
Anette berhenti di sebuah gedung, memarkirkan mobilnya, lalu langsung memasuki gedung dengan langkah cepatnya.
Saat di dalam lift Anette terus mengusap keningnya. Pikirannya terus menerawang sang suami yang seperti orang lain saat ini.
"Hufftt.. " membuang nafasnya kasar saat angka digital lift sudah menunjukkan lantai yang dia tuju.
Lift terbuka, Anette segera keluar menyusuri lorong gedung apartemen tersebut. Ya, ini adalah gedung apartemen yang di tempati oleh Charles.
Pada satu pintu Anette langsung berhenti. Dia memasukkan password yang dia ketahui.
'Klik klik, tiiiiiiiiittt..." password salah.
Kening Anette berkerut tidak percaya. Sejak kapan password nya berubah? Anette mencoba memasukkan angka-angka yang sering mereka gunakan, tanggal pernikahan, ulang tahun dirinya dan suaminya sampai ulang tahun putra-putri mereka.
Nihil!!! Semuanya gagal. Anette malu sendiri karena ada 2 orang tetangga yang keluar melewatinya dan menatapnya aneh.
"Sial." umpat Anette sambil melebarkan senyum pada sepasang suami istri yang melewatinya.
Setelah semua usahanya gagal, Anette memilih pergi. Rasa curiga pada suaminya semakin kuat, bahkan sekarang tangannya gemetaran saat menekan tombol lift. Berbagai hal buruk melintas di pikirannya.
"Tidak mungkin dia orang lain kan? "
Brugh. Anette bersandar lemah di dinding lift. Air matanya mulai menetes.
Ting. Lift terbuka, ada orang lain yang akan masuk. Cepat Anette mengusap air matanya.
__ADS_1
"Nyonya Anette Scot." ucap pria yang baru memasuki lift tersebut. Pria tersebut rapi dengan stelan jasnya.
Anette terkejut. 3 detik kemudian dia menganggukkan kepalanya. Sementara yang tersorot misterius tampak tersenyum lebar.
***
Charles keluar dari kantornya. Sedikit tergesa-gesa dia menuju mobil yang sudah menunggunya di luar gedung.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Charles marah saat dia sudah berada di dalam mobil.
"Minum racun tuan dan juga terdapat banyak sayatan di tubuhnya. Semalam dia tampak frustasi sepulang dari club." sambil menyerahkan sebuah iPad.
Charles segara membuka iPad tersebut dan memutar sebuah vidio. Dimana tampak seorang wanita memasuki ruangan dengan oleng. Menuju dapur mengambil pisau dan menyayat diri sendiri sambil menangis histeris.
Klik. Tidak sanggup melihat, Charles menghentikan vidio. Tangannya gemetaran dan matanya memerah. Dadanya serasa bergemuruh.
"Baik tuan." langsung melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil Charles berhenti di sebuah rumah yang mewah. Di sana orang-orangnya telah banyak berkumpul.
Charles segara memasuki rumah tersebut. Di ruang tengah terdengar isak tangis seorang wanita sambil memeluk jasad wanita yang sudah yang tak bernyawa lagi.
"Untuk apa kau kemari?" tanya wanita itu sakarstik, menatap nanar pada Charles. Mata sembab, wajah dan bibir pucat sangat jelas melukiskan luka yang mendalam dari dirinya.
"Aku ingin melihatnya." tutur Charles lemah.
__ADS_1
"Kau manusia biadab. Untuk apa kau melihatnya? Ini semua karena ulah mu. Akibat dosa mu, efeknya merambat pada aku dan putra-putriku. Kau mau apa lagi hah? Sudah 2 orang anakku mati sia-sia dan tidak ada yang tau penyebabnya."
"Putra?" tanya Charles terkejut.
Wanita itu semakin marah. Dia bangkit dan mendekati Charles.
Plakk. Sebuah tamparan keras melayang di pipi Charles.
"Pergi kau manusia biadab." mendorong kuat tubuh Charles yang tetap berdiri pasrah menerima serangan wanita itu. "Hiks, hiks.. Kau biadab. Sofi dan Lexis mati pasti karenamu." memukul-mukul dada Charles dengan tangisnya yang pecah.
"Keni, maafkan aku. Aku akan menyelidiki ini semua." memeluk erat. Berusaha menenangkan Keni.
"Menyelidikinya?" Keni melepaskan diri dari pelukan Charles. "Tidak ada yang bisa kau lakukan. Semuanya serba salah. Aku hanya bisa menerima ini semua." berbalik badan, kembali menuju jasad putrinya.
"Nyonya, jasad tuan Lexis telah tiba." lapor seorang pengawal yang baru datang.
Keni mengusap air matanya, segera keluar melihat jasad putranya. Begituoun dengan Charles, dia mengikuti Keni.
Mata Charles membelalak tidak percaya melihat jasad Lexis yang hancur, tidak dapat di kenali lagi. Dia seperti mengingat sesuatu, ada ketakutan dari sorot matanya. Tangannya gemetaran. Charles berusaha menggepalkan tangannya kuat.
"Lexis, putraku.." isak tangis Keni yang sangat memilukan.
"Tidak mungkin dia kan?"
Charles memijit keningnya yang sekarang serasa ingin pecah. Banyak hal menghujam pikirannya.
__ADS_1
Bersambung...
Segini dulu ya kakak. Up selanjutnya aku usahakan untuk lebih banyak dari ini 😊