
Nindy menarik gelas di hadapannya. Lalu menyeruput minuman itu. Perlahan-lahan minuman segar itu masuk ke tenggorakan, hingga dapat memuaskan dahaganya. Jam tangan di kerling setelahnya, keningnya berkerut dengan decisan kesal.
“Dia yang buat janji, malah dia juga yang terlambat.” Rungut gadis itu kesal. Matanya melirik arah pintu masuk, namun sosok yang di tunggu belum datang juga. Semakin masam wajah Nindy ketika itu.
Ponsel di dalam tas di ambil. Matanya fokus pada layar, namun sesekali melirik ke pintu masuk ketika mendengar derap langkah masuk. Sering kali Nindy, dibuat kecewa karena yang datang bukan orang yang ditunggunya. Minumannya juga sudah hampir habis.
Sudah satu jam menanti, akhirnya penantian Nindy berakhir ketika sosok tubuh pria dengan pakaian santai dan semi formal itu datang. Tidak lain adalah Jiang He. Pria itu tersenyum manis dan mengorak langkah dengan tenang.
“Sorry telat. Tadi aku perlu pergi ke suatu tempat sebelum ke sini.” tenang saja Jiang He berucap.
Nindy tarik muncung pajang diikuti dengan kerlingan mautnya. Segampang itu minta maaf? Dia sudah berjamur menunggu di sini.
“Marah?” tanya Jiang He. Dia masih berdiri di depan wanita itu.
Masih saja bertanya. Hish, Nindy menyilang tangan di dada, pandangannya di arahkan ke tempat lain. Biar Jiang He sadar, bahwa dia marah, eh merajuk. Tapi sialnya tidak ada sedikitpun bujukan dari Jiang He.
“Ahaha.. dia tidak membujukku. Ya sudah kalau begitu, aku seperti biasa saja. Itu makanya Nindy, kamu jangan sok imut begini. Biasanya juga kamu tidak mempermasalahkan apapunkan. Persetanlah dengan dia mau tertawakan aku atau tidak.” bisik hati Nindy sendiri.
Nindy berdehem untuk mengehilangkan rasa awkward ini. Dia menarik napas. Lalu menoleh pada Jiang He kembali. Namun tiba-tiba Nindy ternganga dengan mata yang juga membulat.
“Kakak…” Nindy akhirnya menekup kedua tangannya di mulut, matanya juga berkaca-kaca. Memandang Sejambang bunga rose nan indah di depannya sekarang. “Uu.. untukku?” tanyanya.
“Yes.” Jiang He tersenyum manis. sangat manis.
Ya Lord.. bergetar tangan Nindy menerima bunga itu. Ini pertama kali dia menerima sesuatu yang romantic dari pria ini.
“Terima kasih.” Nindy menghisap aroma wangi khas bunga rose merah tersebut. Humm.. sangat wangi, palagi melihat siapa yang memberikan, bunga ini semakin wangi berlipat-lipat.
“You’r welcome.” Jiang telah mengambil duduk di hadapan Nindy. Dia turut senang melihat Nindy yang tiada henti menciumi aroma bunga pemberiannya. So cute…
Jiang He tersenyum sendiri. Dia menatap lembut pada Nindy. Ada rasa yang semakin membuncah di dadanya. Dia juga tidak tahu entah sejak kapan rasa itu muncul, yang dia tahu rasa itu semakin hari semakin membuak. Keadaan jantungnya sekarang juga tidak normal lagi. Ah, apakah dia perlu check up? Tentu saja tidak. Dia bukan seperti Mark Rendra yang tidak sadar akan perubahan rasa.
Jiang He, dia sangat sadar jika rasanya sekarang adalah cinta. Dulu dia kira tidak akan pernah jatuh cinta lagi, tidak akan ada perempuan manapun yang bisa menggantikan Luna di hatinya. Tenyata dia salah, semesta selalu punya kejutan untuk menyembuhkan hatinya yang patah.
“Terima kasih Nindy. I love you, I love you so much.” Gumamnya perlahan.
***
Rangga memberhentikan mobilnya di depan Cour Media. Malam ini dia sudah membuat janji dengan Key untuk pergi berkunjung ke villa Mark. Rasa gemas dan rindu pada si keci l Allard lah yang menjadi salah satu alasan. Anak sahabatnya itu berhasil membuat dua pria itu rela menjadi papa angkat. Namun sayang, Mark tidak membolehkan. Mark bilang nanti anaknya ketularan Rangga yang jomblo dari lahir, lalu Key orang yang sulit move on. Menyebalkan! Padahal itu tidak ada kaitannya sama sekali.
“Sudah lama menunggu?” tanya Key yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Tidak. Aku baru saja datang. Apa kau membiarkannya pulang sendirian?” Rangga menoleh pada Lery yang kala itu tampak baru keluar dari gedung Cour Media. Gadis itu berjalan ke arah Halte bus.
Key ikut menoleh ke arah pandangan Rangga. Ekspresinya sedikit berubah. Nindy berjalan sambil mengusap tengkuk. Lelah sepertinya.
“Tidak perlu. Dia gadis yang mandiri.”
“Key.. semandiri apapun seorang perempuan, dia pasti juga sangat ingin di perhatikan. Terlebih dari pria yang memiliki tempat khusus di hatinya. Kau jangan sampai menyesal, waktu kita di sini juga tidak banyak lagi.” Rangga geleng kepala dan mulai melajukan mobilnya.
Key hanya diam dan tidak menanggapi perkaan Rangga. Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Hubungannya dengan Lery memang baik dan dekat, namun tidak sampai pada tahab special yang maksud oleh Rangga tadi.
“Hei hei..” Key gelabahan ketika tiba-tiba Rangga berhenti di depan Nindy. Ckckc.. sial! Tidak dapat terelak lagi. Rangga juga sudah membuka kaca mobil. Key hanya bisa mengumpat kesal, melihat Rangga yang tersengih padanya.
Besar kecil saja mata Lery melihat mobil di hadapnnya sekarang.
“Tuan?” gumamnya.
“Nona Lery apa anda ingin pulang. Ayo sekalian.” Sorak Rangga.
Baru Lery tersadar. Ternyata bukan hanya Tuan nya di sana.
__ADS_1
“Tidak perlu Tuan Rangga. Saya dengan bus saja.” Tolak Lery denga sopan.
“Ayolah, sekalian saja. Jam segini bus sudah sangat sepi.”
“Tapi Tuan, apakah kita searah?” tanya Lery. Dia ingat, tadi dia sempat mendengar percakapan Key di via telepaon, bahwa malam ini mereka akan pergi ke kediaman Luna. Dan itu jelas berlainan arah tempat dia tinggal.
Key ketab gigi memandang Rangga. itu mangkanya, jangan pandai-pandai saja Rangga. Sekarang aku malah ikutan malu, meskipun aku tidak ikut kegatalan seperti kau. Namun Rangga tidak memperdulikan Key yang sudah memandang geram padanya.
“Not problem. Kami bisa antaarkan Nona ke alamat.” Ujar Rangga tanpa beban.
“Maaf Tuan, anda tidak perlu repot-repot.” Mata Lery melirik Key yang sedari tadi tidak menoleh padanya. Hampa hatinya.
“Ini tidak…”
“Itu busnya sudah datang. Saya pergi dulu Tuan Rangga, Tuan Key.” Lery sudah meluru menuju bus tanpa sempat Rangga menahan.
Haish… Rangga ditinggal dengan terpinga-pinga. Sementara Key menarik napas lega. Akhirnya.
“Kau senang sekarang?” ujar Key kesal pada Key. Ketika bus yang dinaiki Lery jalan, Rangga juga mulai melajukan mobil.
Key walaupun tampak lega. Namun sempat juga dia melirik bus itu dari kaca spion. Key tarik senyum kecil.
Ciss.. Rangga berdecis melirik Key. Seolah tidak pedulu, tapi masih saja mencuri lirik.
***
Sampai saja di kediaman Mark dan Luna. Kedua pria itu langsung memasuki villa sahabatnya itu. Senyum keduanya merekah ketika melihat Mark dan Luna menantinya. Mark, pria itu sedang menggendong Allard.
“Wah.. Mark kamu semakin matang saja dengan adanya Allard dalam gendonganmu.” Key yang biasa dengan berbagai guraunnya.
“Tentu saja. I’m Papa to be.” Balas Mark penuh bangga.
“Haha.. tapi kamu harus bersiap. Kamu tidak akan lagi menjadi pria tertampan di hati Luna. Allard akan menggantikan semuanya. Harta, tahta dan Luna akan menjadi milik Allard.” Ranga menambahi.
Mark sudah tarik bibir sinis. Senang ya kalian mengusik aku.
“Aku yakin istriku tidak akan mengabaikan aku begitu saja.” ujar Mark dengan menatap Luna mesra.
“Humm..” Luna sekedar angkat bahu. Siapa yang tahukan?
Key dan Rangga di sana hanya saling lirik. Kita lihat nanti Mark Rendra.
“Ya sudah. Tuan muda kecil.. sekarang ikut Mama ya. Papa rapat dulu dengan Om-om jones ini.” hidungnya di gesekkan pada hidung mungil Allard. Tidak lupa kening putranya itu juga di cium. Pun Rangga dan Key sempat menyapa gemas Allard yang masih segar dengan mata tebuka itu. Allard meringis kecil ketika Mark menyerahkan pada Luna.
“Ush ussh, ada Mama sayang. Biarkan Papa bekerja dulu ya.” ujar Luna sambil menepuk-nepeuk lembut bayinya itu. Allard tenang kembali dan tersenyum kecil ketika Luna mencium pipinya.
Mark mengusap bahu istrinya itu, “Aku ke atas.” Satu kecupan juga di layangkan di kening Luna.
“Iya. Jangan terlalu lelah.” Pesan Luna.
Mark mengangguk. Tiga orang itu langsung mengorak langkah menaiki lantai atas. Ada beberapa perkara yang perlu dia bahas dengan sahabatnya itu.
***
“Jadi bagaimana keputusannya?” tanya Mark sesampainya di ruang kerja. Dia mengambil duduk di sofa yang diikuti oleh Rangga dan Key.
“Aku sudah berusaha semampunya Mark, tetapi dia memang tidak bisa lagi memperpajang kontrak dengan EDDEN. Dia bilang akan fokus merawat ibunya yang tengah sakit.” jelas Rangga sambil mengulurkan sebuah berkas.
Mark menerima berkas itu. Dia buka satu persatu. Mark mengeluh perlahan. Dia sungguh tidak menyangka jika orang kepercayaannya untuk mengurus EDDEN di New York tidak memperpanjang kontrak. Kerja orangnya itu sangat bagus dan bersih. Belum pernah membuat kesalahan yang berarti. Sekarang dimana dia akan mencari orang pengganti seperti orang itu? tidak mudah untuk mencari seseorang dengan multitalent kerja berkualitas dan dapat di percaya.
Lalu, apakah dia harus kembali ke New York? Ah tidak, tidak! cepat Mark menepis apa yang dipikirnya barusan. Dia tidak sanggup meninggalkan Luna dan Allard. Dia juga tidak mungkin membawa Luna dan Allard ke New York bersamanya, sebab dulu Luna pernah berkata untuk membesarkan anakk-anak mereka di China.
__ADS_1
Rangga dan Key saling lirik. Dia tahu apa yang di pikirkan oleh Mark sekarang.
“Mark..” Key besuara.
Mark menoleh pada sahabatnya itu dengan sedikit serabut.
“Aku dan Rangga sudah membicarakan ini sebelumnya. Oleh karena itu aku ikut dengan Rangga ke tempatmu.”
“Maksudmu?” Mark benar-benar tidak paham maksud Key.
“Maksudku, aku dan Rangga yang akan mengurus EDDEN.”
“Hah?” entah kenapa berdesing telinga Mark ketika itu. Apa dia tidak salah dengar? Apa tadi dia bilang? Key dan Rangga mengurus EDDEN?
Mark tersengih dan menggeleng, “Kalian tidak perlu berkorban apapun lagi untukku. Sudah cukup untuk selama ini kalian membantuku. Jangan terlalu berlebihan.”
“Mark ini bukan untukmu. Tapi untuk kami.” Timpa Rangga
“Maksudnya?” Mark semakin dibuat bingung.
“Aku ingin mengelola sendiri sahamku di sana. Di Lixing aku tidak ada hak. Dan kau sendiri juga tahu, aku ingin mencar istri non Asia.” Rangga memberi alasan sederhana. Namun dia sedikit ragu-ragu mengatakan alasan terakhir tadi. Istri non-Asia.. hem hem.
Istri non-Asia? Mark dan Key menatap Rangga bersamaan? terima kasih pada semesta akhirnya hati Rangga tergerak juga untuk mencari pasangan.
“Jangan menatapku seperti itu.” wajah Rangga sudah merona bila di tatap intens oleh kedua sahabanya.
Mark dan Key tertawa. Oke, oke sepertinya Mark perlu mempertimbang ini.
“Lalu bagaimana dengan kau Key? Cour mau kau apakan?” tanya Mark pula pada Key.
“Aku mau mempercayakan Cour pada Nindy sepenuhnya. Sebentar lagi mungkin adikku itu akan menikah, jadi aku tidak akan tahan tinggal di Cour maupun rumah. Mereka akan terus-terusan membuatku kesal. Jadi aku putuskan ikut Rangga ke New York.”
Mark garuk dagu. Alasan sederhana itu? hummm.. Key dan Rangga ditatapnya pelik.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun Mark masih sibuk di ruang kerjanya. Banyak berkas yang harus di periksa dan membutuhkan tanda tangannya. Ditengah kesibukan itu, tiba-tiba Mark berhenti. Dia teringat kembali akan keinginan Rangga dan Key terbang ke New York untuk mengurus EDDEN.
Jika dipikir-pikir itu adalah ide bagus. Rangga dan Key bukan orang lain baginya. Loyal, basic, kemampuan bisnis tidak perlu diragukan lagi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Namun… Mark ragu, dia takut jika Rangga dan Key melakukan ini untuk berbalas budi. Dia tidak ingin seperti itu, dia ingin kedua sahabatnya itu lepas dari rasa berutang budi dan nyawa padanya.
Mark ikhlas atas apapun yang dia lakukan untuk sahabanya itu.
Mark menghembus napasnya perlahan. Lalu gelas di atas meja diambilnya. Haus. Namun Mark kembali menghela napas ketika merasai gelas di tangannya itu kosong.
“Malah habis.” keluhnya. Mau tidak mau akhirnya Mark bangkit dari duduknya dan mengorak langkah keluar.
Santai saja Mark melangkah. Sempat dia menoleh ke kamar Luna dan Allard. Rindu pada keduanya. Namun dia tidak ingin menganggu. Baik Luna dan Allard pasti sedang nyenyak tidur. Tanpa berlama-lama lagi, Mark langsung menuju dapur yang ada di lantai bawah.
Sebotol air diambil dari dalam freezer, lalu dituangkan ke dalam gelas. Langsung saja Mark mendeguknya. Dia benar-benar haus kala itu. Setelah puas Mark juga membawa botol air itu ditangannya, namun ketika dia hendak berbalik badan dia di kejutkan dengan sosok Misya yang juga baru memasuki dapur.
Mereka salin tatap untuk sesaat. Mark tersengih dan menganggap gadis itu tidak wujud seperti biasanya. Botol minuman yang kosong dia taruh di meja.
Misya menahan sesak. Begitu tega Mark memperlakukannya seperti ini. Selama dia tinggal di sini, mereka tidak pernah ada interaksi sedikitpun. Jangankan menyapa, menatapnya saja Mark tidak pernah damai. Tatapan penuh benci yang selalu dilayangkan padanya. Dia memang benar-benar telah terusir di hati pria itu.
Misya menggenggam tangan dengan gemetaran. Hatinya semakin tertusuk-tusuk ketika Mark melewatinya begitu saja. Dia mengumpulkan kekuatan sekuat hatinya, lalu…
“Mark,”
Hampa. Mark tidak memperdulikan. Pria itu masih lanjut melangkah.
Misya berbalik badan dan menahan lengan Mark, “Mark please…” Lirih Misya pilu. Terhinjut-hinjut bahunya menahan sesak.
__ADS_1
Bersambung…