
“Kalian akan kembali hari ini?” suara nyonya Aliester terkejut dari via telvon. “Kenapa cepat sekali?”
“Cepat bagaimana? Kami sudah 2 minggu lebih berlibur ma,” Luna memanyunkan bibirnya. Tangannya tetap sigap memasang dasi sang suami. Sementara Mark memegangi ponsel di telinganya.
“2 minggu lebih ya?” mencoba mengingat. “Humm.. tapi mama rasa itu masih kurang. Kalian harus berlibur lebih lama. Karena selama ini kalian selalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.” Suara nyonya Aliester berapi-api semangat.
“Ma, kenapa begini? Memangnya mama tidak senang ya aku kembali.” Kesal. Tanpa sengaja mengeratkan dasi sang suami hingga tercekik.
“huk huk ..”
“Maaf sayang.” Senyum bersalah dan melonggarkan kembali. Mencium bibir Mark, sebelum di omeli panjang lebar.
“Ada apa?” tanya nyonya Aliester mendengar sedikit kegaduhan di sana.
“Tidak ada apa-apa ma.” Tawa ringan dengan ekspresi senyum-senyum menatap Mark yang terlihat kesal, tapi tidak menjahilinya.
“Hmm.” Percaya begitu saja. “Jadi bagaimana, apa kalian tetap kembali hari ini?” masih nyinyir dengan pertanyaannyang sama.
“Ma, jika mama tidak menerima Luna di rumah bilang saja. Tapi ingat rumah atas nama Luna.” balasnya santai dengan kalimat menohok. Kesalnya harus di balas.
“Berani ya mengancam mamamu,” suara tuan Aliester. Nyonya Aliester mencari bala bantuan. “Dengar ya sayang, papa sangat menantikan kepulanganmu dan papa juga tidak sabar menanti kabar gembira hasil dari liburan kalian. Jika tidak ada kabar dalam waktu dekat, maka kalian harus berlibur lagi.” bicara seenaknya.
Luna membulatkan matanya. Malu, karena Mark mendengar perkataan papanya yang yang sangat menuntut. Tidak tau jika suaminya selama ini memang selalu di ejek papanya.
“Pa.. Jika memang sudah waktunya, pasti..”
“Pokoknya jika belum, kalian harus berlibur kembali. fokuslah pada kewajiban kalian sebagai anak dan menantu yang harus memberi cucu dengan segera pada kami.” Potong tuan Aliester cepat. Tidak mau tau. Tidak terima alasan. Lalu mematikan telepon begitu saja.
“Arh..” teriak Luna kesal sambil mengacak dasi yang sedari tadi belum selesai dia kerjakan.
“Apa?” menatap Mark yang menatapnya seolah mengejek. “Sayang, kamu jangan berfikiran sperti papa juga ya! anak itu rezeky, tidak tau kapan dia akan hadir.” Beranjak pergi ke kamar mandi. Pada akhirnya dasi tidak juga terpasang.
“Luna, Luna.” Mark tersenyum tipis melihat kekesalan istrinya. Sadar bahwa mertuanya memang sangat jail dan licik. Seketika bisa merusak mood baik siapa saja.
“Aaa.. papa dan mama kenapa kekanakan sekali. Mereka orangtua seharusnya lebih tau perihal ini. Kenapa terlalu memburuku.” Celoteh saat memasuki kamar mandi.
“Hemmm..” berfikir sambil memandangi reflesksi dirinya di kaca. Sesaat kemudian, kening Luna langsung berkerut. Dia mengingat sesuatu.
__ADS_1
“Eh, perasaan tadi suamiku hanya diam ketika aku memprotesi papa. Kenapa ya? bukannya dia sama saja dengan papa, dia terus mengelus perutku berharap bayi itu segera hadir.” Mengelus perut dan menggigit jarinya. Berfikir, mencoba mencerna tingkah suaminya.
“Tadi saat aku meluapkan protesku padanya, dia juga diam? Hmm..” garuk kepalanya bingung.Tidak biasanya suaminya jadi pendiam seperti itu.
***
Awalnya Mark merencanakan waktu liburan honeymoon selama sebulan. Namun karena Luna menolak untuk pergi ke Hawai, waktu liburanpun di percepat. Luna berfikir, Mark pasti sibuk. Begitu banyak yang harus ditangani langsung olehnya di kantor.
Namun semuanya memang sudah di takdirkan. Penolakan Luna ke Hawai, hingga waktu liburan di percepat beriringan dengan kabar yang di dapat oleh Mark dari Louis. Dia harus segera terbang ke Norwegia secepatnya. Hal yang sangat penting, harus di urus dan di akhiri di sana.
Bulan madu ditutup. Meninggalkan kesan di hati masing-masing. Bahagia pastinya! namun ada pengaruh luar yang membuat penutup bulan madu menjadi acak-acakan karena emosional masing-masing. Para pria yang terlihat canggung dan membuat para wanita jadi bingung.
Mereka meninggalkan perumahan Denenchofu. Beberapa mobil melaju ke bandara. Mark dan Luna, tentunya dengan Rangga sebagai sopirnya. Sementara yang lain di dalam mobil berbeda yang mengikuti mereka di belakang.
Luna menatapi Mark dengan melipat tangan di dada. Tidak tahu hal apa yang membuat suaminya tiba-tiba menjadi pendiam. Kesal, aneh rasanya suaminya seperti ini.
“Sayang kamu kenapa? hallo, ini sungguh suamiku kan?” menatap lekat Mark yang bersandar dan memejamkan mata dengan santainya.
Sudah sampai di China. Mereka memutuskan berpisah di bandara, menuju kediaman masing-masing.
Udara dingin musim semi yang sama. Bunga sakura yang juga menghiasi jalanan di China, tidak jauh berbeda dengan suasana di jepang. Di taman tepi jalan terlihat banyak orang yang mengabadikan moment musim semi kali ini. mengambil gambar dengan background bunga sakura yang indah pastinya.
“Sayang kamu kenapa?” merapikan dasi yang tidak berantakan sama sekali. “Apa cekikan tadi menyakitimu.” Mengusap lembut leher Mark .Tidak tau harus bertanya apa hingga pertanyaan asal ini keluar.
“Sama sekali tidak.” Tersenyum tipis. Meraih tangan Luna yang mengusap lehernya. Lalu menciumnya dengan sayang.
“Tidak mau cerita ya padaku? huuh.. baiklah. aku akan menanyai Rangga. tidak mungkin Rangga tidak mengetahuinya kan. Sementara mereka selalu menempel padanya.”
“Hmmm..” menganggukkan kepalanya pelan. Mengeratkan tangannya memeluk Mark.
“ Baiklah, sepertinya suami kelelahan. Nanti sesampai di rumah istrimu akan memijatimu,” Menempelkan telinganya di dada Mark. “Tapi aku harap setelah itu kamu tidak diam lagi ya sayang. Aku tidak biasa dengan sikapmu seperti ini.” semanja mungkin dia bicara, membuat Mark tersenyum tipis.
“Baiklah. Nanti aku akan memakanmu.”
Bug! Luna memukul dada Mark kesal.
“Haha., kenapa marah.” tertawa renyah. Mark tersadar ternyata sikapnya terlalu kentara. Ini tidak benar, Luna tidak boleh tau apa yang mengganggunya. Oleh karena itu dia harus bersikap seperti biasa lagi.
__ADS_1
“Sayang aku hanya ingin kamu banyak bicara seperti biasa. Bukan memakanku.” Protesnya.
“Haha.. galak sekali. Aku kan suamimu, kenapa protes.” Mencubit hidung Luna, hingga membuat Luna tersipu dna kembali memeluknya erat. Senang melihat suaminya seperti semula.
***
Mobil sudah memasuki gerbang, lalu berhenti di depan rumah. Tampak orangtua Luna dan beberapa orang pelayan menanti kedatangan mereka.
"Putriku sudah pulang.” Tuan Aliester merentangkan tangannya saat Luna keluar dari mobil. Meyambut putri satu-satunya dengan pelukan hangat.
Luna tersenyum bahagia dan menghamburkan dirinya di pelukan sang papa.
“Luna tau papa pasti rindukan,” memukul dada papanya. “ Tadi kenapa jahat sekali saat di telvon. Seolah tidak menginginkan aku pulang.” Melirik mamanya yang menyambut Mark.
“Haha.. maafkan papa dan mama.” Luna menganggukkan kepalanya, lalu beralih memeluk mamanya.
“Bagaimana Mark? apa bulan madu kalian akan membuahkan hasil?” berbisik dan mendekap bahu menantunya.
Mark diam, menatap mertuanya dengan senyum yang dipaksakan. Tuan Aliester malah tertawa melihat kekesalan menantunya itu.
“Haha.. jangan malu-malu pada mertuamu ini.” mengajak Mark segera masuk. Bergandengan seperti teman sebaya.
Sungguh menantu dan mertua yang harmonis. Namun di balik itu selalu ada gejolak kekesalan karena sikap tuan Aliester terus bicara sepenjang jalan.
Luna dan nyonya Aliester tersenyum melihat pemandangan itu. Merekapun ikut masuk ke dalam.
“Oh iya, selagi Mark berbincang dengan papa. Lebih baik aku ke kamar dan menghubungi Rangga. Aku harus mencari tau tantang perubahan sikap suamiku.”
“Arkh,, “ merintih sambil memegangi perutnya. “Ma sepertinya perut Luna sakit. Luna ke kamar dulu ya.”
“Eh, sakit kenapa sayang?” tanya nyonya Aliester khawatir. Bagaimana tidak, putrinya baru datang dan tiba-tiba sakit.
“Bukan apa-apa ma," Mengibaskan tangannya cepat. Tidak ingin mamanya berspekulasi berlebihan. “ Luna hanya perlu ke toilet.” Tertawa ringan dan berjalan cepat menuju tangga.
“Hati-hati sayang.” Teriak nyonya Aliester kehawatir melihat putrinya yang tergesa-gesa.
Sebelum menaiki tangga, Luna melirik Mark dan papanya. Mark yang senyum-senyum bodoh mendegarkan celotehan papanya.
__ADS_1
“Mark apa yang kamu sembunyikan? Jika nanti aku tidak mendapatkan jawaban dari Rangga. maka jangan salahkan aku berbuat nekat untuk menyelidikinya.” Menaiki tangga, bersiap-siap dengan misinya untuk mengintrogasi Rangga.
Bersambung…