TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 MASAK-MASAK


__ADS_3

“Sungguh kak Jiang He juga akan bergabung?” tanya Nindy antusias lewat via telepon.


“Iya, Nindy. Semuanya hadir, termasuk kak Hanny. Dia sudah dalam perjalanan menuju ke sini.” Jelas Luna.


Sore nanti Luna berencana untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, bersama teman dan sahabat suaminya. Rindu, sudah cukup lama juga mereka tidak berkumpul. Terakhir kali, saat Luna mengabari kehamilannya. Semuanya datang untuk memberi selamat.


“Ok, baiklah. Aku pasti datang. Aku sudah sangat tidak sabar.” Tutur Nindy dengan full senyum.


“Aku tunggu kedatangan kalian semua. Bye-bye.”


“Iya, Bye-bye.”


Nindy langsung meloncat kegirangan, membuat Key yang baru keluar dari ruang rapat menatap adiknya itu heran.


“Hem ehem..”


“Eh, kakak.” Nindy menoleh, tersenyum bodoh sambil mengusap tengkuknya.


“Sudah loncatnya?”


“Hemm…” Nindy tidak bisa menjawab lebih. Takut, dia sudah meninggalkan ruang rapat sedikit lama karena berbincang dengan Luna. Sekarang dia hanya bisa tersenyum bodoh.


“Heh..” Key meledek Nindy. Seperti biasa, memberikan tatapan mengejek dan itu sangat menyebalkan bagi yang melihatnya.


“Sekarang masuklah. Pimpin rapat sebentar. Aku ke toilet.” Key berlalu, bernyanyi kecil dengan santainya. Sementara Nindy melayangkan tinjunya pada sang kakak.


“Punya kakak, satu-satunya, tapi sangat menyebalkan.” Melayangkan tinju kembali, tapi kali ini tertangkap oleh Key yang tiba-tiba berbalik badan menoleh padanya.


“Hehe.. kakak.” Nindy langsung melakukan gerak tangannya seolah dia senang senam.


“Kau menyumpahi dan mengacungkan tinju dari belakang?”


“Aku? tidak! Aku mana mungkin melakukan itu pada kakak. Aku hanya meregangkan tangan dan jemariku. Beberapa hari ini mereka sangat sering di gunakan. Sepertinya aku harus ke Spa untuk merilekskan otot-ototku.”


“Nindy..” bentak Key pada Nindy yang sudah melarikan diri ke ruang rapat. Nindy lepas kali ini.


Key menggeleng perlahan, lalu menoleh pada layar ponselnya yang kembali bergetar. ‘Mark’ memanggil. Key keluar memang untuk menjawab panggilan sahabatnya ini. Mark sudah meneleponnya 3 kali saat di ruang rapat tadi. Tidak biasanya. Was-was akan sesuatu, bagaimana jik memang penting? akhirnya Key keluar.


“Halo Mark,” jawab Key sambil melanjutkan langkahnya.


Nindy memegang dadanya lega lepas dari sanga kakak.


“Syukurlah.” langkah kaki dibawa menuju kursinya. Saat duduk Nindy tidak bisa menyembunyikan bahagianya. Matanya mengarah pada ketua team yang sedang menjelaskan di depan, tapi hatinya hanya terfokus memikirkan Jiang He, pria yang dia cintai.


Tentu saja Nindy sangat bahagia, Jiang He sudah 2 bulan penuh di Paris. Dia kembali ke Beijing, baru pagi ini. Nindy ingin sekali menyambut Jiang He di bandara, tapi rapat pagi ini tidak bisa dia tinggalkan.


Satu hal lagi, hubungan Nindy dan Jiang He sudah sangat dekat semenjak pria itu mengajak Nindy menonton bioskop. Mereka jadi sering bertemu dan jalan bersama, hanya saja belum sampai pada tahab serius, seperti pernyataan perasaan dari Jiang He. Karena saat hubungan mereka sedang manis-manisnya, Jiang He di panggil ayahnya untuk kembali ke Paris.


“Kak Jiang He, aku sangat merindukanmu.” Nindy tersenyum hingga menghentakkan kedua kakinya dan merebahkan kepalanya di meja, benar-benar sensasi orang yang sedang kasmaran.


Semua orang menoleh padanya, termasuk ketua team yang sedang menjelaskan berhenti sejenak. Namun Nindy masih tidak menyadarinya.


“Hem hem..” Lery berdehem, secara alami ketua team melanjutkan penjelasannya. Saat itu juga Nindy mengangkat kepalanya, dia baru sadar.


Nindy cengingisan sendiri, karena menangkap beberapa orang baru mengalih pandang darinya.


“Ya ampun… bodohnya.” keningnya ditepuk sendiri. Nindy menoleh pada Lery yang tersenyum menatapnya.

__ADS_1


“Xie Xie..” tutur Nindy dengan gerak bibirnya. Berterimakasih, karena telah mengingatkan semua orang, termasuk dirinya.


Lery menganggukkan kepala pelan, lalu kembali fokus memperhatikan penjelasan.


“Untung aku punya kakak ipar yang baik. Eh, tapi… bagaimana perkembangan hubungan mereka ya?” monolog hati Nindy.


Beberapa waktu ini dia tidak terlalu memperhatikan hubungan 2 sejoli ini. Terakhir kali Nindy masih melihat mereka masih sama seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar.


Nindy memandang lekat Lery yang serius mendengarkan presentasi, “Baiklah kakak, sepertinya adikmu harus turun tangan ya.” bibirnya mengembangkan senyum penuh siasat.


***


“Apa? jadi kau menghubungiku hanya karena ini?” Key mengusap pelipisnya kesal. Mulutnya berkedut menahan umpatan.


“Apa maksudmu hanya karena ini? Key.. Luna sedang hamil. Jadi, aku harus mengabulkan semua kemauannya. Key ini demi anakku, keponakan mu juga.” ucap Mark penuh bujukan.


Key mengusap rambutnya hingga kebelakang, “Mark bukannya tidak mau, tapi kau tahu tidak, aku sedang rapaaaatttttt, kau menelepon ku berkali-kali. Aku kira kau akan membicarakan hal yang sangat mendesak.” Key mengeram menahan kesal.


“Ini sangat mendesak, jika aku tidak gigih menelepon, siapa tau kau malah berkencan nantinya.”


“Berkencan apa maksudmu?”


“Haha.. tidak ada. Teleponnya ku tutup. Ingat! Nanti ke tempatku, ONTIME.”


“Mark..”


Tutt.. telepon terputus sebelum Key selesai berucap.


“MARK RENDRA….” eram Key memelototi layar ponselnya. Dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Mark perihal dia akan pergi berkencan.


Key mencuci tangannya dengan sabun, pikirannya melayang akan kalimat Mark sok tau, “Tapi..” aktifitasnya terhenti. Dia sedikit memiringkan kepalanya, matanya menyipit. Dia menyadari sesuatu.


“Hah,” dengus Key akhirnya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menepis apa yang dia pikirkan dan lanjut membersihkan tangannya.


***


“Wah.. selamat datang,” sambut Luna dan Hanny pada rombongan yang datang. Sangat antusias, Luna tidak menyangka jika mereka kompak datang bersamaan, termasuk Mark juga bersama dengan rombongan. Hanya Zhaon yang belum bisa datang. Dia akan datang terlambat.


“Wah sudah besar. Bagaimana rasanya?” Nindy mengusap perut Luna setelah melepaskan pelukan mereka.


“Rasanya? Tentu saja bahagia. Kamu mau?” goda Luna dengan melirik Jiang He.


“Hah?” Nindy terkejut, tapi berakhir dengan tawa. “Kamu ini ada-ada saja. Bagaimana aku bisa. Menikah saja belum.”


“Menikah? Punya pasangan saja belum,” Key menyela tiba-tiba dengan remeh, membuat tawa semua orang pecah.


“KAKAK…..” rengek Nindy penuh kekesalan, dia melirik Jiang He yang tampak tersenyum kecil. Nindy merasa sedikit malu, karena kakaknya ini memang tidak ada menjaga imagenya sedikitpun.


“Kakak sekarang lebih baik khawatirkan diri kakak. Nanti jika aku sudah punya pacar, aku akan segera menikah. Aku tidak peduli dengan kakak. Aku akan melangkahi kakak,” balas Nindy, yang berhasil membuat orang menahan tawa. Tapi Key tetap santai, solah kalimat sang adik hanya angin lalu baginya.


“Sudah, sudah. Sekarang ayo kita masuk.” Ajak Luna memecahkan suasana.


Nindy dan Luna terus berbincang sambil berjalan. Nindy terlihat sangat antusias melihat perut Luna yang sudah terlihat. Sementara Hanny dan Lery cukup santai mengikutinya dari belakang.


“Jiang He, kapan? Key kapan?” Mark melirik kedua pria itu.


“Kenapa hanya kami? Rangga kau kapan?” lempar Key menyenggol tangan Rangga dengan sikunya.

__ADS_1


“Key aku tidak ada berurusan dengan wanita sekarang.”


“Lalu?”


“Khawatirkan saja dirimu yang akan di langkahi adikmu.” Balas Rangga menohok.


“Kau..” Key menahan dirinya yang hendak mengumpat. Dia menoleh pada Jiang He. “Kau kapan berencana melamar adikku?” tanyanya tanpa basa-basi.


“Jika kakak ipar tidak keberatan, maka akan secepatnya!” jawab Jiang He santai, lalu dia berjalan duluan, membuat Mark dan Rangga menahan tawa kesekian kalinya.


“Kau.. dasar bocah. Kau seharusnya menghormati ku!” sungut Key mengejar langkah cepat Juang He.


Rangga masih tertawa melihat interaksi Key dan Jiang He. Namun tiba-tiba Rangga berhenti saat menyadari Mark menatapnya.


“Rangga..” Mark menepuk bahu sahabatnya itu.


“Apa?”


Mark menggeleng,”Ayo kita masuk.” Mark berjalan duluan. Rangga mendengus senyum, lalu mengikuti langkah Mark.


***


Semua orang berada di dapur. Mengolah sayur, buah, daging, udang, sosiz dan lainnya. Mereka menyiapkan semua nya dari awal.


Sengaja, agar semuanya bekerja. Demi hari ini, Luna bahkan membebaskan pelayan dari urusan memasak.


Namun, diantara semua orang hanya 3 orang yang benar-benar bekerja. Yaitu Jiang He, Lery dan Hanny. Sementara Key yang sedari tadi masih sibuk mengupas kulit udang, dia kesulitan melakukannya. Beberapa kali udang melompat dan terlepas dari tangannya. Dia tidak berpengalaman sama sekali.


Rangga? dia menangis karena mengiris bawang. Mark? entahlah, Luna heran apakah suaminya ini sungguh tidak bisa apa-apa, Mark sedari tadi hanya memberi Instruksi yang sama sekali tidak di butuhkan.


Nindy? dia ketimbang membantu, dia lebih banyak memandangi Jiang He.


“Mark..” Luna menghempaskan pisau yang sedang dia pegang. Dia membantu Rangga mengiris bawang. Tetapi dia menggunakan masker agar aroma-aroma menyengat di sini di tidak mengganggunya. Luna masih suka mual walaupun tidak separah dulu.


Mark yang sedang memprotesi Key langsung berhenti, “Ada apa sayang?” mendekati Luna.


“Aku ingin telur mata sapi buatanmu.”


“Sekarang?”


“Iya. Sekarang.. tapi kamu memasak tanpa atasan. Tanpa baju maksudku.”


“Hah?”


Semua orang langsung menoleh pada Luna, lalu mereka saling tatap, tersengih sesama mereka.


“Ta-tapi…”


Luna bangkit dari duduknya. Membuat Mark menghentikan protesnya.


“Mau tidak?” tanya Luna seolah mengancam. Dia mengusap perutnya.


Mark kikuk dan menganggukkan kepalanya pelan.


“Sayang.. kenapa kamu sangat suka mengerjai papa?”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2