TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Hitachi Seaside Park


__ADS_3

Sarapan pagi di lalui dengan ceria. Pikiran fresh karena beberapa beban pikiran menguap saat menonnton film horror.


Ditambah lagi sesi game seru yang dicampuri dengan sesi curhat yang di lakukan oleah para wanita.


Selesai sarapan, santai sejenak dan mereka kembali berkumpul di ruang utama untuk segera berangkat ke Hitachi Seaside Park.


“Wah wah, kita semua benar-benar seperti pasangan.” Ujar Luna yang menuruni tangga bersama Mark.


Bagaimana tidak Luna berucap seperti itu. Para pria dan wanita itu duduk berpasangan seperti saat menonton semalam. Luna benar-benar tidak perlu bersusah payah.


“Haha.. tuan rumah adalah sepasang suami istri. Bagaimana mungkin kami mau kalah.” Nindy memang tidak ada sungkan-sungkannya.


“Hmm..” Luna menganggukan kepala pelan di sertai denagn senyum.


“Tunggu, tunggu!!” Nindy berdiri memperhatikan penampilan Luna yang sporty nan unik. Atasan tank top biru lembut dengan aksen pita di bagian dada, longcoat berwarna pastel, dengan bawahan celana jeans berpotongan lurus dan ankle boots polos.


“Keren.” suka gaya busana chic dan stylish Luna. Apalagi Mark juga memakai warna yang senadanya dengan Luna. Benar-benar membuat hati jomblo Nindy sedikit berteriak. Kapan dia akan memenangkan hati Jiang He dan bisa couple.


“Apa tidak apa-apa aku dan kak Lery dengan fashion ini?” tiba-tiba tidak percaya diri dengan fashionnya yang feminim. Karena Zhaon juga memilih gaya sporty jean, longcoat cream dan boots hitam.


Nindy dan Lery mengenakan gaun selutut. Nindy memadu padankan dengan longcoat pastel dan angkle boots.


Sementara Lery memadu padankan gaun putih dengan jaket denim, sepatu sneakers dengan kaos kaki motif agar kakinya tidak terlihat flat.


“Ayolah! Jangan mempersalahkan penampilan. Kalian sudah cantik dengan fashion masing-masing.” Key kesal dengan sang adik. Jika di turuti bisa-bisa Nindy akan minta di temani shopping apabila dia tidak membawa celana Jeans.


“Iya Nindy. Ini sudah sangat bagus, Lagian 2 orang sporty dan 2 orang feminim. Sepertinya ini memang sudah di atur.” Lery menimpali dengan senyum ramah untuk membujuk Nindy. Key menoleh, Lery seolah tau kekhawatirannya.


“Dengar, calon kakak ipar sedang membujukmu. Patuhlah! Jadilah adik ipar yang baik.” bisik Luna pada Nindy. Keduanya tersenyum, Nindy menganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


“Baiklah. Ayo kita jalan.” Serunya bersemangat.


Mereka keluar bersama, memasuki mobil Chevrolet Explorer Van yang muat lebih dari 8 orang. Mark sengaja melakukan ini agar mereka tidak pisah mobil. 1 mobil dengan ramai pasti lebih menyenangkan bukan.


“Let’s go…” seru Rangga yang menyetir, kemudian di sambung oleh para wanita yang super ribut. Mereka sungguh akan bersenang-senang hari ini.


Mark memilih duduk di kursi paling belakang. Kursi paling panjang, supaya lebih leluasa jika nanti Luna kelelahan dan bisa berbaring di pangkuannya.


“Sayang bukankah sekarang kita seperti orangtua?” Luna cengingisan dengan kalimatnya.


“Seperti orang tua bagaimana?” mengusap kepala Luna yang bersandar di bahunya.


“Seperti orangtua yang mengawasi anak-anaknya. Senang melihat mereka senang, sedih jika mereka sedih.” memperhatikan teman-temannya Nindy dan Zhaon sibuk bernyanyi dan yang lainnya dia menikmati.


Mark tersenyum. Mencium sayang kening Luna. Lalu tangannya mengulus lembut perut Luna, sehingga membuat Luna tersenyum.


“Sayang, aku belum hamil.” Bisiknya dengan tawa manja.


Luna tersenyum haru. Sungguh tersentuh emosionalnya mendengar Mark yang sangat menantikan benih itu hinggap di rahimnya. Mata Luna berkaca-kaca, di peluknya Mark erat.


“Love you sayang.” ucapnya pelan.


“Love you more sayang.” Senyum lembut di bibir Mark.


***


Setelah 2 jam lebih menempuh perjalanan, rombongan Mark akhirnya sampai di tempat tujuan.


Sedikit meregangkan badan, lalu mereka langsung masuk setelah membeli tiket. Untuk musim semi mereka mendapati bunga tulip yang bermekaran di Hitachi Seaside Park.

__ADS_1


Hitachi Seaside Park ini merupakan taman yang tumbuh dengan bunga yang berbeda di setiap musim di Jepang.


Setelah membeli tiket mereka memutuskan untuk menggunakan sepeda untuk mengelilingi Hitachi Seaside Park ini. Mereka menyewa 4 sepeda pasangan dan langsung melaju setelah menerima arahan dari petugas yang juga di bekali dengan map.


“Jiang He jaga adikku baik-baik!” sorak Key sambil memotong Nindy dan Jiang He dalam suasana keheningan.


“Jangan khawatir.” malah Nindy yang menjawab, dia menatap senyum ceria kakaknya yang terlihat berpacu dengan Rangga di depan sana.


“Kami duluan ya..” sorak Luna dan Mark yang juga memotong mereka. “ Selamat bersenang-senang.” Melambaikan tangan dengan camera yang aktif merakam di tangannya.


“Iya. hati-hati.” Balas Nindy.


“Kita santai saja ya Nindy.” ujar Jiang He yang tetap santai mengayuh sepeda.


“Iya kak. Melelahkan jika ikut berpacu dengan mereka.” Nindy yang juga mengayuh pelan.


"Apa kakak sudah bisa mengiklaskan Luna?" tanya Nindy penasaran. Dia tau jika ini lancang. Namun dia penasaran bagaimana Jiang He akan menanggapinya.


"Selama Luna bahagia, itu sangat melegakan bagiku. Jika kau menanyakan perasaan itu akan sulit." tutur Jiang He dengan senyum lembutnya.


"Itu sangat kejam."


Jiang He terkejut mendengar kalimat dan suara dingin Nindy yang tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" sedikit melirik ke belakang.


"Kakak, kamu tidak akan pernah bisa memulai kisah yang baru. Jika kakak tidak segera mengakhiri kisah lama." tutur Nindy yang mendingin.


"Selama kakak larut dalam masa lalu, selama itu juga perjuanganku akan stagnan untuk mengejarmu." terang Nindy tanpa basa-basi.

__ADS_1


Jiang He terdiam, sedikit melirik kebelakang. Sementara ekspresi Nindy benar-benar dingin. Dia bahkan menggenggam erat tangannya.


Bersambung...


__ADS_2