mark dan tersenyum.


“ Aku senang bisa kembali lebih awal, hanya saja aku tiba-tiba merindukan seseorang.”


Mark terdiam mendengar ucapan Luna, dia tidak mau melanjutkan lagi percakapannya. Karena dia sudah menebak orang yang dirindukan Luna pastilah orang tuanya.


Sejak Luna mengatakan bahwa dia tidak akan menanyakan lagi perihal orang tuanya. Dia memang tidak pernah lagi mengungkit hal mengenai orang tuanya di depan Mark. Hal itu membuat Mark semakin bersalah, tapi dia juga tidak ingin memberitahu Luna tentang keadaan orang tuanya sekarang.


“ Luna bersabarlah sedikit lagi, maka aku akan mengembalikan semua yang telah aku ambil darimu” bisik hati Mark.


Suasana menjadi hening, tak ada percakapan sama sekali sampai mereka tiba di bandara Cartagena de Indias.


Mereka datang sebelum 20 menit kebarangkatan dan semua urusan termasuk untuk chek-in juga sudah di selesaikan oleh orang Mark. Jadi mereka cukup untuk menanti penerbangan saja.


Di Hall bandara, pandangan mata Mark tak lepas dari Luna, seolah-olah matanya berkata tidak rela berpisah dengan Luna.


Sesaat kemudian kedengaran pengumuman bahwa pesawat yang akan di naiki Key dan Luna akan segera berangkat.


Mark berdiri dan memeluk Luna secara tiba-tiba, hingga membuat Key dan Rangga terkejut. Apalagi Luna dia terkejut di sertai rasa malu bukan main, karena di sana banyak orang. Tapi untuk mendorong Mark ia merasa juga tidak sepantasnya, jadi dia hanya bisa patuh.


“ Apa kau merasakan sesuatu ?” tanya Key ke Rangga.


Rangga hanya memberikan mimik tidah tahu untuk merespon pertanyaan Key.


“ Hump, aku berharap akan selalu melihat mereka sehangat ini untuk selanjutnya” ucap Key


“ Luna, jaga dirimu di sana. Perhatikan kesehatanmu. Ingat kakimu belum cukup sembuh. Jangan gunakan high hells terlalu cepat. Ingat semua pesanku ini!.”


Mark melepasakan pelukannya dan memegangi bahu Luna.


“ Kau mendengar pesankukan?”


Luna mengangguk seperti anak kucing yang patuh.


“ Bagust. Kalu begitu pergilah!” sambil mengusap kepala Luna.


“ Aku akan menunggu kalian, selesaikan dengan cepat semua urusan di sini dan segeralah kembali!” ucap Key pada kedua sahabatnya.


“ Itu pasti ” jawab Rangga.


"Jaga dirimu, dan jaga Luna untukku” pesan Mark sambil memeluk sahabatnya itu dan menepuk bahu Key.


Luna dan Key segera memasuki area pemeriksaan. Sebelum memasuki gerbang keberangkatan Key dan Luna melambaikan tangannya pada Mark dan Rangga yang masih melihat kepergian mereka.


Rangga membalas lambaian tangan mereka, tapi Mark hanya tersenyum tak rela melihat kepergian mereka. Mark terus memandangi hingga punggung Luna dan Key tak terlihat lagi.


***


\= Di dalam pesawat \=


Key membantu Luna mengubah kursi menjadi tempat tidur agar Luna bisa lebih leluasa dalam beraktifitas maupun beristirahat nantinya.


Setelah selesai membantu Luna, Key kembali ke tempatnya yang bersebelahan dengan Luna.


“ Ini penerbangan yang melelahkan Luna, ku harap kau tetap bisa menikmatinya” ucap Key sambil merebahkan dirinya.

__ADS_1


Luna tersenyum, matanya memandangi awan dari balik kaca dan Moment ketika Mark memeluknya tadi terbayang bayang olehnya.


“ Pelukan tadi sangat hangat. Tatapannya matanya,,,. Hummpp, sudahlah Luna jangan pikirkan lagi.”


Luna kemudian mencharger ponselnya. Kemudian dia mengaktifkan monitor yang ada di depannya dan mencari drama agar ia tidak bosan dalam perjalanan yang panjang ini.


Sementara Key sepertinya sudah beralih kedunia mimpi. Dia terlihat tidur dengan pulas.


 


****


Mark dan Rangga melakukan kegiatan terpisah.


Rangga menemui saksi yang kemaren terpakasa mereka tunda.


Sementara Mark berbohong pada Rangga, dia bilang dia kan mengurusi permasalahn keterlibatan pamannya. Padalah sebenarnya dia ingin untuk mencari tahu siapa yang sudah merusak bukti rekaman dan flashdisk mengenai ketidakterlibatan papa Luna.


\= Cafe B, Cartagena \=


Rangga duduk di meja dekat dengan kaca, segelas coffe latte di depannyannya belum ia sentuh sama sekali. Rangga menatap keluar melihat keramain yang ada.


“ MR. Rangga? “ suara seorang wanita memecah keheningan.


Rangga menoleh ke sumber suara. Seorang wanita yang masih muda, dengan riasan sedikit menor dengan lipstick merah menyalanya dan pakaian seksi yang berlebihan seperti pakaian yang seharusnya di gunakan untuk memasuki Club malam. Wanita itu sepertinya bukan orang Cartagena.


“ Ya. Apakah anda nona Janneth?” ( dalam bahasa Spanyol)


“ Ya, kita menggunakan bahasa Inggris saja, saya tidak begitu paham dengan bahasa Spanyol. Saya seorang wisatawan di sini” ( dalam bahasa Inggris)


“ Baiklah, silahkan duduk!.”


Rangga sebenarnya sedikit terkejut, karena sebelumnya dia mengira saksi yang akan ia temui itu adalah salah satu pelayan di hotel tersebut. Karena ketika orang suruhannya memberi mereka nomor janneth ini padanya, Rangga hanya menerima saja tanpa bertanya terlebih dulu. Oleh karena itu dia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa Janneth adalah seorang wisatawan.


Rangga memanggil pelayan café dan mempersilahkan Janneth untuk memesan.


Sembari menunggu pesanan Janneth datang Rangga langsung menanyai Janneth tanpa basa basi.


“ Nona Janneth, apakah benar anda melihat dengan jelas wanita yang memasuki kamar 505 waktu itu?.”


“ Tentu saja, aku melihatnya dengan jelas. Karena aku adalah penghuni Kamar 504” dengan meyakinkan.


“ Ceritakan bagaimana kamu melihatnya dan seperti apa wanita itu!.”


Janneth tersenyum, “ Tidak sabaran sekali, dia tanpa ragu langsung membahas topic dari pertemuan ini tanpa menanyai tentangku terlebih dahulu. Huh, Pria Asia ini menarik juga” bisik hati Janneth.


Pesanan Janneth datang, jadi dia bisa memberi jeda untuk menjawab pertanyaan Rangga.


Janneth meminum minumannya terlebih dahulu dan memainkan ponselnya. Rangga menarik nafas panjang agar bisa bersabar dengan Janneth yang terlihat jelas sedang mengulur waktu.


“ Saat itu aku baru saja kembali dari luar dengan membawa banyak belanjaanku. Jadi aku berjalan santai saja. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis dengan mudah tapi juga sedikit mencurigakan dari gerak geriknya memasuki kamar 505 itu.


Setauku kamar itu di huni oleh orang penting, karena sebelumnya di depan kamar itu selalu ada beberapa orang pengawal menjaganya. Tapi hari itu aku melihat tidak ada pengawal itu. Jadi aku berfikir mungkin tamu sebelumnya sudah check-out dan sekarang sudah ada penghuni barunya.


Tapi malam harinya ketika aku hendak keluar aku melihat ada pengawal yang masih sama dengan sebelumnya. Jadi dari situlah aku sedikit curiga. Tapi aku juga tidak memperdulikan, karena orang tersebut juga tidak ada sangkut pautnya denganku.


kemudian 2 hari lalu, ketika aku menikmati makananku di restoran hotel seseorang menghampiriku, ia menanyai tentang seorang perempuan yang memasuki kamar 505 pada siang itu, jadi aku sedikit terkejut. Awalnya aku tidak ingin terlibat, tapi pria it terus menggangguku dan memohon. Sehingga aku berfikir dan bersedia memberikan penjelasan tapi pada langsung pada orang yang membutuhkan informasi itu.”


Rangga memegang keningnya.


“ Kenapa wanita ini bertele-tele sekali, dia cukup mengatakan tentang gadis itu. Tidak perlu menceritakan tentang dirinya juga” celoteh Rangga dalm hatinya kesal.


Janneth tahu jika Rangga merasa kesal dengannya, dan lagian sebenarnya Janneth juga sengaja bertele-tele dalam menjelaskan.


Dia tersenyum melihat Rangga yang tampak sedikit menahan marah tapi tetap berusaha tenang.


Kemudian Janneth melanjutkan penjelasannya.


“ Aku sempat berfikir bisa saja wanita itu adalah istri dari penghuni kamar itu. Tapi jika di pikir kembali rasanya tidak mungkin. Karena jika dia saja di kawal dengan begitu dekat, masa istrinya sendirian saja, apalagi dengan gerak gerik yang mencurigakan itu. Jadi sebelum aku mengatakan seperti apa karakteristik wanita itu aku ingin bertanya dulu padamu”


“ Katakan apa yang ingin kau ketahui!.”


“ Ada masalah apa, kenapa kau ingin mengetahui siapa wanita itu? aku rasa kau juga bukan bagian dari orang penting itu.”


“Hah, kenapa kau ingin tahu?”


“ Jelas aku ingin mengetahuinya, bisa saja kau adalah orang jahat.”


Rangga kemudian memberikan cerita bohong pada Janneth, agar Janneth segera memberikan penjelasan mengenai rupa wanita itu.


Janneth mengangguk-angguk ketika mendengar cerita bohong dari Rangga dan sepertinya dia percaya.


Setelah Rangga selesai menceritakan, Janneth langsung memberitahu Rangga mengenai karakteristik wanita itu.


“ Dia memiliki rambut kuning panjang dan bergelombang, kulitnya putih, memiliki tinggi sekitar 160cm dan sepertinya dia itu adalah orang Asia.”


Rangga langsung terkejut mendengar penjelasan Janneth.


“ Apa, orang asia? Apa kau tidak salah? Apa dia tidak tampak seperti orang ini” sambil memperlihat foto adik Tris.


Janneth melihat foto tersebut.


“ Haha,, bukan, bukan. Ini terlihat sangat berbeda.”

__ADS_1


Rangga mengambil nafas panjang, “ Apa kau yakin dia orang asia?”


“ Tentu saja aku yakin. Meskipun aku melihatnya dari kejauhan dan dia mengenakan kacamata gelap, tapi itu memang telihat seperti fashion orang Asia. Itu terlihat sangat jelas. Bahkan aku masih bisa mengenalinya jika aku bertemu lagi dengannya” ungkap Janneth dengan serius sambil mengaduk-ngaduk minumannya.


“ Mungkin dia benar, meskipun di rekaman suara, wanita itu menggunakan bahasa Inggris, juga tidak menutup kemungkinan bahwa dia orang asia. Siapakah wanita itu? hum,, sepertinya Janneth ini bisa ku ajak kerjasama" pikir Ranggasambil memandangi Janneth yang sedang menikmati minumannya.


***


Mark dengan 2 orang pengawalnya berada di apartement Jia Ming. Mereka sedang memantau CCTV untuk melihat siapa yang mengunjungi apartement Jia Ming sebelum dia datang mengambil bukti tersebut.


Mereka sudah memeriksanya berkali-kali dengan teliti. Tapi memang tidak ada yang menjungi apartement itu kecuali Mark.


Mereka juga sudah memeriksa waktu dengan teliti apakah ada bagian dari video itu di hapus, tapi video itu utuh tak ada yang di hapus.


“ aku harus tetap memeriksanya. Berikan aku video ini mulai dari Jia Ming menempati apartement ini sampai sekarang” ucap Mark dengan lantang


“ Maaf, ini adalah privasi penghuni kami. Saya tidak bisa memberikannya” jawab petugas tesebut dengan tegas.


“ Lancang sekali, tuan kami adalah kenalan penghuni apartement itu” bentak pengawal Mark pada petugas itu.


'ssssttt,,' Mark memberhentikan pengawalnya.


“ Bawa uang itu kemari!" pinta Mark pada pengawal yang satunya.


Pengawal tersebut meletakkan koper di atas meja dan membukanya. Mata petugas tersebut lansung terbelalak melihat uang itu.


“ Apa uang ini cukup sebagi gantinya?” tanya Mark dengan dingin dan arrogant.


Petugas tersebut langsung menyentuh uang tersebut dengan rakus.


“ Ini sangat cukup tuan” jawabnya dengan wajah sangat gembira.


“ Uang itu berjumlah 2 juta dollar. Aku akan memberimu lebih jika kau mau bekerjasama denganku” tawar Mark.


“ Tentu saja aku mau. Apa yang harus aku lakukan?” dengan antusias.


“ Kau cukup laporkan padaku, jika kau menemukan orang yang mencurigakan datang ke sini.”


“ Haha,, itu sangat mudah, aku dengan senang hati melakukannya.”


“ Bagust.”


Petugas tersebut langsung menyalin semua video ke sebuah flashdisk dan memberikannya pada pengawal Mark dengan sangat sopan.


Sangat terlihat sekali dia menjilat, padahal sebelum di tawarkan uang dia telihat sedikit arogant. Uang memang bisa memeprbudak manusia.


Markpun langsung keluar dan di ikuti oleh pengawalnya.


“ Hubungi aku, jika masih ada hal lain yang harus aku lakukan tuan” sorak petugas itu menjilat.


Mark tersenyum jahat mendengar ucapan orang itu.


“ Robert, kirim salinan video itu pada Nimo, suruh dia memeriksanya!” perintah Mark


“ Baik tuan”


***


 


\= Di penginapan Mark \=


Jam 9 malam, Mark baru kembali ke penginapannya. Pengawal membukakan pintu mobil Mark


 


“ Apa Rangga sudah kembali?”


“ Sudah tuan, ta ta tapi,,”


“ Tapi kenapa?” tanya Mark spontan dan tak sabaran.


“ Tuan Rangga membawa seorang wanita ke sini” jawab pengawal tersebut.


Mark terkejut, dia langsung bergegas masuk.


“ Apakah Rangga sudah mempunyai kekasih? meskipun itu adalah kekasihnya tetap saja orang asing. Kenapa dia berani sekali membawa orang asing ke sini, dia sudah berani menentangku ya?” gumam Mark dengan sangat geram.


Pengawal membukakan pintu untuk Mark, dia berjalan dengan arrogant dan tampang yang dingin.


Ketika dia masuk, dia tidak menemukan Rangga di ruang tamu.


“ Dimana Rangga?” tanya Mark pada pelayan dengan nada marah.


“ Tuan Rangga ada ruang tengah tuan.”


Mark langsung menuju ruang tengah dengan kemarahan yang memuncak.


Ketika Mark sampai di ruang tengah, dia mendapati Rangga sedang menulis sesuatu dengan perempuan tersebut, mereka terlhat akrab.


“ Apa yang kalian lakaukan? Tempat ini bukan utuk kalian berpacaran” teriak Mark dengan kesal.


Suara Mark mengejutkan Rangga dan Janneth. Janneth terlihat bingung karena dia tidak mengerti denga apa yang ucapkan Mark.

__ADS_1


sementara Rangga bengong dengan tampang bodohnya mendengar perkataan Mark.


__ADS_2