
Bandara Gardermoen Oslo, Norwegia.
Mark dan Rangga keluar dari pesawat. Meraka langsung di sambut oleh beberapa orang dengan seragam stelan hitam yang rapi. Alat keamanan lengkap, serta senjata yang tersembunyi di balik seregam mereka.
Tampak salah satu dari mereka saling berkomunikasi saat Mark dan Rangga menuruni anak tangga. Serta Rangga yang juga menerima kabar dari earpodnya, lalu berbisik pada Mark.
Mark tersenyum miring mendengar bisikan Rangga, lalu melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh beberepa orang yang berstelan rapi tersebut.
“Selamat datang tuan.” Sapa pengawal sambil membukakan pintu mobil untuk Mark dan Rangga. Setelah itu dia bergegas memasuki mobil untuk mengemudi.
Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali. Rangga yang sibuk dengan Ipad dan komunikasi dengan earpodnya. Sementara Mark yang duduk tenang dengan ekspresi yang dingin penuh gejolak dendam.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Mobil mereka berhenti di sebuah mansion yang mewah. Tampak 2 orang pengawal langsung membukakan pintu mobil untuk Mark dan Rangga.
“Selamat datang tuan.” Sambut mereka seraya memberi hormat.
Mark menyeringai senyum sambil merapikan jasnya, lalu langsung masuk ke dalam bersama Rangga yang di ikuti oleh beberapa orang pengawal dari belakang.
Saat masuk ke dalam, seorang wanita dengan seragam sama dengan yang lainnya menyambut mereka dengan hormat. Wanita itu memiliki luka di bagian kening dan tangannya yang masih di perban.
“Mari tuan.” Arahnya sambil mempersilahkan dan memberi jalan.
Mark dan Rangga berjalan dengan langkah tegasnya. Sementara para pengawal langsung ubah posisi di belakang wanita tersebut.
“Bagaimana lukamu Jen?” tanya Mark tanpa menoleh dan lanjut jalan.
“Ah,” wanita tersebut tampak terkejut. “Ini tidak apa-apa tuan.” Jawabnya cepat sambil mengusap perban di luka tangannya.
__ADS_1
“Beristirahatlah. Jangan memaksakan diri, kau sudah sangat bekerja keras.” Titah Mark dengan suara dinginnya.
“Terimakasih perhatiannnya tuan. Tapi..”
“Tidak ada tapi-tapian.” Sanggah Mark memotong kalimat Jen. Dia menghentikan langkahnya, hingga semua orang ikut berhenti. “Jangan khawatirkan apapun. Bagianmu sudah selesai, sekarang bagianku.”
“Baik tuan.” Jen tidak bisa lagi membantah. Dia menundukkan kepalanya sambil mengusap lukanya. Sementara itu Mark kembali melanjutkan langkahnya.
Jen merupakan wanita yang membantu Louis dalam memantau target akhir-akhir ini.
Terakhir kali dia terluka saat penyamarannya sebagai kurir pesan antar makanan ke apartement target. Ketatnya penjagaan di apartement membuat para pengawal di pintu apartement sedikit curiga padanya, hingga pengawal tersebut menguji Jen dengan melakukan serangan mendadak.
Untuk membuat pengawal menghilangkan curiga padanya, Jen tidak terlalu menghindari serangan tersebut. Karena jika langkah penghindarannya tampak terlalu ahli, pasti akan menambah kecurigaan. Oleh karena itu dia berkorban, hingga mendapatkan luka-luka ini.
“Aish..” eram Jen sangat kesal mengingat kejadian itu. Kesal pada dirinya karena hampir ketahuan tersebut.
Jen meremas balutan luka di tangannya sambil melirik punggung Mark yang berada tepat di depannya. Sungguh dia tidak akan bisa mengelak lagi. Ini sudah titah dari seorang Mark Rendra. Meski hatinya berat, tapi harus patuh.
Mark tidak langsung masuk. Dia diam sejenak, hingga Rangga memberikan kode pada Jen dan pengawal di belakang meraka segera pergi.
Mengerti dengan Kode dari Rangga, Jen dan yang lainnya menundukk hormat, berjalan mundur dan pergi.
Mark dan Rangga langsung memasuki ruangan dan di pintu kembali di tutup dengan segera setelahnya.
Ruangan tersebut kosong, layar pengawasan menampilkan berbagai lokasi. Di meja tertata berbagai jenis senjata api, laptop dan berbagai berkas.
“Kalian sudah datang?” suara terejut dan antusias Louis langsung mengalihkan pandangan Mark Rangga padanya. Louis keluar dari suatu ruangan dengan membawa secangkir minuman di tangannya.
__ADS_1
“Maaf aku tidak menyambut kalian dengan baik.” lanjutnya, menaruh cangkir di meja, merentangkan tangan hendak memeluk Mark.
“Kau memang manusia seperti itu.” Mark malah menghindari Louis, berjalan melewati dan duduk di sofa. Membuat ekspresi antusias Louis langsung berubah kesal.
“Seorang kakak yang tidak pernah menyambut kedatangan adiknya.” Bicara dengan santai menatap punggung Louis yang masih berdiri tanpa bergerak.
Rangga menahan tawanya, lalu mendekati Luois yang membatu menahan kesal. “Kakak kau memang tidak pernah berubah,” Ejek Rangga dengan sedikit tertawa. Menepuk bahu Loius 2 kali, lalu ikut bergabung duduk di samping Mark.
Louis merapatkan bibir, dan memejamkan matanya sejenak. Ya benar, dia memang tidak pernah benar menyambut kedatangan adiknya ini, setiap berjumpa situasi seperti ini memang selalu tercipta.
Louis wajahnya kasar, berbalik badan menatap Mark yang melempar smirk padanya.
“Sudah, lupakan soal penyambutan.” Mengibaskan tangannya kesal, lalu menggerutu tidak jelas sambil mengambil cangkirnya kembali. “Bagaiamana perjalanan kalian.” ikut bergabung duduk.
“Seperti yang kau lihat, kami datang dengan selamat.” Jawab Mark dengan santai, tapi entah kenapa membuat Louis mengangkat bibir atasnya kesal akan jawaban adiknya ini.
Lagi-lagi Rangga menahan tawanya. Sangat tau bagaimana 2 kakak beradik ini berinteraksi.
“Mark aku tidak bicara padamu. Aku bicara dengan Rangga.” menatap Rangga dengan senyum ramah.
“Jawabanku sama dengan Mark.” jawab Rangga dengan tawa di ujung kalimatnya. Ikut untuk menjahili Louis. Tidak peduli dengan Louis yang menatap mereka semakin jengah.
“Dasar menyebalkan.” Umpat Louis dalam hatinya, lalu menyesap minumannya.
Mark tampak tergelak, namun dengan cepat mengubahnya. “Bagaimana senjataku?” Mark memulai pembicaraan serius. Dalam seketika suasana suasana langsung berubah.
Louis meliriknya dengan senyum, “Sudah,” menaruh gelasnya di meja. “Kau sungguh tidak sabaran sekali.” berdiri menuju sebuah brankas.
__ADS_1
“Tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk mempertemukan bidikan yang tepat untuknya.” Smirk terukir di bibirnya.
Bersambung...