
Luna berjalan menuju kamar Nindy dengan mulutnya yang masih merepet. Masih kesal akan Mark yang selalu memanfaatkan keadaan.
Ceklek, dia membuka pintu kamar tanpa ketukan hingga membuat 3 wanita di dalamnya langsung berteriak histeris. Bayangan film hantu barusan masih lekat di pikiran mereka.
“A-ada apa?” Luna kebingungan, namun berakhir dengan tawa lepas karena melihat posisi 3 wanita itu sangat tidak karuan.
Nindy yang nungging membenamkan wajahnya di bantal. Zhaon yang berada berada di meja rias langsung menundukkan kepala di meja. Dan Lery yang tidur bebas di lantai sisi kanan ranjang sambil memeluk selimut tebal. Sepertinya tadi dia sedang merapikan kasur santai di lantai agar semuanya tidur bersama di bawah.
Tiga wanita itu kembali bangkit karena mendengar suara tawa Luna yang begitu renyah. Menatap Luna kesal-kesal malu.
“Luna.. kau benar-benar mengagetkan kami.” Celoteh Nindy sambil mengusap dadanya. Di dalam sana debar dada lebih kencang di bandingkan saat bersama Jiang He, pria yang sedang dia kejar.
“Haha.. maaf,” menutup pintu, lalu mendekati ranjang. ”Aku tidak menyangka kalian setakut ini. Kalian sangat lucu.” Masih tertawa sambil meletakkan selimut dan bantalnya di ranjang.
Tampak di tangan Luna juga memegangi kantong saat dia belanja siang tadi.
“Apa itu?” tanya Nindy penasaran.
“Ini?” mengangkat tinggi , dimana tampak tiga wanita itu menoleh padanya. “ Ini adalah Uno Stacko.” Jawabnya dengan senyum.
“Uno Stacko?” Zhaon Dan Lery bergabung duduk di ranjang.
“Iya. kalian pasti tidak bisa tidurkan? Oleh karena itu, untuk menghilangkan kejenuhan, kita main saja,” mengeluarkan dari kantong dan menatap 3 wanita yang memandanginya. “Bagimana?” sambil menggoyangkan Uno stacko yang di peganginya.
“Aku setuju.” Ujar Nindy semangat, lalu di susul oleh Zhaon dan Lery yang juga menyetujui.
Luna tersenyum lebar sambil mengangguk kecil. Puas, karena idenya tidak ada yang sia-sia. Meski itu hanya ide-ide yang sederhana saja, namun hal ini bisa mempererat hubungan.
Empat wanita itu langsung menuju sofa di kamar. mengeluarkan uno stackno dan langsung menyusun puzzle balok menara kayu berwarna kuning tersebut di meja. Tentu saja kuning, karena itu pilihan Luna. Hihi.
Sebelum game di mulai mereka sepakat untuk menggunakan hukuman sendiri, bukan berdasarkan dari hukuman yang sudah tertera di balok uno stacko.
Aturannya, siapa yang gagal, maka dia harus menjawab dengan jujur pertanyaan dari teman yang sudah berhasil.
Game di mulai, Luna yang pertama memulai untuk mengambil balok, di susul oleh Lery, Nindy dan Zhaon.
Awal-awal permain tidak ada kendala, tapi lama-kelamaan susunan balok mulai genting dan bahaya. Semua orang cengigisan karena ini adalah giliran Lery.
“Hufftt..” Lery mengatur nafasnya seperti meditasi. Memperhatikan balok mana yang akan dia tarik.
Semua orang fokus memperhatikan, semua kepala mendekat memperhatikan balok. Suasana menegang. Dag dig dug jantung mereka. Lery yang berjuang, sementara yang lain berharap dia gagal agar hukuman segera mulai di aksikan.
__ADS_1
“Luna apa kau sudah menyiapkan pertanyaan?” Ujuar Nindy sambil memperhatikan.
“Sudah. Aku sudah tidak sabar.” Balasnya, lalu dia melirik Lery.”Kakak, apa kau gugup?” tanyanya.
“Iya, ini lebih menegangkan dari pada jumpscare film horror tadi.” jawab mengundang tawa semua orang.
Lery melirikk Zhaon di sampingnya. “ Zhaon, apa kau meyumpahiku untuk gagal?”
“Tentu saja, dari pada gagal di giliranku.” Sambil mengedipkan matanya nakal.
“Baiklah, tapi sayangnya harapanmu tidak akan terkabul.” Percaya diri Lery berucap. Membuat Luna, Nindy dan Zhaon saling lirik dan angkat bahu.
Lery menumpukan dagunya di meja, menatap lekat balok nomor 2 dari bawah. Di sana tersisa 2 balok yang menahan, tengah dan sisi kiri. Sementara paling bawah terisisa 2 balik kiri dan kanan. Kondisi di bawah sangat lemah, jika terlalu banyak gerak pasti akan roboh.
Lama dia mempertimbangkan. Perlahan Lery menarik balok sisi kiri nomor lima dari bawah. Sangat berhati-hati. Dag dig dug penonton melihat Lery. Hampir berhasil, Lery tersenyum bahagia, lalu melakukan tarikan terakhir.
“Ye.. berh”
Brugh..ROBOH!!!!
Sorak gembiranya langsung terhenti. Sementara Luna, Nindy dan Zhaon tertawa. bahagia atas kegagalan Lery.
“Haha.. ini sungguh harapan yang menyakitkan kakak. Kamu kalah.” Sorak Luna gembira. Lery hanya bisa kedip-kedip pasrah. Siap-siap dengan hukuman.
“Jangan tanya yang aneh-aneh ya!” Lery melirik Luna dan Nindy.
“Tidak.” Nindy bersandar di sofa, sementara Zhaon masih melanjutkan menyusun balok uno.
“Aku duluan yang bertanya ya Luna.” Luna menganggukkan kepalanya, lalu mengambil bantal dan memeluknya. Sementara Zhaon sudah selesai menyusun juga duduk kembali.
“Hmm.. pertama-tama aku panggil kakak saja, biar lebih nyaman. Dan jangan panggil aku nona lagi.”
Lery mengangguk menyetujui Nindy yang memang selama ini hanya memanggilnya dengan sebutan sekretaris Lery.
“Hmmm..” Nindy melirik Luna Zhaon dan berakhir pada Lery. Membuat orang semakin penasaran saja dengan apa yang ingin di tanyakannya.
“Aku harap kakak tidak tersinggung dengan pertanyaanku ya.” ujarnya masih saja mengulur waktu.
“Tidak. Kamu pasti bisa menilai mana hal yang pantas dan tidak pantas untuk di tanyakan.” senyum lembut di bibir Lery. Dia sungguh punya pesona polos sebagai daya tariknya.
“Baiklah.” angguk-angguk kecil. “ Aku penasaran kenapa penampilan kakak saat di kantor dan sekarang berbeda. Kenapa kakak berpenampilan sangat biasa ke kantor?” menatap Lery yang tampak tersenyum kecut dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Luna dan Zhaon hanya diam, cukup dengar dan perhatikan saja.
“Nindy benar juga. Jelas-jelas kak Lery sangat cantik.” Luna
Lery menundukkan kepalanya, masih tersenyum. Tapi senyum kecut, sehingga membuat Nindy merasa sedikit bersalah, tapi dia harus mendengar jawabannya.
“Apa pertanyaanku di batas kewajaran?” Nindy memastikan.
“Tidak.” Lery menggelengkan kepalanya cepat. Mengangkat kepala, menatap wanita di sisi kiri kanannya satu-persatu. Lery Nampak menahan air matanya. Sangat jelas, karena bola mata indahnya tampak berkaca-kaca.
Lery menelan ludahnya, lalu mulai menjawab.
“Sebenarnya ini adalah pengalaman pahit di tempat kerja lama ku." Semua orang mulai serius mendengarkan. Lery menarik nafas, lalu melanjutkan.
"Di tempat lama aku juga seorang sekretaris. Awalnya atasanku sangat baik, tapi ternyata itu hanya topeng. Suatu ketika dia memberiku tanggung jawab besar. Aku bahagia dengan itu. Dia mengajakku untuk menemui klient dalam proyek yang ku tangani." Lery berhenti sejenak, air matanya menetes tanpa suara.
"Nyatanya itu hanya jebakan. Bukan pertemuan klient untuk membahas proyek, melainkan aku di suruh menemani klient untuk minum. 1 kali, 2 kali aku menahannya. Namun ketiga kalinya mereka sungguh biadab, hiks." tidak tahan lagi, akhirnya suara tangisnya keluar.
Nindy dan Luna mengusap punggung Lery untuk menenangkan.
"Mereka hampir melecehkanku. Aku sungguh takut, tapi bersyukur aku masih beruntung. Aku berhasil melarikan diri. Aku melukai klient tersebut dengan botol minuman, dia terluka lumayan parah." tersedu dan mengusap air matanya dengan tisu yang di berikan Zhaon.
"Keesokan harinya aku baru tau, ternyata atasanku mentraksaksikan aku dengan klient tersebut. Mereka sungguh biadab, aku bekerja dengan sangat baik, tapi malah ingin menjualku. hiks hiks. Aku mengundurkan diri, cukup lama aku berdiam diri di apartement dan tidak melakukan apa-apa."
"Namun aku sadar, tidak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan. Aku tidak ingin membuat ibuku khawatir. Ketika aku di terima di Cour, aku merubah penampilanku agar hal sama tidak terulang. Orang mana yang akan tertarik dengan penampilanku yang kolot seperti itu."
"Lalu kenapa kakak merubah penampilan saat di luar bersama kakakku. Tidak takut?" tatapan Nindy menyelidik.
"Awalnya takut, tapi selama bekerja aku tidak melihat sifat bejad seperti atasanku sebelumnya pada tuan. Dan sekretaris Ketrin juga selalu mengingatkanku bahwa tuan orang baik, meski aku masih sangat was-was." memelan di akhir kalimatnya.
"Kakakku memang orang baik. Dia sangat menghargai wanita. Kak Key selalu melindungi martabat karyawannya. Kakak tidak perlu khawatir, berpenampilan dengan nyaman di kantor. Aku akan menjamin keamanan kakak." menepuk lembut bahu Lery.
"Masalalu kakak tidak akan terulang di Cour." tambahnya.
"Tapi apakah tidak akan timbul gosip di kantor, jika aku berubah penampilan tiba-tiba?" Lery memastikan.
"Tentu saja tidak." Nindy meyakinkan.
"Asal kakak tau ini pertama kalinya kak Key membiarkan bawahanya berpenampilan biasa dalam waktu lama. Biasanya sekali saja dia melihat, kak Key langsung menyuruh karyawan tersebut untuk merubah penampilan. Bahkan dia memberi uang untuk membeli pakaian yang fashionable pada karyawan tersebut. Sepertinya kak Lery memang mempunyai tempat tersendiri di hati kak Key."
Nindy tersenyum tipis pada Luna, sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Bersambung...