
Cartagena, Colombia.
Setelah menghabiskan waktu selama 29 jam 46 menit perjalanan. Akhirnya mereka sampai di bandara Cartagena de Indias.
Turunnya dari jet, sudah ada beberapa orang pengawal menanti kedatangan mereka.
Semakin lama, Luna semakin penasaran orang seperti Mark Rendra ini sebenarnya. Dia sudah mencari tahu tentang dia. Tapi, tidak begitu banyak yang bisa didapatkan. Yang Luna tahu semenjak Ayah Mark meninggal, dia di terlantarkan oleh keluarga pamannya dan seluruh kekayaan Ayahnya jatuh pada pamannya.
Diam-diam Luna melirik Mark. Sibuk dengan bahasan panjang dalam hatinya.
Luna juga mendengar Mark dan Ibunya menghilang dan dia baru kembali ke keluarga Rendra di usia remaja. Jika di lihat dari hubungannya dengan Roland, sepertinya hubungan dia dan Pamannya juga tidak baik.
Sekarang Luna melihat begitu banyak orang yang terlihat tidak sembarangan, hal apakah yang dia kerjakan selama menghilang? Apakah mungkin dia seorang mafia?
Langkah Luna terhenti. Apa? mafia?
Luna tertegun dengan pemikiran sendiri. Mulutnya ditutup dengan kedua tangannya.
“Apa yang ku pikirkan?” Luna menepis pikirannya.
Mark melirik Luna dengan mengerutkan keningnya, “Kamu kenapa?"
Luna terkejut dan dengan spontan menoleh pada Mark, “Ah, aku tidak apa-apa.” jawab Luna dengan senyum yang canggung.
Di luar bandara pengawal sudah menyiapkan mobil untuk mereka. Mark dan Luna di mobil yang sama dan juga di kawal oleh dua orang pengawal, sementara Key dan Rangga di mobil lainnya.
Dalam perjalanan, Luna hanya diam. Dia masih beruasaha mencerna apa yang telah dia pikirkan tadi.
Apakah tebakannya benar?
Luna melirik Mark yang duduk di sebelahnya.
Tapi, selama ini dia belum pernah melihat Mark memegang senjata. Seorang mafia, setidaknya selalu sedia pistol di tubuhnya bukan?
Menatap dan mengamati seluruh badan Mark.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang, Luna? kenapa terus mengamatiku semenjak keluar dari bandara?” tanya Mark dengan santai, tapi pandangannya tetap lurus ke depan.
Apa dia bertindak terlalu jelas?
Luna memicingkan matanya sejenak, malu karena geraknya sudah terbaca dari awal.
“Aku tidak memikirkan apa-apa loh.” ucap Luna berusaha untuk menyanggah.
“Benarkah?" Mark menoleh padanya, "Apa sekarang kamu berfikiran aku seorang mafia?”
Luna terkejut, “Hahaha... tidak! tidak! tidak! aku tidak berfikiran begitu.” jawab Luna dengan senyum canggung.
Mark tersenyum jahat, “Hah, kamu terlalu banyak berbohong.”
Mendengar ucapan Mark yang seperti itu, Luna merasa tidak senang.
“Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Kamu benar, aku mencurigai bahwa kamu seorang mafia. Jadi, mulai sekarang aku harus sangat berhati-hati denganmu loh.”
“Akhirnya kau mengatakannya.” Mark sekedar mendengus.
Luna juga mendengus, "Karena aku sudah mengatakannya seharusnya kau juga memberiku jawaban. Apakah tebakanku benar?” tatapannya menyelidik.
Mark mendekati Luna, dengan cepat gadis itu memundurkan tubuhnya.
“Kamu mau apa?”
Mark kembali tersenyum jahat, “Luna, aku ini lebih kejam dari mafia loh. Ingat itu, jadi kamu tidak boleh bermain-main denganku.” setelah kalimatnya, dia kembali menarik badannya duduk seperti semula.
Kalimat Mark, mengenai tangkai hatinya. Dia yang bermain-main?
“Aku tidak pernah bermain-main denganmu. Tapi, kamulah yang datang ke keluargaku dan menghancurkan semuanya. Jika aku bisa, sampi matipun aku tidak ingin berhubungan denganmu.”
Mark tersenyum dingin, "Kamu masih belum juga sadar. Masih saja merasa keluargamu bersih. Kamu tidak tahu dosa apa yang telah di lakukan oleh orang tuamu.”
Luna menggenggam tangannya. Menatap Mark dengan mata nanarnya, “Katakan! katakan padaku, dosa apa yang telah orang tuaku lakukan padamu?”
“Tiba saatnya, biar orang tua mu sendiri yang mengakui dosanya itu.”
Luna menggertakkan gigi, "Ckck, Kamu selalu mengatakan hal tidak jelas dan tidak ku mengerti. Kamu selalu memberiku teka-teki. Merasa paling benar, dan memperlakukanku seperti anak dari musuhmu. Jika kamu memang yakin orang tuaku telah berdosa padamu, kenapa tidak langsung saja membunuhku? Bukankah nyawa seorang manusia tidak lebih berharga dari nyawa seekor semut bagi mafia sepertimu?” ucap Luna dengan menahan emosinya.
“Kamu benar, tunggu saja waktunya.” jawab Mark dengan singkat.
Luna merasa sangat kesal mendengar jawaban Mark. Dia menunduk dan menggigit bibirnya untuk menahan amarah.
Suasana menjadi hening, sepanjang perjalanan begitu banyak bangunan-bangunan tua yang menarik.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Mereka berhenti di sebuah bangunan tua yang begitu luas dan juga di lengkapi dengan penjagaan yang ketat.
Pengawal membukakan pintu mobil untuk Luna dan Mark. Di belakang, mobil Rangga dan Key juda sudah datang.
__ADS_1
“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi tempat ini, kamu masih saja menjaganya dengan baik.” Key berjalan mendekati Mark.
“Tentu saja, ini masih menjadi tempat terbaik kita.” jawab Rangga.
Mereka langsung berjalan memasuki bangunan tersebut. Dua orang pengawal membukakan pintu untuk mereka. Ketika masuk, suasana di dalam ruangan jauh berbeda dengan di luar.
Di luar hanya terlihat seperti bangunan tua yang tak terurus, tapi di dalamnya sangat mewah dengan dekorasi ruangan ala Italy.
“Luna bagaimana menurutmu setelah memasuki bangunan ini?” tanya Key.
Luna melihat ke arah Key, “Ini adalah hal yang wajar untuk memanjakan diri sendiri.”
“Eh.. apa kamu tidak terkejut.” tanya Key kecewa.
“Tidak. Akan lebih banyak hal lain yang mengejutkan ku.” jawab Luna dingin.
“Haha.. sudah, sudah. Kita baru saja sampai dar perjalanan yang begitu melelahkan, lebih baik kita menikmati beberapa hidangan terlebih dahulu.” Rangga berusaha memecahkan suasana yang tiba-tiba dingin dan canggung.
Beberapa orang pelayan datang untuk membawa mereka ke ruang makan.
“Mari, Tuan dan Nona."
Di meja makan sudah ada berbagai macam makanan mewah.
Ponsel Mark bergetar, mendengar itu Rangga dan Key saling melirik
Mark menjawab panggilan.
“Apakah sudah ada perkembangannya?” tanya Mark langsung saja.
“Sudah Tuan, dia sudah mulai membuka mulut.”
“Baiklab, aku akan segera ke sana?” Mark munutup telepon.
“Apa kita langsung ke sana?” tanya Key dengan nada kecewa.
Mark berdiri, “Iya, jika kamu keberatan kamu boleh tidak ikut. ” Mark langsung pergi.
Rangga langsung mengikuti Mark.
“Bye-bye makanan yang berhargaku.” Key juga bergegas mengikuti Mark dan Rangga.
“Tunggu aku!”
Luna terkejut, “Eh ini, terus aku bagaimana?” tanya Luna bengong.
“Baiklah.” ucap Luna dengan patuh.
***
Mark, Key dan Rangga telah sampai di sebuah bangunan sangat tua. Pengawal membukakan gerbang untuk mereka. Tempat ini terpencil dan kelihatan sangat tidak terurus.
Tapi inilahmarkas terbaik. Tidak akan banyak orang mengetahuinya.
Mereka keluar dari mobil, seseorang menghamprinya.
“Apakah dia sudah mengatakan sesuatu?” tanya Mark.
“Belum Tuan, dia bilang hanya ingin berbicara dengan anda saja.”
“Baiklah.”
Mereka memasuki sebuah ruangan, dan di ruangan tersebut dari kaca dua arah. Terlihat seorang laki-laki yang sudah berlumuran darah, tangan terikat tapi dia tetap terlihat tenang.
“Aishh..” Key berdecih kesal.
“Kalau kamu tidak sanggup melihat darah, keluar sajalah.” ejek Rangga.
“Kamu jangan begitu. Aku hanya merasa sangat marah ketika melihatnya, aku sangat ingin melayangkan tinjuku mengingat apa yang telah dia lakukan.”
Rangga mengangguk untuk membenarkan, “Pembunuh level Jia Ming ini adalah orang yang tidak mudah untuk di tangani.”
“Jelas saja, dimana dia bersembunyi selama ini? hingga baru ini kita baru bisa menangkapnya.” lanjut Key.
Tatapan Mark semakin dingin, “Kemanapun dia pergi, aku pasti akan menemukannya. Aku akan mengirimnya ke neraka dengan tanganku sendiri.” setelah kalimatnya, dia berjalan menuju ruang introgasi tersebut.
"Mark, dia sangat pandai memainkan emosi seseorang, kamu jangan sampai terpancing.” Key mengingatkan.
“Jangan Khawatir.”
Mark memasuki ruangan tersebut, sementara Key dan Rangga memantaunya di balik ruangan.
Ketika Mark masuk, Jia Ming langsung menoleh. Dia tertawa rendah, "Hey bocah, Kita bertemu lagi.” Jia Ming sangat santai.
Mark hanya menatapnya, lalu duduk berhadapan dengan Jia Ming tersebut.
Mark tidak berkata apapun, dia hanya memandang Jia Ming selama 10 menit tanpa berkata sepatah katapun.
__ADS_1
“Apa yang Mark lakukan, apakah metode ini akan berhasil?” Key menyipitkan mata.
“Ini metode yang baik untuk membuat orang tidak nyaman dan kesal.”
“Tepat sekali, penyerangan mental terlebih dahulu biasanya akan sangat membantu saat mengintrogasi. Tapi, ini di gunakan untuk orang yang menyembunyikan kesalahannya, sedangkan kita tidak membutuhkan pengakuannya, semua kesalahnnya sudah sangat jelas. Yang kita butuhkan hanya informasi mengenai Jhon dari dia.” jelas Key.
“Key, apa sekarang ku meragukan Mark? dia melakukan ini, pasti karena dia sudah punya senjata untuk menyerang Jia Ming. Kita Lihat saja dulu.” ucap Rangga.
“Baiklah."
“Hey bocah, apa yang kau lakukan? Kenapa hanya memandangiku saja? bukankah kamu ingin menanyaiku?”
“Jia Ming, apa kamu mempunyai seorang anak?”
“Haha, kamu kemari hanya untuk menanyaiku hal ini? cihh..dasar bodoh.” Jia Ming sangat tenang dan meremehkan Mark.
“Kamu jawab saja, aku belum mulai mengintrogasimu, kenapa sudah emosi begini?”
“Apa kamu buta? dari sisi mananya aku kesal? Haha.. tidak ada gunanya kamu menanyai tentang keluarga kepada orang sepertiku, aku tidak mempunyai orang yang ingin ku lindungi di dunia ini.”
“Benarkah?" Mark tersenyum penuh makna, " Jika begitu kenapa kamu melindungi Jhon? Kenapa kamu tidak mau membuka mulutmu tentangnya?”
"Kamu hanya seorang bocah. Aku kasihan padamu, orang seperti Jhon bukanlah tandinganmu. Lebih baik kamu menyerah saja.”
Mark hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“Haha.. kamu tatu, melihat keputus asaanmu seperti ini, mengingatkanku pada Ayahmu sebelumnya. Haha.. kamu tahu? aku sudah beberapa kali mengingatkannya, tapi dia tetap saja melawan. Hingga akhirnya aku mengambil nyawanya dan mengirimya ke akhirat. Hahaha..” suara tawa Jia Ming menggelegar.
Mark mengangkat kepalanya, dan tersenyum,
“Kamu jangan senang dulu. Sekarang kita akan lihat siapa yang akan putus asa. Aku ada hadiah untukmu.” ucap Mark sambil memberikan selembar foto dengan posisi terbalik.
Jia Ming langsung berhenti tertawa, "Hal apa yang ingin kamu perlihatkan padaku?" dia menatap kertas foto tersebut di atas meja. Melihat Mark, dan mark mengisyaratkan untuk mengambilnya.
Kemudian Jia Ming membalikkan foto itu, raut wajahnya langsung tegang, "Da-da-dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Jia Ming dengan suara bergetar.
“Apa kamu pikir aku perlu menjawab pertanyaanmu?” Mark tersenyum.
Sementara di balik ruangan Rangga dan Key juga penasaran.
“Foto apa yang di berikan Mark, hingga bisa membuat Jia Ming berekspresi seperti itu?” tanya Key.
“Entahlah. Aku juga penasaran. Tapi, seperti yang ku katakan sebelumnya, kita tidak perlu meragukan Mark.” Jawab Rangga.
“Kamu benar. Sekarang aku melihat dia seperti seorang jendral yang bijaksana. Dia mengintrogasi tanpa kekerasan fisik melainkan penyerangan mental bahkan kepada orang seperti Jia Ming ini.”
Ekspresi Jia Ming lansung berubah seperti tatapan ingin membunuh, tapi Mark terlihat begitu santai.
“Jia Ming, jangan kamu pikir aku ini sebodoh lawan Jhon sebelumnya, dimana orang tersebut masih bisa kamu tangani dengan mudah. Sekarang Jhon akan hancur di tanganku. Selama ini, dia hanya belum menemukan lawan yang sebanding.”
Mark melanjutkan, “Meskipun kamu seorang pembunuh yang kejam, tapi di foto ini kamu terlihat sangat lembut. Yang pastinya anak itu sangatlah berharga bagimu.”
Jia Ming tertawa dengan keras, “Haha.. kamu memang bocah bodoh, tapi merasa pintar. Anak itu tidak berarti sama sekali bagiku. Jadi kamu tidak bisa mengancamku dengan ini.”
“Benarkah?" Mark sangat tenang, "Kalau begitu coba kamu lihat ini!” ucap Mark sambil memperlihat sebuah video seorang pria berusia 19 tahunan yang berjalan di kampus dan orang-orang Mark meengawasinya.
“Apa yang akan kamu lakukan padanya?” tanya Jia Ming dengan penuh kemarahan dan meronta.
"Apakah Jia Ming mempunyai seorang anak? Aku sudah lama menyelidikinya, tapi tidak menemukan jejak tentang keluarganya. Mark selama ini memang sangat bekerja keras” ucap Key.
Rangga hanya diam. Kenapa dia tidak meminta bantuannya sama sekali mengenai ini?
“Aku tidak akan melibatkan anak ini atas dosa yang kamu lakukan, asalkan kamu bisa bekerjasama denganku.” ucap Mark.
Sial bagaimana dia bisa mengetahui tentang anaknya? Padahal dia sudah menyamarkan identitas dan mengirimya ke panti asuhan sejak kecil. Ketika remaja, dia mengirimya ke Jepang untuk belajar.
Jia Ming hanya menemuinya sesekali saja dengan identitas tukang sapu di asrama. Anak itu tidak mengetahui bahwa dia adalah ayahnya. Jhon juga tidak mengetahui ini, tapi bocah ini malah bisa menemukannya?
“Heh, aku tidak akan pernah bekerjasama denganmu. Apa Kamu tahu, saat Jhon mengetahui orang-orangnya sudah tertangkap maka dia tidak akn menerima orang itu lagi, jika kamu mengirimku padanya, maka dia akan mengirimkan mayatku padamu.” jelas Jia Ming.
“Kamu lebih baik membunuhku sekarang dan kau jangan pernah menyakiti anakku sedikitpun.” teriak Jia Ming.
“Haha.. bagaimana mungkin semudah itu. aku akan membuatmu merasa lebih baik mati dari pada hidup dengan waktu yang lama. Soal nyawamu, kamu tidak bisa tawar-menawar denganku.” ucap Mark dengan nada keras.
Mark mendekati Jia Ming dan menyuntikkan sebuah cairan ke lengan Jia Ming,
“A-apa yang kamu lakukan?”
“Nikmati saja dulu. Aku tidak akan memaksamu membuka mulut, karena kamu sendiri yang akan memohon untuk bertemu denganku. Aku akan datang 2 hari lagi. Aku harap kamu bisa sabar menungguku selama dua hari ini.” Mark langsung keluar.
“Bocah berengsek! apa yang kamu suntikka padaku?”
Mark menghentikan langkahnya, "Kamu akan segera tahu. Oh iya, aku akan mengirimkan video anakmu di hari berikutnya. Jadi, siapkan saja dirimu tentang apa yang akan ku lakukan padanya." Mark menyeringai jahat
Jia Ming sudah berkeringat dingin dan terjatuh dari kursi karena efek dari cairan yang di suntikkan oleh Mark.
“Bocah berengsek! aku menyesal tidak membunuhmu waktu itu.” lirih Jia Ming yang sudah tergeletak di lantai sambil menahan sakit.
__ADS_1