TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
LAS BOVADES


__ADS_3

Key dan Rangga tiba di hotel yang didatangi semalam oleh Luna. Mereka membawa mobil masing-masing.


“Apa kamu yakin kita akan mendapatkan informasi?” tanya Rangga. Mereka terus berkomunikasi dengan earbud.


“Jika tidak mencobanya, siapa yang tahu.” Key keluar dari dalam mobil.


“ Aku masuk duluan, mari kita jalankan sesuai rencana.” ucap Key lagi


“Oke.”


Key mauk ke dalam hotel dan memesan kamar presidential suite.


Berdasarkan informasi yang mereka dapat, Tris berada di kamar 505, jadi Key memesan kamar 506.


Selesai memesan kamar, dia langsung mengabari Rangga.


“Aku di kamar 506, kamu pesan kamar 504.”


Rangga langsung keluar dari mobil dan memasuki hotel. Ketika memesan kamar 504, ternyata kamar itu sudah ada yang menempati dan kamar yang di lantai itu semuanya sudah penuh.


Sial, aku tidak ada pilihan. Baiklah, jika begitu diw harus memesan kamar lain.


Dia mengabari Key, "Key kamar di lantai atas sudah penuh. Jadi aku memesan kamar 305. Kita harus tetap berkomunikasi.”


“Ah, maafkan aku tidak memeriksanya terlebih dulu. Oke, aku mengerti.”


Di kamar hotel, Key mulai beraksi. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian pegawai room service hotel.


Key merubah penampilannya. Mulai dari gaya rambut, dia juga memakai kaca mata untuk mendukung penyamarannya.


Key sudah bekerja sama dengan salah satu dari orang room service di sini. Setelahnya, dia bergabung dengan pegawai room sevice lainnya.


Setelah beberapa saat, tibalah saatnya untuk mengantar makanan ke kamar 505, yaitu kamar pangeran Tris.


Saat di depan pintu kamar 505, dua orang pengawal memeriksa masing-masing dari pegawai room service tersebut sebelum masuk.


Benar-benar di jaga dengan ketat.


Setelah selesai semuanya di periksa, semuanya aman.


“Nanti, saat di dalam kalian tidak di perbolehkan untuk menatap apapun, kalian harus tetap menunduk. Termasuk ketika menyajikan makanan kalian harus tetap menunduk.” ucap pengawal tersebut.


“Kami mengerti.” jawab Key dan yang lainnya.


Saat Key masuk, dia mendengar Tris sedang berbicara dengan seorang wanita di balkon .


Siapa wanita itu? dia harus bisa mencari kesempatan untuk melihat wajahnya.


Key menekan jam tangannya untuk mengaktifkan camera untuk merekam.


“ Ya, akhirnya Key bisa masuk.” Rangga sedang memantau camera yang telah di aktifkan oleh Key.


Key berjalan menuju meja makan. Dia menyajikan makanan di meja sambil memperhatikan ruangan dan mengarahkan tangannya ke semua ruangan agar Rangga bisa melihat keseluruhannya. Setelah selesai, Key melihat ada gelas di meja dekat ranjang.


Ini kesempatanku!


“Ada gelas kotor di meja, aku akan mengambilnya.” ucap Key pada pegawai lainnya.


“Baiklah, ingat kamu tidak boleh mengangkat kepalamu. Jangan memperhatikan apapun.”


“Aku tahu.”


Key berjalan menuju ranjang tersebut, dia mencari kesempatan untuk melihat siapa wanita itu, tapi tidak berhasil.


Sial, dia benar-benartidak bisa melihatnya. Tapi, setidaknya camera ini bisa merekamnya dan juga harus bisa merekam kamar ini.


Key mendengar mereka menyebut nama Luna. Keningnya langsung berkerut.


Key kembali berjalan, tetap menunduk dan meletakkan tangannya di belakang agar dia bisa kembali merekam wajah wanita tersebut.


Setelah itu Key dan yang lainnya keluar.


Setelah berjalan menjauh dari kamar 505, Key langsung memisahkan diri dengan yang lainnya.


Key memasuki lift, dia pergi menemui Rangga di lantai tiga.


Key telah sampai di depan kamar Rangga.


Tok! tok!


Rangga membukakan pintu untuknya.


“Bagaimana? apa aku merekamnya dengan baik?” tanya Key langsung.


“Ya, aku sudah menemukan dimana nantinya aku akan memasangkan penyadap ini.” Rangga sambil memperlihatkan sebuah furniture khas dari hotel tersebut.


“Kamu memasangnya di furniture ini?” tanya Key


“Iya, tadi aku melihat juga ada furniture yang sama di sana, jadi nanti aku tinggal menggantinya dengan ini.” jelas Rangga.


“Baik, kerja bagus. Oh iya apa kamu melihat seorang wanita di rekaman itu?” tanya Key,


Rangga mengerutkan dahi.


“Wanita?” Rangga memutar kembali video yang di rekam oleh Key.


Mereka memperhatikan dengan seksama video tersebut.


“Ini, ini aishh... sial! aku tidak merekamnya dengan baik. Kita tidak bisa melihat wajahnya. Pantas ku tidak menyadarinya, yang terlihat cuma sedikit dari samping. Aku tadi juga tidak punya kesempatan untuk melirik karena Tris melihat ke arahku.“


“Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha. Soal wanita itu, kita mengurusnya lain kali. sebentar lagi saatnya giliran ku.” ucap Rangga.


“Berhati-hatilah, mereka sangat ketat."


“Ya."


***


Mark dan Luna telah sampai di Las Bovades.

__ADS_1


“Kenapa kamu tahu aku mau ke sini?” tanya Luna dengan semangat.


“Aku hanya menebak saja.”


Las Bovades adalah salah satu pasar jalanan terbaik di Cartagena dan tempat yang tepat untuk membeli souvernir apapun. Las Bovades terletak di lokasi bekas penjara, setiap kios di simpan di bekas sel.


Luna keluar dari mobil, dia mengeluarkan camera di ranselnya dan langsung memfoto bangunan dan hal lainnya yang menurutnya menarik.


 


Mark hanya memperhatikan, tanpa sadar dia tersenyum.


“Mark tolong ambilkan gambarku.” ucap Luna sambil mengulurkan camera.


“Baiklah.”


Lunapun langsung berfose dengan berbagai gaya.


1 2 3 , cekkrek, cekkrek cekkrek.


Mark tidak bisa untuk tidak memuji. Luna benar-benar cantik.


“Sekarang giliranmu."


“Aku?” tanya Mark sambil mengerutkan keningnya.


“Iya, kamu juga harus mengambil gambar.”


“Baiklah.” Mark memberikan camera pada Luna. Dia hanya berdiri.


“Aishh! kenapa kau tegang sekali? Kamu tidak pernah berfoto sebelumny, ya?”


Luna menghampiri Mark dan mengarahkannya untuk berpose.


“Begini, kamu harus rilex. Jangan tegang begitu, mana ada orang liburan, tapi tampangnya stress begini.” celoteh Luna.


Tiba-tiba ada yang menyenggol Luna. Luna sedikit menjerit dan amera terlepas dari tangannya.


Luna hampir terjatuh, beruntung Mark langsung menarik tangan Luna dan memegang pinggang Luna.


Sekarang posisi mereka seperti orang yang berdansa. Mereka sangat dekat, mata mereka bertatapan sangat dekat. Luna mengedipkan Matanya beberapa kali.


“Mark berdirikan aku dengar benar.” ucap Luna.


Mark tersadar, “Ah, Oke.”


“Maaf, maaf ada yang mereka mendorongku.” ucap Luna dengan canggung.


“Tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja.”


Luna memungut cameranya dan memeriksanya.


“Aalpa itu baik-baik saja?” tanya Mark.


“Iya ini baik- baik saja.” Luna masih canggung.


“Di sini sangat ramai, kita cari tempat untuk istirahat dulu.” Mark menarik tangan Luna.


Mereka duduk di bangku yang tersedia di sana.


“Apa kamu haus?” tanya Mark.


“Um,” jawab Luna sambil mengangguk.


“Kita minum di kafe atau...” Mark belum menyelesaikan ucapannya, tapi di potong oleh Luna.


“Di sini saja. Kamu pergilah cari minuman.” ucap Luna dengan senyum.


Kening Mark sedikit berkerut. Berani sekali dia menyuruhnya. Tapi, akhirnya dia berkata ,"Baik."


 


Ketika Mark pergi, Luna lansung mengeluarkan pensil dan kertas lukis. Dia mulai menggambar.


Sesaat kemudian Mark datang, dari kejauhan dia melihat Luna sedang menggambar.


Mark berjalan mendekat, dia melirik apa yang di gambar Luna.


Luna sedang menggambar wisatawan yang ada di depannya, dimana wisatawan tersebut adalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8 tahunan. Mereka sedang berfoto dan terlihat sangat bahagia.


Hati Mark tertegun.


Mark mengambil napas panjang, kemudian dia duduk di samping Luna.


“Ini minumanmu.” Mark memberikannya pada Luna.


“ Ya, makasih.” Luna langsunh meminumnya dan meletakkan kembali di samping. Dia lanjut menggambar.


“Apa yang kamu gambar?” tanya Mark pura-pura tidak tahu.


Luna tersenyum, “Aku tertarik dengan kehangatan keluarga ini. Mereka terlihat sangat bahagia. Hal ini mengingatkanku pada masa kecil." Luna berhenti sejenak, lalu melanjutkan.


"Dimasa depan anak itu juga akan mengalami pergolakan dalam hidupnya, semoga dengan kasih sayang yang telah orangtuanya berikannya padanya, tidak akan membuat dia membenci orangtuanya walau apapun yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Aku berharap dia bisa tetap tegar menjalaninya.”


“ Apa sedang menceritakan dirimu sendiri?”


“ Entahlah.” jawab Luna singkat


“Katakan! katakan apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan.” ucap Mark dengan serius.


Luna berhenti menggambar dan menatap Mark.


“Um, baiklah. Aku hanya masih memikirkan hal yang kamu ucapkan terakhir kali tentang orang tuaku. Kamu berkata seolah mereka telah melakukan dosa besar. Aku tidak bisa membantahnya sekarang, karena bisa saja itu benar. Tapi, di hatiku yang paling dalam berkata, orang tuaku tidak akan melakukan hal apapun yang melukai orang. Aku tahu Papa mamaku, mereka sangat baik, ramah dan loyal." Luna tersenyum lembut.


"Karena sifatnya itulah dia bisa mengembangkan bisnisnya dengan cepat, bahkan mendapat kepercayaan dari kerajaan Inggris. Tapi, sebaik apapun orang pasti ada juga yang tak menyukainya. Jadi, Jikapun ada kesalahan yang telah di lakukan oleh orangtuaku, aku yakin mereka pasti di jebak.”


“Baiklah itu menurutmu. Jadi, kenapa kamu tidak menanyaiku lagi tentang orang tuamu sejak hari itu?”


Luna tersenyum, “Saat itu aku mengerti suatu hal. Kamu mengambil alih perusahaan, menguasai propertinya dan tak pernah memberiku kesempatan untuk bisa menjumpai orangtuaku. Tapi, kamu tetap memberikan 15% saham untukku, membiarkanku untuk tetap tinggal di rumah dan bahkan kau memberiku status sebagai tunanganmu."

__ADS_1


Diam sesaat, lalu dia menunduk dan mengangguk kecil, "Aku mengerti, sebenarnya saat ini kamu hanya sedang berusaha mencari kebenaran. Kamu sendiri juga belum yakin jika orang tuaku bersalah. Aku merasa sebenarnya kamu juga sedang melindungiku”


“Kenapa berfikiran aku melindungimu?” tanya Mark.


“Entahlah." Luna mengangkat kedua bahunya.


“Apa kamu tidak akan memaksaku lagi untuk mempertemukanmu dengan orang tuamu?”


“Tidak." Lu a menggeleng, "Karena kamu bilang ayahku baik-baik saja, itu sudah cukup. Aku juga tidak ingin membuat Papa dan Mama memandangiku dengan perasaan bersalah dengan keadaan seperti ini. Kamu ungkaplah semua prasangkamu pada orang tuaku dan kembalikan mereka padaku dengan senyum. Aku yakin mereka tidak bersalah.”


“Bagaimana jika orang tuamu bersalah?”


“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, aku yakin orang tuaku tidak akan bersalah!” jawab Luna dengan tegas.


Mark tertawa rendah, "Sayangnya, kamu benar tidak tahu apa-apa. Maafkan aku Luna, aku bisa saja mengecewakan harapanmu.” ucap Mark dengan dingin.


“Kita lihat saja nanti.” Luna tidak terganggu sama sekali. Dia tersenyum dan melajutkan gembarnya.


Mark menatap wajah Luna yang terlihat tenang.


Tidak di sangka gadis ini masih berfikiran baik tentangnya. Semoga orang tuamu tidak terlibat. Tapi... ah, sudahlah!


Mark berdiri dan mengemasi barang Luna.


“Kenapa?” tanya Luna heran.


“Kita ke sini untuk bersenang- senang, simpan dulu gambarmu.” ucap Mark sambil mengambil kertas dan pensil di tangan Luna, lalu memasukkannya ke dalam tas.


Luna hanya bengong melihat tingkah Mark.


“Ayo.” ucap Mark sambil menarik tangan Luna, “Kamu juga harus mengetahui tentang bangunan ini.”


Mark dan Luna berjalan mengitari bangunan Las Bovades. Mark berjalan di depan, dia menjelaskan sejarah dari bagunan Las Bovades. Mark menjelaskannya dengan sangat detail.


 


Luna mendengarkan Mark sambil mengambil gambar, sesekali Luna memperhatikan Mark yang sedang menjelaskan.


Dia lembut begini ternyata manis juga. Perlahan tangannya naik, lalu mengambil gambar Mark.


Setelah selsai menjelaskan, Mark berhenti di sebuah kios aksesoris. Sementara Luna sibuk melihat hasi jepretannya.


Mark menarik tangan Luna.


“Ada apa?” Luna menatap Mark.


Mark memasangkan jepit rambut dengan design khas Cartagena, "Ini cantik, cocok untukmu.” ucap Mark sambil merapikan rambut Luna.


Luna tak bisa berkata-kata, dia hanya mengedipkan matanya.


Selanjutnya mereka pergi ke tempat lain. Luna mengambil 2 topi jerami. Dia memasangkannya pada Mark, dan satu untuknya.


“Ah ini bagus. Haruskah kita mengambil gambar?” ucap Mark sambil menggunakan ponselnya.


“Oke.”


Cisss! mereka mengambil foto selfi beberapa kali. Mulai dari gaya keren, imut hingga kocak. Hari itu mereka sangat akrab dan juga bahagia.


Setelah lelah berkeliling, mereka berhenti di sebuah kafe.


Sembari menunggu pesanan datang, mereka melihat foto selfi yang telah mereka ambil tadi.


Luna tertawa, "Ini sangat lucu." komentar Luna saat melihat satu buah pose.


“Kamu terlihat aneh di sini.” Mark sengaja mengejek.


“Biarin. Kamu juga.“ Luna menjulurkan lidah mencibir Mark.


Pesanan datang, Mark hendak meminum minumannya, tapi Luna menepis tangannya.


“Tunggu dulu, aku mau mengambil gambar terlebih dulu dan mengaploadnya di Wechatku.” Luna senyum.


“Ah, kamu mau membuatku mati kehausan, ya?" Mark kesal.


"Tidak akan mati. Orang jahat umurnya panjang loh.” Luna tertawa, lalu mengambil gambar.


Mark sekedar mencibir, "Bukankah tadi kamu bilang, kamu merasa dilindungi olehku?"


“Tapi, aku tidak ada berkata kalau kau itu orang baik." Luna tertawa puas.


Selesai mengambil gambar, Mark meminum minumannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Panggilan dari Rangga.


Mark mengambil ponsel dan pergi menjauh dari Luna untuk menjawab telepon.


“ Harus pergi sejauh itu?” celoteh Luna.


“Rangga apa yang telah kalian dapatkan?” tanya Mark dengan serius.


“Mark, kamu harus mengecek emailmu. Aku mengirimkan informasi penting.” ucap Rangga dengan tergesa-gesa


“Baiklah.”


“Itu rekaman suara, dan tolong kirim dimana posisi mu sekarang.”


“Kamu tenanglah dulu, biar aku mendengarkan rekamannya dulu.” ucap Mark


“Sudah tidak ada waktu, sekarang kamu dimana? apa Luna ada di dekatmu?”


“Luna?” Mark langsung kembali untuk melihat Luna.


Tapi, Luna tidak ada di tempat duduknya. Yang ada hanya camera dan tasnya. Raut wajah Mark langsung khawatir. Dia mencari Luna dengan sangat gelisah.


“Sekarang kerahkan orang-orang kita untuk mencari Luna.” titah Mark, lalu mematikan panggilan, lalu dia mengirim lokasinya pada Rangga.


Mark menanyai orang-orang di situ apakah melihat Luna, tapi tidak ada yang tahu.


Rasa kekhawatiran sangat terlihat jelas di wajah Mark.

__ADS_1


"Luna tunggu aku, tidak akan membiarkan orang lain melukaimu.” Mark menggenggam tangannya.


__ADS_2