TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 CAFE


__ADS_3

Luna berada di ruang lukisnya, lebih tepatnya dia duduk di balkon dengan kanvas putih masih polos di depannya. Rambutnya menari-nari karena terpaan angin lembut. Tatapannya kosong sambil memegangi kuas yang juga masih bersih serta cat di palet yang belum di aduk sama sekali.


Cukup lama Luna bergeming, meresapi hati dan pikirannya yang ribut.


“Huufft..” akhirna dia bergerak, membuang nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya. membuang fikiran negative yang membisik-bisikinya. “Semuanya akan baik-baik saja.” meyakinkan dirinya sendiri.


‘Drtt drrt’ ponsel Luna bergetar hingga menghentikan dia yang hendak mulai mengaduk cat di palet.


Kening Luna berkerut melihat nama di layar ponselnya. “Alexa?” gumamnya. Menaruh kuas, lalu menjawab panggilan.


“Halo”


“Luna, apa kau punya waktu luang?” suara Alexa yang terdengar menggebu serta deru nafasnya terdengar tidak beraturan.


“Ya, aku aku punya. Ada..”


“Syukurlah.” Potong Alexa terdengar lega. Membuat Luna jadi bingung.


“Memangnya ada apa Alexa? kau terdengar khawatir?”


“Ya.. aku memang sedang sangat khawatir. Aku butuh bantuanmu sekarang. 30 menit lagi! kita harus bertemu segera.”


“Ok. Baiklah, kirimkan aku lokasinya.”


Percakapan berakhir. Luna tampak berfikir sejenak, menerka apa yang terjadi dengan Alexa.


“Apa ada masalah dengan acara Launching yang akan di adakan?”


Getar ponsel kembali menyadarkan Luna. Ternyata itu adalah pesan dari Alexa yang mengirimi lokasi mereka akan bertemu. Beregegas Luna bangkit dan segera pergi.


***


Luna sampai di sebuah café, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana posisi Alexa. Café yang luas dengan layout menarik. Lumayan banyak tamu, namun tenang.


“Luna..” sorak Alexa sambil melambaikan tangannya. Ternyata di sana juga sudah ada Camelia dan seorang pria paruh baya yang tidak di kenal oleh Luna. Luna tersenyum lembut dan menghampiri.


‘Brugh’ Luna bertabrakan dengan seorang pria dari arah yang berlawanan. Pria tersebut berpenampilan tertutup, mengenakan topi dan masker.


“Maaf , maaf.” Ucap pria itu cepat.

__ADS_1


“Tidak apa-apa.” jawab Luna dengan sedikit mengintip sambil memegangi bahunya.


“Sungguh anda tidak apa-apa?” pria itu memastikan. Berdiri tegab menoleh pada Luna, tapi dapat dipastikan dia tidak melihat siluet wajah Luna karena topi yang menghambat pandangannya, yang memungkinkan hanya bisa melihat dari pinggang ke bawah saja.


Luna menyeringai senyum. “ Iya.” jawabnya singkat. Lalu keduanya sama-sama beranjak pergi dari arah yang berlawanan tersebut. Beberapa langkah Luna mengeryitkan keningnya, entah kenapa dia tiba-tiba merasa aneh.


“Siapa pria itu?” Luna menghentikan langkahnya, menoleh pada pria yang sudah hampir menghilang menuju toilet.


“Luna, kau tidak apa-apa?” panggilan Alexa membuyarkan pikiran Luna.


“Aku baik-baik saja.” memberikan isyarat tangan, lalu mendekat dan duduk tepat di hadapan Camelia.


“Luna kenalkan ini tuan Chen.” Ujar Alexa memperkenalkan pria paruh baya di sampingnya.


“Luna.” bersalaman dengan senyum. Runtutan pertanyaan kembali menghampirinya dengan apa yang telah terjadi.


“ Anlo Chen.” Ujar pria paruh baya tersebut dengan ramah.


“Baiklah, sekarang kita langsung saja pada masalah.” Alexa menarik nafasnya dalam. “Luna bagaimana menurutmu tentang acara Launching proyek resort yang akan di adakan 3 hari lagi?” menoleh pada Luna dengan tatapan penuh harap.


Luna bingung, karena hal ini sudah di bahas sebelumnya. Baik rangkaian acara dari A sampai Z sudah di bahas di pertemuan mereka terakhir kali.


Luna juga selalu mengirimkan laporan, mulai dari finishing proyek hingga persiaan untuk Launching ini.


Alexa kembali menarik nafasnya dengan gusar, sementara Camelia mendeguk minumannya dengan tidak tenang. Ayolah! Hal ini membuat Luna semakin bingung.


“Ada apa?” Luna mulai menampilkan ekspresi curiganya. Menatap lekat Alexa dan Camelia.


“Luna besok kita harus berangkat. Kita pergi lebih awal." ujar Camelia.


"Kenapa? ada masalah apa? kalian jangan membuatku bingung." tanya Luns gusar.


Alexa, Camelia dan pria paruh baya yang masih belum tau siapa diam menatapi Luna. Bergeming membuat emosi Luna serasa di ubun-ubun. Dia benci dengan hal seperti ini, hal yang menbuat dia penasaran, tidak mengerti seperti orang bodoh.


"Haha.. " Alexa dan Camelia tertawa. Pria Paruh baya yang bernama Anlo Chen tersebut senyum-senyum. Menyebalkan!


"Para investor ingin merayakan lebih awal Luna. Makanya kita harus berangkat lebih awal. Maafkan kami membuatmu khawatir." jelas Alexa yang membuat Luna lega namun kekesalannya juga tidak dapat ditutupi.


"Kalian ini." Luna cemberut, lalu mendeguk minuman yang sudah di siapkan untuknya. "Senang sekali ya menikmati wajah khawatirku." celotehnya.

__ADS_1


"Maaf, maaf." Alexa tertawa renyah. "Oh iya, mengenai pak Chen, beliau adalah pimpinan dari NIAN Group." Luna terkejut dengan penjelasan Alexa, karena NIAN Group merupakan investor terbesar dari proyek ini. Tapi waktu itu yang menemui Luna pria muda, mungkin putranya.


"Maaf saya tidak mengenali anda tuan Chen." pinta Luna cepat.


"Tidak apa-apa nona. Wajar anda tidak mengenali saya, ini pertama kali kita bertemu. Putra saya sedang bertugas di Belanda, jadi saya menggantikannya." jelas Anlo Chen dengan ramah.


"Terimakasih pengertiannya tuan Chen." tersenyum namun hatinya semakin di bumbui pertanyaan. Kenapa tuan Chen berada di sini dan bergabung dengan Alexa dan Camelia?


"Begini Luna, tuan Chen sangat ingin bertemu suamimu." Luna langsung menoleh pada Camelia. Oh ternyata ini tujuannya.


"Tuan Muda Mark hadirkan di acara dengan para investor dan Launching nanti?" lanjut Alaexa menanyai.


"Rencana awal iya," kalimat Luna langsung membuat 3 orang itu menatapnya tidak mengerti, membuat Luna tersenyum canggung. Tahu, jika ini akan mengecewakan mereka.


"Suamiku sedang di luar negeri sekarang. Tidak tau sampai kapan, ada hal penting diurusnya. Maaf." pinta Luna dengan tulus menatap 3 orang itu. "Papaku akan mewakili Lixing." lanjutnya.


Terlihat gurat kecewa dari ketiganya. Tapi mereka memaklumi akan kesibukan Mark. Mereka juga tidak bertanya lebih jauh.


Cukup lama berbincang mengenai acara parayaan seluruh investor yang mendadak ini. Pembicaraan santai yang juga mengundang tawa, karena gurauan tuan Chen yang ternyata cukup humoris.


Pembicaraan bisnis selesai, mereka masih berbincang sampai di pintu cafe.


"Saya duluan nona sekalian." ujar tuan Chen karena mobilnya sudah menunggu.


"Baik tuan." ujar ketiganya.


Tuan Chen memasuki mobilnya dengan senyum puas. Tampak pria berpakaian misterius yang di bertabrakan dengan Luna berada di dalam mobilnya.


"Sepertinya keberuntungan berpihak padamu tuan." ujar tuan Chen sambil melirik pria di sampingnya itu.


Tidak lagi menggunakan masker. Pria tersebut tersenyum penuh makna.


Bersambung...


.


.


Oh iya untuk kakak yang nanyaiin visual. Visual Mark, Luna udah ya kak. Kalo untuk visual yang lainnya nanti aku up setelah cerita ini tamat, sesuai kesepakatan sebelumnya.

__ADS_1


Tapi aku ada rencana buat bikin vidio trailer TUAN MUDA AKU BENCI KAMU ini. Di trailernya ini aku bakalan masukin semua visualnya. Kalo udah jadi nanti kakak bisa lihat di Instagram/youtube aku ya. 😊


Nanti aku bakalan kabarin di sini kalo trailernya udah jadi, soalnya pasti butuh banyak waktu bikinya, karena harus ambil dari berbagai vidio. Jadi mohon bersabar yak kakak 😘


__ADS_2