
Bi Ina mendekati Luna ”Nona, anda tidak apa-apa?” tanya bi Ina mengkhawatirkan Luna.
“Saya tidak apa-apa.” jawab Luna sambil menyapu air mata dengan tangannya.
“Nona, jangan ambil hati perkataan Tuan muda, mungkin Tuan sedang ada masalah.” Bi Ina.mencoba menghibur.
Luna menoleh pada bi Ina dengan tatapan sinis, “Hah, memang tidak ada yang perlu di ambil hati. Dari awal aku memang hanya alat baginya. Dan kamu bi Ina, mulai sekarang kamu tidak perlu melayaniku lagi. Rekrut orang baru untuk melayaniku. Melihat mu selalu membelanya membuatku semakin jengkel saja.”
“Tapi nona..”
“Tidak ada tapi tapian, ini sudah ku putuskan!" setelah kalimatnya, Luna langsung pergi.
Air mata bi Ina menetes, ”Nona Luna benar-benar sudah membenciku. Maafkan saya Tuan, Nyonya... saya tidak bisa menjaga Nona Luna dengan baik.” hati Bi Ina semakin sedih mengingat Tuan dan nyonya Aliester.
Luna langsung ke basemen untuk mengambil mobilnya, tiba-tiba seorang pengawal datang.
“Nona, lebih baik saya yang mengantar anda ke kantor.” ucap pengawal tersebut.
“Tidak perlu, mulai sekarang aku tidak membutuhkan pengawal maupun supir. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak perlu kalian layani, cukup layani saja Yuan muda kalian itu."
Mendengar ucapan Luna pengawal tersebut hanya menunduk. Luna langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
Bersikap lembut bukan lagi pilihan untuk menghadapi pria itu sekarang. Yang jelas diw harus bisa berdiri sendiri, rapat pagi ini dia. tidak boleh terlambat. Luna melajukan mobilnya dengan kencang.
.
.
Luna sudah sampai di depan pintu ruang presdir. Dia mengambil nafas panjang sebelum memasuki ruangan tersebut.
Ketika membuka pintu, ternyata Mark dan Rangga sedang berbincang. Melihat Luna datang, Rangga berhenti bicara dan melihat Luna. Tapi, Luna sama sekali tidak melihat ke arah mereka, dia langsung pergi ke mejanya.
Rangga sedikit bingung melihat sikap Luna yang biasanya ramah.
“Lanjutkan penjelasanmu.” ucap Mark pada Rangga.
“Eh, baiklah. Untuk urusan kita dengan Tuan Ong masih belum jelas, dan hal ini akan kita selesaikan pada rapat nanti. Yang lainnya tidak ada masalah lagi.” jelas Rangga.
Luna mengambil semua berkas-berkas yang dia perlukan dan langsung keluar menuju ruang rapat.
“Untuk selanjutnya aku tidak perlu lagi seruangan dengannya. Aku harus membicarakan ini dengannya." Luna sudah bertekad.
“Mark, apa kalian bertengkar?” tanya Rangga.
“Untuk apa kamu mengurus masalahku? ini tidak ada hubungannya denganmu."
“Bagaimana tidak ada hubungannya denganku? dulu Luna selalu ramah dan tersenyum kepadaku. Sekarang karena masalah kamu dengannya, dia bahkan tak melihatku sama sekali.”
“Apa kamu kecewa?”
“Tentu saja.”
"Hah, maka mulai dari sekarang kamu akan terus kecewa.” Mark berdiri dan langsung berjalan keluar menuju ruang rapat.
“Eh, apa maksudmu?” Tanya Rangga sambil mengikuti Mark, tapi Mark hanya diam dengan ekspressi wajah yang dingin.
Mark memasuki ruang rapat, semua orang berdiri untuk memberi salam.
Para karyawan tersebut melihat tangan Mark, mereka saling lirik. Ingin bertanya, tapi tidak tidak ada yang berani.
Melihat hal itu Luna hanya tersenyum sinis.
“Baiklah, rapat kali ini kita cepat saja. Saya minta maaf, untuk kerjasama dengan Tuan Ong, akan mengurusnya setelah rapat ini. untuk itu kalian cukup laporkan saja semua tanggung jawab masing-masing dengan singkat kemudian kalian serahkan detailnya kepada Luna.” ucap Mark.
“Tapi, maaf sebelumnya Tuan Mark, dua hari yang lalu Tuan Ong menghubungi saya." semua mata langsung tertuju pada Luna.
Luna melanjutkan, "Kami sudah membicarakan ini dan saya juga sudah bertemu dengan Tuan Alex. Mengenai syarat yang di ajukan saya rasa tidak perlu di jelaskan lagi."
Tuan Alex?
Semuanya bertannya-tanya di dalam hati. Tidak terkecuali Mark, hanya saja dai tidak memperlihatkan itu di wajahnya.
"Saya bersedia untuk mengambil alih untuk menangani proyek ini. Saya harap tuan Mark bisa mempertimbangkannya. Proyek ini merupakan proyek terbesar kedua perusahaan Lixing tahun ini.” jelas Luna dengan lugas.
Semua orang di ruangan terkejut, sekaligus bangga mendengar penjelasan Luna.
“Wah, ternyata Nona Luna memang bisa di andalkan. Tidak di sangka dengan mudah memenangkan proyek ini. Padahal sebelumnya sangat sulit untuk menghubungi tuan Ong."
“Iya, ketua tim kita saja sampai depresi memikirkannya.” ucap yang lainnya.
Benar-benar menginginkannya, ya? Mark tertawa sinis di dalam hati. Sebelumnya entah kenapa dis ingin melindunginya. Sekarang, tidak perlu melakukannya lagi.
Mark melihat ke arah Luna dan mereka beradu tatapan.
__ADS_1
“Sepertinya Nona Luna bisa menangani proyek ini. Asisten saya tampaknya memang bisa di andalkan, ketika saya tidak di kantor dia bisa menyelesaikannya. Baiklah, Saya serahkan proyek ini pada Nona Luna, semoga proyek pertama Nona Luna bisa berjalan dengan lancar dan jika ada kendala tanyakan saja pada yang lebih berpengalaman dan jangan sampai bertindak gegabah.” Ucap Mark.
“Terima kasih Tuan Mark, saya akan melakukan yang terbaik
” ucap Luna, dalam waktu bersamaan dia merasa sangat lega.
“Selamat, Nona Luna.” ucap yang lainnya.
“Tidak di sangka proyek pertama Nona Luna langsung mendapatk proyek yang besar."
“Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Tuan Aliester pasti sangat bangga.” ucap yang lainnya.
“Baiklah kita lanjutkan rapat kita, jangan ribut lagi. laporkan tanggung jawab kalian masing-masing.” ucap Rangga.
Semuanya diam dan kembali fokus untuk melanjutkan rapat, mereka satu persatu melaporkan tanggungnya dengan tenang.
Satu jam kemudian rapat telah selesai, para karyawan satu persatu meninggalkan ruang rapat. Luna membereskan semua berkas-berkas yang telah di serahkan kepadanya.
“Perlu bantuan ku, Nona Luna.” Rangga menawarkan bantuan.
“Tidak perlu.” ucap Luna dan membawa berkas-berkas tersebut.
“Dia terlihat semakin keras kepala, mana boleh seorang perempuan membawa begitu banyak berkas sedirian." ucap Rangga.
“Bukankah sebelumnya sudah ku ingatkan. Mulai sekarang dia tidak akan bersikap ramah lagi.” Mark berjalan keluar.
“Kalian selalu melibatkanku, padahal aku tidak tahu apa-apa.” Rangga sedih, dia mengikuti Mark dari belakang.
Di ruang Presdir, Luna merapikan semua berkas tadi.
Mark datang membuka pintu. Luna menoleh, dia ingat akan rencananya yang mau pindah ruangan.
Mark berjalan dengan santai menuju kursinya dan di kuti oleh Rangga.
“Hai, nNna Luna.” sapa Rangga
Luna hanya membalas Rangga dengan sedikit senyum.
Luna berjalan mendekati meja Mark, “Mark, aku ingin bicara denganmu."
Mark menatap Luna dengan acuh, "Bicaralah."
“Bolehkah aku pindah ruangan? Ku sangat sibuk, aku takut dengan keberadaanku di sini akan mengganggu konsentrasi mu." Luna to the point saja.
“Aku tidak pernah berkata kalau ku menggangguku. Mungkin maksudmu, ku yang merasa terganggu dengan ku."
“Terus, apa maksudmu? kamu jangan mencari alasan. Mengenai dimana ruanganmu, aku yang tentukan dan aku tidak merasa terganggu denganmu. Jadi, kamu tetaplah di sini." tegas Mark becampur dingin.
Luna menunduk, tangannya meremas dengan kesal, “Baiklah, jika itu keinginan mu.” Luna kembali berbalik badan.
Dia megambil tas dan beberapa dokumen di mejanya dan berjalan keluar.
“Kamu mau kemana?” tanya Mark.
“Aku mau menemui Tuan Alex, apakah mengenai ini aku juga perlu persetujuanmu?” Tanya Luna dengan sinis.
“Tidak perlu. Hanya saja ku semakin tidak tau sopan santun, meninggalkan ruangan tanpa pamit pada atasanmu.”
Luna mau tertawa sekarang, "Aku rasa kita tidak sedekat itu, jadi aku tidak perlu melakukannya. Kamu sendiri tau, bahwa aku sangat membencimu. Mana ada orang terus bersikap ramah di depan musuhnya ketika tidak ada orang lain.” Ucap Luna dan berlalu pergi.
Rangga yang menyaksikan itu menggelengkan kepala, karena ia benar-benar tidak paham dengan apa yang telah terjadi.
“Mark, selamat. Akhirnya aku benar-benar telah menemukan orang yang berani melawanmu, terlebih lagi itu seorang wanita. Luna, aku semakin mengidolakanmu, hehe."
***
Di restoran D’star Alex sudah menunggu kedatangan Luna. Dari kejauhan dia melihat Luna, dia melambaikan tangannya kepada Luna.
“Tuan Alex, maaf membuat anda menunggu.” ucap Luna.
“Tidak juga, aku juga baru sampai." Alex ramah dan tampan seperti sebelumnya.
“Oh iya Luna, apa tidak masalah jika aku terus membuat janji di restoran D’star?” Tanya Alex tiba-tiba.
Luna sedikit bingug, namun dia hanya bisa tertawa, "Tidak masalah, D’star adalah restoran yang terkenal dan tempatnya juga nyaman."
“Syukurlah jika begitu, hari ini aku sengaja memilih di tempat terbuka, agar Nona Luna lebih nyaman berdiskusi denganku."
Luna hanya tersenyum mendengar ucapan Alex. Dia rasa ini lumayan, Alex tidak lagi terasa aneh. Mungkin kemarin hanya perasaannya saja.
“Baiklah tuan Alex sekarang kita lebih baik mendiskusikan rencana kita.'
“Haha, baiklah.”
Luna mulai menjelaskan mengenai proyek pusat perbelanjaan Ling kepada Alex. Diskusi mereka berjalan dengan nyaman dan santai.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mereka telah mencapai kesepakatan dan juga sudah melakukan serah terima lahan tersebut.
“Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan Alex. Proyek ini akan memberikan keuntungan yang besar kepada semua investor. Saya akan menghubungi para investor untuk merencanakan pertemuan pertemuan.” Luna mengulurkan tangannya dan Alexpun menyambut jabatan tangan Luna dengan senang hati.
“Nona Luna merupakan perempuan muda yang memiliki prospek, makanya saya menginginkan Nona yang mengambil proyek ini. Agar saya bisa tenang menyerahkan lahan berharga ini kepada orang yang tepat seperti, Nona Luna. Saya percaya masa depan proyek ini pasti akan menjanjikan.” Ucap Alex
“Saya tidak akan mengecewakan Tuan Alex.”
Alex mengangguk, "Mari kita minum, Nona Luna.”
“Baiklah.” Luna mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan.
“Oh iya, bolehkah saya menanyakan sesuatu pada Nona Luna?” ucap Alex.
“Akh, tentu saja boleh.”
“Saya sedikit penasaran bagaimana Nona Luna membujuk Mark Rendra, hingga menyetujui anda mengambil alih proyek ini." Tanya Alex.
Luna yang sedang minum di buat terkejut, dia sedikit tersedak.
“Maaf, apa pertanyaan saja tidak pantas?” ucap Alex dengan rasa bersalah sambil menyodorkan sapu tangannya utuk Luna.
“Bukan begitu, tidak ada yang salah dengan pertanyaan Tuan Alex. Um, mengenai saya membujuknya itu bukan hal yang sulit bagi saya. Itu hanya dia percaya dengan kemampuan saya menangani proyek ini.” jelas Luna
“Tidak mungkin, padahal beberapa waktu lalu jelas-jelas dia tidak merelakan calon tunangannya untuk bekerjasama dengan saya. Bahkan dia mengancam Tuan Ong akan mendapatkan lahan ini tanpa harus saya menyerahkannya atau tidak.” Alex menaikkan kedua bahunya, dia menatap Luna penuh minat.
“Begitukah? saya tidak mengetahui hal itu.” Luna sangat santai, meski dia sebenarnya cukup terkejut.
Tuan Alexs, dia menghalangiku untuk mengambil proyek ini kareana tidak ingin aku berkembang, bukan karena dia tidak ingin aku berinteraksi denganmu. Dia tidak seperti yang kamu bayangkan.
***
Mark dan Rangga dalam perjalanan menuju kediaman Key.
“Beberapa waktu lalu orang-orang kita sudah melihat orang yang mencurigakan, tapi mereka belum mendapatkan informasi apakah orang itu merupakan mata-mata dari Jhon.”
“Kita tidak usah buru-buru. Aku sudah bisa membaca gerakan,Jhon. Ini trik tarik ulur.” tutur Mark.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumuah Key. Key menyambut kedatangan mereka.
“Key, kamu sebagai direktur Cour Media menurutku terlalu santai, kamu lebih sering di rumah ketimbang ke kantor.” ejek Rangga.
“Haha... itu karena aku hebat, hingga aku lebih mempunyai banyak waktu senggang. Aku tidak seperti Mark yang gila kerja.” Key sambil mengedipkan matanya.
Ranggaa tertawa, "Itu baik untukmu, jadi kamu punya waktu untuk bersenang-senang. Kamu tahu, akhir-akhir ini aku mempunyai kekhawatiran, aku takut tidak punya kesempatan untuk menikah. Karena hari-hariku selalu di penuhi dengan Mark. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk berkencan.” Rangga melirik Mark, seolah sengaja memancing pria itu.
“Key, kamu jangan mencari alasan. Katakan saja kamu tidak berkompeten dan hanya mengandalkan sekretarismu untuk menyelesaikan semuanya untukmu.” tanpa basa-basi Mark men-skak Key.
Ah, kejamnya!
Key langsung cemberut.
“Dan kamu Rangga, kamu bisa mengajukan pensiun lebih awal. Jika kamu sudah berencana untuk menikah.” skak untuk Rangga.
Eh, oh Tuhan! jika bukan kami. Apakah masih ada orang lain yang ingin menjadi temannya? dia tidak punya hati.
Mendengar perkataan Mark, Rangga dan Key hanya saling menatap dengan ekspresi menyedihkan.
“Dasar Mark kejam, kita benar-benar tidak bisa mengerjainya.” bisik Rangga dan Key.
“Sudahlah! Bagaimana dengan hal yang aku suruh kamu selidiki itu?” Tanya Mark pada Key.
“Alexs merupakan direktur dari Julius Group, dia orang yang sangat berkompeten. Aku dengar dia akan menjual lahannya kepada Lixing Group. Aku rasa kamu tidak mungkin tidak mengetahui tentang ini."
Mark dan Rangga mengangguk.
"Aku penasaran apa tujuanmu menyuruh aku untuk menyelidikinya?” tanya Key penasaran sambil memberikan sebuah berkas ke Mark.
“Bukan apa-apa, aku hanya benci orang yang sok misterius ingin bekerjasama dengan Lixing.” ucap Mark.
Mendengar jawaban Mark, Key mengerutkan keningnya. Dia bingung apa yang di maksud oleh Mark. Lalu dia melihat ke arah Rangga, memberikan insyarat bertanya. Tapi, Rangga hanya menggeleng seolah dia dia tidak tahu apa-apa.
Rangga hanya menatap Matk. Jadi diam-diam Mark meyelidiki tentang Alexs? Um, kalau peduli, ya peduli saja. Jangan sok sok an gengsi begini.
***
Luna sudah menyelesaikan urusannya dengan Alexs, selanjutnya Luna pergi ke restoran Dream Island untuk menemui Alexa.
Tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu, "oh iya, Alex? Alexa? apakah mereka bersaudara?” tanya Luna sendiri.
Dia baru menyadari hari ini dia menemui orang dengan nama sama.
“Sudahlah, mungkin aku yang terlalu banyak berfikir. Hanya sebuah nama”.
Beberap saat kemudian Luna teringat sesuatu.
“Eh tapi tunggu, marga mereka sama. Alexs Hou, Alexa Hou. Jadi mereka bersaudara? Kenapa kebetulan sekali?” teriak Luna dalam hatinya dengan histeris.
“Aku belum terlalu mencari tahu tentang Alexa Hou ini, dengan sikapnya yang dingin, sangat berlawanan dengan sifat tuan Alexs yang sedikit lebih ramah. Aku rasa akan sedikit sulit menghadapi Alexa ini.” ucap Luna.
__ADS_1
Tapi pertemuan ini bukan untuk membahas bisnis. Luna penasaran apa yang ingin Alexa bicarakan dengannya. Mengingat tatapannya yang aneh di pesta itu, rasanya sedikit membuatnya merinding. Selama ini dia tidak pernah menyinggung orang lain, seharusnya aku tidak perlu tegang begini.
Luna menggemgam erat setir mobilnya dan melajukan mobilnya dengan lebih cepat.