
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Rangga memakirkan mobil tepat di depan rumah. Dia bergegas keluar untuk menggendong Mark ke kamar.
Dia menarik Mark keluar yang di bantu oleh Luna dari dalam mobil, lalu meletakkan Mark di punggungnya. Setelah itu Lunapun bergegas keluar.
Tapi saat Rangga sudah berjalan hingga depan pintu, Mark gerak-gerak dan menarik rambut Rangga.
“ Aaaa.. Mark kau jangan marik rambutku!” ucap Rangga kesakitan.
“ Apa yang kau lakukan? Turunkan aku sekarang! aku tidak mabuk” ucap Mark.
Luna melihat Mark yang memang sudah membuka lebar matanya.
“ Dia memang sudah sadar. Kau turunkanlah dia!” ucap Luna pada Rangga.
Dengan spontan Rangga menurunkan Mark dan langsung memegangi kepalanya yang masih sakit akibat rambutnya di tarik Mark.
“ Kau gila ya, kau mau menarik rambutku hingga lepas” dengan sangat kesal.
Mark tersenyum, “ Haha.. aku lepas kendali. Sekarang kau pulanglah. Aku sudah tidak apa-apa” sambil berjalan dengan oleng.
Luna melihat Rangga dengan senyum masam, dia merasa kasihan pada Rangga.
“ Rangga kau pulang saja, biar aku yang mengurusinya. Dia masih mabuk, belum sadarkan diri sepenuhnya” dengan Lembut.
“ Baiklah. Aku juga ingin beristirahat.”
“ Terimakasih sudah menjemput kami”
Rangga tersenyum, “ Tidak perlu sungkan. Sekarang aku pergi dulu” sambil berjalan memasuki mobilnya.
Sementara itu Luna melihat Mark yang masih berjalan sambil melepaskan Jasnya dan melemparkannya ke lantai. Lalu dia berjalan dengan oleng menuju tangga.
Luna bergegas mengejar Mark, dia khawatir menaiki tangga dalam keadaan mabuk bisa mencelakainya.
Luna memungut jas yang Mark, lalu mendekati Mark.
“ Biar aku bantu” ucap Luna lembut.
Luna mengambil tangan kiri Mark lalu melingkarkannya di bahunya, dan tangan kanan Luna memegangi pinggang Mark. Dia memapah Mark dan berjalan menaiki tangga dengan perlahan.
Mark langsung menatap wajah Luna lalu dia tersenyum.
“ Luna apa kau mengkhawatirkanku?” tanya Mark.
“ Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Orang mabuk memang selalu mengkhawatirkan”
“ Tapi aku tidak mabuk.”
“ Kamu jangan asal bicara lagi”. dengan terus berjalan tanpa melihat Mark yang selalu memandanginya.
Mereka sudah sampai di depan pintu kamar Mark. Luna melepaskan tangannya dari pinggang Mark, lalu membuka pintu.
“ Sekarang kita sudah sampai. Kamu harus beristirahat” sambil berjalan masuk.
Mark tersenyum sinis, karena Luna menganggapnya mabuk berat.
Luna menidurkan Mark di ranjang, dan dia langsung menghela nafas.
“ Houss…akhirnya sampai juga. Kau cukup berat meski aku hanya memapahmu” celoteh Luna.
Luna melemparkan jas yang masih di tangannya di sebelah Mark yang sedang berbaring.
__ADS_1
Lalu dia memperbaiki posisi tidur Mark dan melepaskan sepatu Mark. Setelah itu Luna duduk di samping Mark dan menyelimutinya.
Luna memandangi wajah Mark yang terlelap.
“ Mark kamu pasti sangat lelah. Sekarang beristirahatlah dengan tenang!" sambil berdiri.
Tapi tiba-tiba Mark duduk dan menarik tangan Luna, sehingga Luna jatuh dalan dalam pelukannya.
“ Akh..” jerit Luna terkejut.
“Aku memang lelah. Tapi pelukan ini akan bisa lebih menenangkanku” ucap Mark dengan memeluk erat Luna.
“ Mark lepaskan aku, kau masih mabuk” ucap Luna berusaha meronta.
“ Sebentar saja. Biarkan aku memelukmu” pinta Mark dengan suara berat.
Luna akhirnya diam, membiarkan Mark memeluknya. Luna menepuk-nepuk bahu Mark dan memejamkan matanya.
“ Luna apa kau merindukanku?”
Mendengar pertanyaan Mark, dia tidak tau harus menjawab apa.
“ Mark, kenapa kau selalu menayakan hal yang sama tiap harinya? Apakah kau benar-benar tulus padaku?” bisik hati Luna.
Melihat respon Luna yang masih sama dengan sebelumya, tetap diam dan membisu, Mark tersenyum pahit. Mark melepaskan pelukannya, lalu dia berdiri.
Sementara Luna masih duduk di ranjang dengan menundukkan kepalanya.
“ Luna sepertinya kau masih meragukanku”
“ Memang” jawab Luna.
“ Kenapa?”
“ Aku hanya merasa ini belum saatnya untuk menanam rasa. Aku tidak ingin gegabah."
“ Baiklah. Malam ini kau menginap di sini” sambil melepas kemejanya.
“ Hah, menginap di sini? kau ini apa-apaan.” sambil menoleh pada Mark.
Tapi ketika dia melihat Mark yang sudah telanjang dada, Luna langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.
“ Mark..apa yang kau lakukan? Kau tidak ada sopan sopannya ya. Bagaimana bisa kau melepas pakaian di depan ku” teriak Luna kesal.
Mark menunduk “ Memangnya kau pikir aku akan melakukan apa?” sambil mendekatkan wajahnya pada Luna.
“ Kau menjauhlah dariku!” sambil mendorong Mark untuk menjauh darinya.
Mark kembali berdiri, “ Pokoknya kau menginap di sini malam ini. Jika kau berani kabur, maka aku akan menerobos kamarmu”
“ Mark kau gila ya..otakmu sudah rusak sejak kembali dari New York?” dengan sangat kesal.
Mark mengunci kamarnya, kemudian dia mengambil selimut dan bantal lalu melemparnya pada Luna.
“ Sekarang kau pilih, kau tidur di lantai atau aku. Tapi jika kau masih menolak, maka kau tidak ada pilihan. Kau yang akan tidur di lantai. Pikirkanlah, setelah aku selesai mandi aku harap kamu sudah memutuskan” sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
Luna masih berusaha untuk menolak.
“ Mark..”
‘ Brackk ‘ Mark langsung menutup kamar mandinya tanpa menghiraukan Luna.
“ Aaaaa…kenapa dia kembali jadi kurang ajar seperti dulu? Dia bilang akan membuatku tergila gila padanya, tapi dia malah memperlakukanku seenaknya saja.” rengek Luna sambil berguling guling.
__ADS_1
“ Eh, tapi saat ini aku bisa membalasnya. Aku akan tidur di ranjang dan dia dilantai. Aku akan memberikan selimut yang tipis padanya” ucap Luna penuh dengan siasat jahat.
Luna kemudian mengambil selimut dan bandal lalu melemparnya ke bawah.
“ Huh, sekarang kau rasakan bagaimana rasanya tidur di lantai”.
Setelah itu Luna merapikan ranjang yang akan dia tiduri, lalu melepaskan blezernya. Dia berjalan mendekati gantungan baju, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Dia melihat miniature yang coraknya sama dengan yang di gunakan oleh penculik Hyena waktu itu.
Luna langsung menutup mulutnya karena saking terkejutnya.
“ Pantas aku merasa sangat familiar dengan symbol elang itu. Ternyata itu aku melihatnya di sini dan aku sendiri pernah mengobrak abriknya” ucap Luna pelan.
Luna mendekati miniature itu dan mengamatinya untuk memastikan apakah itu symbol yang sama.
Setelah mengamati miniature itu, tangan Luna sedikit gemetaran.
“ Ada apa ini sebenarnya? apa kejadian itu berkaitan dengan Mark?. Aku tau dia tidak menyukai Hyena, tapi kenapa bersikap sejauh ini” Luna berjalan mundur sambil memegangi kepalanya.
Dia merasa kepalanya sangat sakit, karena dalam seketika begitu banyak pertanyaan dan kemungkinan kemungkinan yang menghujam di pikirannya.
Dia serasa ingin sekali berteriak dengan keras, tapi dia tidak mungkin melakukan itu. Dadanya serasa sangat sesak, dan nafasnya seakan terasa tertahan di tenggerokannya. Yang pasti itu sangat menyakitkan. Saat itu Luna merasa telah di bodohi dan dipermainkan oleh semua orang.
Beberapa saat kemudian Mark telah selesai mandi, dia membuka pintu kamar mandi.
Dia melihat luna sudah tertidur di sofa dengan posisi membelakanginya dan di lantai juga sudah di alas dengan rapi di lengkapi dengan selimut tebal dan bantal.
Mark berjalan mendekati ranjang sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
“ Luna, apa kau sudah tidur? Jika belum bersihkanlah dirimu, aku punya piyama yang bisa kau gunakan di lemari” ucap Mark lembut sambil duduk di tepi ranjang.
Di balik punggung yang membelakangi Mark itu, sebenarnya Luna sedang menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Dia tidak ingin Mark mengetahuinya, oleh karena itu dia tidak merespon Mark. Luna menarik selimutnya dan menutupi seluruh dirinya, lalu dia memejamkan matanya.
“ Baiklah jika kau tidak mau. Tapi jika nanti kau merasa tidak nyaman kau bisa menggantinya. Aku akan menaruhnya di kamar mandi” ucap Mark sembari berdiri.
Mark mengenakan piyamanya kemudian dia mematikan lampu di loteng hingga sekarang yang tersisa hanya lampu tidur di meja, setalah itu Mark tidur di bawah ranjang.
Dia tidur menyamping agar dia bisa melihat Luna, walaupun itu hanya punggung Luna yang membelakanginya.
“ Luna, maaf jika aku sekali lagi berbuat jahat. Maaf karena aku memaksamu. Tapi aku benar-benar ingin berada di dekatmu walau hanya dengan cara seperti ini. Sekali lagi maafkan aku dan Good night” ucap Mark lembut.
Di dalam selimut, Luna tak bisa lagi menahan air matanya, dalam seketika air matanya langsung mengalir dengan deras. Luna menggigit bibirnya dan menutup mulutnya dengan bantal agar tangisannya tidak terdengar. Hal itu pasti sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati.
Dia baru saja menemukan sesuatu yang mencurigakan dari pria yang akhir-akhir ini selalu memberinya rasa nyaman. Dan barusan pria itu juga mengucapkan kalimat yang begitu manis. Sehingga Luna tidak bisa berfikir dengan jelas sehingga air mata menguasainya di malam yang sunyi itu.
Malam itu Luna air mata Luna terus mengalir. Dia sudah berusaha untuk menghentikannya, tapi tidak bisa. Hingga pada akhirnya Luna memutuskan untuk mencuci wajahnya.
Dia mengusap air matanya, lalu berbalik badan untuk mengintip Mark untuk memastikan apa dia sudah tidur.
Dia melihat Mark sudh tertidur pulas, akhirnya dia merasa lega. Dia bangkit dan turun dari ranjang dengan air matanya yang masih saja menetes. Di berjalan menuju kamar mandi dengan pelan, agar tidak mengganggu ketenangan tidur Mark.
Saat di kamar mandi Luna langsung membasahi wajah, lalu dia menatap wajahnya di cermin.
“ Aku benar-benar tidak bisa berfikir. Pertama-tama, hal apakah yang harus aku lakukan?” ucap Luna lirih sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Karena tidak begitu tenangnya, Luna memutuskan untuk mandi tengah malam itu. Dia menghidupkan shower dan membiarkan air mengalir di seluruh tubuhnya. Dia menikmati setiap tetes air yang membasahi tubunya.
“ Sebenarnya aku sudah sangat senang karena kau ada disisiku pada masa-masa ini. Tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku, aku sudah bilang pada diriku sendiri kalau aku akan mempercayaimu. Tapi pada akhirnya aku masih meragukan diriku sendiri. Mark kenapa kau bisa menggunakan begitu banyak topeng, hingga kau memporak porandakan hatiku seperti ini”. Bisik hati Luna penuh kehancuran.