TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
TERMAKAN UMPAN TRIK LICIK


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19.30, Luna dan para pelayan sibuk sedang menyajikan menu makan malam. Luna sengaja ikut turun tangan dalam memasak dan juga ikut menyajikan, karena dia ingin papa dan mamanya merasakan masakannya di hari pertama kedatangan mereka.


“ Wah..nona memang cekatan, cantik dan juga pintar memasak.” Puji para pelayan bertubi-tubi.


“ Jangan memujiku, ini memang sudah seharusnya di miliki oleh seorang wanita. Bukankah memikat hati pria harus mulai dengan memikat perutnya?.” Sambil tertawa.


Semua pelayan yang ada di sana juga di buat tertawa oleh gurauan Luna. Sebagian pelayan yang belum mengenal Luna dengan baik, merasa sangat terharu dan juga bahagia. Mereka tidak menyangka ternyata nona mereka punga sisi Humoris juga.


“ Nona anda memang yang terbaik. Kami setuju dengan nona.” dengan semangat dan tawa yang menghangatkan. Begitupun Luna tertawa hingga menggelengkan kepalanya. Dia sudah lama tidak sedekat ini dengan orang-orang yang bekerja untuknya.


Awal kedatangan Mark sikap Luna langsung berubah dingin, hingga Bi Ina pun tak luput dari perlakuan dinginnya. Sampai pada akhirnya Mark mempekerjakan beberapa pelayan baru dan pelayan Zhaon yang melayaninya secara khusus, sejak itu hanya Zhaon seoranglah yang tahu bagaimana hangatnya Luna.


“ Bi ina..” ucap pelayan Zhaon dengan senyum dan matanya yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.


“ Iya..inilah Nona Luna. Dia telah kembali , terimakasih Zhaon selama masa sulitnya kau telah melayani nona dengan baik.” ungkap Bi Ina penuh rasa syukur. Dia memandangi Luna yang tertawa dengan lepas, bercanda dan bergurau dengan para pelayan.


Di sela gurauan tersebut Luna melihat jam dinding, dia sudah memperkirakan bahwa Mark sebentar lagi akan datang. Dia langsung permisi dan menyerahkan sisanya penyajian pada pelayan.


Saat Luna tiba di ruang tengah, dia mendapati papa dan mamanya menuruni anak tangga terakhir.


“ Waah..bintang utama malam ini sudah turun.” Luna menghampiri kedua orang tuanya. Dia tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya mengenakan pakaian yang telah dia sediakan.


Mama dan papanya saling tatap dan memandangi putri mereka dengan penuh kehagantan.


“ Mama sangat cantik, dan papa juga sangat tampan. Pantas saja bisa melahirkan anak semanis aku.” Ini merupakan lelucon yang selalu di gunakan Luna untuk menggoda kedua orang tuanya.


“ Haha..sayang kamu masih saja mengatakan hal sama setiap saat.” Sambil mengusap kepala putrinya.


Mereka berjalan menuju ruang tamu untuk menunggu kedatangan Mark dan Rangga. Sembari menunggu Luna berencana untuk membahas mengenai kepemilikan aset mereka saat ini.


Tapi Luna tidak mengatakannya secara langsung, dia memancing orang tuanya dengan pertanyaan. Karena dia kurang yakin juga, jika papanya yang super update dan teliti ini tidak mengetahui perihal kepemilikan asset mereka sekarang.


“ Pa..sepeninggalan papa, Mark menjalankan perusahaan dengan baik dan sekarang Lixing group sudah berada pada tinggkat 7 perusahaan besar yang paling berpengaruh. Hebat bukan?”


“ Wajar saja, Mark Rendra merupakan 5 pebisnis besar dunia. Bisnisnya di Amerika dan berkembang ke berbagai Negara. Dia sudah terlatih dengan baik dalam hal ini. Jadi untuk membawa Luxing Group ke posisi yang lebih baik bukanlah hal yang sulit baginya.” Papa Luna menanggapinya dengan santai.


Dari penjelasannya tentu saja papanya mengetahui banyak hal, dan tidak mungkin papanya tidak mengetahui tentang kepemilikan Lixing.


“ Papa mengetahuinya dengan baik. Jadi papa pasti juga sudah mengetahui dengsn baik tentang Lixing sejak sepeninggalan papakan?” dengan senyum. Dia terus memancing papanya.


“ Bukankah kamu baru mengatakan bahwa Lixing sekarang berada di posisi 7. Tentu saja papa mengetahuinya.”


“ Hah..apa-apaan ini? papa ini kenapa, apa dia berpura-pura bodoh atau dia punya sesuatu yang di rencanakan? papa mengetahui dengan jelas tentang Mark, padahal identitas Mark juga baru di buka sejak kemunculannya di sini. Tapi papa sepertinya memang sengaja menghindar untuk menjawab pertanyaanku. Papa…” Luna merasa sangt tidak percaya sekaligus geram dengan papanya. Dia memandangi mamanya berharap mamanya akan memberikan ppencerahan, tapi mamanya malah hanya melempar senyum seakan tidak mengetahui apa-apa.


“ Baiklah jika papa tetap ingin berpura-pura bodoh, maka aku akan mengatakannya terus terang..” Luna menyiapakan mental dan keberaniannya.


“ Pa, ma.. sebenaranya kita sudah tidak….”


“ Eh Kalian sudah datang.” Tuan Aliester langsung berdiri dan menyambut Mark dan Rangga yang baru datang. Hingga Luna yang sudah mengucapkan separuh dari kalimat yang ingin dia sampaikan jadi terabaikan.


Dan ketika dia menoleh pada mamanya degan harapan mamanya mengerti dengan maksudnya, tapi seketika itu juga menyusul papanya untuk menyambut Mark.


“ Mark Rendra kenapa kau mengacaukan rencanaku? Aku sudah berbaik hati untuk tidak melibatkanmu untuk menjelaskannya pada papa. Tapi kau malah mengacaukan semuanya” Luna menatap Mark dan Rangga yang di sambut hangat oleh papa dan mamanya.


Mark menatap Luna, tapi ketika mata mereka saling beradu Luna langsung buang muka dengan mode merajuk dan kesal.


“ Huh..kau mengacaukan rencanaku saja.” gerutu Luna.


“ Eh..ada apa dengannya? aku baru saja sampai seharusnya dia menyambutku, tapi malah buang muka.” bisik hati Mark dengan sedih dan juga kesal.


“ Sayang apa kamu tidak mau meyambut Mark dan Rangga” Tuan Aliester memandangi putrinya dengan senyum isyarat.


“ Haha..iya iya. Selamat datang.. sekarang lebih baik kita langsung ke ruang makan saja. semuanya sudah di siapkan” ucap Luna dengan senyum yang di paksakan. Luna berjalan duluan menuju ruang makan.


“ Haha..Maafkan putri kami, dia terlalu di manjakan.”

__ADS_1


“ Tidak apa-apa om.” Jawab Mark dengan senyum, smentara hatinya menerka-nerka hal apa yang membuat Luna terlihat kesal.


Saat mereka sampai di ruang makan, terlihat di sana Luna sudah mengambil posisi. Tuan Aliester dan istrinya mempersilahkan Mark dan Rangga duduk. Dan tentu saja Sekarang papa Luna yang memimpin makan malam ini. Mark duduk berhadapan dengan mama Luna dan Luna berhadapan dengan Rangga.


Tuan Aliester dan istrinya segera mempersilahkan untuk mulai makan, tanpa segan yang berlebihan Mark dan Rangga mencicipi makanan tersebut. Pada suapan pertamanya Mark langsung berhenti dan menatap Luna. Meskipun Luna hanya sekali memasak untukknya, tapi dia sangat hafal bahwa rasa makanan ini adalah hasil dari masakan Luna, dan kebetulan saat Itu Luna juga diam-dia sedang menatapnya.


Luna terkejut karena tatapan mereka saling beradu, namun tidak dengan Mark dia memandangi Luna dengan tatapan seolah ingin mengatakan sesuatu.


“ Ada apa Mark, apa masakannya tidak sesuai dengan seleramu?” tanya tuan Aliester saat dia menyadari bahwa Mark dan putrinya saling tatap.


Luna langsung mengalihkan mata dan kegiatannya.


“ Bukan begitu om, ini sangat enak.” Dengan senyum yang merekah. Mark sendiri tidak menyangka bahwa dia yang berkuasa dan di segani banayk orang, yang biasanya orang yang takluk dengannya. Tapi di depan papa Luna dia malah tidak punya kemampuan itu. Malah dia yang di taklukkan dengan mudah oleh papa Luna sejak dia menerima penjelasan secara langsung. Padahal di awal pertemuan, Mark masih bisa bersikap arrogant di depan papa dan mama Luna.


“ Ini adalah masakan putriku.” Jelasnya dengan bangga.


Luna tersenyum canggung, “ Mama makanlah yang banyak” sambil meletakkan udang di piring mamanya.


“ Terimakasih sayang. Kamu juga harus makan yang banyak.”


“ haha..Iya ma..”


“ Aku dan Mark sama-sama sudah dewasa, tapi kami menyembunyikan hubungan seperti anak kecil saja. Tidak nyaman juga seperti ini, terus canggung di depan papa dan mama. Mark walaupun aku kesal, tapi aku sangat merindukanmu” Bisik hati Luna sambil mentap wajah kekasihnya yang sedang menikmati makanan dan berbincang kecil dengan papanya.


***


Acara makan malam yang canggung dalam hati namun tetap hangat di luar telah berakhir dengan manis.


Sekarang Mark dengan Tuan Aliester berada di balkon. Mereka duduk sambil menikmati suasana malam dan sebotol anggur dengan gelas mereka yang sudah terisi tertata di atas meja.


‘ teng ‘ Tuan Aliester dan Mark melakukan cheers sebelum menikmati anggur itu.


“ Hal apa yang ingin om bicarakan padaku?” tanya Mark setelah menedeguk anggurnya.


“Mark kau lahir dari keluarga Rendra yang sedari dulu memang sudah terbiasa dengan kekuasaan dan kejamnya kehidupan dalam persaingan bisnis. Kau sendiri telah mengalami banyak pengkhiatan hingga mendorongmu untuk bergerak sendiri, dan tentunya untuk mencapai pada posisimu sebagai bagian dari 5 pebisnis besar di dunia bukanlah hal yang mudah. Kau lebih mengetahui itu dari pada aku.”


“ Aku selama ini tidak pernah ikut campur dalam urusan pribadi Luna. Kecuali tentang karir aku pernah sedikit menentangnya. Tapi pada akhirnya aku mengalah dan membiarkan dia untuk menentukan sendiri hal apa yang dia inginkan. Tapi Luna adalah anakku satu-satunya, dan juga buah hati kesayanganku.” Tuan Aliester berhenti sejenak untuk memberi jeda, dia menatap Mark yang sedari tadi memandangnya penuh penasaran.


“ Aku ingin bertanya apakah kau dan putriku memiliki hubungan yang special?” tuan Aliester menatap Mark dengan tajam.


Mark sedikit terkejut tapi dia dengan segera menjawabnya, “ Ya, aku dan Luna sudah menjalin hubungan. Kami saling mencintai.” jawab Mark dengan tegas.


“ Kekasih putriku haruslah orang yang benar benar bisa kupercaya. Mengenai kau..aku percaya kelak kau akan mempunyai kekuasaan yang lebih, bahkan kau akan menjadi yang pertama dari 5 pebisnis besar di dunia. Tapi, jika kau hanya mengandalkan kekuasaan untuk meyakinkanku, itu tidak cukup.”


“ Om, aku paham maksudmu, jika persoalan kekuasaan kau tidak perlu meragukan itu dan lagian itu bukanlah hal yang utama. Aku berjanji akan selalu melindungi Luna dan diriku sendiri. Aku ingin Luna bisa bersamaku hingga akhir hayat. Aku pasti sanggup menjadi orang yang bisa anda percaya, yang bisa di andalkan oleh Luna seumur hidupnya.”


“ Haha.. sepertinya putriku benar-benar tidak salah pilih.”


“ Terimakasih pujiannya om.”


“ Kau masih memanggilku om? Kau panggil saja aku papa, sama seperti Luna.” sambil menepuk-nepuk bahu Mark.


“ Baik pa..” dengan canggung.


“ Mark, sekarang mari kita bahas hal yang lebih personal. Kau dan Luna sudah sampai tahap mana?” Tuan Aliester mengajak Mark berdiri dengan akrab.


“ Pa..aku kurang paham maksudmu.” semakin canggung.


“ Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu anak muda zaman sekarang sangat terbuka.”


“ Eh..aku dan Luna tidak seperti itu.”


“ Jadi..apakah kamu ingin melakukan itu?” goda tuan Aliester.


“ Papa, aku selalu beranggapan cinta itu hal yang sakral. Jadi, aku tidak akan melakukan hal itu pada Luna sebelum kami menikah.”

__ADS_1


“ Yang jujur..”


“ Kalau papa memaksa apa boleh buat, hehe..” ( Sangat mau).


“ Pengawal Roi, antar anak ini keluar.” perintah tuan Aliester pada pengawalnya dengan sangat kesal.


“ Baik tuan.” Sambil menarik Mark.


“ Eh...” Mark sangat terkejut, dia baru sadar bahwa dia sudah di kerjai oleh papa Luna.


“ Maafkan aku tuan” bisik pengawal pada Mark, lalu dia menarik Mark dengan paksa.


Saat menuruni tangga, Mark masih terus meronta semantara pengawal Roi bersama dengan 2 yang lainnya terus meminta maaf. Karena dia harus menuruti perintah tuan Aliester.


“ Eh ada apa ribut-ribut?” Rangga, Luna dan mamanya langsung menoleh ke sumber suara.


Seketika dia 3 orang itu langsung terkejut, melihat Mark yang di tarik oleh pengawal.


“ Pengawal Roi apa yang kau lakukan?” tanya Rangga dengan nada tinggi.


“ Kenapa kalian ribut-ribut. Pengawal Roi cepat tari 2 orang itu keluar!” perintah tuan Aliester sambi menuruni tangga.


“ Pa..ada apa? apa yang salah?”


Tuan Aliester tidak memperdulikan sama sekali pertanyaan Luna. Dia terus mengikuti pengawal untuk mengantar Mark dan Rangga keluar.


“ Suamiku..itukah yang ada di otakmu?” gumam mama Luna yang hanya bisa pasrah. Luna dan mamanya juga mengikut dari belakang.


‘ brakk ‘ pengawal Roi melempar Mark dan Rangga keluar.


“ Papa..” panggil Mark sambil berdiri.


“ Jangan sembarangan panggil! Memangnya kita seakrab itu? Sana pergi!”


“ Druarkkk..” menutup pintu dengan keras.


Mark menundukkan kepalanya dengan malu dan menyesal, bisa-bisanya dia masuk dalam perangkap papa Luna. Sementara Rangga masih bingung dengan situasi macam apa ini.


Papa dan mama Luna langsung pergi ke atas, sementara Luna masih berdiri di depan pintu dengan membatu. Setelah papanya jauh, Luna segera bergegas membuka pintu.


“ Mark jangan-jangan kau di kerjai papaku ya?”


“ Ya..” dengan lesu seakan rohnya serasa keuar dari tubuhnya.


“ Haha..kau memang harus berhati-hati dengan papaku. Dia sangat licik.”


“ Luna…kau kau masuk ke kamar!” teriak papanya.


“ Eh.. iya iya pa!


‘ duark..’ dia juga langsung menutup pintu dengan keras.


“ Mark.. bisa-bisanya kau masuk dalam perangkap papa. Tapi papa memang sangat pandai bermain kata dan licik.” Luna antara merasa Lucu dan kasihan melihat kekasihnya telah di kerjai.


Bersambung..


.


.


.


Sedih liat like chapter 98 hiks..


Yang ini jangan lupa lagi ya buat like dan komentnya readers!!!

__ADS_1


Author gak bosan2nya buat ngingatin kalimat di atas. Author emang nyinyirrrrrr.....hehe


__ADS_2