TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
MENGANALISA


__ADS_3

Mark merasa sangat kesal melihat tampang Rangga tersebut, dia duduk dengan arrogant di sofa.


" Rangga, sekarang coba jelaskan padaku!. Apa yang kau lakukan sekarang ini?” sambil melipat tangan di dadanya.


“ Ah haha..Mark sepertinya kau salah paham. Ini bukan seperti yang kau pikirkan.”


Janneth melihat ke Rangga dan Mark, dia memang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi dia paham bahwa Mark memarahi Rangga.


“ Mark dia adalah Janneth saksi yang ku maksud kemaren. Dia tidak mengerti bahasa kita.”


Mark mengambil nafas panjang untuk mengatur emosinya.


“ Rangga, kenapa kau tiba-tiba bodoh begini. Karena dia saksi kau membawanya ke sini?. Ini adalah tempat rahasia kita, dan kau malah membawa orang asing yang baru kau temui hari ini. Rangga, dia bisa saja berbohong untuk mendekatimu, bisa saja dia adalah mata-mata” dengan nada marah.


“ Mark, aku tidak sebodoh itu. Sebelum aku memutuskan untuk membawanya ke sini, aku juga sudah menyuruh orang kita memeriksanya secara diam-diam. Di bersih, dia hanyalah seorang wisatawan dari NYC.”


Lalu Mark melihat wajah ke Janneth.


“ Kau yakin?" Tanya Mark ke Rangga.


“ Tentu saja.”


“ Lalu apa yang kalian lakukan sekarang, kenapa kalian bermesra-mesraan di sini?” dengan nada kesal.


“ Bermesraan? Kami tidak melakukan itu. Kami hanya mencoba menggambarkan wajah wanita yang di lihat oleh Janneth” dengan tegas sambil memperlihatkan beberapa sketsa yang telah mereka buat.


Gambar yang di perlihatkan oleh Rangga sangatlah berantakan, sama sekali bukan seperti seorang gadis malah seperti seorang banci.


“ Haha..ini ini kau yang membuatnya?, Rangga, Rangga jika kau tidak bisa jangan memaksan diri. Ini tak layak sama sekali di katakan dengan sketsa.”


Mark terkekeh hingga memegangi perutnya.


Melihat Mark seperti itu Rangga semakin kesal.


“ Kalau begitu coba kau yang buat!". melemparkannya pada wajah Mark.


Mark dengan sigap menangkap kertas yang di lemparkan Rangga. Dia mengambilnya dan melihatnya kembali, dia masih tertawa mengejek Rangga.


Jannethpun ikut menahan tawa.


Rangga melihat ke arah Janneth, dia mendapati Janneth yang menahan tawa itu.


“ Janneth, apa kau mengerti dengan apa yang terjadi? Kenapa kau juga ikutan mentertawai ku?” dengan kesal.


“ Hem hem,, tentu saja aku mengerti. Meskipun aku tidak mengerti bahasa kalian. Tapi ini cukup mudah di pahami. Dia mengejek gambarmu” jawab Janneth dengan menahan tawa.


“ Aish,, kalian sama saja.”


Mark berhenti tertawa dengan memagangi perutnya yang sudah sakit.


“ Ehem..bagaimana kalian akan memastikan kebenaran sketsa ini. Perempuan ini saja memakai kaca mata.” tanya Mark serius dengangan menggunakan bahasa inggris.


“ Setidaknya kita bisa menganalisa beberapa bagian wajahnya, lalu mencocokkan berdasarkan orang-orang kita curigai” jawab Rangga.


“ Seseorang bisa saja mempunyai kemiripan di beberapa bagian wajah, meskipun mereka tidak mempunyai ikatan darah. Oleh karena itu kita membutuhkan keseluruhannya. Tapi jika memang bisa di deskripsikan dengan jelas, hal ini juga akan sangat membantu. Nona jika seandainya anda bertemu kembali dengan wanita itu, apakah anda masih bisa mengenalinya?” dengan serius.


“ Ya, aku bisa mengenali” jawab Janneth dengan tegas.


“ Hum, baiklah. nona, nama saya Mark. lebih baik anda menceritakan dengan jelas karakteristik wanita yang anda lihat itu secara spesifik. Termasuk baju, sepatu apapun yang melekat padanya waktu itu” Sambil mengeluarkan alat perekam.


Janneth melihat ke arah Rangga, Ranggapun memberikan isyarat mata untuk menceritakannya.


Jannethpun mulai menceritakannya.


***


Beberapa menit kemudian Janneth sudah selesai mengatakan semua yang dia lihat dari wanita itu.


Mark mematikankan rekeman.


Lalu dengan tampang serius Mark memanyai Janneth.


“ Nona, apakah anda yakin dia adalah wanita Asia?.”


“ Aku sangat yakin.”


“ Apakah kau mempunyai sesorang yang di curigai? Aku juga terkejut ketika Janneth mengatakan bahwa wanita itu adalah orang Asia. Padahal orang yang paling aku curigai sebelumya tetaplah adiknya Tris” ucap Rangga.


“ Tidak. Aku hanya ingin memastikan” jawab Mark dengan dingin.


Rangga merasa aneh dengan tampang dan tatapan Mark, tapi dia tidak ingin menanyai Mark lebih jauh.


Mark berdiri, “ Untuk sketsa ini aku yang urus. Aku akan mengirim rekaman ini pada orangku untuk menggambarkan sesuai dengan yang di deskripsikan.”


“ Mark namanya Janneth, lain kali kau bisa memanggil namanya” ucap Rangga.


Mark tersenyum, “ Baiklah. Nona Janneth terimakasih sudah bekerjasama dengan kami” dan berlalu pergi.


Janneth berdiri dan mengemasi tasnya.


“ Rangga urusan kita sudah selesai untuk hari ini. Aku ingin kembali ke penginapanku”


“ Baiklah, aku akan mengantarmu” sambil berjalan.


“ Ah tidak perlu. Aku bisa kembali sendirian.”


" Ini sudah malam, dan daerah di sini juga sangat sepi. Pakai mobilku saja, mobilmu akan diantarkan orangku besok pagi ke penginapanmu.”


Janneth sudah berusaha menolak dengan berbagai alasan, tapi Rangga tetap bersikeras tak ingin membiarkan Janneth kembali sendirian. Dan akhirnya Janneth mengalah. Dia memasuki mobil dan Rangga segera melajukan mobilnya.


***

__ADS_1


\= Di Ruang Baca \=


Mark sedang mengirim E-mail yang berisi rekaman tadi pada orangnya.


‘ Send’


‘ succses’


Lalu mark mengambil ponselnya dan menelvon seseorang.


“ Jack, aku punya tugas untukmu. cek E-mailmu!."


“ Haha..kau kasar sekali. Kau berani memerintah Seorang Jendral kepolisian” dengan nada yang bersahabat.


“ Jika bukan aku, siapa lagi yang berani memerintahmu seperti itu. Hidupmu terlalu membosankan jika tidak ada orang sepertiku” gurau Mark.


“ Baiklah, baiklah.” sambil membuka E-mailnya di Laptop pribadinya.


Jendral Jack merupakan kepolisian pusat Cartagena. Hubungan Mark dengannya cukup dekat, hingga mereka bisa berbicara dengan santai.


“ Apa ini Mark? “ tanyanya setelah membuka E-mail dari Mark.


“ Itu adalah rekaman suara yang mendeskripsikan seseorang. Aku memintamu untuk membuat sketsa orang itu!.”


“ Hah, siapa wanita itu?.”


“ Kau kerjakan saja apa yang ku minta. Ingat, harus kau sendiri yang mengerjakannya!”


“ Haha..Mark semua harus ada harganya. Aku harap kau bisa menceritakannya saat aku menyelesaikan sketsa ini.”


“ Baiklah, aku akan menceritakannya padamu pada waktu itu. Sekarang aku harus menutup telvonnya.”


“ Baiklah.”


Mark menutup telvonnya dan langsung melempar ponselnya ke meja. Dia memegang keningnya dengan menutup matanya.


Mark sebenarnya juga sudah mempunyai gambaran siapa wanita itu berdasarkan yang telah di deskripsikan oleh Janneth, hanya saja dia juga belum yakin.


“ Luna aku akan selalu melindungimu” ucap Mark.


***


\= China \=


Luna sudah seharian di rumah, sejak kepulangan dari Cartagena Luna tak melakukan aktifitas apapun. Karena jika masuk kantorpun, Luna harus menunggu Mark pulang, begitulah kesepakatan mereka sebelumnya.


Luna boleh kembali lebih awal, tapi untuk memunculkan diri di depan publik harus menunggunya Pulang. Jadi Luna hanya berkurung diri di kamar.


Luna hanya mengizin pelayan Zhaon saja yang melayaninya. Bahkan pelayan sudah melaporkan tingkah Luna ini kepada Mark, tapi Luna menggunakan berbagai alasan dan cara agar Mark tidak memarahinya.


Jadi karena Mark yang jauh di Cartagena tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya berpesan pada pelayan dan pengawalnya untuk terus menjaga Luna.


\= Di Kamar Luna \=


Di mejanya sudah tertata rapi berbagai cemilan, buah-buahan dan juga berbagai minuman.


Ini sangat terlihat jelas Luna memang hanya mengurung diri di kamar dengan persedian yang begitu banyak dan lengkap.


Luna duduk bersandar di ranjangnya, dia sedang menonton video perdebatan antara papanya dan ayah Mark. Buku dan pena ada di tangannya.


Pertama-tama Luna mengalisa perkataan papanya terlebih dahulu, karena video itu di mulai dengan pembicaraan papanya.


Luna meng-Zoom video itu pada wajah papanya. Dia menganalisis kata per kata berdasarkan gerak bibir papanya.


Setelah menemukan satu kata, Luna memutar bagian itu berulang-ulang untuk memastikan kebenaran dari kata yang ia dapatkan.


Begitulah selanjutnya sistem kerja yang di lakukan Luna. Tentu saja video yang hanya memiliki durasi 46 detik itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengalisanya.


Sebenarnya Luna bisa saja meminta orang lain untuk mengalisanya, tapi dia ingin melakukannya sendiri. Agar dia bisa lebih tenang dan memastikan tentang papanya yang terlibat atau tidak.


Saat menganalisa video itu jantung Luna terus berdegup kencang, penuh kekhawatiran. Setiap kata yang dia dapatkan membuat detak jangung semakin berdegub kencang.


Luna baru mendapatkan 7 kata dari ucapan papanya, yaitu


“ Rai kamu jangan bicara semabarangan kamu harus,,” .


Luna berhenti sejenak sambil meletakkaan kedua tangannya di dadanya yang berdegup tak karuan itu.


“ Jantungku, tenanglah! Jika begini terus aku bisa masuk rumah sakit sebelum memecahkan video ini” dengan nada yang lirih.


'zhrrttt,,' ponsel Luna bergetar.


Luna terperanjak mendengar getaran ponselnya itu.


“ Aahh..ponsel ini juga bisa mendorongku lebih cepat masuk rumah sakit” celoteh Luna sambil mengambil ponsel yang berada di sampingnya.


Ternyata yang menelvonnya itu adalah Mark,


“ Mark” Luna kemudian melihat jam.


“ Jam 13.50, seharusnya disana jam 01.50, apa dia begadang lagi?. Huh, sepertinya dia memang sangat suka menggangguku jam segini setiap dia berada di luar negeri.”


Luna mengambil nafas dalam dan membuangnya keluar, lalu baru dia mengangkat telvon Mark.


“ Luna..kenapa kau lama sekali menjawab telvonku.”


Teriakan Mark membuat telinga Luna sakit, sehingga dia menjauhkan ponselnya dari telinganya.


“ Mark, apa kau tidak bicara santai? Jika kau bicara seperti ini bisa-bisa kau meperpendek usiamu dan juga usiaku. Suaramu sangat-sangat menyakitkan telinga” dengan sangat kesal.


“ Aku begini karena kau selalu bertingkah.”

__ADS_1


“ Hah, memangnya aku berbuat masalah apa?, hidupku damai dan tentram saja di sini tanpa ada orang sepertimu.”


“ Ouoo,, jadi begitu? Tanpa aku hidupmu begitu damai, tapi dengan kehadiranku hidupmu menjadi kacau?.”


“ Iya, jadi kau tidak perlu khawatir. Kau kerjakan saja semua tugasmu dengan baik di sana, tak perlu pedulikan aku di sini.”


“ Hah, Karena kau menganggap aku sebagai pengacau dalam hidupmu. Aku akan mengatakan padamu, maka bersiap-siaplah 3 hari lagi aku akan pulang dan menhancurkan hari-harimu.”


Luna terkejut, “ 3 hari lagi?, bukankah seharusnya 1 hari lag kau kembali ke sini?”


Markpun terkejut dengan respon Luna.


“ Luna, Luna ternyata hati dan mulutmu mengatakan hal yang berbeda, sepertinya kau sudah merindukanku” bisik hati Mark dengan penuh senyuman.


“ Eheemm, iya seharusnya begitu. Tapi masih ada yang harus di selesaikan. Jadi aku dan Rangga harus menambah hari lagi di sini” jelas Mark.


“ Hufftt,,, syukurlah. Jadi aku masih punya waktu yang panjang” gumam Luna dengan lega.


“ Luna apa saja yang kau lakukan di rumah?” tiba-tiba nada bicara Mark berubah menjadi lembut.


“ Aku tidak melakukan apa-apa. Makan, minum dan tidur sudah menjadi aktivitas favoritku dalam 2 hari ini. Sehingga aku jadi khawatir, tiba saatnya kau kembali aku harus kembali ke kantor untuk bekerja, itu pasti sangat menyebalkan” dengan santai.


Mark tertawa lucu mendengar penjelasan Luna.


“ Jika kau tidak mau bekerja, kau bisa tidak melakukannya.”


“ Sungguh?.”


“ Ya” jawab Mark singkat.


“ Aishh,,, tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja. Proyek pertamaku masih dalam proses pembangunan, aku mana boleh lepas tanggung jawab begitu. Lagian Alex akan membunuhku jika sampai aku lari dari tanggung jawab” dengan nada kecewa.


“ Jaha..baguslah jika kau masih punya rasa tanggung jawab. Tapi apakah kau serius tidak ingin bekerja?” tiba-tiba Mark terdengar sangat serius.


“ Ah hahha.. mana mungkin. Aku hanya bercanda. Aku masih sama Seperti perjanjian awal kita, aku akan mengambil kembali Lixing Group darimu” dengan nada meyakinkan.


Mark tersenyum “Maka buktikan padaku!.”


Luna terdiam dengan tatapan yang sangat sendu, hatinya berkata.


“ Mark jika kau tau, saat ini sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang harus akau lakukan. Pikiran ku selalu berubah-ubah seiring berubahnya perlakuanmu padaku. Terlebih lagi dengan adanya rekaman video ini, membuatku semakin takut. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli lagi pada perusahaan, aku kembali pada rancana awalku. Yang ku butuhkan hanya papa dan mamaku, aku tak ingin yang lain lagi” air matanya menetes.


“ Luna, Luna, Luna” Mark terus memangggil.


Luna mengusap air matanya, “ Iya, apa masih ada yang ingin kau bicarakan?” dengan dingin.


Mark terkejut kenapa mood Luna berubah, tadi dia sangat bersemangat, tapi sekarang malah begini.


“Kau kenapa?”


“ Aku tidak apa-apa.”


“ Hem, hem..baiklah jika begitu. Tapi apakah tidak ada hal yang ingin kau tanyakan padaku?”


Mark berusaha untuk mengembalikan mood baik Luna.


“ Mark apa kau tidak akan beristirahat, di sana seharusnya dini hari bukan?” dengan lembut dan perhatian.


“ Aku sudah terbiasa begini. Luna, aku akan mengatakan rahasiaku padamu, tapi kau tidak boleh mengatakannya pada orang lain” bersemangat.


Luna terkejut tapi dia berusaha memanggapi Mark dengan santai.


“ Ah haha, apakah itu sangat rahasia? Aku rasa aku tidak perlu mengetahuinya. Karena aku bisa saja keceblosan menceritakannya pada orang lain.”


“ Yapi aku harus memberi tahumu, sangat sulit bagiku menyimpannya sendirian.”


“ Jika begitu kau biasa berbagi dengan kak Key dan Rangga saja. Aku rasa Pria lebih bisa menjaga rahasia” dengan menahan kesal.


Luna mulai kesal karena Mark selalu memaksanya.


Padahal Mark melakukan ini hanya untuk mengubah mood buruk Luna. Dia lebih suka mendengar kekesalan, dan teriakan Luna padanya dari pada mendengar suara dingin dan lirih Luna.


“ Tapi ini bukan hal yang harus di bicarakan sesama pria.”


“ Eh...” Luna terkejut dan pikirannya mulai kemana-mana.


“Apakah itu sesuatu yang pribadi?” Luna mulai canggung.


“ Hmmm,,bisa begitu” dengan santai.


“Jika begitu, kau lebih baik menceritakannya pada istrimu saja kelak” dengan sangat sangat canggung.


Mark terkekeh menahan tawanya.


“ Hahaha,, kucing kecil ini, apa yang dia pikirkan” gumam Mark.


Karena tanggapan Luna yang seperti itu, membuat Mark lebih bersemangat, yang tadinya tujuannya hanya untuk sekedar mengubah Mood Luna, sekarang berubah ingin mengerjai Luna.


“ Luna sekarang dengarkan aku baik-baik, sebenarnya....”


“Aaa... tidak, tidak. Aku tidak bisa mendengarkannya. Stop jangan teruskan lagi ucapanmu!”


Teriak Luna histeris, frustasi dan penuh kesal.


Mark tertawa dengan puas. “ Haha...Luna, Luna.”


Luna dia cemberut menahan kesal mendengar Mark tertawa deng puas.


“ Luna aku merindukanmu.”


Tiba-tiba Mark mengatakan hal itu dengan lembut tapi tak kedengan sedang main-main, dia serius.

__ADS_1


__ADS_2