TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TURTLENECK


__ADS_3

Jangan lupa Like sebelum membaca,


koment setelah membaca.


Happy Reading...


-------------------------------------


Pagi hari di dalam dressroom, tampak Luna sedang memandangi refleksi dirinya di depan kaca. Dia sudah mengenakan gaun berwarna soft pink, namun dia belum merias diri. Di depan kaca yang menampilkan seluruh tubuhnya itu, Luna mendelik lebih mendekatkan diri di kaca.


“Bekas kissmark ini, masih saja terlihat meski aku menggunakan gaun turtleneck sekalipun.”


Luna mengusap bekas merah itu dan menarik turtleneck yang sudah cukup tinggi menutupi lehernya. Tapi masih saja tidak bisa menutupinya.


“ Huuh.. semalam Mark sangat posesif dan agresif, hingga meninggalkan begitu banyak bekas merah. Ternyata rindu bukan hanya tidah baik untuk hati, tapi juga bagi tubuhku ketika bertemu. Untung masih bisa mengontrolnya, hingga tidak terjadi hal yang lebih jauh lagi.” Luna menghentikan usahanya menutupi bekas merah itu dan memandangi dirinya sambil menggelengkan kepala seolah pasrah.


“Tapi.. aaa. Ini tidak bisa dibiarkan juga. Aku bisa gila jika teman-temanku melihatnya. Selama ini mereka selalu berfikir jika aku adalah wanita baiik-baik daj juga masih single.”


Gerutu hatinya sambil bergerak mencari gaun dengan turtleneck yang lebih tinggi.


‘ krek ‘ Mark membuka pintu. Dia masuk dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia melihat Luna yang tampak sibuk memilih gaun dengan mengerutkan keningnya.


“Sayang kamu sudah selasai. Pakaianmu sudah ku siapkan di tempat biasa.” Luna berucap dengan matanya dan tangannya yang masih sibuk memilih gaun.


“Kenapa sibuk sekali, begitu banyak pakaian membuatmu pusing?” tanya Mark sambil menuju ke pakaiannya yang yang sudah Luna siapkan. Mengambil dan mengenakannya satu persatu.


“Tidak sayang, aku hanya mencari gaun yang pas saja.”


“ Kenapa tidak ada turtleneck yang lebih tinggi.”


Pilih-pilih, hingga berpindah ke bagian lainnya. Gelisah hingga menggigit jemarinya.


“Sayang..” Panggil Mark yang bertandakan dia meminta Luna untuk membantunya merapikan pakaiannya. Karena hai itu memang selalu Luna lakukan ketika mereka bersama. Meski sebelum menikah Mark melakukan semuanya sendiri, tapi bermanja di pagi hari dengan sang istri dengan hal sederhana ini sangatlah manis.


“Iya sayang.” Luna segera mendekati Mark, sadar akan kewajibannya.


“Sayang, kamu di sini berapa hari?” Luna mengambil dasi dan mamasangkannya dengan telaten pada Mark.


“Kamu mau aku berapa hari di sini?” Mark malah bertanya kembali, hingga membuat Luna tersenyum. Namun tiba-tiba Mark terfokus pada turtleneck yang di kenakan Luna.


“Kenapa menutupinya?” Mark memegangi leher Luna, sorot matanya terlihat tidak senang.


“Terlalu banyak sayang…” rengek Luna dengan tangannya yang sudah hampir selesai memasangkan dasi.


“Kenapa? Apa kau malu? Ini adalah maha karyaku, ini ku buat hanya utukmu.” Mark manarik tubuh Luna, menyibak rambut Luna yang tergerai dan menurunkan turtleneck yang menutupi maha karyanya itu.


“Bukankah ini sangat indah, hanya kau seorang yang mendapatkannya. Seharusnya kau bangga.” Sambil mengusap dan mencium kembali di bekas yang sama.

__ADS_1


“Sayang, mana boleh seperti itu.” Luna mendorong tubuh Mark, berusaha melepaskan diri.


“Apa istriku tidak suka?” Menatap Luna tajam, melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Luna.


“Bukan seperti itu.” Luna berucap dengan lembut, lalu dia mengambil jas Mark dan memasangkannya.


“Aku bisa mengenakannya sendiri.” Mark mengambil jas itu dari tangan Luna, menolak bantuan Luna dengan geliat merajuknya. Dia tidak menatap Luna sama sekali dan hanya memandangi dirinya di kaca sambil mengenakan jasnya.


“ Cih, apa dia selalu menutup dengan rapat setiap aku membuat mahakaryaku untuknya? Itu adalah mahakarya cintaku yang hanya ku berikan padanya seorang. Kenapa tidak menghargainya sama sekali. Itu bahkan tidak bisa dihargai dengan karya lukisan jutaan dollar sekalipun. Cih, aku benar-benar terlalu memanjakannya.”


Sudut bibir atas Mark terangkat seiring dengan celoteh panjang dalam hatinya. Sangat kesal, bagaiamana istri tercintanya melakukan itu.


“ Aish.. dia merajuk seperti ini jauh lebih menyeramkan dari pada memarahiku.”


“Sayang, bukan seperti itu. Aku suka, bahkan sangat suka dengan mahakaryamu ini. Tapi..”


Mark langsung menoleh dan menatap tajam, hingga Luna tidak melanjutkan kalimatnya. Mendengar kata ‘ tapi’ dari Luna, membuat Mark semakin terusik. Alasan apa yang bisa mengalahkan mahakarya cintanya ini.


“Aaa.. dia malah semakin marah. Aku harus bisa menyampaikannya dengan baik.”


“Sayang, aku sungguh sangat menyukai mahakaryamu di tubuhku ini.” Luna memeluk Mark, melingkarkan tanga dengan erat. “ Tapi aku akan bertemu dengan Profesorku nanti. Bukankah ini sangat tidak sopan, jika mereka melihat ini?” mendongakkan wajahnya menatap wajah Mark yang begitu kesal.


“Sayang..” rengek Luna dengan manja, karena Mark tidak bereaksi sama sekali dengan alasannya.


Dengan sorot mata yang masih kesal Mark menatap Luna yang bergelayut di tubuhnya. Menatap Luna yang memelas dengan mengedip-ngedipakan mata peuh bujukan.


“Cih, membujukku dengan keimutan ini? maaf sayang, kali ini aku benar-benar marah.”


“Hah? Segitu marahkah? Bukankah alasanku ini sangat masuk akal? Mark Rendra kenapa kau seperti ini?”


Luna menggerutu penuh kekesalan. Merasa ternistakan karena Mark tidak merespon sama sekali.


“Baiklah, jika suamiku tidak suka melihat istrinya yang sopan ini.” ucap Luna dengan suara keras dan terdengar marah. Dia mendekati tempat koleksi bajunya. “ Aku akan mengenakan baju ini. Sepertinya suamiku ingin istrinya terlihat seksi di depan banyak orang ya.” sambil menujukkan gaun yang cukup terbuka pada Mark. Koleksi gaun yang di sediakan hanya untuk di kenakan untuk acara berdua saja.


Tapi Mark masih tidak merespon, dia hanya melirik sedikit, lalu memasang jam tangan yang sudah di pilihnya.


“ Cih, dasar suami. Jika sudah marah susah sekali membujuknya.”


“Bahkan di luar masih dingin, tapi suamiku malah ingin melihat istrinya terlihat seksi.”


“Di luar kau bisa mengenakan mantel tebal.” Jawab Mark acuh tak acuh.


“Heh. Baiklah.”


Luna melepaskan gaun yang di kenakannya, sehingga menampakkan tubuhnya yang hanya mengenakan cami shaper dan celana boy short senada. Membelakangi Mark dengan geliat tubuh kesal dan gumam-gumam penuh umpatan di bibirnya.


‘ Grab.’ Mark memeluk Luna dari belakang, melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang ramping istrinya. Luna yang bahkan belum selesai mengenakan baju seksi itu di buat terkejut.

__ADS_1


“Sayang aku akan pernah mengizinkan orang lain melihat tubuhmu.” Mencium bahu Luna dengan lembut. “ Maafkan aku, aku hanya kesal.”


Luna tersenyum. Puas, karena rencananya berhasil. Mana mungkin dia mengenakan baju seksi itu di keramaian. Darimana datang nyalinya sebesar itu, sedangkan di depan sang suami saja dia butuh waktu yang cukup lama untuk berani tampil terbuka. Bahkan sekarang masih malu-malu.


“Kenakan baju paling sopan, kau hanya boleh terlihat seksi di depanku.” Bisik Mark di telinga Luna.


Luna menengadahkan wajahnya, menatap Mark dengan senyum- senyum manja.


“Suamiku memang yang terbaik.”


Mark mendengus dsenyum melihat tingkah sang istri yang imut menurutnya.


“Jangan menggodaku, atau kau akan terlambat menemui profesormu.”


“Hah?” Luna sudah tahu persis maksdunya, ingin melepaskan diri. Mark sudah mel*mat bibirnya.


“Ya Tuhan.. dia benar-benar semakin gila saja.”


***


Mobil Mark sudah sampai di kampus Royal College of Art. Dia mengantar sang istri yang akan menemui professor untuk membahas tentang pameran yang akan di selenggarakan besok.


“Hubungi aku jika sudah selesai nanti.” Mark mengusap kepala Luna dengan lembut.


“Baik sayang. Tapi jika pekerjaanmu belum selesai, suruh saja pengawal yang menjemputku. Aku tidak ingin mengganggumu.”


“Aku ke sini khusus untuk menemuimu. Urusan pekerjaan hanyalah sambilan. Jadi jangan pikirkan pekerjaanku.”


“Baiklah.”


Mmuuach.. sebuah kecupan di kening Luna. Setelah itu Luna langsung keluar dari mobil. sementara Rangga yang berada di kursi pengemudi terlihat santai, sudah sangat terbiasa. Hingga dia belajar menulikan telinganya, agar tidak menimbulkan keirian atas kemesraan sahabatnya itu. Namun tak jarang juga pertahanan penulian telinganya itu ambruk, mendengar kemesraan di belakangnya itu.


Rangga menerima sebuah panggilan, dengancepat dia mengaktifkan earpodnya.


“Baiklah. Kami akan segera ke sana.” ucap Rangga menjawab panggilan itu.


Mark masih tersenyum, menatap punggung sang istri yang sudah menjauh. Hingga Luna sudah menghilang dari pandangannya, baru dia menoleh ke depan.


“Apa dia sudah di lokasi?” Tanya Mark pada Rangga.


“Sudah. Orangnya baru saja menghubungiku.”


“Ok. Langsung saja berangkat.”


Rangga langsung melajukan Mobilnya menuju Lokasi pertemuan. Entah apa tujuan dan dengan siapa pertemuan ini, namun wajah Mark terlihat dingin. Begitupun dengan Rangga yang juga tak berucap, tidak bawel seperti biasanya. Tidak ada percakapan selama perjalanan, yang berkembang hanya aura dingin dari keduanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2