
"Selamat atas keberhasilan proyek. Selamat kepada 3 nona yang luar biasa ini." para inevestor seraya bersulang bersama. Makan malam telah usai sekarang lanjut pada acara puncak.
Alexa, Luna dan Camelia tersenyum lebar. Lalu mereka semua menikmati minuman mereka. Namun tidak dengan Luna, dia hanya memegangi gelasnya.
Pesta privat yang cukup berkesan, meski hanya beberapa orang investor.
Cukup lama berbincang, hingga topik pembahasan sudah melenceng kemana-mana.
Sungguh Luna tidak suka hal seperti itu. Apalagi membahas hal yang bukan urusan mereka. Hal yang seharusnya tidak perlu di bahas.
"Nona ada telvon untuk anda." Zhaon datang menghampiri. Sungguh Luna bersyukur,Zhaon penyelamatnya. Zhaon mengerti akan ketidaknyamanannya.
"Wah nona Luna sangat sibuk." ucap rekannya.
"Maaf sekali. Saya permisi dulu tuan dan nyonya."
"Iya silahkan nona."
Luna langsung beranjak pergi yang di ikuti oleh Zhaon di belakangnya.
"Terimakasih Zhaon."
"Hehe.. iya nona. Nona mau kemana?" tanya Zhaon yang terus mengikuti Luna menuju luar Villa.
"Aku ingin melihat laut."
Zhaon mengangguk, tampak dia memberi informasi pada Key melalui earpodnya dengan berucap pelan. Dia juga memberi kode pada seorang pengawal yang berdiri di sekitarnya. Lalu mengikuti Luna dengan semangat.
"Hummm ahhh... " Luna menghirup tenang udara di tepi pantai. Dia merentangkan tangan dan memejamkan mata indahnya. Angin laut menerpa rambutnya yang tergerai dengan indah. Hamparan Resort yang indah tepat di hadapannya.
"Nona boleh aku memasangkan jepit rambut ini pada nona? Terpaan angin menutupi wajah cantik nona." mengeluarkan sebuah jepitan cantik. Dia tau nonanya kesusahan menyingkirkan rambut yang selalu menari di wajahnya.
"Baiklah. Kamu memang yang terbaik Zhaon."
Zhaon pun langsung memasangakn jepit rambut tersebut dengan hati-hati.
"Zhaon, aku ingin sendiri. Bisakah kau meninggalkaku?" ucap Luna dengan matanya yang masih terpejam.
"Tidak nona. Anda tau tuan akan menghukum aku jika lalai bertugas." jawabnya dengan bersungut-sungut.
"Haha.. " Luna membuka matanya, lalu berjalan pelan di di tepi pantai. "Maafkan suamiku Zhaon. Dia berlebihan sekali, padahal siapa juga yang akan menggangguku di sini. Mendengar namanya saja para rekannya langsung pucat, mana mungkin mereka menggangguku, istrinya."
__ADS_1
"Karena anda sangat berharga dari apapun nona. Tuan sungguh sangat mencintai nona."
"Aku tau itu." sambil tertawa. Rindu Luna akan Mark semakin menggebu. Wajah tampan dan senyum lembut sang suami membayanginya. Luna senyum-senyum sendiri menikmati kerinduannya itu. Namun matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
"Zhaon." berbalik badan menghadap Zhaon.
"Iya nona."
"Bisakan kau tunggu aku di sini saja. Aku hanya berjalan menyusuri pantai ini." mengedarkan pandangannya. "Kau perhatikan aku dari kejauhan ya. Jika ada kepiting laut yang menyakitiku, aku akan berteriak." ujar Luna sambil tertawa.
"Baiklah nona." Zhaon menurut. Dia sadar akan mata Luna yang tampak berkaca-kaca. Nonanya pasti sangat merindukan tuannya. Dia sadar akan itu.
Luna tersenyum dan langsung beberbalik badan. Dia berjalan menyusuri pantai dengan tenang. Merilexskan pikiran dan hatinya yang merindu.
Cukup lama Luna menyusuri pantai. Diapun juga sudah sangat jauh dari Zhaon. Sesekali Luna mengusap kedua lengannya. Hembusan angin laut mulai membuat dia kedinginan.
"Tenyata anda belum berubah nona Luna." Luna terkejut. Dia langsung menoleh pada sumber suara. Kening Luna langsung berkerut saat melihat sosok pria di sisi kirinya. Namun wajah pria itu belum terlihat jelas olehnya, kerena pria itu menggunakan topi Cowboy dan menundukkan wajahnya.
"Kita berjumpa lagi Luna.. " tutur pria itu seraya menoleh pada Luna dengan senyum lembutnya.
"Hah.. " Luna terkejut seraya tersenyum bahagia menatap pria itu. Mereka saling tatap dengan binar mata bahagia.
"James? itu kamu?"
"Hah?" Luna terkejut, lalu berbalik badan menatap punggung James yang menjauh. Tampak James berjalan menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Apa-apaan ini?" gumam Luna bingung sambil melihat kertas kecil di tangannya. Tapi seketika cepat dia bertingkah acuh tak acuh.
Terlewat sedikit, saat itu juga sosok James tidak lagi terlihat di pandangannya, menghilang begitu cepat. Seperti Hantu.
"Apa James tau jika selalu ada mata yang mengikutiku, hingga dia seperti ini? hmm... berani sekali dia mengabaikanku seperti ini." gerutu Kuna sedikit kesal.
"Dasar misterius. Pria aneh!" celotehnya. Tapi di tersenyum kembali setelah caciannya itu.
" Dapat.. " ucap Jiang He sambil mengepalkan tangannya senang.
Key pun langsung meraih camera di tangan Jiang He dan melihat super zoom dari wajah James Lu. Sementara itu percakapan antara Luna dan James Lu juga terdengar jelas oleh mereka. Karena jepit rambut yang di kenakan Luna tertanam alat penyadap di dalamnya.
"Kena kau James Lu."
Key dan Jiang He tersenyum puas.
__ADS_1
***
“Daddy pergi kerja ya sayang.” Charles mencium kedua anak kembarnya, lalu beranjak pada Anette, istrinya.
”Aku pergi ya sayang. Aku akan menginap di apartement lagi untuk beberapa waktu.” cium lembut di kening sang istri. Charles semenjak kenaikan jabatannya memang lebih sering menginap di apartement yang tidak jauh dari kantornya.
“Iya, hati-hati sayang.” Tutur Anette sambil mengusap rambut anak kembarnya yang berdiri Di sisi kiri dan kanannya.
Cherles mengangguk dengan senyum lembutnya. Lalu dia memasuki mobilnya. Dia pergi bersama orangnya. Tadi pagi sekali orang kepercayaannya telah datang untuk menjemputnya.
“Bye-bye jagoan daddy,” ucap Charles dengan mobilnya sudah mulai melaju.
“Bye-bye daddy.” Balas si kembar sambi melambaikan tangan. Begitupun Anette juga melambaikan tangannya dengan senyum.
“Sayang, sekarang saatnya kalian juga harus berangkat sekolah.” Merapikan pakaian anak kembarnya. “Hari ini mommy tidak antar ya, sama kak Ceko saja ya. Mommy ada sedikit urusan.” Bujuknya dengan lembut.
“Ok Mommy.” Jawab si kembar paham.
“Anak baik.” Anette tersenyum lembut, lalu membantu anak kembarnya memasuki mobil.
“Mommy kanapa Daddy sekarang berubah? Elin rindu daddy yang yang biasanya selalu mencium Elin ketika sudah tertidur. Semalam lagi-lagi daddy tidak melakukan itu. Daddy pergi begitu saja. Elin selalu pura-pura tidur agar bisa merasakan ciuman daddy sebelum beranjak pergi. Dan tadi Daddy mencium Elin dan kak Aksel hanya sekali. Apa daddy tidak sayang Elin dan kak Aksel lagi?”
Anette tersenyum kecut. Ini sudah kesekian kalinya anaknya mengadu, merasa daddynya banyak berubah dalam beberapa hal.
“Sabar ya sayang. Mungkin daddy kelelahan. Nanti mommy akan mengingati daddy ya sayang. Supaya cium dan memanjakan Elin dan kak aksel lagi.” sungguh sangat tersayat hati Anette melihat ekspresi sedih anaknya ini.
Memang benar, sekarang mereka sangat kurang kasih sayang dari Charles yang biasanya menjadi daddy siap siaga dan paling bisa diandalkan.
“Ok mommy.” Jawab mereka semangat.
“Jangan nakal di sekolah ya.” Anette menciumi anak kembarnya itu, lalu menutup pintu mobil. Melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang. Karena dia tau jika anak kembarnya juga pasti akan menatapinya dari kaca hingga mobil keluar dari gerbang.
Anette menghembuskan nafasnya kasar. Dia sendiri juga merasakan hal demikian pada suaminya. Para pelayan dan para pengawal di rumah juga merasakan hal yang sama, meskipun hanya sedikit berubah, tapi sebagai orang yang sudah mengabdi atau bekerja begitu lama pasti mengenali sikap tuannya, tapi beberapa waktu terakhir ada beberapa hal jangggal dari tuannya itu.
"Mobil anda sudah siap nyonya." suara pengawal langsung membuyarkan lamunan Anette.
"Ah, ok. Saya mungkin pulang sedikit terlambat. Tolong jaga anak-anak!" titah Anette seraya memasuki mobil.
"Aku harus mencari kebenarannya."
Anette langsung melajukan mobilnya menuju gerbang.
__ADS_1
Bersambung...