TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Mark menatap bergantian Rangga dan Key yang duduk dihadapannya. Wajah monyok Key dengan ekspresi memelas. Sementara Rangga tetap pada dirinya yang senantiasa dengan ekpresi tenang dan serius itu.


“Mark.. ayolah. Segera setujui kami untuk menetap di NY dan mengurus EDDEN.” Rengek Key. 


Mark masih diam. Sebenarnya sudah dua bulan dia mempercayakan EDDEN pada kedua sahabatnya ini, namun belum sepenuhnya. Key dan Rangga hanya pulang balik New York-China ketika ada hal yang memang harus diikut sertai.


“Mark..” 


“Stop it.” Jerkah Mark menghentikan rengekan Key yang tiada henti itu. Sudah panas telinganya.


Key mencebik. Dasar teman tidak berprasaan. Keras batu sekali hati Mark, sehingga tidak ada kasihan sama sekali melihat dia yang terus memohon. Sekarang Key beralih menatap Rangga yang sedari tadi hanya diam. Entah kenapa muncul rasa kesalnya. 


“Rangga ini ini satu. Aku sudah kehabisan jurus untuk membujuk, dia malah diam saja seperti patung.” Geram Key di dalam hati.


“Key maafkan aku.” ujar Mark tiba-tiba.


Key menoleh pada Mark. Kenapa tiba-tiba minta maaf? Ekpresi Mark juga tampak lain. Seperti ada sesuatu. Humm.. key terfikirkan sesuatu. 


“Calm down. Aku tidak masalah seberapa kalipun kau memarahiku, terlebih lagi jika kau mengizinkan aku menenatap dan mengurus EDDEN. Kau bisa sepuasnya memarahiku. Aku tidak masalah.” Sengihnya. Dia harus memanfaatkan kesempatan. Dia sangat tahu, jika Mark meminta maaf pasti ini bersungguh-sungguh, and then Mark pasti akan setuju dengan syaratnya kan?


Mark menggeleng, “Aku meminta maaf karena tidak bisa membiarkanmu megurus EDDEN.”


What? Key melompong dengan mata membulat dan mulut sedikit ternganga. Dia menatap Mark tidak percaya. Teganya….


“Tapi kenapa?” Key tampak sangat tidak berpuas hati. Terlebih Rangga senantiasa tenang saja, apa mereka berdua sudah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku?


“Maaf Key, aku benar-benar tidak bisa. Kau harus tetap di sini mengurus perusahaanmu. Kemarin aku bertemu dengan Jiang He, dia bilang dia akan membawa Nindy ke France setelah menikah mereka menikah nanti. Jadi artinya Cour di tanganmu.”


Key mengacak rambutnya sendiri. Dia kira kedua sahabatnya ini yang licik, ternyata calon adik ipar sendiri yang bertingkah. Bukan dia tidak tahu rencana Jiang He, dia tahu dari awal. Namun tidak menyangka saja jika Mark sampai menanyai Jiang He perihal ini. Padahal sekarang dia sedang membujuk Nindy agar membujuk Jiang He menetap di China saja. Tapi... jika sudah begini, tidak ada lagi harapan.


“Haissshhh…” semakin monyok bibir Key. Dasar adik ipar menyebalkan. Awas saja nanti!


***


 Rangga memberhentikan mobilnya tepat di hadapan villa. Sontak pengawal di villa membukakan pintu mobil itu untuk Mark yang ada di belakang kemudi. Ketika Mark keluar, dia berkerut dahi melihat Rangga yang ikut keluar bersamanya.


“Kamu mau apa?” tanya Mark.


“Aku ingin berjumpa dengan keponakanku. Aku rindu.” Rangga langsung meluru memasuki villa itu.


Mark tersengih sendiri melihat gelagat Rangga yang lebih-lebih darinya. Padahal bisa dikatakan hampir setiap hari sahabatnya itu berjumpa dengan anaknya.


“Rangga aku rasa kamu juga harus mempunyai anak.” sorak Mark sambil mengejar sahabatnya itu.


Rangga tidak memperdulikan Mark yang mengoceh di belakang. Telinganya sudah sangat terbiasa dengan berbagai kalimat Mark yang terkadang menyudutkannya. Jadi anggap angin lalu saja. Tulikan saja telinga. 


Langkah langsung dibawa menuju kamar Allard.

__ADS_1


“Tuan, ssttt…” Zhaon mendekati Rangga dan mendorong tubuh Rangga untuk keluar kembali. Berkerut seribu kening Rangga ketika itu.


“Tuan muda kecil baru saja tertidur. Jangan ganggu, tadi dia sangat rewel hari ini.”


“Aku hanya melihatnya saja,” Rangga kembali mengayun langkah.


“Tidak, tidak!” Zhaon merentangkan tangan untuk menghalangi Rangga.


Dimasa yang sama Mark muncul di situ, “Ada apa?” tanyanya.


Rangga dan Zhaon menoleh. Namun belum sempat Zhaon menjawab, terdengar suara Allard yang kembali menangis. Tanpa menunggu lagi, Mark langsung masuk ke dalam kamar anaknya itu. Pun Zhaon dan Rangga ikut masuk.


“Kenapa ini?” tanya Mark pada baby siter yang tengah menenangka Allard yang menangis semakin keras. Tidak biasanya Allard demikan. 


“Tuan muda kecil sangat rewel hari ini, Tuan.” jawab baby siter itu.


Mark mengambil alih Allard dari baby siter itu.


“Anak Papa..” bokong anaknya itu di tepuk-tepuk lembut namun tangisan Allard samakin keras hingga kulit putih bersih itu memerah. 


“Mana istriku?” tanya Mark. Jika seperti ini hanya Luna lah yang mampu menenangkan Allard.


“Nona belum pulang.”


Mark mengeluh perlahan setelah melirik jam tangannya. Terlalu asyiklah di luar, sehingga jam segini belum pulang? Mark tahu jika Luna pergi menemui Nindy. Luna sudah meminta izinnya.


“Hubungi dia.” Titahnya tegas. 


“Cepat lakukan.” bisik Rangga.


Zhaon telan Ludah dan mengangguk. Cepat tangannya merogoh ponsel. Rangga menggeleng melihat situasi yang tegang itu. Dia  tahu Mark emosional sekarang. Langkahnya dibawa mendekati Mark yang masih mencoba menenangkan Allard.


“Jam segini biasanya Allard bermain dengan Luna.” Luah Mark pada Rangga.


Zhaon masih berusaha menghubungi Luna. Sudah dua kali panggilan, tapi tidak ada jawaban.


“Tuan.. No-na, Nona tidak menjawabnya.” ujar Zhaon.


Mark ketab bibir. Entah kenapa dia merasa geram pada istrinya sekarang.


“Terus coba. Rangga, bantu aku menghubungi Nindy.”


Zhaon dan Rangga mengangguk. Mereka keluar dari situ agar bisa lebih tenang menghubungi Luna maupun Nindy.


Mark lanjut menenangkan Allard. Dia sangat cemas melihat tangisan Allard yang tidak seperti biasanya.


"Anak Papa.." dot susu dicoba diberikan pada Allard, namun Allard menolak.

__ADS_1


“Mark,” Rangga muncul kembali dengan wajah yang tegang, “Nindy bilang Luna sudah pulang dua jam yang lalu.”


Bagai di sambar petir ditengah kemarau Mark ketika itu.


“Luna…”


***


Kening Luna berkerut-kerut. Matanya yang masih tertutup dibuka perlahan.


“Aargh,” tangannya naik mengusap pelipis. Kemudian matanya meliar memperhatikan sekeliling kamar mewah itu. Luna tidak tahu dia dimana sekarang. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.


“Tidak!” Luna bangkit dari tidurnya ketika bayangan ada orang yang menekup mulutnya ketika mencari kunci mobil di parkiran toko bunga.


Bingkas Luna berdiri dan memperhatikan kamar itu kembali. 


“Dimana aku sekarang?” 


Luna berlari menuju pintu, namun terkunci.


“Buka pintunya. Siapapun di luar buka pintunya. Aku mohon.” 


Dua orang yang berjaga di luar hanya melirik handle pintu yang bergerak-gerak itu dan kembali fokus ke depan.


“Aku mohon buka. Siapa kamu? kenapa menculikku?” teriak Luna lagi.


Luna menyipak kesal pintu itu karena saking kesalnya. Tidak, dia tidak boleh menyerah. Mata Luna kembali meliar memperhatikan sekeliling. 


“Tidak mungkin.” Luna sedikit tergamam ketika melihat pemandangan kabur dari tirai jendela kamar itu. Ada hal yang aneh.


Perlahan Luna membawa langkah mendekati jendela tersebut. Tangan Luna sedikit bergetar ketika naik mencapai tirai. Perlahan dia kauatkan juga dirinya untuk menyibak tirai itu. Laut!


Ya! Luna sekarang berada di tengah-tengah laut dengan kapal pesiar mewah.


“Tidak! Tidak. Aku tidak mau di sini.” tangannya naik menekup mulut. 


Badan Luna terasa tidak bertulang sekarang. Tubuhnya melorot ke bawah dan ambruk di lantai. Dia terduduk di situ.


“Allard.. Mama rindu. Maafkan Mama sayang.” tangis Luna tergugu.


Dada Luna terasa begitu sesak. Bayangan putra kecilnya serta suami seketika menari di pelupuk matanya. Dia hanya berharap agar suaminya itu bisa menemukan dia secepatnya.


“Mark.. Allard maafkan aku.” 


Luna sudah terkulai lemah, tubuhnya terjatuh ke lantai. Napasnya tercuap-cuap bagaikan ikan di atas darat.


“Tolong aku..” tangannya dihulurkan ke arah pintu berharap ada yang membantunya sekarang. Lama kelamaan mata Luna terpejam lemah.

__ADS_1


"Tolong..." bulir jernih di sudut matanya jatuh menimpa lantai.


Bersambung….


__ADS_2