
Belum Honeymoon ya.
Jadi gak papa baca sekarang π
--------------
Nindy mengendarai mobilnya dengan santai. Sesekali matanya melirik kaca spion, karena merasa ada sebuah mobil mengikutinya di belakang.
Nindy melajukan mobilnya cepat untuk memastikan apakah mobil tersebut benar mengikutinya. Melirik lagi dan melihat tidak ada lagi mobil tersebut.
β Huftt.. syukurlah. Jadi hanya perasaan ku saja.β ucapnya penuh kelegaaan dan fokus kembali ke jalan yang sekarang memasuki jembatan.
β Ciiitttttβ¦β entah dari mana asalnya, tiba-tiba mobil yang tadi mengikutinya memotong.
Nindy sangat terkejut dan menginjak rem mobilnya cepat, hingga Nindy menundukkan kepalanya di setir mobil. Beruntung, mobil Nindy berhenti dengan cepat. Jarak mobilnya sangat dekat dengan mobil yang sudah melintang menghambat jalannya.
Nafas Nindy terengah-engah dan dia juga sedkit menjerit karena keningnya terbentur cukup kuat di setir saat rem mendaak tadi. Sangat gila, ini hampir terjadi kecelakaan besar jika dia terlambat menginjak rem.
β Arhk.. sial.β Umpat Nindy dengan memengangi keningya yang tampak sedikit berdarah.
Nindy mengangkat kepalanya, nafasnya masih belum beraturan dan menatap nanar mobil di depannya. Namun tatapan nanar Nindy langsung berubah membulat. Dia terkejut melihat sosok yang keluar dari mobil tersebut.
β Lean??β Nindy mengusap matanya, masih belum yakin dengan penglihatannya.
β Nindy keluarlah. Aku ingin bicara.β Lean mengetuk kaca mobil.
Nindy yang yang terlihat Shock hanya diam. Matanya tidak berkedip sedikitpun.
β Nindy..β Lean mengetuk kaca lebih keras, sehingga menyadarkan Nindy dan menoleh pada Lean yang sibuk memanggilnya.
Nindy mengambi nafas dalam, lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Dia memang Lean dengan penuh rasa jijik.
β Apa lagi yang ingin kamu bicarakan padaku?β
Lean membelalakkan matanya saat melihat kening Nindy berdara.
β Nindy kamu berdarah.β Berusaha untuk melihat Luka itu lebih dekat, tap dengan cepat Nindy menetpi tangannya.
β Jangan pedulikan ini!β Nindy berucap sambil mengalih pandangnya ke arah lain.
Lean menatap Nindy dengan lembut, dia tampak seperti orang benar telah menyesali dosanya. Matanyanya tampak merah dan menyedihhkan. Lalu dengan gerak cepat dia memeluk Nindy.
β Nindy, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal telah melakukan hal ini padamu.β memeluk seerat mungkin.
β Lean, kamu gila ya. Lepasakan aku!!β Nindy berusaha meronta semampunya. Namun tenaganya tidak ada apa-apanya di bandingkan Lean.
β Nindy, aku mohon beri aku kesempatan sekali ini saja.β Lean melepaskan pelukannya dan memegangi erat kedua bahu Nindy.
β Tidak!.β Teriak Nindy. Dia menepis tangan Lean dan berusaha masuk kembali ke mobilnya. Tapi dengan cepat Lean menutup kembali pintu tersebut. Lalu dia mendorong tubuh Nindy hingga bersandar di mobil. Memegangi kedua tangan Nindy dan mengunci tubuh Nindy dengan jarak tubuhnya yang sangat dekat.
β Nindy aku mohon.β Pintanya lirih. Air mataya tampak mulai menetes.
β Tidakβ¦β teriak Nindy dengan suara lirihnya. Matanya juga tampak mengeluarkan air mata. β Tidak Lean. Aku sangat membencimu.β Nindy tersedu dan tetap berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Lean.
Tubuhnya tampak tidak nyaman karena jarak mereka yang sangat dekat.
Lean memandangi Nindy yang terlihat frustasi. Dia mendekatkan wajahnya pada Nindy, tampak ingin mencium bibir Nindy, dengan cepat Nindy menghindar.
Lean tersenyum, lalu dia menggenggam kedua tangan Nindy dengan satu tangannya, dan tangan satunya beraksi kasar menarik baju Nindy Hingga 2 kancing bajunya terlepas.
β Lean, kamu jangan kurang ajar. Kakak ku akan membunuhmu, jika mengetahui ini.β Nindy tampak mulai ketakutan. Sementara Lean hanya memandanginya, lalu memulai aksinya untuk mencium.
Namun sebelum aksinya berhasil, seseorang menarik rambutnya dari belakang dan memegangi tangan Lean kuat. Lean menjerit dengan kepalanya tertarik ke belakang dan melepaskan tangan Nindy dan dengan cepat Nindy memegangi bajunya yang sudah terbuka.
__ADS_1
β Kamu tidak apa-apa?β tanya Jiang He yang tiba-tiba datang entah dari mana.
Nindy menjawab dengan mengangguk pelapanya.
Air mata Nindy tampak mengalir deras, sangat shock dengan yang dialaminya. Bagaimana bisa pria ini ingin melecehkannya. Perlahan Nindy berjongkok dan menundukkan kepalanya.
β Siapa kamu? kamu jangan ikut campur urusanku.β Bentak Lean pada Jiang He yang berusaha melepaskan dirinya.
β bamm, bamm, brackβ pukulan langsung melayang padan wajah Lean, lalu dengan kasar Jiang He melemparnya.
β Lain kali kau jangan pernah menyakiti wanita lagi.β peringatan Jiang He pada Lean yang sudah kesakitan.
Jiang He menoleh pada Nindy yang tampak frustasi, dia mendekat samblil melepsakan jasnya dan menutupi tubuh Nindy.
Di saat yang bersamaan tampak Lean akan menyerang Jiang He yang membelakangnya namun dengan cepat sekretaris Xi menendang Lean hingga Lean terjatuh kembali.
β Sekretaris Xi, urus pria ini!β titah Jiang He.
β Baik tuan.β Sekeretari s Xi segera memegangi Lean.
Jiang He meegangi Nindy untuk berdiri dan membukakan pintu untuk Nindy dan dia menyetir mobil Nindy.
β Siapa kalian? berani-beraninya ikut campur urusanku. Lihat saja kan ku balas kalian, akan ku bunuh kalian.β sumpah serapah Lean yang sudah di seret oleh sekeretaris Xi ke mobilnya.
Di dalam mobil jiang He hanya diam melihat Nindy yang menangis tanpa suara dan tangan Nindy memegangi erat jas di tubuhnya.
Jiang He memhatikan setaiap jalan yang di lewatinya dan ketika menemukan Apotek, Jiang He langsung berhenti dan keluar. Sementara Nindy masih menundukkan kepalanya.
β Lean kamu bajing*n.β lirih Nindy.
Beberapa saat kemudian Jiang He kembali dengan membawa beberapa obat. Dia melirik Nindy yang masih menunduk
β Nindy bersihkan dulu lukamu.β Sambil mengeluarkan kapas dan membuka botol anti biotik.
Jiang He tampak menggelengkan kepalanya. Dia menuangkan antibiotic ke kapas, lalu membersihkan darah di kening Nindy.
Sesaat Jiang He tampak tersenyum tipis, dia teringat dengan perkataan Nindy saat di Shanghai tentang sebuah takdir pertemuan mereka.
***
Di dalam sebuah club dengan musik yang begitu keras di ruang diskotiknya. Semua orang menari versi masing-masing. Menghibur hati dan bersenang-senang mengikuti irama musik. Di sana terlihat Zico dan temannya yang lainnya menari dengan sesuka hati mereka.
Sementara itu Luna terlihat duduk di depan meja bartender. Dia memangku dagunya sambil mengaduk-aduk jus anggurnya.
β Membosankan.β Luna merebahkan kepalanya di meja, menjadikan lengannya sebagai alas. Dia terpaksa ikut ke sini karena di seret oleh temannya setelah merayakan keberhasilan pameran yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.
β Luna,β panggil bartender pria. Luna langsung mengankat kepalanya untuk menoleh pada pria yang ada di depannya.
β Aku membuat racikan minuman baru. Ini rendah alcohol, aku senegaja membuatnya agar wanita sepertimu bisa menikmatinya.β Tawar pria tersebut dengan mengankat gelas hasil racikannya. β Cobalah!β pria itu meletakkan di meja dan mendorong gelas itu pada Luna.
β Terimakasih Dev. Tapi aku benar-benar tidak bisa minum.β tolak Luna dengan senyum.
Dev tampak menatap dalam, tersenyum, lalu menarik gelasnya kembali.
β sreet β tiba-tiba seseorang merebut dari tangan Dev.
β Biar saya saja yang meminumya.β ucap wanita itu yang tak lain adalah Zhaon. Dia sudah 6 hari menemani Luna di London dan dia memang menjalankan tugasanya untuk menjaga istri dari penolongnya.
Zhaon melirik Luna, lalu menghabiskan minuman itu dalam 1 kali degukan. Setelah selesai, Zhaon menaruh kembali gelasnya dan perii begitu saja. Tapi dia menyelipkan secarik kertas pada Luna.
Luna mengerutkan keningnya menatap punggung Zhaon yang menjauh. Lalu dengan cepat dia membacanya.
[ Nona, tuan muda menunggu anda di luar.]
__ADS_1
β Apa?β Luna membulatkan matanya. β Bukankah seharusnya 2 hari lagi dia ke sini.β
β Dev, sampaikan pada teman-temanku bahwa aku pulang duluan. Ada hal mendadak yang harus aku urus.β Luna mengemasi tasnya, lalu keluar dengan langkah cepat.
β Mana? Dimana suamiku?β tanya Luna cepat pada Zhaon sambil melihat ke sekelilingnya, mencari keberadaan mobil Mark.
β Itu nona.β sambil menunjuk. β Sejak kapan suamiku datang?
β Baru saja nona.β sambil melirik Luna yang tampak khawatir. β Maaf nona, kenapa anda terlihat khawatir?β
β Tidak apa-apa.β jawab Luna berusaha tersenyum, lalu dia mendekati mobil yang ditunjuk Zhaon dan membuka pintunya cepat.
Luna nengerutkan keningnya saat mendapati mobil yang bukanya kosong melompong.
" Hehe.. maaf nona. Sebenarnya saya hanya ingin membawa anda lebih cepat keluar dari tempat ini. Karena saya melihat nona tidak nyaman. " jelas Zhaon dengan senyum canggungnya.
Luna membuang nafas penuh kelegaan.
"Lain kali jangan melakukan hal seperti ini lagi. untung jantungku sehat. Jika tidak, sekarang aku sudah masuk UGD. "
ucap Luna seraya memasuki mobil.
Zhaon cengigisan, lalu dia juga memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan. Luna tampak menyandarkan kebelakang dan memejamkan matannya.
" Tadi aku khawatir jika itu benaran kamu. Tidak terbayangkan jika kamu marah karena memergokiku masih di club tengah malam begini.Tapi sekarang hatiku malah kecewa. Humm.. sayang, aku merindukanmu. "
" Ehem.. "
Zhaon berdehem dengan matanya melirik Luna di kaca spion. Berharap Luna akan merespon, tapi nyatanya Luna hanya diam dan tidak bersuara.
"Nona boleh saya menanyakan sesautu? " tanyanya memberanikan diri.
"Hemm. " jawab Luna dan matanya yang terpejam. Entah apa itu artinya, tapi Zhaon menyimpulkan jika itu persetujuan untuk membolehkan.
" Saya dengar nona dan tuan akan berlibur setelah kelulusan nanti. " Zhaon menjeda kalimatnya sambil melirik kebelakang. "Apakah nona sudah memikirkan kemana akan pergi?" lanjutnya.
"Entah. Aku msih bingung. "Luna menjawab seadanya.
Zhaon, menggigit bibirnya. Merasa usahanya gagal untuk mencari informasi.
"Jika boleh, saya bisa memeberi rekomendasi untuk nona. "
" Tidak perlu. " tolak Luna cepat.
"Nona kenapa terlihat tidak bersemangat untuk honeymoon ini? " tanya Zhaon lebih berani.
Luna mengerutkan keningnya. Berfikir sejenak, karena merasa Zhaon mengetahui banyak hal.
" Untuk apa aku bersemangat memabahas ini bersamamu. Aku hanya akan bersemangat saat membahasnya dengan suamiku. " jawab Luna dengan santai.
"Anda benar nona. " Jawaban Luna hanya bisa membuat Zhaon tertawa canggung dan tidak bisa berucap lagi.
" Aaa.. nona dan tuan sama saja. Sama-sama kejam. Hiks, kalimatnya menyakiti diriku yang jomblo ini. "
Bersambung...
.
.
Jangan lupa asupan Like dan komentya.
__ADS_1