
Perumahan Denenchofu, Tokyo.
Denenchofu merupakan perumahan yang berada di pinggiran kota. Perumahan di sini bergaya Eropa kelas atas. Lebih tepatnya perumahan ini di tata persis seperti di London, taman yang indah dan jala-jalan yang mewah, apalagi sekarang musim semi, sepanjang jalanan di hiasi dengan bunga sakura yang sedang mekar dengan indahnya.
Tidak hanya perumahan, di lingkungan ini juga terdapa perusahaan-perusahaan besar. Dan lingkungan di sini menjadi lokasi tempat tinggal bagi para pengusaha, selebritis, olahragawan profesional dan orang-orang penting lainnya.
Tempat ini tenang dan aman, oleh karena itu Mark juga mengambil bagian membeli rumah di sini.
Luna tampak sibuk di dapur bersama dengan para pelayan. Dia menyiapkan berbagai menu untuk makan siang. Walaupun ada banyak pelayan, namun siapa yang bisa menghentikan Luna untuk ikut serta memasak. Jika bilang ikut ya ikut! Ya sudah dari pada ribut. Terserah apa mau mu Luna.
Beberapa menu sudah terhidang di meja dan seketika Luna langsung berhenti ketika mendengar suara yang familiar dari ruang tamu.
“Kakak pelayan, kalian lanjutkan ya! sepertinya tamu yang ditunggu sudah datang.” Ucap Luna dengan ramah pada pelayan untuk menggantikan tugasnya yang sedang menghias menu.
“Baik nona.”
Luna tersenyum, melepas celemek, lalu berjalan menuju ruang tamu. Sepanjang jalanLuna sudah di penuhi penasaran siapa wanita yang di bawa oleh Key.
Perihal Rangga, menjadikan Zhaon sebagai teman wanitanya membuat Luna tertawa puas saat mengetahuinya. Tidak habis fikir saja, karena Luna sudah memikirkan transksi yang saling menguntung antara mereka berdua. Zhaon tidak perlu bersembunyi dan Rangga tidak perlu pusing mencari teman wanita. Namun hal itu tidak masalah sama sekali baginya.
Jadi bagaimana dengan Key? Apakah juga akan ada kejutan yang lebih seru? Itulah yang sangat di nanti-nantikannya.
Saat Luna sampai di ruang utama, dia melihat sosok wanita rambut panjang dari belakang. Semangat berjalan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Ya ampun.. apa aku tidak menyajikan minuman untuk tamuku?” ocehnya. Menepuk jidat dan terpaksa kemabli ke dapur.
Walau sangat penasaran, tapi dia tidak ingin membuat kesan buruk untuk tamu yang di undang secara khusus olehnya. Ya.. ini semua adalah idenya, semua orang harus membawa pasangan.
“Ada apa nona?” tanya seorang pelayan karena melihat Luna kembali dengan tergesa-gesa.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya lupa membawa minum untuk tamuku.” Tertawa ringan, merasa lucu saja dengan dirinya.
“Biar kami saja nona, itu tugas kami. Nona tunggu saja di ruang utama.” Pelayan di dapur langsung merasa sangat segan.
“Aku saja, tidak apa-apa. kakak lanjut saja menyiapkan makanannya.” Sambil mengibaskan tangannya dengan senyum lembut. ”Ini keinginanku, aku ingin melayani tamuku secara langsung.” tambahnya, agar pelayan tidak perlu untuk merasa tidak enak dengan tindakannya.
Setelah mendengar kalimat Luna pelayan menurut saja, mereka menunjukkan tempat bahan-bahan yang di butuhkan Luna. dengan cepat dan hati-hati Luna membuat 6 gelas sakura strawberry tea.
Aduk-aduk, selesai. Kemudian Luna langsung pergi ke ruang utama.
“Kakak sudah datang,” sapanya ramah di tengah pembicaraan antara Key dan Mark berlangsung dengan hangat. Sontak semua mata tertuju pada Luna.
“Bukankah ini kakak sekretaris waktu itu? Cantik sekali.”
Mata Luna tertuju pada Lery yang mengembangkan senyum ramah padanya dan Luna pun membalas senyum ramah di sertai anggukan kecil.
“Wah.. kau menghidangkan minuman sendiri. ini benar-benar special.” Ucap Key dengan tawa ringan.
“Tentu saja. Tamuku memang harus ku layani dengan baik. Nikmatilah!” menaruh di meja, lalu duduk di samping Mark.
“Kenapa banyak sekali minumannya?” tanya Mark sambil mendekap bahu Luna.
__ADS_1
“Ini untuk Zhaon dan Rangga. Aku akan memanggil Zhaon dulu.” Hendak berdiri, namun Mark menahan tangannya.
“Biarkan saja dia. Dia pasti lelah, hingga tidak keluar kamar.” ujar Mark.
“Lelah?” Luna terlihat bingung dan duduk kembali. ”Memang dia lelah kenapa?” tanyanya.
“Pelayan bilang saat mengantarkan sarapan tadi, dia masih sibuk dengan video conference.”
Luna angguk-angguk kepala. Paham dengan dengan semuanya, status Zhaon yang tidak ringan sebagau putri gang Elang Darah pasti sangat sibuk.
“Kau sudah datang Key?” Rangga muncul dari pintu, dan tentu hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Lery yang tampak canggung. Rangga juga mengingat siapa Lery.
“Key membawa sekretaris yang dia katakan jelek di depanku? Haha.. sepertinya Key juga mengalami kesulitan untuk mengajak seseorang. Hingga akhirnya membawa sekretarisnya sendiri. ternyata aku tidak sendirian.”
Rangga bersorak gembira dalam hatinya, karena merasa ada teman yang kesulitan dalam mementukan teman wanita. Dia duduk, menoleh pada Lery yang langsung melempar senyum padanya.
“Apa kau tidak mau mengenalkan wanitamu Key?” tanya Rangga usil. Rasanya kurang afdol perkumpulan mereka, tanpa ada keusilan.
“Hah? Wanita tuan? Bukankah semua orang di sini sudah pernah bertemu denganku di kantor?”
Lery bingung, dia mengedipkan matanya dan menoleh pada Key.
“Ya perkenalkan, namanya Lery Mo. Dia sekretarisku.” Ujar Key santai, namun sorot matanya memandang kesal pada Rangga. Sementara Rangga cengingisan padanya.
“Jadi nama kakak Lery. Saya Luna kak.” Dengan ramah Luna segera memperkenalkan dirinya.
“Ya nona Luna.” jawab Ley penuh kesopanan. Sementara Luna langsung mendengus senyum atas kesopanan Lery.
Lagi-lagi Lery menoleh pada Key. Entah kenapa, segala sesuatunya seolah dia butuh persetujuan Key.
"Luna benar. Kita semua teman, lagian Luna lebih muda darimu." jelas Key.
"Baik tuan." Senyum ramah dan kembali menoleh pada Luna.
"Tapi kenapa aku merasa familiar dengan wajah Luna ya? pria di sampingnya juga. Aku merasa pertemuan di kantor bukan pertama kali aku melihatnya."
"Mari ku perkenalkan mereka. Pria menyebalkan ini namanya Mark Rendra, dia suami Luna."
"Wah.. mereka menikah muda ya."
Lery senyum-senyum, senang saja melihat pasangan menikah muda.
"Dan ini Rangga. Dia masih jomblo." tutur Key dengan nada setengah mengejek. Sehingga membuat Rangga yang awalnya tersenyum manis langsung menatap kesal Key.
"Dan kau sendiri juga masih jomblo. Beraninya mengejekku." balas Rangga.
"Sudah, sudah. Sesama jomblo jangan menghina!!" lerai Luna dengan tawa di akhir kalimatnya. Membuat Key dan Rangga terdiam, semantara Mark ikut tertawa sambil mengusap bahu Luna.
Tampak Lery yang duduk di samping juga mengulum senyum. Ingin tertawa lepas, tapi masih segan dan canggung.
" Permisi Tuan, semua menu sudah siap. Saatnya makan siang." ujar kepala pelayan yang datang dengan sopan.
__ADS_1
Mereka semua langsung pergi ke ruang makan. Namun sebelumnya, Mark menyuruh pelayan untuk menarik koper Lery dan Key ke kamar yang telah mereka sediakan.
"Kak Lery jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri." ujar Luna. Kerena dia melihat Lery yang masih saja terlihat sungkan.
"Baik no, eh maksudku Luna." Lery menggigit bibirnya. Sungguh masih sangat canggung baginya.
"Tidak apa-apa. Nanti juga akan terbiasa." Luna memahaminya dengan baik. Lery menganggukkan kepala dan melanjutkan makan.
Di tengah makan Luna dan Mark bermesraan seperti biasa yang mereka lakukan. Kadang saling menyuapi atau sekedar menambah lauk atau sayur di ikuti dengan kata penuh perhatian.
Sementara Lery masih sibuk dengan pikirannya. Mengingat hal yang membuat dia merasa tidak asing dengan Luna dan Mark.
Makan siangpun berakhir. Luna mengantar Lery ke kamar.
"Kakak pasti lelah. Istirahatlah, nanti malam kita akan ada acara." sambil membukan pintu kamar Lery. "Aku harap kakak suka dengan kamar ini."
"Aku pasti suka Luna." jawab Lery cepat sambil tersenyum.
"Syukurlah jika begitu. Ya sudah, kakak langsung saja istirahat ya." tepuk-tepuk lembut lengan Lery kemudian berlalu pergi.
Lery memandangi punggung Luna yang menjauh. Dia tersentuh dengan kelembutan Luna. Pikirannya juga masih mengambang tentang rasa familiarnya akan Luna dan Mark.
Masuk ke kamar, duduk di tepi ranjang dan masih sibuk berfikir. Akhirnya dia mengambil ponsel dan searching.
Profil Luna langsung membuat dia kaget. Putri tunggal dari keluarga Zhan Aliester. Lery mengetahui sedikit tentang nama besar Aliester. Lixing Group tentu menjadi hal pertama yang di pikirannya. Namun tidak begitu banyak informasi di profil Luna, karena memang sengaja.
Searching kedua tentang Mark. Ini benar-benar membuat Lery langsung membuat membulatkan mata. Pebisnis global.
"Apa?" ekspresinya juga terlihat mengingat sesuatu.
Dia langsung mengambil tasnya, mengeluarkan dompet dan mengambil foto di sana.
"Ya Tuhan... jadi ini mereka?" Lery benar-benar terlihat kaget. Sambil memandangi foto pernikahan Mark dan Luna.
"Ja-jadi aku bertemu mereka? resepsi pernikahan pasangan yang paling ku kagumi."
masih membatu, masih belum percaya.
Lery menampar pipinya lalu mencubitnya.
"Aaa.. sakit." rintihnya. "Jadi ini nyata?" antusias luar biasa. Dia bangkit dan memandangi dirinya di cermin. tepuk-tepuk pipi kembali.
"Benaran nyata." sambil mengembangkan senyuman bahagia. Kembali ke ranjang dan berguling-guling bahagia. Tidak ubahnya seperti seorang fans bertemu dengan sang idola. Ya.. faktanya dia memang mengagumi pasangan ini.
Dan dia sungguh tidak menyangka bisa berada di antara orang-orang hebat ini.
"Huft.. sekarang aku menjadi gugup." berhenti berguling dan tidur telentang.
"Semoga saja aku ketularan keberuntungan Luna. Menemukan pangeranku, serta resepsi pernikahan seperti negeri dongeng." Lery memejamkan matanya dengan senyuman.
"Tidak salahkan, wanita biasa sepertiku mempunyai impian setinggi ini? ." lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...