TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Polidirektor Charles


__ADS_3

“Hahaha..” Mark dan Charles tertawa lepas setelah tatapan tajam mereka. Tawanya terdengar bersahabat, tapi tidak ada yang tau apa maksudnya.


“Ternyata anda sudah melupakan saya Polidirektor.” Raut wajah kecewa dari Mark lalu meminum coktailnya kembali. Sementara Charles Scot tampak berfikir akan kalimat Mark yang sepertinya mereka sudah lama saling kenal.


“Maafkan saya tuan Mark, saya sudah tua ingatan juga tidak begitu bagus lagi. Argh… saya harus berusaha mengingat anda dengan baik tuan.”


“Saya harap polidirektor segera mengingat saya dengan baik. Sangat di sayangkan melupakan kenangan yang sangat berkesan antara kita.” senyum lembut Mark mengembang, begitupan dengan Charles yang tampak angguk-angguk dengan senyumnya.


Di tengah percakapan keduanya tiba-tiba Rangga datang menghampiri dan berbisik pada Mark. sementara Charles menuang kembali botol minuman ke gelasnya, sesekali dia melirik ke arah Mark dan Rangga.


“Polidirektor, sepertinya percakapan kita cukup sampai di sini.” Mark berdiri dan merapikan jasnya. “Ini kartu nama saya. Hubungi saya jika anda sudah mendapatkan kembali ingatan anda.” Rangga menyerahkan kartu nama tersebut.


“Baik tuan.” Charles ikut berdiri dan mengambil kartu nama tersebut dan melihatnya sejenak.


“Jikapun tidak mengingatnya kembali. Tidak salah untuk memulai hubungan baik ini dari awal.”


Mark mendengus senyum, “Baiklah. jika begitu saya permisi tuan.”


“Iya silahkan.”


Mark langsung beranjak pergi. Charles kembali duduk, tangannya menggenggam erat kartu nama Mark, ada gurat ketegangan di wajahnya. Dia meraih gelasnya dan menghabiskan minumannya dengan sekali degukkan, lalu dia juga berlalu pergi meninggalkan ruangan pesta.


***


Mobil Charles memasuki sebuah rumah yang mewah. Saat mobilnya berhenti seoarng pengawal langsung membukan pintu mobilnya.


“Apa istri dan anakku di rumah?”


“Iya tuan.”


Charles merapikan dasinya, tampak dia mengatur nafasnya sebelum memasuki rumah super mewah itu. 2 langkah Charles berhenti.


“Jangan ikuti aku. Aku ingin waktu privat dengan istri dan anakku.” Ujarnya dingin pada pengawal yang mengikutinya di belakang.

__ADS_1


“Baik tuan.”


Charles melanjutkan langkahnya. Ruangan demi ruangan dia lewati. Langsung saja menuju ruang keluarga, karena jam segini biasanya istri dan anak-anaknya masih beraktifitas di sana, entah itu menonton atau lainnya.


“Aksel, Elin.. Daddy pulang.” Charles merentangkan tangannya dengan senyum yang sumbringah. Berharap anak kembarnya yang masih berusia 8 tahun ini menghambur padanya.


Sementara itu anak dan istrinya yang sedang bersantai langsung menoleh padanya.


“Aksel, Elin ayo sambut daddy!” perintah Anette, mamanya. karena melihat putra dan putrinya yang hanya diam dengan ekspresi datar.


“Sayang.. apa kalian tidak merindukan daddy? Sini daddy ingin memeluk kalian.” menggerakkan tangannya yang masih merentang.


Segera Aksel dan Elin mendekati Cherles dengan langkah lambat seolah ragu.


“Vi savner deg daddy/kami merindukanmu daddy” Ujar keduanya saat dalam pelukan Charles.


“Daddy juga sayang.” Mencium pipi dan kening anak kembarnya berkali-kali, lalu menggendong keduanya menuju sofa dekat istrinya.


Aksel dan Elin menguap, wajar ini memang sudah waktunya anak-anak tidur.


“Si kembar daddy mengantuk ya?”


“Iya, dad.” Jawab keduanya sambil melirik Mommynya.


“Ya sudah. Daddy temani kalian tidur.” Charles langsung menggendong kedua anaknya itu menuju kamar. sepenjang jalan terdengar Charles bergurau tapi tidak begitu di tanggapi oleh anaknya.


“Charles..” gumam Anette menatap punggung Charles yang menjauh. Anette mengusap matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca, lalu dia segera menuju kamarnya.


Tak lama selang waktu berlalu Aksel dan Elin sudah tertidur pulas dalam tepukan lembut dari Charles. Segera Charles bangkit dan menuju kamarnya.


“Apa mereka sudah tidur?” tanya Anette ketika Charles memasuki kamar. dia sudah berganti pakaian dengan baju tidur.


“Sudah. Kemana Jark? Aku tidak melihatnya?” sambil melepaskan jasnya yang segera di bantu oleh Anette. Jark merupakan anak sulung mereka.

__ADS_1


“Jark tidak pulang. Dia menginap di tempat teman.” Jelas Anette, lalu memberiakan set pakaian tidur pada Charles dan mengemasi pakaian yang baru di lepaskan Charles ke pakaian kotor. Entah kenapa tangan Anette tampak bergetar.


“Charles,” gumamnya lagi. Dia memegangi tangannya yang gemetaran lalu kembali ke kamar.


“Sayang ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.” ujar Charles yang sudah duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


“Tentang apa sayang?” Anette menuju meja riasnya, memakai skincarenya.


“Tadi saat pesta Jack Dag aku bertemu seseorang, dia seperti sangat menganalku. Tapi aku sunggu tidak mengingatnya.” Seketika tangan Anette langsung berhenti beraktifitas mendengar uvapan Charles danlangsung menoleh pada Charles.


“Namanya Mark Rendra, dia seorang pebisnis.” Jelasnya.


“Mark Rendra? aku, aku juga.. ah, entahlah sayang aku ragu.” jawab Anette ragu dan terbata-bata. Dia kembali menghadap cermin dan mengenakan skincarenya.


Sementara Charles yang hendak bertanya lebih jauh langsung mengurung niatnya. Skipa Anette yang aneh membuatnya curiga, cukup lama dia memperhatikan Anette yang juga bertingkah aneh di meja rias.


“Sepertinya aku harus mencari tau sendiri.”


“Baiklah sayang. Sepertinya kekuatan ingatan kita sama-sama menurun. God natt/selamat malam.” Charles berbaring, menari selimut dan langsung memejamkan matanya.


“God natt.” Jawab Anette.


Anette terdiam, deru nafasnya tidak beraturan. Tangannya yang tadi menepuk-nepuk lembut wajahnya langsung turun, sangat lemas rasanya.


“Charles siapa kamu sebenarnya?”


Bersambung..


Maaf ya kak, lama gak up dan pas upnya juga dikit baget. Entah kenapa aku tiba-tiba males ngetik. haha.. maaf.


Dan satu lagi mungkin kakak kecewa karena part ini cuma bahas Charles yang entah siapa. Tapi jujur, ini juga harus sedikit di ceritakan agar ceritanya tidak terkesan lompat-lompat.


Kira-kira ada yang bisa nebak tidak Charles ini siapa???

__ADS_1


__ADS_2