TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Hormon Kehamilan


__ADS_3

“Sayang jangan lama. Ayo cepat, aku lapar.” teriak Luna yang sedang bersandar di kepala ranjang. Sekarang kehamilannya sudah berusia 4 bulan, perutnya sudah mulai terlihat. Tapi dalam 4 bulan ini Mark di buat kalang kabut oleh Luna.


Luna mengidam banyak hal di tengah malam. Membuat Mark harus siap siaga. Dan lebih parahnya dia tidak ingin sekamar dengan Mark. Dengan sangat terpaksa Mark harus mengungsi ke kamar sebelah.


Mark dan Luna juga sudah pindah ke Villa yang di hadiahi Mark saat pernikahan mereka. Sudah lebih 2 bulan mereka di villa ini. Tetapi keinginan Luna belum tercapai sepenuhnya. Ibu Mark belum datang memenuhi keinginan menantunya yang sekarang sedang hamil ini.


Sebenarnya Tuan dan Nyonya Aliester berat melepaskan, karena Luna sedang hamil. Tetapi Luna selalu merengek ingin pindah.


“Markk…. Kamu sudah berjanji. Kamu bilang akan menuruti permintaanku. Ketika aku selesai kuliah kita akan pindah dan membawa ibu tinggal bersama kita.” Pekik Luna saat Mark mencoba membujuk untuk tidak pindah dulu.


Sebenarnya Mark tidak terlalu masalah, tapi Tuan dan Nyonya Aliester memaksa Mark mencoba untuk membujuk Luna.


Mark menatap mertuanya yang garuk kepala dan cengingisan padanya.


“Ini karena kalian mertuaku sayang.” Gumam Mark menghela napasnya berat.


“Mark..” pekik Luna lebih keras, kesal karena Mark malah diam.


“Iya, iya sayang. Kita pindah.” Luna langsung tersenyum penuh kemenangan.


“Besok ya!” Luna bersikap manja.


“Iya sayang.” Mengusap lembut kepala Luna.


“Hufft…” Mark menghela napasnya, mengingat hal ini. Mark mengenakan baju tidur, berjalan menuju kamar Luna dengan membawa jus anggur dan berbagai macam potongan buah.


Ini sudah pukul 1 dini hari, Luna tiba-tiba meneleponnya untuk di bawakan jus anggur dan potongan buah.


Mengidam memang tidak kenal waktu.


“Sayang ini jus dan buahnya.” Ucap Mark setelah mengetuk pintu.


Luna sangat tidak suka Mark, sejak dia memasuki bulan kedua kehamilannya. Mark tidak diizinkan untuk memasuki kamar. Mengantarkan setiap kemaun Luna, hanya sebatas pintu saja.


Luna sangat mudah mual, kepalanya sering pusing, indra penciumannya menjadi sangat tajam, mengalahkan anjing pelacak FBI.


Makanan bau, pafrum bau, apapun bau.


Sangat berat bagi Mark melewati hari-hari 4 bulan ini. Dia sangat merindukan istrinya, tapi dia hanya bisa menemui Luna dan menciumnya ketika Luna sudah terlelap.


“Masuk!” teriak Luna dari dalam.


Mark terkejut, “Masuk? Serius sayang?” tanya Mark memastikan.


“Iya. Aku bilang masuk ya masuk. Kamu kenapa banyak tanya? Tidak senang ya? ya sudah pergi sana.”


Jleb, kena lagi. Mark selalu salah. Dia hanya bisa menggaruk kepala sambil berbalik badan.


“Mark… kamu sungguh akan pergi?” teriak Luna sangat kesal.

__ADS_1


“Kan kamu..”


“Kamu sudah tidak menyanyangi ku ya? Aku mengandung anakmu MARK RENDRA... kenapa kamu sangat tega.” Pekik Luna.


“Iya, iya sayang aku masuk.” Mendorong pintu.


“Huh,” Luna buang muka darinya.


“Sayang maaf.” Bujuk Mark yang sudah meletakkan jus dan potongan buah di nakas. Dia duduk di tepi ranjang memandang wajah Luna yang berpaling.


Mark bangkit mengambil meja portable. Memasangnya dan meletakkan jus dan potongan buah di sana.


“Aku sudah tidak mau.” Tolak Luna.


“Sayang jangan begitu. Dimakan ya, jus dan buahnya, bayi kita pasti lapar. Humm..” bujuk Mark penuh kasih. Mark menyuapkan 1 potong buah pada Luna.


Luna tersenyum, lalu membuka mulutnya menerima suapan dari suamniya.


“Makan yang banyak ya sayang.” Mark mengusap kepala Luna. Sangat Senang, akhirnya dia bisa duduk di sini saat Luna masih terjaga.


“Sayang..” Luna memberikan tatapan tajam.


“Aaaa..” Mark menyuapinya kembali dan langsung di terima Luna, meskipun dia bersungut-sungut kesal. Mark terus membujuk dan menggoda Luna, hingga akhirnya tawa mereka pecah. Manis, sangat manis moment ini.


***


“Masih mual sayang?” tanya Mark memastikan. Mereka baru keluar dari kamar mandi. Tadi saat minum jus, Luna tiba-tiba mual. Ya begitulah, sangat sulit makanan bisa masuk dengan sempurna dalam perutnya.


“Besok kita ke dokter ya sayang.” Ucap Mark yang sambil membaringkan Luna di ranjang. Di selimuti istrinya itu.


“Tidak perlu. Memangnya mau apa ke dokter?” Luna mengusap pelipisnya. Kepalanya sakit.


“Periksa sayang. Obat mual kamu masih ada?”


“Masih.”


Mark mengangguk, lalu berjalan menuju sisi ranjang lainnya.


“Mark kamu mau apa?” tanya Luna yang langsung menghentikan Mark yang hendak menaiki ranjang.


“Tidur.” Jawab Mark polos. “Tidak boleh ya?” Mark menggaruk kepalanya. Cengingisan, padahal dia sudah sangat berharap bisa tidur bersama istrinya malam ini.


“Ayolah sayang, jangan buat mama selalu kesal dengan papa. Papa rindu kalian berdua.”


“Boleh.” Jawab Luna yang langsung membuat mata Mark berbinar bahagia.


“Terimakasih sayang.” Naik dan langsung mendekat. “Tidur di sini.” Mark menepuk pahanya.


Luna tersenyum, dia pun patuh dan merebahkan kepalanya di pangkuan Mark. Mark dengan Lihai memijat kepala Luna yang pusing.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya?”


“Lumayan.” Mark tersenyum puas. Ya, memijat dia memang ahlinya.


“Sayang, sudah ada kabar dari ibu?” tanya Luna lembut. Dia sangat berharap mertuanya mau tinggal bersamanya.


“Belum sayang. Besok aku akan menghubunginya lagi.” Mark sangat tidak tega melihat Luna sedih. Mark sudah berusaha keras membujuk ibunya, tapi ibunya tidak memberikan jawaban apapun.


“Jangan menatapku begitu. Aku tidak apa-apa.” Luna mengusap pipi Mark dengan lembut. Dia tahu Mark merasa bersalah padanya.


Mark tersenyum, lalu mencium tangan Luna.


“Kepalaku sudah tidak pusing. Ayo tidur!” Luna bangkit. Cepat Mark membantu, dia merapikan bantal. Kemudian Mark mengusap perut Luna.


“Sayang tidur dengan nyenyak ya. Papa dan mama sangat menyanyangimu.” Di ciumnya perut Luna beberapa kali, membuat Luna tertawa bahagia.


“Good Night, sayang.” Mark menyelimuti tubuh Luna, kemudian dia juga ikut masuk ke dalam selimut. Dia tidur miring menghadap Luna, begitupun Luna juga meghadap pada Mark.


Mark mengusap wajah Luna, lalu mencium keningnya. “Love You.” Dera napasnya menerpa wajah Luna. Aroma Mint. Segar dan menyejukkan sekali.


Mark perlahan mendekatkan wajahnya. Hormon kehamilan Luna berubah-ubah tidak menentu. Sekarang menerimanya belum tentu besok Luna masih mau berdekatan dengannya. Mark tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia sangat merindukan istrinya.


Luna tersenyum, dia pun menutup mata tanda kesediaannya.


Cup, bibir mereka bertemu. Mark melakukannya dengan lembut, membuat Luna merasa nyaman. Cukup lama, ciuman itu dari lembut hingga beralih pada ciuman yang bergairah.


Perlahan mereka melepaskan pagutan bibir. Dera napas menyapu wajah masing-masing.


“Luna, bolehkah?” tanya Mark dengan deep voicenya.


Luna mengedipkan matanya beberapa kali, dia mengerti maksud suaminya ini.


“Aku akan melakukannya dengan lembut. Bayi kita akan baik-baik saja.” Mark meyakinkan.


Luna mengangguk pelan. Dia juga sangat merindukan suaminya, tapi karena bawaan hormon, dia sendiri tidak bisa mengontrol dirinya. Mark kegirangan, mendapat persetujuan Luna.


“I miss you so much.” Mark tersenyum nakal.


Luna tersipu. “I miss you too much.”


Mark mulai membenamkan wajahnya di leher jenjang Luna. Luna tersenyum geli melihat Mark yang bersemangat.


“Sayang.” Luna tiba-tiba mendorong tubuh Mark.


“What?” Mark terkejut. Khawatir, apa hormon Luna berubah lagi? Oh my god, dia sangat ingin sekarang.


“Jangan buat lovebite. Nanti orang-orang lihat.”


Mark tersengih, sangat lega. “Ok sayang.”

__ADS_1


Mark kembali memulai aksinya. Malam panjang di mulai, mereka berdua melakukannya dengan begitu sempurna malam ini.


Bersambung…


__ADS_2