
‘ Ting ‘ lift terbuka.
Luna sudah sampai di lantai dasar. Meski Luna pergi dengan tanda tanya baru, tapi dia tetap beusaha untuk positif thinking saja.
Dia melangkahkan kakinya keluar, dia berjalan di lorong yang sama saat dia datang tadi.
Di lorong yang cukup panjang dengan pencahayaan yang tidak begitu terang. Luna menemukan beberapa pasangan yang sedang bermesraan di sana. Tapi Luna tidak peduli, dia terus berjalan dengan santai.
Dari jarak yang tidak begitu jauh dari Luna, ada sepasang kekasih. Pria itu terlihat jelas sudah mabuk berat di bandingkan wanitanya. Tapi dia tetap memapah wanitanya yang berjalan sedikit sempoyongan, sehingga memberikan pemandangan seolah keduanya sudah mabuk berat.
Luna tidak terlalu memperdulikan semua yang dia lihatnya saat itu. Dia hanya terus berjalan, berharap bisa keluar dari tempat itu dengan secepatnya.
Saat mereka berpapasan.
‘ brackk’ wanita itu menabrak bahu Luna
“ auww” rintih keduanya.
Luna memegangi bahunya dan berbalik badan untuk melihat siapa wanita.
Tapi tiba-tiba wanita itu malah langsung menyerang Luna, dia menjambak rambut Luna dengan berbagai kata cacian dengan wajahnya yang di tutupi rambutnya, sehingga Luna tidak bisa melihat jelas siapa wanita itu. tapi Luna merasa agak familiar dengan suaranya.
“ Aaaa,, apa kau gila. Kau yang sudah menabrakku. Kenapa malah kau yang menyerangku?" teriak Luna sambil berusaha menahan tangan wanita itu.
Pria dari pasangan wanita itu juga tidak melerai meraka, dia jatuh dan tergeletak di lantai dan tak bangkit lagi. Dia hanya berbicara tak jelas pada wanitanya.
Luna sangat kesal dengan keadaan ini.
“ Dasar wanita jal*ng, beraninya menghalangi jalanku dan malah menyalahkan aku. Kau pikir kau siapa?” ucap wanita sambil mengibaskan rambutnya.
Luna terkejut, ternyata wanita itu adalah Camelia sepupunya.
“ Camelia?” ucap Luna.
Luna menatap jijik sepupunya itu, dia merasa antara percaya dan tidak percaya bahwa wanita seperti Camelia suka minum-minum hingga mabuk di tambah lagi dia juga dengan seorang Pria yang sudah tak sadarkan diri membuat Luna benar-benar tak habis pikir.
Camellia juga baru menyadari bahwa wanita yang sedang dia jambak itu adalah Luna,
“ Hah, Luna ternyata kamu juga mendatangi tempat seperti ini. Apa Mark Rendra tunanganmu tidak bisa memuaskanmu? Sehingga kau mencari kesenangan lain.”
Luna merasa sangat marah mendengarkan kata-kata Camelia. Dia menarik kuat tangan Camelia yang masih memegangi rambutnya. Hingga beberapa helai rambut Luna terbawa di tangan Camelia.
“ Aakh,,” teriak Camelia, karena rambut Luna menyakiti tangannya.
Sementara Luna tak bersuara sedikitpun. Dia tak merasakan sakit lagi karena ucapan Camelia jauh sangat lebih menyakitkan hatinya.
Luna memegangi tangan Camelia yang menjambak rambutnya itu.
“ Camelia, tidak semua wanita gampangan sepertimu. Aku bukanlah wanita yang haus dengan belaian pria. Aku tidak sama denganmu.” Sambil melepaskan tangan Camelia dengan kasar.
“ Luna apa kau pikir aku bodoh?, lihat aku baik-baik. Aku tidak sedang mabuk, aku 100% masih sadar. Aku bukan orang yang bisa kau bodohi. Hah, sudah jelas bertemu kamu di sini. Apalagi kamu keluar dari jalur ini, kamu dari mana lagi kalau bukan bersenang-senang?, sudah melayani berapa orang pria hari ini? dasar j*lang,, aku akan menyebarkan berita tentangmu agar kau kehilangan muka. Semua orang akan tahu, Luna Aliester yang selama ini tidaklah sebaik yang mereka pikirkan, nyatanya dia sering menaiki ranjang banyak pria”
‘plakkkk’
Luna menampar Camelia secara spontan.
Luna sendiri terkejut dengan tamparan spontannya itu, sehingga tangan Luna gemetaran dan dia juga merasa bersalah.
“ Hah, kau menamparku? ”
Camellia langsung menyerang Luna secara tiba-tiba, dengan brutalnya Camelia menarik kuat baju bagian depan Luna. Sehingga baju bagian depan dengan hiasan renda itu robek, Luna sangat terkejut dia menutupi dadanya.
Tiba-tiba camelia mencekik lehernya, Luna sempoyongan berjalan mundur sehingga sekarang Luna tertekan di dinding.
Luna memegangi tangan Camelia untuk menahannya. Tapi Camelia yang memang sudah penuh emosi sangat sulit untuk mengendalikannya. Dia mencekik Luna dengan sekuat tenaganya.
“ Ak uhuk,, Camelia. lepaskan aku” ucap Luna dengan nafas yang tersenggal.
“ Mati kau. Mati saja sana!” ucap Camelia yang sudah di penuhi dengan kemarahan.
Tiba-tiba sekelompok orang datang, lalu Pria dengan stelan cream langsung menarik tangan Camelia dari leher Luna.
“ Nona, apa anda sedang mencoba membunuh orang di sini?’ dengan dingin sambil melepaskan tangan Camelia dengan kasar.
“ Huk huk uhukk” mencoba menstabilkan kembali pernapasannya sambil mengusap lehernya yang sakit di cekik oleh Camelia sambil memegangi bajunya yang robek.
Camelia dengan sombongnya berbicara melawan pria stelan Cream itu.
“ Anda tidak perlu ikut campur urusan saya, apapun yang saya lakukan anda tidak berhak melarang saya.”
Pria itu tersenyum sinis.
“ Lempar wanita dan pria memalukan ini keluar” perintahnya pada orang yang ada di belakangnya.
2 orang maju untuk menarik Camelia, dan menyeret paksa Camleia keluar, dan 2 orang lagi memapah pria yang tergeletak di lantai itu.
“ Kalian ini apa-apaan. Kalian jangan macam-macam ya. Saya tamu VVIP di sini.” teriak Camelia sambil meronta-ronta.
Pria itu tidak memperdulikan sama sekali ucapan Camelia, Pria itu membuka jasnya dan menutupi tubuh Luna.
“ Qnda tidak apa-apa nona?” dengan lembut.
Luna terkejut mendengar suara itu, dia menatap pria itu dengan tatapan mencurigai.
“ Anda kenapa menatapku begitu, apakah ketampananku membuat nona terpesona?’
Luna mengalihkan pandangannya,
“ Saya tidak apa-apa. Terimakasih atas bantuannya.”
Pria itu melihat leher Luna, di sana terdapat bercak merah dan beberapa goresan. Cekikan Camelia meninggalkan bekas dan juga kuku Camelia yang panjang menggoresi leher Luna.
Luna menyadari pria itu memandangi lehernya, dia langsung menutupinya dengan jas yang diberikan pria itu.
“ Tuan, sekali lagi terimakasih. Sekarang saya ingin pulang. Jas ini akan saya kembalikan setelah saya membersihkannya. Kemanakah saya bisa mengembalikannya?”
“ Nona tidak perlu mengembalikannya. Buang saja” dengan sombong.
Luna mengeluarkan ponselnya,
“ Berikan kontak tuan, saya akan menghubungi tuan setelah membersihkannya” sambil menyodorkan.
__ADS_1
Pria itu tersenyum dan mengambil ponsel Luna.
“ Baiklah jika nona memaksanya.”
Pria tersebut mengetikkan nomornya dan menyimpannya. Lalu mengembalikan ponsel Luna.
Luna mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya.
“ My Angel” nama kontoak yang di buat ria tersebut.
Luna mengerutkan dahinya melihat itu, sementara pria itu tersenyum puas.
“ Siapa nama tuan” tanya Luna.
“ Nona bisa panggil saya my angel saja” dengan senyum.
Luna senyum dan menggelengkan kepalanya.
“ Baiklah. Saya Luna” sambil mengulurkan tangannya.
Pria tersebut menyambut uluran tangan Luna,
“ Your angel” ucapnya dengaan santai.
Setelah itu Luna lansung pamit undur diri untuk pulang, meski pria itu sudah bersikeras menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang, tapi Luna menolaknya dengan lembut. Sehingga pria itupun mengalah dan membiarkan Luna pulang sendiri.
***
Beberapa saat kemudian Luna telah sampai di depan gerbang rumahnya, pengawalpun membukakan pagar.
Sejenak Luna melirik ke kaca spionnya, dia melihat mobil Mark ada di belakangnya. Luna merasa tidak tenang, dia khawatir Mark akan menanyai kemana dia pergi tadi.
Luna melajukan mobilnya, setelah sampai di depan rumah Luna langsung turun dengan cepat.
Dia berharap Mark tidak akan memanggilnya, tapi ternyata Mark lebih cepat darinya, Mark sudah berada di belakangnya.
Mark menatapnya dengan tatapan dingin. Luna melihat Mark dengan canggung, sangat jelas sekali dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Tangan kanan Luna memegangi jas yang menutupi lehernya itu.
“ Aku masuk duluan” ucap Luna langsung melangkahkan kakinya.
“ Luna dari mana kau?”
Langkah Luna terhenti, dia menggigit bibirnya dan memegang erat jas itu, lalu dia berbalik badan.
“ Aku tadi berkumpul dengan teman lamaku” dengan senyum.
Mark melangkah mendekati Luna dan mencoba melihat apa yang di sembunyikan Luna di balik jas itu.
Luna terkejut dan langsung berjalan mundur.
“ Kau mau apa?” tanya Luna khawatir ketahuan.
“ Kau berkumpul dengan teman lamamu, lalu membawa jas pria dan menutupi lehermu. Apa yang kau sembunyikan?” dengan tatapan tajam dan kemarahan yang tertahan.
“ Apa dia berfikiran aku melakukan hal yang tidak pantas ? Mark aku bukan wanita seperti itu” gerutu Luna dalam hatinya.
“ ini bukan apa-apa. Aku hanya kedinginan dan temanku meminjamkan jasnya” jawab Luna lansung berjalan cepat meninggalkan Mark.
Mark megikuti Luna dan menarik tangan kiri Luna, hingga tubuh Luna terlempar pada tubuhnya. Mark melingkarkan tangannya di pinggang Luna, mata mereka saling beradu.
“ Biarku lihat lukamu” ucap Mark lembut.
Luna terkejut, ternyata Mark mengetahui kebenarannya. Luna mengedipkan matanya.
“ Kau mengetahuinya?” tanya Luna.
“ Aku mengetahui semuanya. Jadi kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku.”
Luna menundukkan kepalanya, dia merasa sangat marah tapi tak bisa mengungkapkan dan tak bisa berkata apa-apa.
Dia merasa usahanya sia-sia saja, dia sudah menemui L diam-diam tapi ketahuan juga oleh Mark. Dia takut Mark akan berbuat yang tidak-tidak pada papanya jika mengetahui video itu.
Luna Mendorong tubuh Mark, tapi Mark menahannya.
“ Mark maafkan aku” ucap Luna lirih.
“ Jangan minta maaf, aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjagamu.”
Luna terkejut “ Apa dia tidak marah? atau dia tidak mengetahui bahwa aku menemui L?. baguslah jika dia tidak tahu” bisik hati Luna lega.
Mark melepaskan Luna dari pelukannya, dan menyentuh tangan Luna yang masih memegangi erat jas itu.
“ Biarkan aku melihatnya!” dengan lembut.
Luna menurunkan pegangan tangannya kebawah untuk menutupi bajunya yang robek.
Ketika melihat bekas merah dan goresan itu, tatapan Mark langsung berubah. Dia menarik tangan Luna dan berjalan ke atas menuju kamarnya.
“ Mark, kau mau apa? ini kamarmu” tanya Luna bingung.
“ Aku akan mengobati Lukamu”
“ Ah,, tidak perlu. aku bisa mengobatinya sendiri” tolak Luna.
“ Kau menurut saja. Aku sudah membelikan obat oles agar goresan itu tidak meninggalkan bekas” sambil mengeluarkan obat itu dari jasnya.
“ Baiaklah, jika begitu kau berikan saja padaku. Aku akan memakaikannya sendiri” berusaha merebutnya.
Tapi Mark langsung menggenggam kembali obat itu dan menarik Luna ke kamarnya. Mark menyuruh Luna duduk di tepi ranjangnya. Lalu Mark mengambil kotak obatnya.
Mark mengambil kursi dan duduk di depan Luna.
“ Mark, tapi aku harus mengganti bajuku dulu” ucap Luna sambil menundukkan kepalanya.
Mark mengambil nafas dalam.
“ Huft,, baiklah. Sekarang kita ke kamarmu”.
Merekapun langsung pergi ke kamar Luna yang berada di samping kamar Mark.
__ADS_1
Luna mengambil pajama dalam lemarinya. Kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sementara Mark masih stay menunggunya untuk mengobati Luka Luna.
Beberapa saat kemudian Luna keluar dari kamar mandi, Luna men-cepol rambutnya, sehingga lebih memperlihatkan leher jenjangnya.
Luna berjalan mendekati Mark dan duduk di kursi dekat Mark.
“ Mark sebelumnya aku ingin menanyaimu, bolehkan?” ucap Luna.
“ Katakan” dengan dingin.
“ Darimana kau mengetahui aku di serang?”
“ Kau tidak perlu menanyakan itu lagi.”
“ Aku serius, apa dari pria yang memberikan jas ini?” tanya Luna sambil menatap Mark dan berusaha mencari jawaban dari sorot mata Mark.
“ Iya. Kau benar. Dia dalah orangku” jawab Mark sambil membuka botol anti septik dan kapas.
“ Kau tidak memarahiku. Karena berbohong?”
“ Untuk apa aku memarahimu yang sudah terluka begini. Tapi lain kali jika kau masih terluka, maka aku akn memarahimu.”
“Sepertinya dia memang tidak mengetahui pertemuanku dengan L” sekali lagi Luna merasa lega.
“ Aku akan membalaskan rasa sakitmu ini.” ucap Mark.
“ Ah,, tidak perlu. Dia melakukan ini, hanya karena emosi sesaat.”
“Setelah dia melakukan ini, kau masih bisa mentoleransinya?”
“Dia melakukan ini karena aku yang mulai duluan. Aku menamparnya. Mark luka ini tidak perlu di balaskan” pinta Luna.
“Hmm,, baiklah. Di acara makan malam besok. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk mereka. Aku akan membantumu menghadapi mereka.”
“ Baiklah. Aku percaya padamu.”
Mark memandangi Luka Luna dan berdecih kesal. Dia mulai membersihkan goresan itu dengan lembut.
“ Apa ini perih?”
“ sedikit” jawab Luna.
Lalu Mark meniup pelan luka Luna tersebut. Luna terkejut dengan perlakuan Mark.
Tiupan Mark memberikan raeksi yang berbeda, Luna mengedipkan matanya beberapa kali.
Tapi tiupan lembut dari Mark memang membuatnya merasa aneh yang membuat Luna menelan Ludah. Tapi Mark tidak menyadari itu, dia terlalu fokus mengobatinya.
Beberapa saat kemudian Mark sudah selesai mengobatinya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Luna yang terlihat tegang.
“ Kau kenapa?” tanya Mark dengan polosnya.
Luna kemudian memejamkan matanya dan bangkit dari tempat duduknya.
“Kau sudah selesaikan. Sekarang keluarlah. Aku ingin segera tidur.” Sambil menarik tangan Mark dan mendorongnya keluar dari kamarnya.
Luna kemudian menutup pintu kamarnya dengan cepat dan langsung menguncinya.
“ Luna kau kenapa?” teriak Mark dari Luar.
“ Qku tidak apa-apa. Kau kembalilah ke kamarmu ”
Mark tersenyum puas dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan ke kamarnya.
Sementara Luna langsung naik keranjangnya dan menyelimuti dirinya.
“ Apa dia benar-benar polos? Dia melakukan itu dengan santai. Dia tidak tahu bagaimana aku menderita. Mark,, aku wanita normal, bagaimana jika aku hilang kendali. Itu akan sangat memalukan” ucap Luna lalu menendang-nendang selimutnya.
Luna kemudian mengambil boneka kelincinya dan memeluknya.
“ Tapi, hari Mark sedikit berbeda, biasanya sesekali dia akan menggodaku. Tapi hari ini dia bersikap dingin tapi tetap memperlakukanku dengan lembut. Kenapa dia sangat sulit di tebak. Hum,, mengenai ucapan L, menyuruhku untuk bekerjasama dengannya. apakah aku bisa?” gumam Luna.
Malam itu Luna luna tidak bisa tenang, dia selalu perang dengan hatinya sendiri. Karena meskipun dia sudah memejamkan matanya, tapi hatinya terus saja berbicara, menanyakan dan menebak banyak hal. Sehingga Luna terus putar kiri putar kanan, dia sangat resah.
‘ zhrtttt’ posel Luna bergetar.
Luna duduk dan mengambil ponselnya yang berada di meja kecil dekat ranjangnya.
“ Kak Jiang He?” gumam Luna
Luna langsung menjawabnya.
“ Halo”
“ Luna, apa kamu baik-baik saja?” tanya Jiang He dengan nada penuh ke khawatiran.
“ Kak Jiang He juga mengetahui tentang ini? aargh,, sepertinya aku memang sudah tak punya privasi lagi ” gumam Luna kesal.
“ Qh haha,, aku baik-baik saja kak” Jawab Luna dengan nada ramah yang di paksakan.
“ Syukurlah. Maaf aku sangat terlambat mengetahui ini” dengan lembut dan lega.
“ Ini hanya luka kecil. Kakak jangan khawatir.”
“ Luna, apa aku perlu membalas wanita itu?”
Luna terkejut.
” Aa.. tidak. Tidak perlu kak. Ini bukan salah dia sepenuhnya. Akulah yang memancingnya melakukan ini padaku"
“ Tapi Luna,,”
“ Hush,, tidak ada tapi-tapian. Aku tau kakak sangat peduli padaku, tapi kakak juga tidak boleh berbuat lebih jauh apalagi berbuat yang tidak-tidak. Dengan perhatian kakak sudah membuat ku tenang, kakak tidak perlu melakukan apa-apa lagi” ucap Luna dengan lembut.
“ Baiklah. maaf sudah mengganggumu tengah malam begini. Sekarang tidurlah.”
“kakak juga. Istirahatlah dengan tenang.”
Percakapan merekapun berakhir, Luna meletakkan kembali ponselnya dan langsung merebahkan dirinya.
sementara Jiang he yang masih berada di ruang kerjanya, menggenggam erat ponselnya.
__ADS_1
“ Tidak boleh berbuat lebih jauh? Tidak boleh berbuat apa-apa?, Luna kau selalu mengucapkan kalimat itu dengan sangat lembut, tanpa kau ketahui aku terluka mendengarnya” bisik hati Jiang He sambil menusap keningnya, dia tampak sangat sedih.