
“ Sayang..” Panggil Mark sambil meletakkan palet dan dia ingin menyusul Luna.
“ Mark.. biar ibu yang menyusulnya.” Cegat ibu, hingga menghentikan angkah Mark.
Ibu langsung mendekati Mark, lalu dia menepuk bahu Mark dengan senyum.
***
“ Hoek hoek “ suara Luna dari dalam kamar mandi.
“ Kenapa mual sekali..” bisik hatinya sambil memasukkan air ke mulutnya untuk berkumur.
Tiba-tiba Luna mendengar suara langkah kaki dari luar, Luna langsung saja berfikir bahwa itu adalah Mark.
“ Mark..” ucapnya pelan menoleh saat pintu kamar mandi terbuka.
“ Ibu..” ucapnya sedikit terkejut, karena bukan Mark yang datang. Tiba-tiba dia mual kembali.
Ibu memandangi Luna dengan tidak senang dan seolah jijik pada wanita yang sedang menumpahkan rasa aneh di peruntya itu.
“ Luna, gadis macam apa dirimu? Memangnya kamu pikir putraku tidak berharga hingga kamu menaiki ranjangnya sebelum pernikahan kalian? kenapa kau tidak melindungi harga dirimu?.”
“ Ibu! Hentikan kalimat ibu!” teriak Mark. Dia masuk dan mendekati Luna yang sangat shock.
Luna yang masih dengan posisi setengah membungkuknya, terlihat tak bertenaga lagi karena mendengar kalimat yang menusuknya bertubi-tubi. Dia menatap penuh kesedihan sang ibu calon mertua. Tak habis fikir jika calon ibu mertuanya, memiliki pemikiran bahwa dia adalah gadis murahan yang menggoda putranya.
“ Sayang kamu tidak apa-apa kan?” sambil memegangi Luna agar berdiri tegap, lalu dia mendekap Luna dengan lembut.
Luna masih diam, mulutnya masih serasa terkunci. Bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan Mark. Matanya yang berkaca-kaca mulai menetaskan Kristal bening, mengalir tanpa aba-aba. Hanya dengan ini dia bisa mengekspresikan bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.
Hati Mark terasa sangat sakit melihat Luna seperti itu, dia menatap ibunya yang masih berdiri di pintu dengan tatapan kecewa.
“ Sayang kita ke kamar ya.” ajak Mark sambil memapah Luna, yang tak bertenaga lagi untuk berjalan.
Saat di depan ibunya, Mark berhenti dan menatap ibunya yang menatap Luna dengan kebencian.
“ Ibu jika ibu berfikiran Luna hamil, itu sama saja ibu berfikiran bahwa aku adalah putramu bejad dan bajing*n. Dan perlu ibu ingat Lunaku bukanlah wanita seperti yang ibu pikirkan. Ibu jangan pernah menyalahkan Luna lagi ataupun menghinanya. Itu sama saja ibu menghinaku. Ibu aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai Luna, sebentar lagi dia akan menjadi istriku. Jika ibu tidak menyukaiku ataupun tidak menyukai Luna, lebih baik hubungan kita diam seperti sebelumnya.”
Sang ibu langsung menoleh pada putranya dengan tatapan memelas, tapi Mark langsung melewatinya begitu saja. Dia sudah terlanjur kecewa. Kenapa bisa-bisanya sang ibu menuduh wanita yang di cintainya seperti itu. Hatinya tidak terima Luna di hina.
Ibu Mark menatap punggung Luna dan putranya yang menjauh. Tatapan nanarnya berubah menjadi kesedihan, dia memejamkan matanya, lalu air matanyapun menetes. Entah apa yang ada di fikiran ibu Mark, tidak ada yang tau.
__ADS_1
***
Mark membantu Luna untuk berbaring, lalu menyelimutinya. Di pintu sudah berdiri Nindy dan si kembar yang terlihat sangat khawatir. Namun mereka tak berani untuk mendekat karena melihat atmosfer saat Mark kembali dari kamar mandi tadi sangat dingin dan juga menakutkan.
Tiba-tiba Rangga dan Key datang, dan langsung mendekati Mark dan Luna.
“ Mark aku sudah menghubungi dokter.”
Luna terkejut dan menoleh pada Rangga dan Key. “ Tapi tempat ini jauh, sepertinya tidak ada rumah saakit di sini, di sekiran sini hanya hutan belantara saja. apa mereka menghubungi dokter dari kota?” gumamnya.
“ Tidak perlu. Sekarang aku sudah tidak apa-apa. Cukup dengan meminum perasan jeruk dan lemon akan menstabilkan perutku yang serasa tidak enak ini.” tolak Luna. Dia tidak ingin merepotkan orang, apalagi ini sudah larut.
“ Tapi sayang..”
“ Mark aku sungguh tidak apa-apa.” berusaha meyakinkan dengan senyum lembutnya.
“ Ok baiklah. Rangga batalkan saja keberangkatan dokternya.”
“ Kalian yakin?” Rangga masih merasa khawatir jika terjadi sesuatu nantinya.
“ Luna sudah bilang begitu, aku percaya padanya. Tapi.. coba cari apa yang menyebabkan Luna bisa mual.” Perintah Mark.
Di depan Nindy dan si kembar sudah berbisik untuk membuatkan Luna minuman perasan jeruk dan lemon, lalu meraka pergi ke bawah untuk menjalankan aksi mereka.
“ Bagaimana keadaan Luna sayang?” tanya ibu Rangga pada cucunya si kembar.
“ Kak Luna sudah tidak apa-apa nek. Kak Luna ingin perasan jeruk dan lemon. Kami akan membuatkannya untuk kak Luna.” sambil bergegas ke dapur.
“ Biar pelayan saja yang membuatnya.” Sorak Ibu Rangga.
“ Tidak. Kami bertiga yang akan membuatnya, kami ingin merawat kak Luna.” jawab si kembar serentak. Sementara Nindy tersenyum sambil mengusap bahu si kembar.
“ Mereka sangat menggemaskan, aku minta adik sama ibu boleh tidak ya..?” gumam Nindy dengan tersenyum bodoh. Dia tidak menyangka akan berfikiran seperti itu saat kondisi seperti ini.
Sementara itu, di ruang tamu setelah beberapa menit ibu Mark masih saja diam dengan ekspresi datarnya. Sejak dia kembali dari kamar mandi dia belum berucap apapun.
“ Apa kamu tidak ingin melihat kondisi Luna di atas Zia.” Ibu Rangga memulai pembicaraan. Karena dia menyadari ada yang menjanggal di sini.
“ Aku tidak ingin mengganggu istirahatnya. Biarkan saja Luna beristirahat dulu.” Ibu Mark berdiri dan langsung berjalan menuju kamarnya, dia di ikutu oleh 2 orang wanita yang menemaninya di pavilium saat siang hari tadi. 2 wanita ini memang di tugaskan khusus untuk menjaganya.
“ Zia.. apa yang sebenarnya kamu fikirkan?”
__ADS_1
“ Steven, kamu bantu bawa kakek untuk beristirahat. Chira dan Chici biar ibu yang mengurusnya.”
“ Baik bu.”
***
Mark membantu Luna untuk duduk, karena perasaan jeruk dan lemon sudah di antarkan oleh si kembar dan Nindy. Tapi mereka tidak bisa berlama di kamar Luna, karena sang nenek sudah membujuknya untuk segera tidur. Sementara Nindy, dia tidak mungkin tetap berada diantara sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah itu, bisa-bisa hatinya di bakar kesedihan karena iri nantinya.
Mark memberikan gelas yang berisikan perasan jeruk dan lemon itu pada Luna. Dia memperhatikan wajah Luna yang masih saja sayu, dia tahu betapa sakitnya hati Luna mendengar perkataan ibunya. Sementara dia sendiri tahu, gadis seperti apa Luna. Gadis yang benar-benar menjaga diri dengan baik.
“ Ini,” Luna menyerahkan kembali gelas itu setelah dia meminum setengah dari isinya. Luna bergerak kebelakang dan bersandar di kepala ranjang.
“ Sayang perkataan ibu jangan di fikirkan ya..” Mark menggenggam tangan Luna dan menatap Luna dengan penuh kasih sayang.
“ Tentu,” melihat tangan Mark yang mengenggam tangannya. “ Kamu tahu bagaimana aku, jadi ini tidak masalah.” Luna menatap Mark dengan senyum yang menghangatkan meski matanya masih terlihat sayu.
“ Sayang maafkan aku karena sudah membuatmu sedih. lain kali kamu tidak perlu bertemu ibu lagi. Sifat ibu semakin aneh saja, aku sendiri seperti tidak mengenalnya berucap kasar seperti tadi.”
“ Mark hatiku memang sakit mendengar perkataan ibu. Tapi langkah untuk menjauhkan ibu dariku, juga bukan hal yang baik.” Luna menarik tangan Mark di atas perut yang dibatasi selimut tebalnya. “ Aku ingin tetap dekat dengan ibu, aku juga ingin hubunganmu dengan ibu membaik..”
“ Iya, tapi..”
“ Mark..” Luna menyela kalimat Mark. “ Mark aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak ingin mengambilmu sepenuhnya dari ibumu. Ibu pasti sedih, jika kamu semakin menjauh setelah menikah denganku. Dan bisa saja hal itu akan memperburuk pandangan ibu terhadapku.” Luna mengusap wajah Mark yang memandanginya dengan tatapan yang masih tidak setuju. Mark terlalu khawatir, Jika nanti ibunya bersikap lebih aneh lagi.
“ Mark.. setelah aku menyelesaikan pendidikanku, aku ingin tinggal serumah dengan ibu.”
Mark terkejut dengan pemintaan Luna. Matanya menatap lembut Luna, tapi di sana dia sedang berusaha untuk menyelidik, apa yang di rencanakan Luna. Meskipun itu selang waktu 1,5 atau 2 tahun, dia sendiri tidak yakin jika ibunya berubah.
Sementara hari ini saja dia sudah menemukan drama dari ibunya. Siang bertingkah sangat menyukai Luna, tapi malam ini ibunya malah menghina Luna hanya perkara mual saja.
“ Apa yang ibu bicarakan pada Luna di ruang teh tadi?” bisik hati Mark penuh kecurigaan. Dia tahu jika dia bertanyapun pada Luna atau ibunya, mereka pasti juga tidak akan menjawabnya. Oleh karena itu dia akan menyelidikinya secara diam-diam.
“ Sayang..” Luna mengeluarkan senjatanya dengan panggilan yang indah itu. Dia kesal karena Mark tidak menjawabya, malah memandanginya dengan ekspresi dan pikiran Mark yang tidak bisa dia tebak itu.
“ Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Semoga ibu cepat berubah dan menyadari betapa lembut dan cantiknya hati menantunya ini.” Mark mencubit gemas hidung Luna dan Luna tersenyum terhibur dengan itu. Tak hanya menjadi hobi Mark saja mencubit hidung Luna, tapi Luna juga menyukai perlakuan Mark yang seperti itu. Entah kenapa nyaman saja baginya.
“ Love you sayang..” Luna mengusapkan tangan Mark di pipinya dengan manja.
“ Love you too sayang.” Mark memandangi Luna yang bermain dengan tangannya, memejam mata indahnya seperti anak kucing yang sedang dibelai. Mark tersenyum bahagia melihat pemandangan yang menggemaskan ini, Luna memang selalu bisa membuatnya untuk mencintai dalam dan lebih dalam lagi setiap saatnya.
“ Luna aku mencintaimu dengan seluruh kehidupanku dan matiku. Aku hanya menginginkanmu seorang sampai kapanpun. Tidak peduli dimanapun, dia alam apapun. Hanya kamu yang aku inginkan.”
__ADS_1