
Matahari mulai memasuki celah-celah kamar, menimpa tepat di mata Luna yang tidur tanpa menutup seluruh dirinya. Sementara 3 orang lainnya berkelumun dalam selimut masing-masing.
Luna sedikit menguap dan mengucek matanya. mengerjapkan manik matanya dan membukanya agar cahaya matahari sempurna di terima retinanya.
Luna menoleh pada pada Lery yang tidur di sisi kanannya, lalu Zhaon di sisi kirinya.
“Hump.. tidur mereka nyenyak.” Bangkit dan menoleh pada Nindy yang berda di samping Lery. Nindy tidur menyudut di sisi bawah ranjang.
Luna menggulung rambutnya, lalu mencepolnya. “Bangun semuanya,” Suara parau Luna sambil menarilk selimut 3 wanita itu satu-persatu. Ketiganya menggeliat, Zhaon bangun dengan cepat.
“Pagi nona,” bangkit dengan sedikit menguap. Sementara Nindy dan Lery malah menarik kembali selimutnya. Luna tersenyum lembut, teringat semalam mereka memang tidur jam setengah 4 pagi.
Serunya permainan yang di iringi dengan game kejujuran yang mengundang curhat serta mempererat hubungan mereka. Mengugkap rahasia dan melegakan rasa penasaran.
Lery yang mengungkap pegalaman pahitnya. Nindy yang sudah mengakui mengejar Jiang He. Zhaon yang memuaskan rasa penasaran Luna kenapa mengikuti Mark dan dirinya. Dan beberapa rahasia lain di ungkap, sehingga berujung curhat hati ke hati sebagai sesama wanita.
Sementara Luna? apa yang mereka tanyakan? Tidak ada. Karena Luna sama sekali tidak pernah gagal dalam permainan uno stacko semalam, membuat 3 wanita itu geram dan berencana lain kali akan bermain kembali.
Meskipun begitu juga ada beberapa hal yang Luna ungkap di sela memberi pendapat mendengar curhatan 3 wanita itu.
“Nona biar aku yang membangunkan mereka.” Zhaon bangkit dengan masih mengucek matanya.
“Jangan dulu. Biarkan mereka tidur sebentar lagi. Kamu kembali saja ke kamar, bersiap-siaplah dengan santai. Mereka biar pelayan yang membangunkan nanti.” Luna bangkit memberesi bantal dan selimutnya.
__ADS_1
“Baik nona.” Zahon juga mengasi selimut dan bantalnya, lalu mereka keluar beriringan. Membiarkan 2 wanita itu untuk melanjutkan tidurnya.
***
Lery sudah rapi dengan pakainannya, bergegas keluar karena ingat dengan kewajibannya merawat luka Key. Dia harus mengganti perban Key lagi pagi ini.
“Tuan.” panggil Lery pelan sambil mengetuk pintu. Dia tidak ingin Rangga ataupun Jiang He mengetahui keberadaannya, karena ini juga permintaan Key yang tidak ingin yang lain tau akan lukanya.
“Masuklah.” Key membuka pintu, tampak dia sudah mengenakan baju kaos lengan pendek yang melekat sempurna di tubuhnya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Key yang sudah langsung berjalan menuju sofa. Di meja semua peralatan obat sudah tersedia.
“Maaf tuan.” Lery menutup pintu dan mendekat. Dia dengan segera merawat luka Key. Sesekali Lery menguap, karena memang sangat kurang tidur.
“Kau tidak bisa tidur semalam?” Key memandang lekat wajah Lery yang tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Kamu berinteraksi sangat baik dengan mereka.”
“Itu karena mereka orang baik. Sangat tau bagaimana menghilangkan kecanggunganku.” Gunting dan selesai membalut luka, lalu dia menoleh pada Key yang juga menatapnya. Mereka beradu tatap, tapi tidak ada yang menghindar.
“Terimakasih tuan.” Ungkap Lery tiba-tiba dengan senyum merekahnya.
“Terimakasih untu apa?” alis Key terangkat, bingung dengan maksud Lery.
__ADS_1
“Terimakasih untuk membawaku ke sini. Aku bahagia bisa bertemu dengan wanita-wanita cantik dan baik hati. Aku serasa menemukan saudara di sini.” tertawa sambil mengemasi obat.
Key tersenyum tipis sambil memperhatika Lery. Senang saja melihat Lery merasa nyaman.
“Lalu bagaimna kau akan berterimaksih pada atasanmu ini?”
Tangan Lery langsung berhenti beraktifitas. Menoleh pada Key yang tampak mempehatikan hasil perbannya. Tampak Lery berfikir sejenak.
“Aku akan merawat luka tuan sampai sembuh.” jawabnya cepat saat Key menoleh padanya. Lery tampak mulai gugup.
“Mana bisa. Luka ini memang sudah kewajibanmu. Ini karena salahmu juga.” Key mengingatkan kembali akan kesalahan Lery.
Lery cengingisan, duduk di samping Key sambil berfikir. “Jika begitu saya menanyai pendapat tuan saja. Saya harus bagaimana membalasnya.” Menoleh pada Key dengan senyum canggung.
“Pikirkan saja olehmu. Seharusnya kamu tau bagaimna cara berterimakasih dengan benar.” Key beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Ternyata yang datang adalah Nindy. Nindy mengulum senyum seolah menggoda. Melihat sang kakak dan Lery yang menatap kedatangannya.
Dia tidak menyangka ternyata Lery jauh lebih cepat merawat Luka kakaknya, padahal dia baru saja hendak membantu.
“Maaf mengganggu.” Menunduk sopan seperti pelayan dan menutup pintu kembali.
Lery langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, malu rasanya. Pagi-pagi begini sudah di kamar pria, di tangkap basah oleh adik sang pria lagi.
__ADS_1
Key juga mengusap keningnya frustasi. Sudah terfikir olehnya, bagaimana setan kecilnya akan semakin lincah menggodanya.
Bersambung..