
Luna mengedipkan matanya bebarapa kali, dia belum yakin apakah yang di lihatnya itu nyata.
Dia kembali menatap Mark, sorot matanya meminta jawaban atas apa yang dia lihat.
“ Luna aku sudah mengatur semua ini dengan baik dan aku juga sudah berjuang untuk menyakinkan papa dan mama untuk mempercayakan kamu padaku. Setelah bersabar untuk beberapa waktu Akhirnya hari bahagia ini datang juga. Maaf, ini sedikit terlambat dari apa yang aku janjikan, benar sangat butuh waktu untuk menyakin papamu.” Mark berucap penuh dengan kelembutan. Sorot matanya penuh kehangatan dan pancaran binar pengharapan sangat jelas terlihat.
“ A a apa maksudnya?” Luna masih bergumam. Dia tersenyum bodoh, tiba tiba dia sangat lambat mencerna situasi dan ucapan Mark.
“ Luna menikahlah denganku. Mari kita arungi dunia ini bersama.”
“ What..? menikah?“
Kalimat itu membuat dia seolah di sambar petir di hari yang cerah. Ekspresi terkejutnya tak terelakkan lagi, matanya terbelelak dengan ekspresi yang masih butuh penjelasan lebih detail. Kenapa bisa begini, apakah ini nyata atau hanya halusinasinya.
“ Sayang menikahlah dengan Mark. Papa dan mama sangat mendukung hubungan kalian berdua.”
Papa dan mama Luna jalan mendekat, dimana tuan Aliester mendekap istrinya dengan lembut. Ekspresi jahil, memelas dan mengeluh itu tak ada lagi di wajahnya. Bibirnya melengkung mengukir senyum penuh bahagia. Menemukan orang yang bisa menggantikannya untuk menjaga putri kesayangannya adalah yang paling membahagiakan dari apapun.
Luna masih membatu dengan situasi ini, perasaan bahagia tadi hilang bagaikan letupan kembang api yang hilang begitu saja. Perasaannya menjadi campur aduk hingga tak tahu harus bereaksi dan berekspresi seperti apa. Seluruh organ dan pikirannya serasa tidak berfungsi lagi, benar-benar membatu.
Melihat ekspresi Luna yang seperti ini membuat tuan Aliesternya dan istrinya saling tatap dengan tawa kecil. Mereka tahu jika putrinya pasti tidak akan menyengka dalam hal ini.
‘ tak ‘ Luna tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan berdiri sempoyogan. Dengan sigap Mark berdiri dan menahannya. Luna memegangi dadanya tanpa ekspresi.
“ Maafkan papa sayang. Papa tahu, meski kamu mencintai Mark, tapi kamu belum siap untuk menikah dengan cepat. Tapi ini terkhir kalinya papa begini, sidikit memaksakan kehendak. Papa sangat menyanyangimu.”
Ucap hati tuan Aliester dengan sorot mata tajam untuk memontumkan sebuah harapan besar. Menaruh harapan pada Mark agar selalu melindungi putrinya. Aku percayakan putriku, lindungi dia dengan segenap jiwamu.
“ Luna maafkan aku jika ini terlalu memaksa bagimu. Tapi siapa suruh kamu memberiku syarat asal di restui orang tuamu.” Bisik hati Mark dengan ketus, tapi dia juga merasa tidak tega melihat Luna shock seperti ini.
“ Haha.. sayang kenapa seperti ini. Mark mari bawa Luna duduk tenang di sofa terlebih dahulu.”
“ Baik om.”
Seluruh lampu di ruangan itu hidup, sehingga menampakkan betapa mewahnya ruangan itu. Kelas atas yang benar-benar tak tersanggahkan.
Mark memapah Luna menuju sofa dan diikuti orangtua Luna di belakang. Mark memandangi kekasihnya yang masih diam dan membatu.
Sementara sebenarnya Luna sudah mulai tersadar dan bisa berfikir, serta hati dan logika mulai saling tanya jawab dengan gaduhnya.
“ Menikah? Kenapa papa begitu santai berucap seperti itu, bukankah tadi siang papa berbicara seolah tidak menyukai Mark? sekarang apa, kenapa malah menyuruhku menikah? Papa tidak sedang menjualku karena tidak tahan hidup miskinkan?” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya. Dia tahu papanya tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu.
Mereka duduk di sofa dengan tetap diam. Mark dan orangtua Luna memberi ruang untuk Luna agar bisa mencerna hal yang membuatnya membatu ini.
Luna melirik Mark yang duduk di sampingnya, wajah tenang Mark yang sedang menuangkan air putih ke gelas membuatnya semakin berfikir keras.
__ADS_1
“ Mark kenapa kau ingin cepat menikah. Papa juga sudah jelas-jelas memberi restu, aku juga sudah tidak bisa menyanggahmu. Aku bahagia dengan pernikahan, karena aku memang berharap hubungan kita akan bermuara dengan ikatan suci itu. Tapi aku tidak suka dengan waktunnya, aku masih belum punya pemikiran tentang pernikahan secepat ini. Ya Tuhan.. aku benar-benar berharap jika ini adalah mimpi.”
“ Luna..” ucap Mark lembut sambil memberikan gelas yang sudah berisikan air putih.
Luna mengambilnya dengan senyum tapi dia tak berani menatap Mark lebih lama. Di mendeguk minumannya dengan terus melanjutkan ungkapan hati dan logikanya yang masih saja belum berhenti untuk beradu argument.
“ Luna untuk apa kau ragu? dia pria tanpa cela, dari segi manapun orang tak bisa mengkritik dan mencela. Dia akan menjadi suami yang bisa di andalkan. Dia sangat mencintaimu, begitupun kau juga mencintainya, dan tentu saja orang tuamu juga sudah menelusuri hubungan kalian dan kecocokan kalian hingga mereka memberi restu. Kau wanita beruntung, kau sendiri tak bisa membayangkan berapa banyak wanita di luar sana ingin berada di posisi ini.” hatinya menuntun kuat untuk tidak mempermasalahkan ini. Ini adalah takdir yang manis.
“ Hey.. apa kau gila. Meskipun begitu tapi semuanya harus tetap di perjelas. Jangan asal menikah saja. Memangnya kau pikir menikah itu perihal yang mudah di putuskan begitu saja. Harus ada kesiapan mental dari diri sendiri.” logikanya menahan gigih, meminta semuanya harus di perjelas dan kau harus tetap pada mimpimu. Jangan bodoh, kau bukan orang bisa di kendalikan begitu saja.
“ Aaaaa.. kalian berhentilah. Kalian membuatku semakin pusing saja.” Luna menghardik dua penasehat yang berbeda pendapat ini di degukan terkhirnya.
Luna memegangi gelasnya dengan kesal, lalu Mark mengambil gelas kosong itu dari tangan Luna. Mark tahu begitu besar gejolak emosi dari diri Luna. Ada kekhawatiran dari dirinya, bagaimana jika gelas itu pecah dalam genggaman kekasihnya. Oleh karena itu dia bertindak sebelum fikiran buruk itu menjadi nyata.
Luna bergumam sambil memagangi kepalanya dengan kedua tangannya. Dia berusaha memecah kegaduhan hati dan logika itu agar tak lagi berdebat.
Luna memejamkan matanya sejenak, dia mengatur emosinya.
“ Luna jangan egois. Mari tetap tenang.”
Luna kembali membuka matanya, dia melirik Mark yang terlihat tenang dengan senyum lembutnya. Kemudian beralih pada orangtuanya, orangtuanya terlihat senyum bahagia dan terlihat juga ingin menyampai sesuatu padanya.
Mark menyadari situasi ini, dimana Luna butuh bicara dengan orangtuanya. Jadi Mark berinisiatif untuk memberi waktu untuk Luna dan orangtuanya untuk berbicara dengan nyaman.
“ Baiklah.” jawab tuan Aliester dan istrinya serentak, sementara Luna hanya menatap Mark dengan ekspresi sedikit bersalah.
“ Bodoh kenapa kau menatapku dengan ekpresi itu? aku tidak menyalahkanmu sama sekali.” Gumam Mark dengan senyum, lalu dia berdiri dan beranjak pergi.
Luna menatap punggung kekasihnya yang menjauh. Sementara itu mamanya langsung beralih tempat duduk untuk mendekatinya. Mamanya memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“ Sayang… maafkan papa dan mama jika ini menyulitkanmu.” Sambil mencium kening putrinya. Luna hanya dia dan mengusap tangan mamanya. Sementara matanya tertuju pada papanya, sorot mata itu meminta penjelasan.
“ Luna papa tau keinginanmu. Tapi menikah dan tetap pergi ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan hal ini juga tidak buruk. Papa akan lebih tenang melepaskanmu jika Mark di sisimu.” Tuan Alister langsung menjelaskan kenapa dia melakukan hal ini.
Luna tertegun mendengar penjelasan papanya, dia tidak menyangka jika papanya telah berfikir sajauh itu, sementara dia sendiri tidak pernah memikirkan keamanan dirinya sendiri. Tapi dia merasa alasan ini juga kurang tepat, jikapun dia tidak menikah dengan Mark keamanannya juga tetap terjaga karena Mark selalu mengirim pengawal sekaligus mata-mata untuknya. Lagian Mark mempunyai banyak kesibukan, jadi untuk apa repot repot mengurusinya di Inggris nanti.
Luna tak berani berucap dia hanya dia dan menundukkan kepalanya. Dia menggigit bibir bawahnya seolah menahan diri untuk tidak menjawab.
“ Tidak apa-apa jika kamu menyalahkan papa, tapi sekarang temuilah Mark. Dia menunggumu, pikirkan baik-baik jawabanmu. Mark tidak akan memarahimu jika kamu menolak , tapi dia akan lebih seang jika kau menerimanya. Begitupun papa dan mama tidak akan memaksamu untuk harus menerimanya sekarang, yang jelas kamu tahu bahwa papa dan mama merestui hubungan kalian. Dan.. papa meletakkan sebuah dokumen di kamarmu, setelah kembali dari sini bukalah.”
“ Dokumen apa pa?” Luna langsung mengangkat kepalanya dan menatap papanya penasaran.
“ Lihat saja nanti.”
“ Baiklah.” Luna memanyun-mayunkan bibirnya di sertai dengan anggukan kecil.
__ADS_1
“ Sayang apa kamu perlu waktu juga untuk memberi Mark jawaban?” Nyonya Aliester berusaha untuk memastikan keinginan putrinya.
“ Tidak ma.. Luna akan menjawabnya sekarang.” jawabnya dengan tegas. Wajah Luna juga menggambarkan bahwa dia sudah memiliki jawaban yang sesuai dengan isi hatinya.
***
Mark berdiri dan menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon. Kesepuluh jari tangannya saling berpagutan. Dia mendongak ke atas dan memejamkan matanya, dia menikmati hembusan lembut angin malam yang menerpanya. Angin malam yang mendayu-dayu seolah membisikkan nama Luna wanita yang dia cintai. Dia tersenyum penuh persiapan untuk mendengar jawaban Luna.
“ Mark.. “ panggil Luna dengan suara lembut.
Sontak Mark langsung berbalik badan, dia melihat Luna yang berdiri dengan jarak 5 langkah darinya.
“ Kau datang ” sambil tersenyum. Dia merasa sangat senang melihat kemunculan kekasihnya.
Luna membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum. Lalu dia berjalan mendekai Mark.
“ Mark jika aku pergi ke Inggris tanpa status pernikahan apa kau tidak keberatan?”
Luna tanpa aba-aba dan basi-basi langsung memulai pembicaraan saat dia sudah berdiri tepat di depan Mark. Dia memandangi wajah Mark yang masih saja melempar senyum mendengar pertanyaannya.
“ Aku bohong jika berkata aku tidak keberatan. Tapi jika kamu memang belum bisa memantapkan hati untuk menikah denganku, aku tidak akan memaksamu.” Mark berbalik badan dan kembali ke posisinya semula. Dia menyandarkan kedua tangannya dan jemaringa saling berpagutan. Sementara Luna berdiri di sampingya dan tatapan mata Luna tetap pada wajah kekasihnya, sedetikpun tak teralihkan pada yang lain.
“ Luna kau harus ingat, dimana aku berjuang dan aku adalah yang terdepan mencintaimu.” Lanjut Mark. Mak berusaha untuk menutupi rasa kecewa yang tak seharusnya dia tunjukkan pada Luna.
“ Kau kecewa?” tanya Luna yang terus memandangi Mark yang tak menoleh padanya.
“ Luna kita adalah pasangan yang sempurna, hanya saja kita tidak berada dalam situasi yang sempurna.” Sambil menatap Luna yang berada di sampingnya
Luna tersenyum lembut, “ Jika begitu mari kita sempurnakan.”
“ Luna.. kau serius dengan ucapanmu?” mencoba untuk memastikan lagi, meski sebenarnya hatinya sudah bersorak gembira.
"iya.." sambil menganggukkan kepalanya dengan senyum yang begitu tulus. “ Aku bukanlah orang yang bermain-main dengan ucapanku.” lanjutnya menegaskan.
Mark tak bisa lagi menahan rasa bahagianya, dia langsung menarik Luna ke pelukannya. Dia memeluk Luna tanpa kata, dia tidak bisa mendeskripsikan betapa sangat bahagianya dia. Dia hanya bisa mengungkapkan rasa bahagianya itu dengan pelukan penuh kehangatan dan perlindungan.
“ Aku memilih menggunakan hatiku dari pada pikiran yang cenderung manipulative. Aku dan Mark saling mencintai, untuk apa aku memikirkan hal yang lain lagi. Jika aku terlalu egois akan banyak hati yang ku lukai dan pada akhirnya juga akan meluki diriku sendiri.” Bisik hati Luna. Dia memang sudah memang sudah memantap hatinya setelah begitu banyaknya perdebatan antara hati dan logikanya.
.
.
.
Author sungguh butuh asupan like nya readers, nyesek aja liat like yg berkurang gitu. Padahal Viewersnya meningkat.
__ADS_1