
Beberapa dus oleh-oleh dan berbagai bagpaper bermerek sudah menumpuk di ruang utama. Luna, Mark dan Rangga duduk di sofa sambil menikmati teh mereka.
“ Tuan apa ini semua oleh-oleh yang akan di bawa?” seorang pengawal menghampiri.
“ Iya. susun yang rapi di dalam Helikopter. Jangan sampai ada yang jatuh.” Jelas Rangga.
“ Baik tuan.” 3 orang pengawalpun langsung memindahkan dus itu ke hekikopter yang sudah siap di taman samping.
“ Pagi semuanya..” suara nyaring Nindy langsung menggelegar, hingga membuat Rangga yang hendak minum teh terkejut dan menumpahkan teh di jasnya.
“ Aish.. Nindy” gumamnya kesal.
“ Oh My God.. kak Rangga, segitu senangnya ya mendengar kedatanganku?” gurau Ninndy sambil tertawa.
Mark dan Luna mentertawakan Rangga yang terlihat kesal itu.
“ Nindy akhirnya kamu sampai.” Sambut Luna sambil memeluk Nindy.
“ Iya. terimakasih sudah membujuk si tuan muda galak itu hingga mengizinkanku pergi.” ucapnya dengan setengah berbisik, lalu menepuk-nepuk lembut punggung Luna.
“ Ahaha.. kamu jangan bicara keras-keras. Memangnya mau di melototin dia.” Sambil tertawa, lalu melepaskan pelukannya.
“ Kan aku ada kamu, jadi tidak takut.” Dengan berkecak tangan di pinggang.
“ Heemm..” Mark berdehem. Langsung saja Nindy diam dan kicut.
“ Haha.. katanya tidak takut.” Goda Luna.
“ Huh,’’ Nindy langsung merangkul tangan Luna dan melirik Mark dengan kesal.
“ Oh iya, mana kak Key?” sambil duduk di Sofa.
“ Kakak masih masih di luar. Mungkin dia kewalahan membawa kop..”
“ Pagi semuanya..” sapa Key memotong kalimat Nindy. Sontak Mata semua mata tertuju padanya. Mark, Rangga dan Luna memperhatikan 2 koper besar yang di bawa Key.
Sontak tawa Luna langsung pecah.
“ Haha.. kak Key mau kemana? Kenapa membawa banyak koper?”
Sementara Mark dan Rangga langsung memegang kening pusing. Key memang orang yang super complied kalau soal bepergian, melebihi cmiednya wanita.
“ Rangga apa kau tidak mengatakan padanya untuk tidak perlu membawa banyak barang?”
“ Sudah. Tapi memang dasar dia saja yang seperti ini.”
“ Key ini bukan liburan. Kita hanya menginap semalam, kenapa mesti membawa 2 koper besar itu.” suara Rangga terdengar sangat kesal.
“ Milikku hanya satu, satunya lagi milik Nindy.”
“ Terserah kalian saja. Helicopter untuk membawa barang hanya 1, jika koper kalian tidak muat atau mengganggu nantinya, langsung di buang saja di tengah hutan.”
“ Yak Rangga..” teriak Key kesal.
Tawa Luna kembali pecah hingga dia memegangi perutnya.
“ Haha.. kenapa kakak adik ini lucu sekali. Nindy memangnya kamu membawa apa saja?”
“ Baju tidur, baju ganti, sandal tidur, skincare..”
__ADS_1
“ Kenapa tidak membawa rumah saja sekalian.” Mark menyela perkataan Nindy.
“ Maaf.” Nindy menunduk kepalanya, lalu melirik Luna. Memohom pembelaan Luna atas sindiran Mark padanya.
Dengan masih menahan tawa Luna langsung memeluk Nindy.
“ Tidak apa-apa. Mark tidak marah.” elus-elus lembut rambut Nindy. Sementara Matanya melototi Mark dengan tajam, yang mengisyaratkan untuk tidak memarahi Nindy lagi.
“ Nindy baraninya kau menggunakan Luna untuk melawanku ya.” Gumam Mark kesal.
***
Mark dan lainnya sudah berada di taman Villa yang Luas. Sudah ada 4 Helikopter Sikorsky S-92 di sana. Helikopter yang mampu menempuh jarak 280 Km/jam.
Mark dan Luna menaiki Helikopter yang sama, sementara Nindy, Rangga dan Key di Helikopter lain. Semuanya sudah masuk, satu persatu helikopter mulai terbang.
Di atas ketinggian Luna memperhatikan keindahan pemandangan kota di bawah.
“ Sayang boleh ceritakan sedikit tentang ibu?” sambil menoleh pada Mark yang sedari tadi terus memandanginya.
Mark tersenyum, lalu menggenggam tangan Luna.
“ Ibu orang yang lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja..” Mark menggantung kalimatnya. Lalu dia tersenyum masam. Dia menarik Luna dalam dekapannya.
“ Akankah kau mengatakannya padaku? Paman Gu sudah menceritakan banyak hal padaku malam itu. Tapi aku juga ingin mendengarnya dari mulutmu.” bisik Hati Luna.
“ Sayang jangan khawatir apapun yang terjadi aku pasti membelamu.”
“ Apa maksudnya?” Luna berusaha untuk terus memancing Mark untuk terbuka tentang ibunya.
“ Ibuku sekarang sangat pendiam dan juga terlihat kurang menyukaiku. Oleh karena itu dia lebih memilih untuk tinggal di desa bersama keluarga Rangga untuk menghindariku.”
“ Sayang ibu akan menyukaiku kan?” tanya Luna tiba-tiba.
“ Iya, meskipun ibu marah padaku, tapi ibu pasti akan menyukaimu. Apapun yang terjadi kita akan tetap menikah.”
“ Tentu saja kau harus menukahiku, jika tidak aku akan merantaimu di kamarku.” Goda Luna. dia berusaha untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung ini.
“ Haha.. ide yang bagus.” Sambil mencium tangan Luna.
***
“ Kita hampir sampai.” ucap Mark
Luna langsung bangkit mengusap wajahnya dan melihat ke sekitar. Ditengah hutan warna warni yang sedikit berkabut, terlihat sebuah bangunan megah dan luas. Luna menatap Mark dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
“ Tadinya aku berfikiran kita akan pergi ke desa yang ramai penduduk. Ya seperti desa pada umumnya. Tapi ini bukan desa, tapi kastil.” bisik hatinya berdecak kagum.
Luna kemudian berdehem, agar dia bisa mengeluarkan suaranya.
“ Itu rumah Rangga? Ternyata besar sekali, dan sepertinya ini tempat khusus, di kelilingi hutan yang indah.” Luna terpesona dengan panorama yang di sajikan.
“ Gunung ini juga miliknya.” Jelas Mark santai.
“ Hah? Jadi penguasa Gunung bukankah pelanggaran?” Gumam Luna bingung.
Luna terdiam tanpa berkedip. Ternyata Rangga sangat kaya, begitulah ekspresi itu menjelaskan.
“ Jelas saja dia kaya, majikannya saja sekaya ini. Lain kali aku juga ingin punya hal semacam ini dan membangun istanaku juga.” Gumamnya sambil memandangi wajah Mark.
__ADS_1
“ Sayang, apa kamu juga ingin hal seperti ini?”
“ Eh perasaan tadi aku bicara dalam hati. Kenapa dia bisa tahu?” gumamnya lagi. Namun dia beursaha untuk tenang.
“ Aku mau yang lebih dari ini. Kastil yang besar dan megah di tengah hutan kabut yang indah. Danau yang menyatu dengan gletser putih, hamparan taman bunga yang luas di satu tempat yang berdekatan. Aku ingin pemandangan yang membuatku merasa berada di negeri dongeng.” Jelas Luna dengan sedikit tertawa, dia sendiri merasa tidak percaya dengan ucapannya.
Mark meraih tangan Luna dan menggenggamnya.
“ Luna apapun yang aku ucapkan padamu aku harap kamu mengingatnya dengan baik. Aku adalah Mark Rendra, apapun yang kamu inginkan, akan aku berikan. Jika itu masuk akal, kamu minta satu akan aku beri 2. Walaupun hal yang kamu ingin tidak masuk akal, aku akan menjadi orang yang tidak masuk akal demi memuaskanmu. Akan aku pastikan memberikan semuanya padamu, termasuk nyawaku. Jadi aku pasti akan mendirikan istana dan pemandangan negeri dongeng itu untukmu.”
‘ jlep ‘ Luna menelan Ludah.
“ Aaaa.. kamu ini kenapa mulai lagi. Nanti aku bisa diabetes mendengar kata manis dari mulutmu itu.” Luna langsung mengalihkan pandangannya ke luar. Dia membuka mulutnya agar bisa bernafas dengan lancar.
“ Benaran gila. Jika orang lain mati karena terisiksa. Tapi aku sepertinya akan mati karena selalu di buat bahagia oleh suamiku. Argh.. apakah punya suami tampan, kaya dan bermulut manis bisa memperpendek umur?” pikiran Luna menjalar entah kemana-mana.
Helikopter mereka sudah mendarat, di sana mereka sudah di tunggu oleh beberapa pengawal dengan 5 mobil mewah menanti mereka.
“ Wah.. indah sekali. Tidak sia-sia aku bawa barang banyak, jadi bisa mengabadikan banyak moment” kalimat pertama Nindy saat keluar. Tapi dalam seketika dia langsung menutup mulutnya, karena Rangga meliriknya. dia takut jika Rangga akan mengadu pada Mark.
“ Aish.. kakak kamu sudah besar tapi masih saja suka mengadu seperti anak kecil.” Gumamnya kesal.
Para pengawal menyambut mereka dengan sopan dan mempersilahkan untuk masuk.
Saaat mobil mereka melaju, tiba-tiba seekor monyet melompat ke mobil Mark dan Luna. Monyet itu pas di pintu sebelah Luna duduk.Lalu monyet itu menarik lengan baju Luna, sontak Luna menoleh.
“ Aaaa.. ada king king kingkong….” Teriak Luna sangat ketakutan.
“ Itu monyet peliharaan. Mana ada kingkong.” Sambil mengusap monyet tersebut, lalu menyuruhnya pergi. Dengan sangat penurut monyet itu pergi dengan mudahnya.
Luna memegangi dadanya dengan nafasnya yang tak beraturan.
“ Kenapa penurut sekali?” tetap bertanya di tengah nafas yang tak beraturan itu.
“ Karena dia mengenal kami.”
“ Kami? kalian 3 sekawan ini Tarzan ya? Bisa-bisanya pelihara binatang buas. Nanti apalagi yang akan aku lihat? Harimau, macan, srigala?”
‘ sret sret ‘ tiba-tiba terdengar suara aneh di balik semak, lalu di susul dengan suara harimau.
“ Aaaa..” Luna langsung memeluk Mark.
Sementara Nindy di mobil belakang hanya senyum-senyum. Karena dia sangat aman duduk diantara Key dan Rangga. Dia hanya tertawa ketika mendengar suara teriakan Luna di depan.
“ Benaran datang ya..” tangan Luna bekerja dengan cepat untuk menutup kaca mobilnya.
Sementara Mark pengawal yang mengemudi sudah menahan tawanya.
“ Mark bisa kau katakan keluarga Rangga seperti apa? apakah mereka seperti orang pedalaman di film-film?” dia masih memeluk Mark, enggan lepas, takut jika ada binatang buas lainnya.
“ Ya Ampun.. pemikiran apa lagi ini?” gumam Mark tertawa.
“ Sayang kita lihat saja nanti. Kau pasti suka dengan suasana istana pedalaman keluarga Rangga.” Mark malah meladeni pikiran aneh Luna itu.
“ Jika begitu, nanti kau tidak boleh jauh-jauh dariku, kita hanya boleh bejarak 20cm saja, dan kau harus tetap menggenggam tanganku.” Ucap Luna polos, dia benar-benar termakan tipuan Mark.
Mark berusaha untuk tetap menahan tawanya. Merasa sangat gemas pada sang calon istri.
“ Wanita memang lebih bagus bodoh sedikit ya.” bisik hatinya merasa puas.
__ADS_1
Bersambung...