
Luna menjadi bingung dengan suasana yang tiba-tiba hening ini. Dia melirik Nindy, lalu beralih pada Key.
“Ada apa? suasana apa ini?”
Key yang sedari manatap Nindy langsung mendengus kesal dan berdiri.
“Nindy ikuti aku!” ujarnya sambil berjalan duluan.
“Hah?” Luna semakin bingung. “Nindy, apa yang terjadi?”
Nindy menggelengkan kepalanya cepat.”Tapi jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.” menepuk lembut bahu Luna, lalu segera menyusul Key.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tertawa bingung, lalu menatap Jiang He. “Apa kakak tau sesuatu?”
“Tidak.” Jawabnya singkat.
“Begitu. Mari kak, silahkan bergabung.” Luna dan Jiang He jalan beriringan untuk bergabung dengan semua orang. Tampak Luna terus berfikir, dia mengingat semua rangkaian rencana yang sudah dia susun, rasanya tidak ada yang salah.
“Eh tunggu dulu, apa jangan-jangan kak Key tidak suka dekat dengan kak Jiang He? Oh my god, jangan sampai itu terjadi.”
Luna duduk di samping Mark dengan pikirannya yang masih kemana-mana. Sementara Jiang He juga sudah duduk di samping Rangga.
“Semua orang di sini. Apa lagi yang di rencanakannya? Ini psti bukan sekedar reunion biasa kan?”
Jiang He menatap semua orang sambil melempar senyum ramahnya.
“Sayang, menurutmu akau melakukan kesalahan apa?” bisiknya sambil menatap Mark frustasi, berharap suaminya lebih pintar menganalisa keadaan.
“Ini hanya perkara kecil. Tidak akan terjadi apa-apa.”
“Tapi aku sebagai orang yang mengundang merasa bersalah. Bagaimana aku bisa tenang. Apalagi mereka itu bersaudara.” Kesal, karena jawaban Mark tidak memuasakannya.
Diwaktu yang bersamaan, Key dan Nindy berada di teras taman. Nindy duduk dengan menundukkan kepala, kedua tangnnya mencengkram erat lututnya.
“Reuni teman kampus?” Key mulai membuka suara. Menatap sang adik yang sudah hilang muka karena ketahuan berbohong.
“Hehe..” tertawa bodoh sambil mengangkat kepalanya. “Teman SMA maksudku kak. Luna kan teman SMA ku.” masih saja berani bergurau, walau sangat canggung.
“Nindy aku tidak sedang bercanda.” Suara Key mengeras, hingga Nindy kembali menundukkan pandangannya.
“Kenapa berbohong?” tanyanya kembali.
“Aku takut kakak mentertawaiku. Nanti kakak kira aku mengganggu mereka yang berbulan madu.” suara memelas dengan tetap menunduk.
“Alasan! Katakan saja kau ingin berangkat bersama Jiang He.”
“Apa?” Nindy langsung mengangkat kepalanya. “Kenapa kakak bisa berfikiran seperti itu? aku sendiri tidak tau jika kak Jiang He juga di undang.” Ungkapnya penuh protes.
“Kakak saja aku tidak tau, bagaimana aku bisa tau orang lain. Lagian yang memesan tiket kami adalah Luna.” terus merepet kesal hingga sudut bibir atasnya terangkat.
“Eh, tunggu dulu. Ketika aku meminta izin untuk pergi ke Jepang, kenapa kakak tidak menawariku untuk berangkat bersama?” tiba-tiba menatap Key penuh penyelidikan.
Key diam sejenak mendengar pertanyaan sang adik yang tiba-tiba menyerangnya.
“Jika keberangkatan Nindy dan Jiang He di atur Luna. Itu berarti Luna merencanakan Nindy dan Jiang He sebagai pasangan tanpa sepengetahuan mereka. Jadi aku bisa sedikit mengelak dari setan kecil ini.”
__ADS_1
“Itu karena aku lupa.”
“Alasan!!” dengan sangat arrogant dia membalas sang kakak. “Katakan saja karena kakak membawa sekretaris Lery kan? Kakak takut aku mengetahuinya? Hah, pada akhirnya kakak lah yang lebih memalukan dari pada aku. Aku hanya berbohong. Sementara kakak membawa karyawan kantor untuk urusan pribadi.” Ujuar Nindy dengan sangat berani.
“Nindy..”
“Apa?” Nindy memotong cepat kalimat sang kakak, sambil berkacak pinggang. Menatap dengan sangat arrogant.
“Aku benarkan? Kakak jangan mengelak lagi. Aku bukan anak kecil yang bisa kakak bodohi. Aku adalah wanita dewasa yang sangat bisa menilai.” Seringai licik yang sangat menyebalkan.
“Terserah kamu mau berfikiran apa.” lebih baik jawab begitu, dari pada terus di tanggapi. Bis-bisa setan kecilnya ini semakin menjadi-jadi. “Kakak harap ini terakhir kalinya kamu berbohong.” Berdiri dan berlalu pergi.
Nindy mengulum senyumnya, merasa sangat puas dengan pertengkarannya kali ini. Dia menang banyak, tidak hanya bisa menyudutkan sang kakak, tapi juga mengetahui bagaimana cukup spesialnya sang kakak memperlakukan sekretaris Lery yang masih sangat baru ini.
Rasanya dia sangat beruntung berbohong waktu itu. Karena, jika dia jujur waktu itu, pasti hasilnya berbeda dengan sekarang.
“Ayolah kakak! aku adikmu pasti akan membantumu. Tenang saja.” gumamnya sambil memandangi punggung Key yang menjauh.
Di ruang utama tampak semua orang berbincang dengan hangat, namun saat melihat Key muncul Luna langsung bediri dan mendekati Nindy yang mengikuti Key dari belakang.
“Bagimana? Apa yang kalian bicarakan? Apa aku menyulitkanmu?” langsung menghujami Nindy dengan pertanyaan.
“Haha.. tidak sama samakali.” Sambil mengibaskan tangan. “ Aku malah dapat jackpot.” Tambahnya denagn setengah berbisik.
“Maksudmu?” Luna penasaran. Tadi pergi dengan wajah khawatir, sekarang mlah tampak bahagia.
“Aku rasa aku akan mempunyai kakak ipar.” Bisik Nindy, lalu dia mengedipkan matanya.
“Hah?” tanyanya degan menyedipkan mata dan mengukir senyum.
“Iya.” Nindy tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka berdua saling mengulum senyum, pikiran mereka sudah tertuju pada objek yang sama.
Malam harinya Nindy keluar dari kamarnya dengan baju tidur berwarna kuning. Dia menutup pintu kamarnya, lalu memperhatikan pakaiannya seolah bingung.
Lery dan Zhaon juga keluar dari kamarnya. Mereka juga mengenakan baju tidur yang sama. Mereka saling pandang, heran, memperhatikan baju mereka, lalu tertawa.
Di posisi lain, tampak Rangga berdiri di depan cermin. Dia juga mengenakan baju berwarna kuning. Bingung dan garuk-garuk kepala. Bagaimana bisa badan yang atletis ini memakai baju seperti ini.
Saat Rangga keluar kamar, dia mendapati Key dan Jiang He yang juga mengenakan baju serupa dengannya.
“Apa Luna mengadakan acara kostum?” gumamnya sambil memiringkan kepala. Merasa aneh saja baju tidur seperti ini melekat di tubuh mereka.
Tanpa tuan rumah, mereka berkumpul di ruang tengah, masih bingung dengan acara yang di maksud oleh Luna. sungguh di luar ekspektasi mereka.
Apakah tidak acara seperti pasangan kencan di taman bunga sakura, menerbangkan lampion atau hal romantis lainnya.
Jika hanya mengenakan baju tidur, mau apa coba?
Para pria duduk dengan diam. Jujur saja malu mengenakan baju tidur yang terkesan imut dengan warna yang selalu dikatai norak oleh Mark.
“Luna jika kau ingin bereksperimen. Cukup suamimu saja yang kau jadikan, kenapa kami juga?” gerutu Rangga. karena dia tau bagaimana Luna mengatur baju tidur Mark dengan warna-warna cerah dan norak menurutnya.
Sementara para wanita tampak happy. Mereka sudah berinteraksi dengan baik. Mereka bahkan mengambil beberapa foto selfie. Kapan lagi bisa samaan seperti ini.
“Hei, ayo mengambil gambar!” ajak Nindy pada para pria yang sudah siap dengan cameranya.
__ADS_1
“Tidak…!” tolak mereka keras sambil menutupi wajah meraka dengan cara masing-masing.
Mendegar penolakan yang begitu kuat membuat Nindy malah semakin usil.
“Ayolah, satu saja. aku ingin menguploadnya di we chat ku.” Sudah menekan camera ponselnya.
Para pria langsung menutupi wajah mereka kembali dengan bantal. Bahkan Rangga bersembunyi di balik sofa. Sungguh gila, wibawa para pria ini seketika menghilang.
Sementara para wanita ini tertawa puas, mereka sangat menikmati pemandangan ini.
“Sungguh di luar dugaanku. Mereka semua orang hebat. Aku kira kehidupan para petingga sangat membosankan karena selalu berkutik denagn perusahaan, laba dan laba menjadi tujuan mereka. Tapi setelah melihat ini, aku sungguh kagum, sekaligus merubah pemikiran yang terlalu monoton.”
Lery tersenyum bahagia. Sangat bersyukur pastinya, karena dia di terima dengan hangat di sini, bisa bergabung dan bergaul dengan orang-orang hebat ini.
“Wah.. kalian bersenang-senang ya.” suara Luna langsung menghentikan aktifitas mereka. Mereka berhenti, menoleh pada Mark dan Luna yang juga mengenakan baju serupa.
”Bagaiamana, apa kalian suka dengan ini?” memegangi baju tidurnya, lalu bergabung duduk di sofa.
“Suka.” Jawab 3 oarang wanita bersamaan. tentu saja hal itu membuat tersenyum senang, lalu menoleh pada Mark.
“Kau lihatkan sayang. Kami para wanita memang suka dengan hal-hal semacam ini. warna kuningku bukan warna yang norak.” Nada bicara yang sungguh sombong.
Tidak ingin melawan, Mark cukup angguk-angguk kepala. Pembicaraan mengenai baju tidur dengan warna-warna norak ini, sudah 1 tahun lebih tidak pernah usai di bicarakan. Meski Mark menerima, tapi entah kenapa Luna masih saja banyak bicara.
“Tapi kami pria Luna. Bagaimana tubuh atletis nan indah kami ini mengenakan baju dengan potongan imut ini?” gerutu Rangga. Protesnya harus tetap di sampaikan. Kesal tau tidak!
“Belajar saja dari sekarang. Supaya setelah menikah tidak canggung saat istri kalian malakukan hal yang sama denganku.” Jawabnya tanpa pikir panjang.
Tampak Lery, Nindy dan Zhaon menahan tawa.
“Tidak nona. Aku tidak seusil nona yang benar-benar menyiapkan baju tidur dengan berbagai warna dan model untuk tuan.” Zhaon.
“Aku terserah saja yang penting tidur. Terlalu merepotkan, jika baju tidurpun di urus.” Nindy.
“Entahlah, aku belum pernah memikirkan ini.” Lery.
“Baiklah. Tapi sekarang mau apa? tidur bersama?” tanya Jiang He yang mengundang tatap semua orang padanya.
“Kenapa kalian menatapku?” polos. Dan tak kalah polosnya mereka menggelengkan kepala, lalu menatap si tuan rumah. Sangat butuh penjelasan segera. Hey! Jangan buat kami bingung.
“Tidak sabaran sekali ya. Baiklah, jika begitu ikuti aku!” Luna berdiri dan memandu jalan.
“Kita pasti bersenang-senangkan. Yeyy..” teriak Nindy mengikuti Luna. para wanita terlihat antusias.
Berbeda dengan para pria yang masih di selimuti rasa penasaran.
“Mark, Mark bisa spoiler sedikit?” tanya Key.
“Tanya istriku.”
“ Sedikit saja.” Jiang He menimpali dengan sedikit canggung. Karena masih ada sekat antara dia dan Mark. Sekat dari kisah lampau yang sepenuhnya belum bisa di ikhlaskan.
“Iya, apa kau yakin Luna tidak melakukan hal yang merugikan kita?”
“Entahlah. Tapi aku rasa ini menguntungka kita para pria.” Seringai senyum nakal penuh arti.
__ADS_1
“Hah?” tiga pria masih polos terkejut dan saling menatap bingung. “Apa maksudnya?” tanya mereka serentak.
bersambung...