
Setibanya di kamar, Luna langsung merebahkan dirinya di ranjang.
Luna memejamkan matanya, “Oh jantungku tenanglah.” tangannya di dekap di dada. Merasai debaran yang mengalun.
Moment saat dia terjatuh di pelukan Mark, terlintas lagi di pikirannya.
Luna membuka kembali matanya.
“Aaa...kenapa terus terbayang begini..” teriak Luna sambil berguling-guling.
Tiba-tiba Luna mengingat sesuatu dan berhenti berguling.
“Eh, tunggu. Ponselku, apa masih sama dia?” tangannya meraba-raba saku.
“Aaaaa.. yang benar saja. Aku baru saja melarikan diri. Tapi, sekarang harus kembali menemuinya?”
Luna berdiri. Mau tidak mau harus dia temui juga pria itu, “Aku harus mengganti pakaianku dulu, dan membersihkan tanganku. Setelah itu aku baru mengambil ponselku kembali.”
Luna langsung ke kamar mandi membersihkan tangan dan setelah itu langsung berganti pakaian.
***
Luna berdiri di depan kamar Mark. Sedikit berfikir sebelum pintu di ketuk.
“Sekarang dia d kamar atau di ruang baca? Hmm, tapi selagi aku di sini aku harus mencoba mengetuk pintunya.” gumam Luna. Dia memberanikan diri untuk mengetuk.
‘tok tok’
Mark langsung membuka Pintu.
“Ada apa?” tanya Mark canggung.
“ I-itu aku mau megambil ponselku.” jawab Luna juga canggung.
“Ou.. tunggu sebentar!” Mark pergi ke dalam untuk mengambil ponsel Luna.
“Hufft.. canggung begini. Rasanya sangat memalukan.” gumam Luna. Tidak lama Mark kembali.
“Ini ponselmu.”
“Terima kasih.” Luna tersenyum canggung dan langsung bergegas pergi. Tetapi, tiba-tiba Mark menahannya.
“Luna, tunggu dulu!” panggi Mark
Langkah Luna terhenti, “ Eh ada apa? “ Luna berputar tubuh dengan ekspresi bingung.
Mark mendekat, “ Ikutlah denganku. Aku ada yang ingin aku tunjukkan pada mu!” tangan Luna ditariknya begitu saja.
“Kita mau kemana?” tanya Luna bingung.
“Ikut saja!”
Luna menarik tangannya dari genggaman Mark.
“Baiklah aku akan mengikutimu.” Luna berusaha biasa-biasa saja. Padahal di dalam sana, jantung sudah meraton.
Mark tersenyum dan lanjut berjalan. Luna mengikutinya dari belakang.
“Hal apakah yang ingin dia tunjukkan padaku?” tanya Luna dalam hatinya.
Mark membawa Luna ke ruangan yang belum pernah Luna lewati sebelumnya.
“Wah, ternyata bangunan tua ini sangat luas. Di bagian ini designya sangat berbeda. Design Kuno yang menarik.” Gumam Luna. Matanya melilau memperhatikan.
Mark berhenti di depan pintu sebuah ruangan.
“Kita sudah sampai.” ucapnya.
“Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" Luna penasaran.
“Masuk saja dulu, maka kau akan tau.” Mark membuka pintu dan berjalan duluan memasuki ruangan.
Luna sedikit mencebik. Main surprise pun dia dengan ku? Luna juga langsung mengikuti langkah Mark memasuki ruangan tersebut.
Luna langsung di buat kagum dengan yang ada di ruangan tersebut.
“Wahhh..” Luna sungguh terperangah melihat isi ruangan tersebut yang penuh dengan berbagai Lukisan dan juga ada beberapa lukisan terkenal di dunia. Untuk mendapatkannya akan mengeluarkan begitu banyak Uang.
“Mark.. i-ini kenapa bisa kau mendapatkannya?” tanya Luna antusias.
“Itu sangat mudah bagiku mendapatkannya.” jawab Mark dengan santai.
Ya ya ya.. aku tau kamu banyak uang.
Luna melihatnya satu persatu.
“Ini, ini dan ini. Ini lukisan yang sangat terkanal.” Luna sudah mondar-mandir.
Mark tersenyum melihat tingkah Luna yang sangat hype dengan Lukisan itu.
“Lukisan The Son of Man? Oh tidak, ini karya Magrittees. Mark apa ini asli?” tanya Luna.
"Tentu saja. apa aku terlihat seperti orang yang akan mengoleksi barang palsu?” tanya Mark sedikit kesal.
“Ah haha.. bukan begitu maksudku. Setauku ini lukisan ini di koleksinya secar pribadi. Aku saja selama ini tidak pernah punya kesempatan melihat aslinya. Bahkan replikanyapun sangat sulit untuk di jumpai.”
Luna mendekati Lukisan Mona Lisa.
“Wahh, apa ni replica Mona Lisa karya Leonardo da Vinci dari abad ke-17?” tanya Luna lagi.
“Iya, aku berhasil memenangkan lelang Sotheby di Pari waktu itu. tapi aku merahasiakan identitasku.” jelas Mark.
“Meskipun ini hanya replica , tapi aku dengar waktu lelang itu lukisan ini berhasil terjual dengan harga 552. 500 euro ( sekitar Rp 8,62 Miliar )” bisik hati Luna yang masih sangat kagum.
__ADS_1
“Jadi apa kau juga menyukai dunia seni Mark?” tanya Luna penasaran sambil memperhatikan wajah Mark.
Mark tersenyum “Sebenarnya aku tidak begitu menyukai hal-heal seperti ini. Tapi ayahkulah yang menyukainya. aku hanya melakukan hal yang di sukai oleh ayahku, karena dengan begitu akan merasa dekat dengannya.” Nada suara Mark agak sedih di akhir kalimatnya.
Mendengar jawabn Mark, Luna tertegun. Tidak ada maksud dia membuat pria itu bersedih.
“Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung tentang ayahmu.” Luna menyesal.
“Kau tidak perlu minta maaf, kau hanya bertanya dan aku hanya menjawabnya dengan jujur.” Mark mengembangkan senyum lembut
"Dia sangat menyayangi ayahnya. Melakukan hal seperti ini untuk melepas rindu pasti tidak mudah. Aku masih beruntung kedua orang tuaku masih hidup, meskipun aku sendiri tidak mengetahui keberadaannya sekarang. Tapi aku masih punya kesempatan untuk bisa memeluk mereka secara nyata.
Oh iya, aku ingat. Tadi di laci mejanya aku juga melihat foto ayahnya, sepertinya dia sering bersedih di ruang baca tersbut. Baiklah, sekarang aku tidak boleh membuat dia sedih dengan membahas tentang ayahnya lebih dalam.” bisik hati Luna
“Hum.. jadi kenapa kau menunjukkan ini padaku?” Luna berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku hanya ingin kau bisa menikmatinya. Aku yang tidak begitu tertarik dengan ini tidak bisa merasakan apa-apa dengan apa yang ada di lukisan ini. Tapi berbeda denganmu yang paham dan mencintai seni ini, kau pasti bisa merasakan dari setiap goresannya. Kau bisa merasakan dan menikmatinya.” jelas Mark dengan senyum.
Luna hanya tersenyum mendengar penjelasan Mark.
“Akhir-akhir ini bisa merasakan sisi yang berbeda dari diri Mark. sepertinya apa yang dikatakan dalam secarik kertas oleh orang misterius malam itu benar. Tapi siapakah dia dan apa tujuannya?” bisik hati Luna.
Mark memperhatikan Luna. Luna terlihat melamun.
“Hei hei.. kau kenapa melamun?” Mark melambai-lambaikan tangannya di depan mata Luna
Luna tertegun “Hum? tidak. Karena melihat semua lukisan ini, aku jadi ingin melukis.”
“Oh, kalau begitu kau bisa melukis di sini!” ucap Mark bersemangat.
“Hah, sungguh?”
“Iya, sebenarnya aku juga sudah menyiapkan semua bahan-bahannya untukmu.” jawab Mark sambil menarik tangan Luna untuk memperlihatkan hal sudah di persiapkannya.
“Waw, kau sungguh melakukannya?” tanya Luna penasaran
“Ah haha, iya.”
“Ternyata kau pengertian juga. Berdiam diri di sini sangat membosankan dan aku tidak ingn ke perpustakaanmu lagi. Selain aku tidak suka membaca, aku juga tidak ingin membuat kekacaun lagi.” ucap Luna dengan masih merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi di perpustakaan sebelumnya.
“Baiklah. Asal kamu senang saja!”
“Sebenarnya ini adalah idenya Key, dia bilang hal ini akan membantu Luna menghilangkan rasa bosannya, Selama aku menahannya untuk tetap di sini dan tidak berkeliaran di luar. Jadi aku meminta pengawalku untuk membeli bahan-bahan terbaik. Ternyata Key benar, dengan begini dia tidak akan menyadari bahwa aku sebenarnya mengurungnya untuk tetap di rumah.” bisik Hati Mark.
“Baiklah sekarang aku melukis, tapi di tempat ini aku merasa kurang cocok. Mark bagaimna jika kita mencari tempat lain.”
Itu terserah kau mau melukis dimana, asalkan masih di bagunanan ini tidak apa-apa."
“Tapi aku tidak begitu tahu bangunan ini. apa kau punya ide?” tanya Luna
“Hummpp, jika begitu bagaiman kau melukisnya di atap saja.” saran Mark
“Yak, itu ide yang bagus. Dengan melukis di tempat yang terbuka akan memberikan berbagai ide-ide menarik.” Luna bersemangat.
Lunapun mengangguk setuju.
***
Restoran X, Cartagena.
Rangga dan Key masih sedang berusaha untuk mengikuti Tris. Mereka sudah mendapatkan informasi mengenai Jadwal Tris. Siang ini Tris akan menemui seseorang di retoran X.
Oleh karena itu mereka sudah bersiap-siap untuk memata-matai Tris.
Mereka kembali menyamar sebagi pelayan.
“Aku rasa ini sungguh gila, aku seorang direktur melakukan hal memalukan seperti ini.” celoteh Key di ruang ganti.
“Haha.. kembalilah ke perusahaanmu jika kau tidak tulus membantu Mark.” Rangga tersengih di ujung kalimatnya.
“Bagaimana bisa, jelas aku sendiri yang menawarkan diri untuk membantunya selama di sini. Dan aku juga tidak akan pernah sungkan melakukan apapun untuknya. Tadi aku hanya kesal melihat wajah tampanku di samarkan seperti ini." jawab Key cemberut.
Rangga tersenyum, “Kau benar, kita akan melakukan apapun untuk Mark. karena hal ini bukan apa-apa jika di bandingkan dengan pengorbanannya untuk kita di masa lampau.” ucap Rangga serius.
“Haha, kau kenapa mengungkit hal itu lagi. kau harus segera keluar lebih dulu
” Key berusaha untuk menghindari pembahasan hal lampau tersebut.
“ Baiklah.”
Rangga bangkit dan dan berjalan keluar.
Ekspressi Key langsung berubah menjadi dingin, tangannya gemetaran.
“ Houshh, Key tenangkan dirimu.” ucap Key
Key mengambil nafas panjang dan kemudian juga langsung keluar.
Rangga melihat Tris datang dan langsung menghubngi Key.
“Dia sudah terlihat. Tapi tidak ada wanita dengannya.”
“Mungkin dia datang secara misterius lagi.” jawab Key
“Entahlah, wanita itu cukup pintar bersembunyi, bahkan tanpa mengetahui bahwa kita mengincarnya. Aku rasa dia bukan orang biasa.” ucap Rangga
“Apa maksud mu dia adalah orang yang sudah biasa melakukan hal kotor. Jadi untuk selalu waspada adalah sifat alamiah dirinya?”
“Ya seperti itulah. Dia berlindung sekaligus berhianat pada pangeran Tris.”
“Haha.. jangan terlalu yakin bahwa Tris tidak terlibat.”
“Kita lihat saja nanti. Aku yakin dia dan Tris memiliki tujuan yang bertabrakan.”
__ADS_1
“Karena kau terlalu yakin. Bersemangatlah melaksanakn tugasmu. Buat Tris tertarik untuk mau menemui kita secara suka rela.”
“Kau tenang saja, aku akan berhasil, sekarang saatnya kita ke dapur ikut dengan pelayan lainnya. Simpan dulu earphonemu!” Rangga mengingatkan.
Rangga dan Key bergabung dengan para pelayan yang akan melayani Tris nantinya.
Adapun rencana mereka adalah, pertama untuk mencari tahu wanita pemilik suara di rekaman yang berusaha mencelakai Luna.
Tapi jika tidak di temukan titik terang, rencana kedua adalah membuat Tris untuk bisa menemuinya agar mereka bisa menanyai Tris secara langsung.
Itu bukanlah hal yang mudah. Karena Tris di kenal dengan orang yang tidak mudah mempercayai orang lain serta pengawalnyapun juga begitu banyak di sisinya. Hal ini akan menyulitkan untuk menyampaikan pesan padanya.
Tibalah saatnya mereka untuk mengantarkan pesanan ke ruang private room tempat Tris berada.
Saat mereka sampai di dalam Tris dan yang lainnya masih berbincang dengan rekannya disofa. Jadi para pelayan langsung meletakkan semua sajian di meja makan.
Saat itu pembicaraan Tris hanya mengenai kerajaan dan kerjasama mereka.
Key memperhatikan secara hati-hati semua orang di sana, semuanya hanya pengawal serta Tris dan rekannya.
“Sepertinya wanita itu tidak akan muncul. Bisa jadi dia sudah tidak ti tanah Cartagena ini lagi. dan kesempatan Rangga untuk menyampaikan pesan juga sedikit. Karena mereka masih berbincang dengan rekannya di sana.” bisik hati Key
Mereka sudah selesai meletakkan semua makanan. Rangga tetap berusaha untuk mencari cara agar bisa menyampaikan pesan secara langsung pada Tris.
“Baiklah, aku harus melakukan ini.” bisik hati Rangga.
Rangga mengambil sebotol sampanye, kemudian mengambil dua buah gelas dan berjalan mendekati Tris.
Key melihat Rangga dan merasa khawatir.
“Apa yang akan kau lakukan Rangga, itu berbahaya. Mereka bisa saja langsung mencurugaimu.” bisik hati Key
“Apa yang mau dia lakukan, atasan tidak ada menyuruh kita melakukan ini!” bisik dari salah satu pelayan lainnya dengan khawatir
“Selamat datang di restoran kami, tamu terhormat kami. Karena kami kedatangan tamu yang sangat terhormat, maka kami akan memberikan secara khusus sampanye special dan langka ini. oleh karena itu izinkan saya menuangkannya untuk pangeran dan tuan.” ucap Rangga.
Dari kejauahan Key merasa kagum dan juga khawatir dengan keberanian Rangga.
Tris dan rekan kerjanyapun memperhatikan Rangga. Sorot mata Tris sangatlah tajam seperti akan membunuh, tapi Rangga tetap bisa tenang.
Suasana begitu tegang, pelayan lainnya saling berbisik.
“Jika pangeran marah, habislah kita semua!”
Pengawal Tris mendekati Rangga.
“Apa yang kau lakukan? dasar tidak tau cara menghormati pangeran.” ucap pengawal tersebut dan melayangkan tinjunya.
Tapi Tris dengan cepat menyuruh pengawalnya untuk berhenti.
“Biarkan saja dia, kau mundurlah!” titan Tris.
“Kau tuangkanlah sampanye untuk kami.” perintah Tris pada Rangga.
“Haha.. anak muda yang pemberani. Bisa membuat pangeran Tris menyuruh pengawalnya mundur untuk orang sepertimu itu suatu keberuntungan.” ucap dari rekan kerja Tris.
Rangga menuangkan sampanye tersebut untuk Tris dan rekannya. Rangga memberikan dengan membungkuk sopan gelas pertama pada Tris.
Semua gerak gerik Rangga di perhatikan oleh pengawal Tris, tapi Rangga tidak menyerah. Saat itu Tris yang juga merasa sudah membaca tujuan Rangga.
“Silahkan pangeran.” ucap Rangga sambil mengulurkan dengan sopan.
Pada saat itu Rangga mengangkat sedikit lengan bajunya, dimana di pergelangan tangannya Rangga menulis nama ‘ LUNA ‘.
Tris melihat kode di pergelangan tangan Rangga,
“Terimakasih.” ucap Tris dengan dingin.
Tris mengambil gelas tersebut, kemudian menutupi pergelangan tangan Rangga agar tidak terlihat oleh pengawalnya.
“Syukurlah. Dia mengerti. Sepertinya dia masih menyimpan rasa pada Luna.” bisik hati Rangga.
Kemudian gelas kedua, Rangga memberikannya pada rekan kerja Tris
“Terima kasih anak muda.”
Rangga membalas dengan senyuman.
“Sama-sama tuan, ini memang sudah kewajiban saya melayani dengan sebaik mungkin.” ucap Rangga.
“Kami sudah menyajikan semua menu terbaik kami, semoga pangeran dan tuan bisa menkmatinya. Kami pamit undur diri dulu.” Rangga dengan sopan mundur, kembali pada teman-teman lainnya.
Mereka keluar dari ruangan tersebut, sesampainya di dapur orang-orang langsung bernafas lega.
“Huhh, aku sangat lega. Hey kau, aku baru kali ini melihatmu. Apa kau anggota baru?” tanya salah satu pelayan ke Rangga.
“Iya, aku baru pindah dari cabang lain.” jawab Rangga.
“Aksimu tadi sungguh membuat kami semua tegang. Tapi syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi dan sepertinya pangeran itu juga puas dengan apa yang kau lakukan. Jika atasan tahu ini, dia pasti akan menambah bonus kita.” ucapnya dengan semangat.
Rangga dan Key hanya tersenyum mendengar ucapan pelayan tersebut.
“Hey trik apa yang kau lakukan, apakah kau berhasil menarik Tris.” tanya Key dengan berbisik.
“Tentu saja.” jawab Rangga santai.
“Benarkah?, tapi aku tidak melihatmu memberikan secarik kertas itu padanya”
Rangga kemudian menarik lengan bajunya dan memperlihatkan tulisan yang ada di pergelangan tangannya. ‘ LUNA’
“ Ah haha.. ternyata orang yang sudah lama bergaul dengan Mark, ikut ketularan pintar ya.” ucap Key bangga dengan Rangga.
Rangga tersenyum, “Sekarang mari kita tunggu saja, Tris pasti akan mengirim orangnya untuk menemuimu.” ucap Key serius
“Ya mari kita tunggu.” ucap Rangga
__ADS_1