
Jiang He tersenyum tipis, lalu dia menghembuskan nafasnya keras. Membuat Nindy yang menunduk mengangkat kepala dan menatap punggung Jiang He yang di depannya.
“Tidak ada yang namanya stagnan jika kau memang bersungguh-sungguh.” berhenti sejenak.
“Bukankah sebelumnya aku sudah bilang jika aku mengalihkan perasaanku pada Luna dan menganggapnya sebagai adikku. Oleh karena itu sulit di jawab jika kau menanyai perasaan. Bisa-bisa kau salah paham.” Tertawa ringan di akhir kalimatnya.
“Sama halnya kau dan Key. Seorang kakak akan sangat sulit melepaskan adiknya pada orang lain. oleh karena itu, hanya dengan melihat kebahagian adiknya lah bisa membuatnya lega.” Jelas Jiang He mantap.
Sungguh tidak ada keraguan dengan kalimatnya. Nindy yang tadi dingin, tampak mengulum senyumnya. Teringat olehnya perkataan Luna semalam.
“Perasaan adalah perasaan. Tidak bisa di sepelekan, oleh karena itu kak Jiang He butuh waktu cukup lama, kerena dia tulus. Tapi sekarang, sorot mata kak Jiang He, aku sudah merasakan hal berbeda darinya. Dia sudah bisa menerima bahwa aku adalah milik Mark. Dia hanya butuh cahaya untuk menuntunnya benar-benar keluar dari kenangan lalu. Nindy berjuanglah, aku yakin kau bisa!!!”
“Baiklah jika begitu aku akan berusaha lebih keras.” Malu-malu Nindy berucap, lalu dia mengulum senyumnya. Jiang He juga tampak tersenyum tipis.
Di tengah suasana seperti itu, Jiang He dengan usil mempercepat kayuhan sepedanya, membuat Nindy terkejut hingga memukul punggung Jiang He.
“Kakak kau menyebalkan.” Ujarnya kesal.
“Haha.. Jangan memukulku atau nanti kita akan jatuh.”
Suasana yang tadinya dingin, kembali hangat. Sepenjang jalan mereka tampak bercanda. Senyum tak luput dari bibir keduanya.
Di tempat lain, pasangan Mark, Key dan Rangga sibuk berpacu. Mark dan Rangga sama-sama memimpin. Key dan Lery ketinggalan di belakang.
Mark dan Rangga semangat berpacu, di tambah teriakan semangat dari Luna dan Zhaon yang ikut mengayuh di belakang.
“Zhaon, kita harus mengalahkan mereka.” ujar Rangga sambil melirik nakal Mark di sampingnya.
“Iya, iya tuan. Kita harus menjadi pemenangnya.” Balas Zhaon yang juga mengayuh cepat.
“ Jangan harap. Wek.” Luna memanasi dengan mencibiri. “Ayo sayang, kita tidak boleh kalah.” Lanjutnya sambil menepuk pinggang Mark.
__ADS_1
“Baiklah. karena istriku ingin menang. Jadi jangan harap kalian akan mengalahakan kami,” mengayuh lebih dan seringai liciknya pada Rangga. perlombaan sengit berlangsung.
“Tuan kita jalan kaki saja. Takutnya luka tuan keram.” Lery menatapi lengan Key dari belakang.
“Ini tidak apa-apa.” menepuk lengannya. Hal tersebut membuat Lery tersenyum. Khawatir sebenarnya, namun karena sepeda mereka melaju pelan membuat Lery berusaha tenang.
Semuanya telah berkumpul kembali. Mereka bersenang-senang menikmati pemandangan di Hitachi Seaside Park, menikmati taman bunga tulip yang instagenic. Begitu banyak spot yang mereka singgahi untuk sekedar mengambil foto.
Di sebuah spot foto mereka mengambil gambar bersama dengan meminta bantuan wisatawan lain.
“ 3, 2, 1 chesee..” hitungan mundur dan mereka langsung memsang ekspresi suka-suka.
Cekrek,
Cekrek.
Beberapa foto dan gaya telah di ambil.
“Arigato gozaimasu.” Ungkap Rangga pada wisatawan yang membantu. Dengan sopan wisatawan tersebut membalas, lalu berlalu pergi.
“Mereka semua kelelahan.” Ujar Rangga sambil tertawa, karena melihat Zhaon yang di sampingnya yang terkantuk-kantuk, sadar lagi, ketiduran lagi dan sadar lagi, karena posisi Zhaon yang tidak nyaman.
“Key tolong bantu mundurkan sedikit kursi Zhaon, agar dia tidur dengan nyaman,” pinta Rangga.
Key segera membantu, setelah itu dia kembali ke kursinya. Dimana saat dia duduk, Lery yang ketiduran juga langsung bersandar di bahunya.
“Pasti sangat lelah ya.” gumamnya sambil memperbaiki posisi kepala Lery agar lebih nyaman.
“Jiang He, apa adikku ketiduran?” tanyanya tanpa menoleh pada Jiang He yang berada di balakangnya. Karena tidak mendengar jawaban, Key memengangi lembut kepala Lery yang bersandar padanya. Lalu langsung menoleh ke belakang dan mendapati Jiang he dan Lery sudah tertidur dengan posisi yang nyaman. Berjarak namun entah sejak kapan tangan mereka terlihat saling berpengangan.
“Setan kecilku...” Gumam Key di iringi dengan senyum lembut.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan dia melihat Mark yang membelai lembut Luna yang tidur di pangkuan. Tersenyum, lalu kembali menoleh ke depan.
“Menyenangkan melihat semuanya seperti ini.” senyum-senyum sambil mengusap keningnya.
***
Mark membaringkan Luna di ranjang. Di usapnya dengan lembut kening Luna, lalu melepaskan longcoat dan sepatu Luna agar tidur lebih nyaman.
“Night sayang.” Cium lembut kening Luna, lalu meyelimutinya.
Mark beranjak dari ranjang. Dia melepaskan pakaiannya berencana untuk mandi, namun tiba-tiba suara ponsel menghentikannya yang sudah hendak melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Mark tersenyum sinis saat melihat layar ponselnya.
‘Tris’ nama kontak yang memanggilnya.
“Halo,” jawab Mark sambil berjalan menuju balkon.
“Tuan Muda Mark.” ujarnya dengan nada yang menyebalkan. Di kamarya, Tris tampak sedang menikmati minumannya dengan santai.
“Ada apa hingga pengeran Tris menghubungiku malam-malam begini?” balas Mark tidak jauh beda menyebalkan.
“Haha.." tertawa lepas, hingga membuat Mark tersenyum sinis kembali. Mark seperti sudah menebak apa maksud hati pangeran Tris menghubunginya.
"Aku mengakui kehebatanmu Mark. Aku salut padamu. Aku mengaku kalah." masih tertawa, dia seperti memang sengaja melakukannya.
Mark tetap tenang, diam tidak ingin menanggapi. Dia hanya ingin mendengarkan apa yang akan di sampaikan pengeran Tris. Membuat pangeran Tris kesal sendiri dengan acuh tak acuhnya.
"Ku akui dosaku di masalalu Mark. " ucapnya dengan nafas menderu. Sudah terpancing dengan keacuhan Mark.
" Sekarang aku akan sedikit membantumu sebagai tanda terimakasihku karena telah menjaga Luna dengan baik. Aku akan mengirim sesuatu padamu. Semoga itu membantu. Aku tau kau bisa mendapatkan informasi apa saja dengan mudah. Tapi ini... ini berbeda." memeutuskan telepon dengan kasar.
__ADS_1
"Mark Rendra, terimalah kado dariku. Aku sungguh sangat penasaran bagaimana reaksimu saat melihat isinya."
Bersambung...