
“Akhirnya.” Mark membaringkan tubuh Luna di ranjang. Pun tubuhnya juga langsung naik menindih tubuh istrinya itu. Berkedip-kedip mata Luna melihat suaminya menatapnya penuh nafsu, lalu dengan semangat 45 mulai menjelajah lehernya, dan tangan Mark juga aktif dibagian tubuhnya yang lain.
Pria kalau sudah lama berpuasa memang seperti inikah? Semakin tidak tahu malu dan, dan, dan… ya begini.. tidak bisa slow. Rakus sekali. Habis tubuhku.... Luna hanya bisa gigit bibir dan hanya bisa pasrah.
“I love you so much.” Ucap Mark dengan deep voicenya, membuat Luna tergoda dengan suara seksi itu.
Luna tersenyum manis, “I love you too so much.” Balasnya.
Mereka berdua mulai melayari waktu dengan suasana sore yang penuh kehangatan ini.
***
Mark menikmati angin malam di balkon kamarnya itu. Kedua tangannya di sandarkan di sana. Tiba-tiba dia merasa sepasang tangan melingkar di tubuhnya. Mark tersenyum tipis.
“Kenapa di sini?” tanya Luna. Tangannya bergerak nakal menelusuri dada Mark yang agak terbuka. Mereka sama-sama hanya mengenakan jubah tidur setelah pertempuran hangat tadi.
“Jangan menggodaku. Nanti kamu sendiri yang repot.” Tangan Luna yang bergerak nakal itu di tahannya. Dia menoleh ke belakang dengan seringai tak kalah nakal, “Apa tidak masalah kita lanjutkan lagi?”
Luna mencebik. Tangannya di tarik. Lagi? masih belum puas dengan roud yang entah berapa tadi? Tidak, tidak! Luna tidak sanggup. Capek yang tadi saja masih belum hilang.
“Pervert!” Luna menayangkan kerlingan mautnya. Lalu mengambil tempat berdiri di sebelah suaminya itu.
Mark tertawa keras melihat istrinya itu. Makanya jangan suka menggoda-goda.
“Stop it!” kesal Luna melihat Mark yang masih saja tertawa renyah.
“Ok ok..”
Mark berusaha meredam tawanya. Lalu bahu istrinya itu didekap mendekatinya. Pun Luna sudah mengembang senyum. Tidak bisa lama-lama kesal pada suaminya itu. Keduanya sama-sama menikmati pemandangan malam yang cerah ini. Bintang bertaburan dan bersinar terang.
Mark kembali tersenyum ketika mengingat moment dulu. Moment dimana mereka masih belum akur. Tepat ketika mereka pulang dari menemui Paman Gu. Saat di taman, sandal Mark yang di kenakan Luna di culik oleh anj*ng. Sehingga pria itu menggendongnya menuju mobil. Suasana ketika itu persis saat sekarang. Langit cerah, sinar bulan yang indah dan taburan bintang yang berkilauan.
Malam itu adalah salah satu moments yang tidak akan terlupakan oleh Mark.
“Sayang,” Luna bersuara.
“Humm.”
“Menurutmu apakah Misya sudah menyerah?”
Kening Mark berkerut. Dia menoleh pada Luna yang terlihat santai. Apakah istrinya ini mengetahui sesuatu? Selama ini, sejak dia berterus terang mengenai Miasya, Luna tidak pernah bertanya lebih lagi. Juga tidak pernah menanyainya, apakah Misya pernah atau tidak mendekatinya selama di villa ini.
__ADS_1
Mark tersenyum. Dia berundur ke belakang Luna, lalu memeluk istrinya itu dari belakang.
“Apa kamu takut jika dia mencari kesempatan padaku?” dagunya diletakkan di bahu Luna.
Luna mengangguk, “Tentu saja. Istri mana yang senang jika suaminya di gaet oleh perempuan lain. Terlebih dia perempuan itu pernah di perlakukan dengan special.” Jawab Luna jujur. Dia tersenyum kelat dengan pandangan lurus ke depan.
Raut wajah Mark berubah. Dia kurang berkenan dengan kalimat Luna. Dagunya di angkat, tubuh Luna di putar menghadapnya. Dia tatap lekat mata indah dan tenang istrinya itu.
“Apa kamu tidak percaya padaku?”
“Aku percaya padamu, tapi aku tidak bisa percaya pada wanita di luar sana yang menginginkanmu.”
Mark langsung nenarik tubuh Luna ke dalam pelukannya. Dia peluk erat dan ubun-ubun istrinya itu di kecup.
“Trust me. Aku tidak akan pernah tertarik pada perempuan manapun. Hatiku sudah dipenuhi olehmu, tidak ada tempat lagi untuk perempuan manapun. Apapun yang terjadi, just trust me okey?” pinta Mark.
Dalam masa yang sama, Mark ingat jika memang banyak wanita yang berusaha mencuri kesempatan scandal dengannya. Termasuk Camelia, sepupu istrinya itu. Namun Mark memang tidak pernah tertarik pada para penggoda itu sama sekali. Luna sudah lebih dari cukup baginya.
Luna’s only one and only.
***
“Luna….” menggelegar suara Nindy di café itu. Sampai-sampai pengunjung di sana menoleh padanya, namun Nindy tidak peduli sama sekali. Dia sedang sangat gembira sekarang.
“Luna.. I’m happy. Very happy…. mmuuach mmuuach.” Pipi kiri kanan Luna juga sudah di cium oleh Nindy. Luna bingung sendiri. Entah kabar apa yang dibawa Nindy sehingga se-excited ini.
“Okey, okey.. aku turut happy jika kamu happy. Tapi.. please stop it.” Tubuh Nindy di dorongnya pela . Entah berapa lama lagi Nindy mau memeluknya dengan posisi seperti itu. Orang-orang masih menoleh pada mereka berdua.
“Hehe.. sorry.” Pelukan di lepas. Nindy mengambil tempat di depan Luna. Dia juga langsung menyeruput minuman yang memang sudah di pesankan oleh Luna untuknya.
Luna tersengih. Melihat Nindy yang masih kekal tersenyum. Sungguh berseri wajah gadis itu. Luna jadi tidak sabar mendengar cerita dari Nindy.
“So.. kamu mau cerita apa?” tanya Luna yang ikut menyeruput minumannya.
Nindy tergelak kecil dengan wajah malu-malu.
“Coba kamu tebak. Kira-kira apa?” tangannya di lipat di atas meja. Dia menatap Luna dengan menaik-turunkan alisnya.
Luna menyipitkan mata menatap Nindy. Seolah sedang menerawang apa yang ada dalam hati dan benak temannya itu.
“Will get married?” tebak Luna.
__ADS_1
Nindy kembali tersenyum, Lalu kepalanya diangguk-anggukkan dengan malu-malu.
“Oh my god, my god.....” Luna menekup mulut dengan kedua tangannya. Dia turut excited. Kali ini orang-orang menoleh karena suaranya. Namun Luna tidak peduli. Ini benar-benar kabar membahagiakan. Pantas gadis ini tidak berhenti tersenyum dari tadi.
“Congratulations to you. Kapan?” tanya Luna lagi.
“Itu masih perlu kami bincangkan dulu dengan kedua keluarga.”
Luna mengangguk paham, “Kapan dia melamarmu?” Luna tidak bisa menahan untuk tidak bertanya. Jari manis Nindy juga di liriknya. Sudah tersarung cincin yang mewah di sana.
“Semalam. Luna, dia sangat romantis.. aaa… aku tidak bisa untuk diam sekarang. Malam itu, dia benar-benar telah menunjukkan jiwa pria sejatinya. Dia melamarku di depan Papa dan Mama. Aku benar-benar tidak pernah menyangka dia akan menyiapkan lamaran romantis itu. Aku kira ini hanya akan menjadi makan malam dengan keluarga pada umumnya. Aku benar-benar melihat dia yang berbeda, dia yang belum pernah aku lihat sebelumnya….”
Nindy turus mengoceh, Luna senantiasa mendengarkan. Akhirnya Jiang He, pria itu telah memantapkan hati dan menemukan cintanya. Luna lah orang yang merasa paling lega sekarang.
***
Sehabis bertemu dengan Nindy, Luna membawa mobilnya memasuki sebuah toko bunga. Sudah lama dia tidak dekat dengan hobinya yang satu ini. Taman bunga mawar di villa entah apa kabarnya sekarang. Hanya pekerja yang mengurus. Sekarang waktunya terasa lebih lapang, alangkah baiknya dia memulai hobinya lagi.
Setelah memarkirkan mobil, Luna langsung memasuki toko bunga yang memang menjadi langganannya. Luna juga langsung di sambut dan dibawa berkeliling untuk melihat koleksi bunga mereka.
Cukup lama, akhirnya Luna sudah memilih bibit bunga yang akan di belinya. Cukup banyak, karena kali ini Luna ingin menambah koleksinya. Tidak hanya bunga mawar saja.
“Kami akan mengantarkannya ke alamat Nona secepatnya.” Ujar penilik toko tersebut.
“Okey. Aku percayakan pada kalian.” Luna tersenyum senang melihat bunga-bunga itu. Entah kenapa tiba-tiba matanya terfokus pada satu pot bunga mawar di sana. Pot tersebut diambilnya.
“Aku akan membawa yang ini. Selebihnya, silakan kirim ke alamatku.”
“Baik Nona.”
Luna kembali menatap bunga dalam pangkuannya sekarang. Senang saja, sudah ada satu kuncup yang mulai mekar di sana.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Luna langsung keluar dari toko itu dan membawa langkah menuju kotak parkiran mobilnya. Luna melengkok dan bersiul santai dengan pot bunga di tangannya.
Sampainya di mobil, Luna langsung merogoh tas untuk mencari kunci mobil. Sedang sibuknya mencari kunci, tiba-tiba ada seseorang muncul dari arah belakang dan langsung menekup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.
Luna mencuba meronta pada awalnya, namun karena sapu tangan tersebut yang memang sudah diletakkan dengan kloroform, membuat rontaan Luna melemah.
GLETAKKK...
Pot bunga itu lepas dan jatuh dan berserakan dibeton itu. Luna pun sudah kehilangan kesadarannya. Pingsan!
__ADS_1
Bersambung…