
Sementara itu Luna di kamarnya sedang sibuk membaca daftar tamu yang hadir di pesta Nyonya Liang Xi.
Nyonya Liang Xi sudah banyak membantunya, dia juga memberi dia daftar tamu yang akan hadir. Dia harus melihat dan mengingat mereka agar lebih memudahkannya untuk mendekati mereka. Meskipun orang tuanya, orang yang sangat dihormati, tapi banyak juga yang tidak menyukainya dan sekarang mereka juga tidak memiliki apa-apa lagi.
Luna juga hanya mendapat bagian kecil saja, sementara si berengsek itu memiliki sebagian besar saham Lixing. Dunia bisnis ini kejam, mereka hanya akan menjilat kepada yang lebih berkuasa, jadi aku harus berhati-hati.
Luna terus membolak-balik dan mengingat satu persatu, dan ada di satu halaman yang menarik perhatian Luna.
“Camelia Aliester? hah, aku hampir saja melupakan sepupuku yang satu ini. Ini adalah pesta kelas atas, yang hanya akan di hadiri oleh wanita-wanita kelas atas di negara ini.
Tapi, tak di sangka aku akan bertemu dengannya dengan keadaanku yang seperti ini."
Luna menghela napas berat, "Pesta ini akan menjadi sedikit menyebalkan bagiku, semoga saja tidak berjumpa dengan rubah licik ini.” ucap Luna sambil menutup daftar tamu itu.
Luna berdiri dan meregangkan badannya. Hari ini cukup melelahkan.
Luna bergegas ke kamar mandi, dia membersihkan diri dengan tenang sambil bernyanyi kecil.
Selesai mandi, perut Luna berbunyi.
Meskipun perut sendiri, tapi Luna kesal. Dia segera bergegas mengenakan piyamanya dan mengeringkan rambutnya.
Setelah selesai, Luna segera ke bawah dan menuruni tangga. Suasana sedikit gelap karena ada beberapa lampu yang dimatikan. Luna menggunakan ponselnya untuk menambah pencahayaan.
“Kenapa aku jadi merinding begini, apa karena ini sudah tengah malam?”
Luna menghentikan langkah sejenak sambil mengusap tangannya.
“Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.” dia kembali semangat dan berjalan dengan cepat menuju dapur.
Setibanya di dapur, dia menyalakan semua lampu dapur , kemudian dia membuka kulkas.
“Begitu banyak buah, tapi kenapa aku malah tidak berselera.” ucap Luna dan menutup kulkas
“Oh iya aku ingat, bi Ina selalu men-stok mi instan." dengan cepat menuju tempat penyimpanan.
“Ini dia!” Luna bahagia ketika menemukan mi isntan tersebut.
Dia langsung menyiapkan bahan-bahanya, dau bawang, bawang merah telur dan sosis. Setelah itu dia langsung memanaskan air dan merebus mi tersebut.
Beberapa saat kemudian Luna sudah selesai memasak mi instan. Tidak lupa menghiasnya dengan potongan sosis yang Lucu dan di taburi dengan cabai bubuk.
“Sempurna." Luna puas dengan hasil masakannya.
Dia mengambil sumpit dan meletakkan di meja dengan rapi, “ Aku perlu mengambil gambarnya terlebih dahulu.”
Cekrek, cekrek, cekrek!
Selesai mengambil gambar, Luna jadi teringat Papanya.
“Pa, biasanya kita makan mi instan bersama, sekarang Luna sendirian. Semoga Papa dan Mama sehat-sehat saja di sana.”
Luna mengambil sumpitnya dan mulai makan.
“Bagaimana ini sangat lezat? ternyata aku sudah cukup lama tidak merasakan kelezatan seperti ini.”
Luna melanjutkan suapan keduanya. Tiba-tiba....
"Apa yang kamu lakukan di dapur tengah malam begini?”
Luna terkejut dan membuatnya tersedak.
“ Aakh.mluhuk uhuk.” dia melihat ke sumber suara, ternyata itu adalah Mark!
“Apa kamu buta?! tidak lihat aku lagi makan, mengagetkan saja.” teriak Luna dengan kesal.
“Wanita macam apa tengah malam begini menyelinap ke dapur dan mencuri makanan.”
Si brengsek ini kenapa selalu memulai permasalahan dan membuatku kesallll. Tapi, aku harus bisa mengontrol diri.
“Haha... Tuan, aku masih penghuni rumah ini. Mengapa bisa kau mengatakan aku menyelinap?” ucap Luna dengan menahan kesal.
“Tapi, statusmu sekarang hanya penumpang.” ucap Mark dengan nada menyepelekan sambil mengambil sebotol minuman di kulkas.
Aiisshh! si brengsek ini memang sangat senang menindasnya. Luna sangat ingin mencincang-cincang daging pria ini dan menjadikannya makanan ikan.
Luna sangat kesal, tapi dia tetap berusaha menghadapi Mark dengan tenang.
“Tuan, kamu jangan menindas gadis imut seperti aku lho.” sambil berkata, Luna sambil memasang mode imut.
Mark yang sedan minum tersedak melihat Luna yang memasang mode imut seperti itu.
“Jangan lakukan itu. Tidak cocok dengan kamu yang galak."
“Hehe...” Luna hanya menggaruk kepala. Berusaha untuk tetap berprilaku imut.
“Oh iya, apa yang kamu makan?" Mark mendekat, lalu merebut mi instan Luna.
“Aaaa.. kamu ini, ini punyaku! Aku sudah bersusah payah membuatnya.” teriak Luna sambil berusaha merebut kembali dari Mark.
Mark menjentik kening Luna.
"Aaww!” Luna kesakitan dan menahan amarahnya.
“Kamu ini, coba ku lihat ini hanya mi instan, kenapa pelit sekali.” ucap Mark sambil memakan mi tersebut.
Si berengsek ini benar-benar pici!, bahkan mi instan saja di ramapasnya. Oh mi instanku yang berharga.
Sangat kesal dan perasaan tidak ikhlas di hatinya.
“Ini lumayan juga. Kamu masih mau?” tanya Mark sambil menyuapi Luna.
Luna menutup mulutnya dengan tangan,
__ADS_1
“Aku tidak mau makan dengan sumpit yang sama denganmu.” sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa salahnya, aku saja menggunakan sumpit yang sudah kamu pakai tidak keberatan."
"Itu kamu yang mau, tapi aku tidak!”
“Ini bukan apa-apa, sebentar lagi kita akan bertunangan setelah itu menikah kita bisa melakukan lebih dari ini.” goda Mark dengan ekspresi yang menyebalkan menurut Luna.
“Mark, aku rasa kamu perlu ke dokter, bongkar otakmu dan buang pikiran kotor mu itu.” ucap Luna dengan kesal dan berdiri.
“Begitu saja marah, aku hanya bercanda.” Mark menarik Luna kembali untuk tetap duduk.
“Kamu ini apa-apaan?”
“Ayolah makan mi ini denganku.”
Eh, kenapa tiba-tiba dia seperti ini?
Luna sangat terkejut dengan sikap Mark yang tiba-tiba ini. Dia tetap berusaha untuk tidak terpancing.
“Aku tidak mau lagi, kamu sudah merusak selera makanku.” Luna cemberut dan mengalikan wajahnya.
“Cobalah, pasti akan lebih lezat jika aku yang menyuapimu.” paksa Mark.
“Mark, kamu jangan kekanak-kanakan. Aku bilang tidak, ya tidak!” tegas Luna sambil menepis tangan Mark.
Mark tidak marah, dia hanya mengangkat kedua bahunya, “Baiklah, kalau begitu kau temani saja aku makan.”
Si brengsek hari ini bersikapa aneh saja. Ayolah, jangan begini. Luna tidak biasa dengan sikap dia yang seperti ini. Luna terus memperhatikan Mark.
Mark begitu menikmatin mi instan itu dengan lahap.
“Enaaakkkk.”
Mark telah selesai dengan suapan terakhirnya.
“Ayolah, ini hanya mi instan kenapa kamu makan dan berekspresi berlebihan seperti ini.” Luna menggelengkan kepalanya melihat Mark yang berlebihan dalam menikmati semangkuk mi instan tersebut.
“Tapi, mi instan buatanmu benar-benar enak, loh. Lain kali kamu harus membuatkan lebih banyak untukku.”
“Tidak aka nada lain kali, ini terakhir kalinya.” tolak Luna dengan cepat.
“Baiklah, jika kamu tidak mau aku akan selalu mengambil punyamu." Mark tersenyum, Luna memutar bola matanya ke langit. Mengesalkan!
“Aku akan memakan mi ini tanpa sepengetahuanmu.”
“Baiklah, karena kau sudah mengatakan rencanamu. Aku akan selalu memantaumu. Jadi tidak aka nada yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanmu.”
“Kamu ini apa-apaan, mana boleh begitu?!"
“Boleh saja, siapa suruh kamu tidak mau berbagi denganku.”
Baiklah, baiklah. Hanya akan kehilangan banyak energy jika terus meladeni si brensek ini. Lebih baik menyetujui apa saja yang dia ucapkan.
“Baiklah, lain kali aku akan membuatkan lebih banyak mi untukmu.” ucap Luna.
“Itu baru benar.”
***
“Tuan muda, mengenai lahan yang dipegang Tuan Ong, dia masih tetap kekeh dengan syaratnya. Um, kalau boleh kami tahu, apa syarat Tuan Ong itu?” tanya Nick sebagai ketua tim yang menangani proyek.
Oo... bagus Tuan Ong, tidak mengatakan kepada mereka syaratnya. Sudut mata Marka sedikit bergerak.
“Tuan Ong adalah orang yang keras kepala, namun sangat mudah tergoda denga uang. Masalah ini biar aku yang selesaikan, aku akan menemukan orang yang di maksud Tuan Ong itu terlebih dahulu.”
“Tapi, Tuan...”
“Tidak apa-apa, aku tidak akan mengalahkan kalian.”
Sepertinya ini proyek penting sehingga si brengsek ini. Dia sampai reela turun tangan sendiri. Hmm..tapi tunggu! proyek ini? aku ingat, aku sudah membaca sebelumnya. Ini memang proyek yang besar. Aku rasa, aku harus bisa menangani proyek ini.
Luna terus memperhatikan, lalu berkata, “Kalau semuanya tidak keberatan saya ingin mencoba untuk mengambil proyek ini.”
Semua orang menoleh.
“Apa? Nona Luna mau mencobanya? Dia belum pernah menangani proyek apapun dan sekarang ingin memangani proyek yang besar ini?” bisik-bisik di ruang rapat.
Kucing kecil ini makin lama makin besar nyali juga.
Mark melirik Luna dengan tatapan tajamnya.
“Diam, diam..jangan ribut.” Rangga berusaha menenangkan.
“Luna sayang, ini bukan proyek yang bisa kamu jadikan percobaanmu. Kamu merapikan dokumen-dokumen di mejaku saja sudah cukup.” Mark melebarkan senyumnya dengan kalimat itu.
Sayang? Kata yang romantis tapi sangat menyakitkan telinga jika keluar dari mulut si brengsek ini.
Luna tetap tenang, "Mark, kita sekarang sedang rapat loh. Jangan begini." Luna membalas seolah mereka ini memang pasangan yang sangat akur. Senyumnya tidak kalah ramah.
Laku dia melanjutkan, "Aku tidak enak jika hanya menikmati kekayaanmu saja. Akan lebih menyenangkan jika aku ikut serta dalam beberapa proyek dan aku juga bisa belajar dari ini.”
“Aku setuju dengan Nona Luna, akan lebih baik dia belajar. Nona Luna adalah putri dari tuan Aliester mereka pasti mempunyai kemampuan yang tidak jauh beda, jika di berikan kesempatan kita bisa melihat kemampuan Nona Luna.” jelas dari ketua tim proyek.
Oh Tuhan! ternyata ketua tim yang mendukungnya. Luna semakin bersemangat.
Ketua tim benar-benar sangat penasaran, apakah Luna mempunyai kemampuan seperti Tuan Alister?
“Aku mengerti dengan yang Nick maksud, tapi ini proyek besar. Jika ingin belajar kita bisa memberikan proyek yang kecil terlebih dahulu. Proyek ini bukan lahan yang bisa di jadikan untuk percobaan apalagi main-main” tegas Mark.
Semua diam.
Sial! si brengsek ini sepertinya memang tidak akan membiarkannya ikut serta.
Huh, agaimana bisa dulu dia berkata untuk mengambil sendiri Lixing ini jika pada akhirnya tidak memberinya kesempatan, apa gunanya. Sepertinya memang harus sedikit bermain trik licik.
“Baiklah rapat kali ini sampai di sini saja.” ucap Mark.
__ADS_1
Peserta rapatpun mulai bubar. Tapi, Luna tetap duduk dan melihat Mark dengan tatapan yang tidak senang.
“Kenapa kamu memandangiku seperti itu?”
“Huh!” Luna memalingkan wajahnya dan berjalan keluar meninggalkan Mark.
Bagaimanapun dia harus bisa mengambil proyek ini. Luna sudah bertekad.
Luna pergi ke toilet karyawan dan memasuki salah satu toilet tersebut. Tiba-tiba di luar datang beberapa orang dari luar dan mereka bergosip.
“Tidak di sangka Tuan muda tidak mengizinkan Luna untuk ikut andil dalam proyek besar ini.”
“Iya, aku rasa Tuan muda sudah mengetahui kalau Luna tidak akan mampu menangannya.”
“Hah,dia hanya gadis manja yang bodoh, mana bisa menangani proyek sebesar ini."
“Ketua tim sudah memberikan suara untuknya, tapi Tuan muda masih saja tidak setuju. Sungguh memalukan.”
“Jika aku jadi dia pasti sudah mau mati karena malu. Calon tunangan sendiri tidak mengizin untuk menangani proyek ini."
“Haha... dia gadis bodoh mana ada rasa malu. Jika bukan karena masih menghormati ayahnya. Aku sudah tidak sudi lagi memangginya dengan sebutan Nona.”
“Jangan begitu, kita masih harus menghormatinya. Haha...”
Luna yang mendengar itu merasa sangat marah.
Ternyata mereka sudah mulai berani menghinanya, serta Papanya. Dasar tidak tahu terima kasih.
“Haha... aku juga, tapi kenapa aku kenapa punggungku terasa dingin? seperti ada yang memandangi kita dengan marah." Ucap salah satu dari mereka.
“Iya aku juga, lebih baik kita segera pergi.” mereka keluar dengan bergegas.
“Dasar! itu karena kalian terlalu banyak dosa. Wanita-wanita ini sangat menyebalkan, berani sekali menggosipkan ku." bahkan bir Kuna menggerutu.
“Tapi, ini juga salah si Mark brengsek. Dia memang tidak berprasaan. Gara-gara dia orang-orang jadi memandang enteng diriku.”
***
Malam harinya Luna sudah dalam perjalanan menuju pesta di villa Nyonya Liang Xi. Dia membawa pengawal kepercayaan Papanya dulu dan sekarang juga masih bekerja dengan Mark.
Sebelum berangkat Luna sudah membujuk pengawal itu agar tidak melaporakan kepada Mark kemana merka akan pergi. Meskipun sebenarnya Luna kurang percaya kalau pengawal tersebut tidak akan melapor, tapi dia tidak ada pilihan lain.
Sesampainya di vila, Luna menyerahkan undangan ke pengawal yang berjaga. Ya, pesta ini memang tidak sembarangan orang punya kesempatan ini ikut serta di dalamnya.
Nyonya Liang Xi sedang sibuk berbincang dan menyapa tamu. Ketika dia melihat Luna, dia langsung menyambut Luna dengan hangat.
“Luna, sudah datang? cantik sekali.” Dia menghampiri Luna dan memeluknya.
“Makasih lho, Bibi.” Luna tersenyum lembut.
“Sebentar lagi pestanya akan mulai. Sini, Bibi akan secara resmi mengenalkan kamu sebagai anggota baru. Tapi, sekarang Bibi harus menyapa tamu lainnya dulu. Kamu nikmatilah pestanya ya, sayang.” Nyonya Liang Xi menyentuh dagu Luna dengan lembut.
Luna mengangguk, “Baik, Bibi."
Ini pertamakalinya bagi Luna menghadiri pesta kelompok wanita kelas atas seperti ini. Biasanya dia hanya mengkikuti Papa dan Mamanya saja untuk menghadiri pejamuan bisnis, dan pesta mewah lainnya.
Jadi, dia merasa sedikit canggung apalagi dia juga tidak banyak mengenal orang-orang yang hadir.
Luna mengambil minum dan tiba-tiba sesorang datang.
“Luna?”
Luna melihat ke rah sumber suara, "Nindy."
Mereka tertawa dan langsung berpelukan.
Nindy merupakan adik Key Wu, pemilik perusahaan Cour Media. Dia merupakan teman masa masa kanak-kanak Luna. Luna berteman dengan Nindy dan Key, tapi tidak begitu dekat.
“Tidak di sangka kita bisa bertemu di sini. Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari kak Key." ucap Nindy dengan bersemangat.
“Tentangku? Memangnya apa yang Key katakana padamu?” Luna sedikit bingung.
Ouppss, aku ini kenapa bisa keceplosan begini?
Nindy tertawa canggung, “Maksudku, karena perusahaan kak Key sering menerbitkan berita tentangmu. Jadi, dia juga menceritakannya padaku.” jelas Nindy berusaha untuk berdalih.
“Oh begitu.” ucap Luna dengan senyum yang masih mencurigai Nindy.
Berdalih begini, dia tidak terlihat bodoh bukan? Nindy juga tidak merasa aman.
“Kamu baru pulang dari Italy?"
Nindy merasa lega. Sepertinya Luna tidak curiga.
“Iya, aku baru pulang dalam beberapa minggu ini. Oh iya, aku dengar kamu akan segera bertunagan. Aku melihat berita mu, dan... um, calon tunanganmu sangatlah tampan, loh.” ucap Nindy dengan penuh kekaguman.
Hahaha, iya, iya tampan tapi sangat picik! Luna hanya tersenyum.
“Benarkah?”
“Tentu saja. Sebelum pesta pertunanganan mu, kamu harus mengenalkannya padaku, ya?” pinta Nindy tiba-tiba.
“Baiklah, sepertinya kamu hanya tertarik dengan calon tunanganku.” Luna mencibir.
“Iya, jika boleh pinjamkan dia padaku sehari saja.” balas Nindy dengan penuh tawa.
Luna tertawa, "Akan ku pertimbangkan."
Tiba-tiba seseorang dengan sombong memasuki pembicaraan mereka,
“Hei yo, bukankah ini nona Luna Aliester?” nada ini seperti mengejek.
“Aduh, siapa sih yang mencari gaduh sebelum pesta resmi di mulai?”
__ADS_1
Luna dan Nindy lansung melihat ke sumber suara.
Melihat orang itu Luna menjadi dingin dan ekspresi wajahnya berubah.